
Black Paradise
Bab 2
Romanov begitu menggigil mendengar ancaman dari Farel dia tidak menyangka bahwa pria itu mampu melakukannya, selama ini Romanov tidak pernah tahu sepak terjang Farel seperti apa?
Dia hanya tahu pria itu seorang pengusaha kaya, namun Romanov tidak pernah tahu, bagaimana kekuatan sebuah kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
"Ampun Tuan."
"Maafkan saya."
Terdengar suara Romanov sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan sujud dan memohon di kaki Farel.
"Saya akan memaksa Putri saya untuk menikah denganmu, mau tidak mau malam ini dia harus bisa menikah denganmu Tuan Farel.
"Tidak perlu!"
"Aku tidak berselera lagi dengan putrimu, kalaupun dia menikah denganku paling jadi pembantu di rumahku," jawab Farel dengan suara yang mengertakkan giginya.
"Jangan bicara begitu Tuan, tolong beri kami kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan saya, Anda boleh memilih satu diantara keduanya," jawab Romanov penuh ketakutan, karena dia cemas ancaman Farel akan berlaku kepadanya.
"Hohoho."
"Penawaran yang bagus," jawab Farel dengan senyuman evil.
"Apakah kau sedang melakukan sebuah penawaran denganku?"
Senyuman evil tersungging di sudut bibir pria itu.
"Saya tidak mengatakan kalau saya memberikan penawaran kepada tuan Farel, Namun semua tergantung kelembutan hati Tuan Farel untuk menerima penawaran saya."
"Kiranya sudi, Tuan Farel mengambil salah satu dari putri saya," jawab Romanov dengan wajah pucat.
Dia melihat beberapa pengawal Farel sedang berdiri di hadapannya dengan memberi tatapan intimidasi dan dingin.
Romanov tidak menyangka bahwa rencananya membuat pernikahan gagal ternyata berakhir dengan kemarahan dari Farel.
"Aku tidak akan membuat kamu terdepak dari rumah ini, mari kita lanjutkan permainan ini Tuan Romanov."
"Kau sudah membuat permainan dan kamu juga harus mengakhirinya, sekarang silakan salah satu putrimu akan menjadi korban untuk game yang kau mainkan sekarang, Tuan Romanov," ujar Farel sambil berjongkok melihat ke arah Romanov yang masih bersujud di hadapannya.
Romanov semakin bergetar mendengar ucapan dari pria yang berdiri di hadapannya.
Farel segera melangkah keluar menemui tamu undangan.
Pria itu tersenyum ke arah para tamu undangan sambil mempersalahkan mereka menyantap hidangan yang di sediakan oleh para pelayan rumah tuan Romanov.
Romanov yang masih duduk di ruangan tengah menarik nafasnya berat.
Marcell berjalan kearah Romanov dan berjongkok di hadapan pria paruh baya itu. Dengan memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Kau sudah mempermalukan Tuan kami."
"Oleh karena itu kau harus menerima apa yang sudah kamu perbuat sekarang, Tuan kami tidak akan membiarkan kamu melenggang begitu mudah dan hidup dengan tenang dan bahagia."
Marcel memberikan intimidasi yang cukup membuat nyali Romanov menciut.
Marcel segera menarik ponselnya.
Pria itu meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, sita semua rumah dan aset kekayaan Tuan Rumanov malam ini juga, dia harus membayar semua utangnya kepada perusahaan Asia Company," terdengar perintah Marcel di telinga Tuan Romanov.
Pria itu begitu kaget mendengar rumahnya disita dan aset kekayaannya disita.
Dia baru menyadari kalau dirinya berutang kepada orang-orang yang berada di dalam rumahnya.
Romanov sangat menyesalkan kenapa dia tidak menyelidiki dulu siapa Farel sebenarnya.
"Tu....tuan, tidak boleh melakukan ini pada kami!"
"Tolong berikan kesempatan untuk kami sekali lagi Tuan."
Anda boleh membawa dua-duanya Putri saya, Tapi tolong jangan sita semua aset yang saya miliki," jawab Romanov dengan suara yang bergetar.
Marcel berdiri dengan tegak dan tatapan dingin yang menusuk ke arah Tuan Romanov.
"Tapi kamu dengar sendiri kan? Tuan kami tidak berselera lagi dengan Putri mu itu?"
"Aku tidak bisa menolongmu."
