Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bismillah Anna

Bismillah Anna

Anna memendam cinta pada Malik sejak SMP, meski Malik bersikap dingin dan menyukai wanita lain. Di tengah perjuangan menjadi dokter muda, Anna harus menghadapi duka mendalam karena kehilangan sosok ayah tercinta. Meski takdir terasa pahit dan cintanya tak terbalas, Anna berusaha tegar menjalani hidupnya yang penuh cobaan. Akankah kesabaran Anna berujung pernikahan dengan Malik, atau justru ia akan bersatu dengan pria lain yang jauh lebih misterius?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Jadi gini, yang menolong kamu adalah Bayu."

Anna yang mendengar ucapan Adit langsung menanyakan pria yang telah menolongnya itu.

"Bayu?" sembari mengerutkan dahi, dan berusaha keras memikirkan siapa Bayu itu.

"Bro, Bayu itu siapa?"

Adut melanjutkn pembicaraanya.

"Jadi Bayu itu ketua osis di sini,"

"Oh ketua Osis," Anna legah mendengarnya.

"Yaudah kalau gitu aku dan kakaku pamit yh, bro nanti main ke rumah, lagian hari juga sudah semakin sore nie."

"Ok bro!" ujar Adit.

Sesekali ia menatap ke arah Anna, sedangkan

Anna juga demikian.

'Tiiit .... Tiiit'

Suara klakson motor milik Rey, setelah semunya kembali, di perjalanan pulang, Rey menanyakan keadaan Anna yg masih terlihat agak pucat dan lemas. Sementara itu, Anna yang di gonceng hanya terdiam memikirkan siapa Ketos yg bernama Bayu itu. Di saat ia serius memikirkn Bayu, Rey yang hanya melihat kakaknya dari kaca spion motor mengagetkannya. Ia menggerakan bahunya yg sebelah kiri di mana tempat sandaran kepala Anna.

"Kak-kak, kok ngelamun si? kakak masih ngerasa pusing yah?" tanya Rey yang masih cemas dengan keadaan kakaknya.

Pertanyaan yang sama telah di lontarkan Rey sebanyak 3 kali. Namun, Anna belum menjawab malahan ia masih terdiam dan merenung.

Hal ini membuat Rey menghentikan motornya, saat motor telah berhenti di pinggir trotaor, Anna yang baru sadar dari melamunya tadi langsung bertanya ke Rey.

"Dek kok berhenti dsini, kan rumah kita masih jauh?" Anna nampak kebingungan. Rey yang tak menjawab pertanyaan kakaknya itu langsung meraba testa Anna.

"Allhamdulillah ngk panas!" ujar Rey.

"Panas? siapa yg panas!" tnya Anna.

"Habisnya kakak di tanya dari tadi ngk di jawab, diam bae."

"Wess ayo lanjutin jalannya!" ujar Anna.

"Ok kak"

Di tengah perjalanan Anna menanyakan sesuatu kepada Rey mengenai Adit.

"Dek, kak Adit itu orangnya kek gimana?"

sambil memeluk erat badan adiknya itu.

"Ohw Adit, baik kok anaknya. Emang kenapa kak?"

"Ngk sih, kakak cuman pengen tau doank!"

"Alah biilang aja kakak naksir kan sama dia?"

Anna yang mendengar ucapan itu dari adiknya, membuat ia tersipu malu. Dan berhenti menanyai Adit.

"Di rumah aja kak baru aku ceritain"

Terdengar helaan napas dari Anna.

Beberapa menit kemudian akhirnya mereka pun sampai di rumah.

Terlihat dari arah kejauhan Rey dan anna melihat sosok wanita yang begitu mereka cintai, rupanya ia adalah ibunda tercinta yg telah menunggu mereka pulang.

"Ma"

Suara Anna yang masih di atas motor, dari arah kejauhan sambil melambaikan tangan.

Setiba di depan rumah.

"Assalamualaikum mama," sahut Anna dan Rey dengan kompak.

"Waalaikumussalam, kenapa baru pulang nak?" perasaan yang risau di rasakan Mama.

"Tuh! kak Anna tadi pingsan Ma, di sekolah, terus siumanya agak lama." Ujar Rey.

"lah, kok gitu? kenapa kakak ngk kasih tau Mama!" terlihat Mama yang langsung panik.

Anna yang saat itu tidak memberi jawaban ia hanya terdiam mendengar ucapan mamanya. Bersikap seolah-olah tidak ingin merepotkan siapapun.

"Ngkpp kok Ma! Anna udah baikan kok, jadi Mama ngk usah khawatir sama aku yh" Anna mencoba menyakinkan mamanya tersebut.

