
Broken home
Bab 2
Di sekolah yang baru aku dipaksa adaptasi, aku dipaksa menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Teman pertamaku di sd yang baru pernah bercerita tentang ibunya, dia bilang, ‘Kamu pernah gak dimarahi?.’
‘Maksutnya?’ tanyaku.
‘Iya gitu, kayak misal kita berbuat nakal terus dimarahi, pernah gak?’ jawab dia.
‘Engga deh, gak pernah’ jawabku, singkat.
Memang aku tidak pernah berbuat nakal kalau di depan ayahku, tapi mungkin pernah sih kalau tidak ada ayahku. Ayahku mendidik aku cukup keras, jadi aku selalu takut ayahku.
Ada yang pernah bilang juga sama aku, dia bilang gini, ‘Kamu pernah gak tidur bareng orangtua?.’
Aku jawab jujur, ‘Pernah, tapi itu dulu’
Dia menjawab, ‘Enak ya, coba aja aku jadi kamu’
‘Yakin mau jadi kayak aku?’ tanyaku.
‘Iyalah, enak jadi kamu,’ jawab dia. ‘Coba bayangin aku, aku nih, yang udah besar masih aja tidur sekamar bareng ayah-ibuku.’
‘Bersyukur aja kali, lah coba, kamu masih mending, aku?’ sahutku. ‘Udah lama gak tidur bareng, kedua orangtuaku cerai sedari aku kecil’
‘Yang bener?’ tanya dia, kaget.
‘Iyaalah, masa aku bohong’ kataku.
Lanjut ke masa smp, dimana lagi-lagi aku harus bertemu orang baru, bagiku pengalaman ini tidak cukup asing. Aku selalu ngelakuin ini dari kecil.
Ketika kelas 3 smp, salah temanku bertanya, ‘Gimana sih rasanya broken home?’
Aku menjawab, ‘Ya gitu, enak sih kalau dipikir’
Temanku bingung, aku juga bingung. ‘Kok enak? Apanya yang enak?’
‘Gatau, asal keluar di kepala aja’ jawabku.
‘Tapi jujur, broken home membuatku semakin dewasa, aku jadi tau kalau tidak semua cinta itu baik, tapi sebagian dari cinta itu seram’ sambungku.
Dari kecil aku dibentuk oleh rasa takut, hanya ada satu pertanyaan yang selalu aku ingat ketika aku lagi sendiri, ‘Untuk apa aku dilahirkan, kalau pada akhirnya aku ditinggalkan.’
Tumbuh tanpa kasih sayang membuat aku menjadi pendiam, aku sering kehilangan emosi. Aku lebih senang ketika melihat kejadian brutal, apa aku tumbuh menjadi psikopat?. Tidak, aku bukan psikopat, tapi aku hanya orang yang kehilangan emosinya. Karena aku, kehilangan segalanya.
Keluargaku meninggal 2 minggu yang lalu, para polisi mengatakan kalau mereka dibunuh oleh seseorang. Dan lebih kejamnya pembunuhan ini direncana, seakan pembunuh ini punya dendam terhadap keluargaku.
‘Udah selesai ceritanya?’ kata temanku.
Ada keheningan sesaat.
‘Berikan ini kepada keluargaku, bilang ke mereka aku sudah bahagia’ kataku.
‘Ini apa?’ tanya dia.
‘Cuma secarik kertas yang isinya mungkin bisa membuat mereka tenang’ kataku.
Dia mengambil secarik kertas, lalu memasukkan ke katong yang ada di dadanya.
‘Pasti aku sampaikan’ katanya. ‘Kamu sudah siap? Kalau sudah, ayo kita pergi’
‘Aku selalu siap, aku tau konsekuensinya. Aku tau apa yang kuperbuat’ kataku.
Kami berdua jalan di sebuah lorong, gelap, pengap, tidak ada jendela sekalipun selama kami berdua berjalan. Kalau kalian tidak tau, temanku bekerja di kepolisian.
3 menit kami berjalan, dengan keadaan tanganku terikat borgol. Pada akhirnya kami sampai di depan khalayak orang, hakim, serta puluhan polisi.
Aku berdiri di depan mereka semua, dengan tiang setinggi 4 meter di sebelahku.
‘Suadara Toto, anda dinyatakan bersalah, atas pembunuhan berantai yang menyebabkan 13 orang meninggal. Dan tragisnya anda melakukan itu dalam waktu 3 bulan dan 13 orang itu juga termasuk keluarga anda. Maka sesuai hukum yang berlaku anda akan digantung. Apa anda siap menanggung itu semua?’ kata hakim.
‘Saya selalu siap’ jawabku, singkat.
‘Apa ada kata terakhir?’ tanya hakim.
‘Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster atau mati sebagai orang baik?.’
Anda Mungkin Juga Suka