Rumanov masih bersimpuh dengan tubuh yang bergetar, dia tidak pernah menyangka bahwa nasibnya akan sisial ini.
Suasana di luar sangat meriah, sebentar lagi akan digelar pertukaran cincin, dan juga mengikat janji suci pernikahan, Farel berdiri di lantai dua melihat ke arah para tamu undangan.
Seseorang menghampiri Farel .
Pemuda itu segera berpaling dan melihat ke arah ajudannya.
"Tuan muda."
"Bagaimana selanjutnya?" tanya ajudannya yang membungkuk hormat.
"Katakan padanya untuk melanjutkan pernikahan ini, aku ingin Putri keduanya," jawab Farel dengan tersenyum jahat.
Seringai iblis terpancar dari wajahnya saat melihat Rania berdiri dengan seorang Pria.
Farel merasa terhina, keluarga Rumanov harus membayar penghinaan ini, alih-alih membalas dendam justru Farel masuk dalam permainan Rumanov.
Diruangan sebelah seorang Pria menggunakan baju hitam mendekati dan berbisik di telinganya.
Setelah menerima perintah, Marcel berjalan ke arah Rumanov yang masih duduk bersimpuh di hadapannya.
"Pergi dan cari Putri keduamu itu sekarang juga! Tuan kami menginginkannya," perintah Marcel dengan suara tinggi.
Rumanov yang begitu ketakutan dan juga senang segera bersujud beberapa kali di hadapan Marcel.
"Terima kasih Tuan."
"Saya akan segera mencarinya," jawab Rumanov dengan suara datar.
Marcel melihat gelagat Rumanov yang mencurigakan, membuat keningnya berkerut.
Ada apa dengan Tuan Rumanov, kenapa dia terlihat begitu senang saat Putri keduanya di pinang oleh Tuan mudanya?
Rumanov segera mencari Anabelle, gadis itu begitu terkejut saat tangannya ditarik paksa oleh Ayahnya.
"Sakit Ayah.... Ayah sakit."
"Lepaskan tangan Annabelle Ayah," ucap Anabelle dengan suara lembut, gadis itu meringis kesakitan karena tangannya dipegang kuat dan di tarik paksa oleh ayahnya.
"Ikut."
"Ikut kemana Ayah?"
Tuan Romanov menghempaskan tubuh Annabelle kedinding.
Gadis itu meringis kesakitan.
"Ayah tidak mau tahu sekarang, kau harus menikah dengan Tuan Farel menggantikan kakakmu Rania, apakah kau mengerti!" bentak Tuan Romanov ditelinga Annabelle.
Annabelle begitu kaget matanya membulat penuh, lidahnya keluh, tenggorokannya tercekat.
Terdiam tidak ada suara, rasanya bagaikan tertimpa gunung di kepalanya, kenapa dia harus menikah dengan calon suami kakaknya pada malam hari pernikahan.
Kenapa harus menjadi pengganti pengantin kakaknya?
Annabelle menggelengkan kepalanya.
Tuan Romanov menatap Putrinya penuh dengan kebencian, giginya menggertak.
Pria itu dengan spontan menggenggam kuat rahang Annabelle.
"Kau harus melakukan itu untuk Ayahmu, apakah kau ingin Ayahmu miskin dalam satu malam dan terusir dari rumah ini, mau tinggal dimana kita, hah?"
"Saatnya kamu harus membalaskan budi Ayahmu yang sudah membesarkanmu sampai sekarang," ucap Rumanov dengan suara yang menekan giginya.
Rumanov menatap ke arah Annabelle dengan tajam.
Annabelle menundukkan wajahnya ke bawah menatap lantai rumahnya, air matanya begitu jatuh begitu saja tak diundang, hatinya begitu sakit dan sedih, Kenapa ini harus terjadi kenapa dia harus mengantikan kakaknya, dan harus menjadi korban?
Semua pertanyaan kenapa dan kenapa terus saja bergulir di benaknya.
Annabelle tidak menjawab mengiakan atau tidak.
Dengan diamnya dia sudah cukup memberikan sebuah jawaban bahwa ia menyetujuinya.
"Sekarang hapus air mata palsumu itu, saya tidak ingin melihat kau menangis, dan tamu undangan melihat air matamu!" ucap Tuan Romanov yang memberikan penekanan kepada Annabelle.
Annabelle terdiam, dia mengusap air matanya dengan telapak tangannya, perlahan dengan langkah lemah, dia berjalan mengikuti Ayahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