"Tapi, lain kali jangan gitu yh nak! Mama kan jadi khawatir sama kamu" ujar Mama yang tak ingin kejadian buruk menimpa putrinya itu.

"Tau nie kakak! kenapa ngk kasih kabar ke aku dan Mama, kan jika kita tau nanti kita ke sekolah kaka, bdw Ayah udah tau belum kak?"

"Ngk usah bilang ayah nanti ayah malah kepikiran lagi sama aku, please yh Ma! dek! kakak mohon."

"Yasudah kalau gitu kakak mandi trus makan yh nak" ujar Mama yang langsung mencium testa anna.

"Siap Ma!"

keluarga Anna adalah keluarga yang hidup dengan kebutuhan yang sangat layak, di mana Ayahnya adalah salah satu pimpinan dari beberapa perusahaan ternama yang ada di Jakarta maupun di luar Kota. Begitupun dengan Ibunya yang juga mempimpin 3 perusahaan atas peninggalan dari kedua orang tuanya. Namun, hal ini tidak mengurangi kesibukan mereka untuk selalu memperhatikan anak-anaknya. Selain itu, tak ada satu pun teman yang tahu bahwa Anna dan Rey adalah ornag yang berada. Semua identitas mereka, di sembunyikan dengan baik-baik.

Selain orang tuanya sibuk tetapi Anna dan Rey tahu diri. Kedua orang tuanya tak membebani pikiran Anna dan Rey.

Jadi tak heran kan? jika keluarga mereka adalah keluarga yg sakinah mawadah warohmah.

Di balik itu juga, tak ada rasa sombong pada diri mereka. Apalagi niat buruk walau sekecil apapun tidak timbul pada pendirian mereka. Keluarga ini ibarat padi semakin ke atas semakin menunduk.

Sesampai di kamar, Anna langsung mandi dan beres-beres. Beberapa menit kemudian semuanya telah usai kini saatnya ia menerima jawaban dari Rey mengenai Adit.

'Duuukkkk duuuukkkk'

langkah kaki Anna menuju ke luar kamar.

"Ade, kamu dimana si?"

"Dek ... Dek ... Dek"

"Yah kak, ada apa? aku di ruang lukis," sahut Rey yang menjawab dari atas tingkat.

"Iya kakak kesana?"

Dari arah belakang nampak suara seseorang, teryata itu adalah suara ibunya yg menegur Anna.

"Ada apa sih, kak! kok teriak-teriak begitu emangnya ada apa?" Mama yang begitu penasaran.

Anna yang mendengar kata mamanya langsung tersenyum malu seakan-akan ada yang ia tutupi.

"Eh Mama, hehehehe ... ngk ada apa-apa kok ma!"

"Dih-dih anak mama yg cantik ini kenapa senyum-senyum sendiri, nahloh ada apa yah?"

"Ngk kok Ma, ngk ada apa-apa, Anna hanya ingin tanya sesuatu sama Ade" ujar Anna dengan wajah yang mulai memerah.

"Yaudah kalau gitu, Mama mau lanjut kerja dulu yah sayang"

"Ok Ma."

Selepas itu ia pun menemui adiknya yang berada di lantai atas tempat ruang lukis bagi keluarga itu.

'tok tok tok' suara ketukan pintu dari luar.

"Dek aku masuk yah"

"Masuk aja kak, kamarnya ngk di kunci kok," sahut Rey.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumussalam"

Rey yang saat itu sedang melukis akhirnya terhenti sesaat kedatangan kakaknya.

"yeh kak ada apa?"

"Ade lupa yeh yang di motor tadi?"

"motor?"

Anna meyakinkan kembali ingatanya.

"Ohw itu, yang pertanyaan kakak mengenai kak Adit"

Anna langsung mengangguk.

"Ohw iya-iya! ada apa emangnya kak?, emang itu wajib aku ceritaain yah! cie-cie kakak nie, aku curiga deh" Rey sangat mengusili sang kakak.

Wajah Anna pun memerah, senyuman malu- malunya terlukis di wajah.

"Kan ade udah janji sama kaka mau ceritain dia"

"Tapi, kok kakak malah maksa yah buat aku ceritain, cie kaka!"

"Apa sih dek"

Anna pun semakin malu, wajahnya tambah memera.

"Nanti aja yh kak, lagian aku juga lagi lukis nanti yg ada konsentrasi aku malah terganggu"

Rey pun melanjutkan lukisanya. sebetulnya ia tak serius melukis ia hanya ingin mengerjai kakaknya saja.

"Dek ayolah please, Dek"

desakan Anna tetap tak mempan, ia gagal untuk membuat Rey menceritakan Adit. Di dalam hati Rey, ia tertawa melihat keadaan kakanya itu yang selalu memaksa ia untuk tetap mengatakan sesuatu tentang Adit.

"Hahaha hahha" sembari menatap Anna.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR WITH IPAR
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat hubungan Alma dan Evan mulai terasa hambar. Di tengah kejenuhan yang melanda, Evan justru mencari pelarian hingga terjebak skandal asmara dengan Laras, adik iparnya sendiri. Pengkhianatan ini menjadi ujian berat bagi pernikahan mereka. Akankah Alma mampu memberikan maaf saat rahasia terlarang antara suami dan adiknya terbongkar? Sebuah kisah emosional tentang kesetiaan yang hancur.
Sampul Novel Broken
9.5
Kehidupan Risa Aulia hancur setelah dikhianati oleh suaminya, Danuarta Prasetya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Karina Jelita. Di tengah duka mendalam akibat kehilangan sang ayah, Risa harus berjuang sendirian menyembuhkan luka hatinya yang terkoyak. Kehadiran sosok pemuda blasteran bernama Dio Al Gazali membawa harapan baru bagi kesembuhannya. Namun, situasi menjadi rumit saat Danu kembali dan memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka.
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Leonard Mahendra, pria mapan berusia 38 tahun, terbiasa hidup sendiri hingga Evelyn hadir. Putri sahabatnya itu menumpang tinggal karena ayahnya bertugas di luar negeri. Sifat Evelyn yang ceria mengubah rutinitas Leonard menjadi lebih berwarna. Namun, rasa peduli Leonard perlahan berubah menjadi cinta terlarang. Evelyn pun terjebak dilema karena menyukai teman ayahnya. Rahasia ini menjadi ancaman besar saat ayah Evelyn kembali dan mengetahui semuanya.
Sampul Novel FOTO SUAMI FAN KEPONAKANKU
8.9
Kehidupan pernikahan Arini mendadak hancur saat ia menyadari adanya pengkhianatan di dalam rumah tangganya sendiri. Sosok orang ketiga yang merusak hubungannya ternyata adalah keponakannya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Arini mulai mengungkap berbagai fakta mengejutkan yang benar-benar di luar nalar. Mampukah ia menghadapi kemelut pelik ini dan bertahan di tengah misteri yang menyelimuti suaminya? Sebuah kisah penuh intrik, luka, dan rahasia kelam.
Sampul Novel Godaan Mas Duda Posesif
8.1
Kaluna, mahasiswi tingkat akhir yang terdesak kebutuhan finansial, mendapat tawaran mengejutkan dari seorang duda kaya bernama Liam. Ia dijanjikan upah lima puluh juta per bulan hanya untuk menjadi ibu susu bagi anak pria itu. Kaluna yang pernah melahirkan di luar nikah pun menyanggupinya. Namun, pekerjaan yang awalnya ia kira sederhana justru membawanya terjebak dalam pesona dan sikap posesif Liam yang sulit untuk ia hindari di kehidupannya.
Sampul Novel I Hate Birthday Party
8.5
“Aku ingin mencoba seperti apa layanan dari pelacur yang sudah kubayar 3 kali lipat,” ujar pemuda tampan itu dengan ekspresi datar tanpa emosi. Gadis yang menjadi sasaran pembicara hanya berjalan mendekatinya mengelus kejantanan pemuda itu dari luar celana dan menciumi bagian bawah perutnya. Dia berusaha untuk membuat kejantanan pemuda itu mengeras dengan mempermainkan bagian kepalanya. Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Tidak ada tanda-tanda benda itu akan bangkit. “Hah! Seperti inikah sentuhan pelacur mahal itu? Aku bahkan tidak bergairah sama sekali!” maki pemuda itu. Tatapannya tajam menatap gadis di hadapannya. Umur mereka hampir sama hanya berbeda beberapa bulan saja. Mereka bahkan berada di sekolah yang sama. “Hentikan permainanmu! Aku muak berada disini!” Dia mendorong tubuh kecil gadis itu dan keluar dari kamar hotel yang sudah di bayar mahal. “Kalau kamu tidak mau tidur denganku, kenapa kamu harus membayarku sebanyak itu?” gumam gadis itu dengan suara pelan. Ekspresinya menampakkan kesedihan yang mendalam. Rasa hancur dari kehidupannya jelas terlihat dari sana. Dia bahkan seperti boneka yang tidak layak hidup lagi. *** “Aku akan mengeluarkanmu dari sana! Tunggu dan lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Tiara!”