Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika

Birahi Kadang Tak Ada Logika

Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejurunya aku menduga tidak mungkin cewek-cewek kota apalagi dengan status sosial dan pendidikan tinggi, mau melakukan pernikahan demikian. Kalau di kampungku cewek usia 14-17 tahun jadi janda beberapa kali, bukan hal yang tabu atau aneh. Maklum saja pendidikan mereka pun rata-rata hanya lulusan SD atau paling tinggi SMP, bahkan tak sedikit yang sama sekali tidak punya ijazah sekolah formal.

“Cewek juga kan manusia yang punya nafsu birahi, Besti. Mereka juga punya keinginan dientot kali. Bukan cuma kontol yang perlu diasah, tapi memek juga memang perlu dibasahi, hehehehe.”

“Eh busyet! Omongan lu udah kaya comberan aja, Bro!” seruku dengan sedikit terhenyak. Sebelumnya Farid tak pernah bicara begitu.

“Nah, melalui ikatan kawin siri inilah mereka merasa lebih aman dan terhindar dari jeratan dosa berzinah.” Farid yang kudengar baru kali ini bicara vulgar itu menjelaskan lebih rinci lagi dan aku mulai sedikit memhami.

“Tapi emang iya juga sih?” Aku pun mulai melunak.

Menurut Farid sebenarnya di kampus kami banyak mahasiswa yang melakukan perkawinan seperti itu. Dia berjanji akan memperkenalkan aku dengan mereka yang sudah menjalani kawin siri sambil tetap kuliah. Dan beberapa hari kemudian janjinya pun dia penuhi.

Farid memperkenalkan seorang mahasiswa yang sebetulnya sudah lama aku kenal karena satu angkatan dan satu fakultas. Heldy asli anak Bogor, tanpa malu-malu mengakui jika dia sudah lama menjalani perkawinan sementara dengan Hanna, mahasiswa yang sudah lama aku kenal juga karena kecantikan dan kealimannya. Aku bahkan tak punya keberanian untuk menggoda Hanna sebelumnya.

‘Gila!’ Ternyata aku banyak ketinggalan info tentang banyak hal yang tgerjadi di sekitaran teman-temanku.

Sudah hampir dua tahun aku berteman dengan Farid dan Heldy, namun baru tahu kalau mereka ternyata sudah beberapa kali kawin cerai secara siri. Mereka juga menyebutkan beberapa senior kami yang sudah lama menjalani ikatan kawin siri, atau kawin kontrak seperti ini. Dan masih dalam keterkesimaan saat menyimak kisah seru mereka, penisku pun ikut-ikutan ngaceng berat. Terbayang nikmatnya meniduri para akhwat secantik Hanna atau yang lainnya.

“Daripada cuma coli doang, Bro!” bisik Heldy saat dia dan istri sirinya berpamitan.

Sampai beberapa hari, aku masih belum bisa mengambil keputusan, sementara di tempat pengajian Farid pun makin menggila. Ketika selesai pengajian dia memperkenalkan aku kepapa beberapa akhwat. Meskipun tidak bersalaman dengan bersentuhan tangan, tapi aku mulai merasakan sensasi dan getaran yang sangat aneh dalam jiwa. Obsesiku untuk bersetubuh dengan kaum akhwat kian meronta-ronta, namun batinku masih menolak nikah kontrak atau nikah siri.

“Bisa gak sih ngentotin mereka tanpa harus nikah siri juga?” bisikku pada Farid.

“Hahahah dosa besar, anjing!” bentak Farid sambil ngakak.

“Gitu ya, hehehe.”

“Lu minat gak kawin siri sama mereka? Lu tinggal pilih, mereka pasti tidak akan menolak. Jujur aja mereka emang sangat suka sama cowok yang masih polos, anak kampung yang cupu kaya lu itu, Gar!” kata Farid terus menyemangatiku.

Aku tertawa geli dalam hati sekaligus puyeng. “Emang bayarnya berapa kalau kita kawin siri kaya gitu, Bro?” Akhirnya aku mulai sedikit menyerah.

“Bayar? Ya sesuai dengan kemampuan lu aja, mau bayar seratus rebu atau sejuta juga boleh. Itu buat sebulan, tiga bulan atau bahkan setahun, yang penting sama-sama setuju. Itu namanya mahar,” kata Farid yang kembali membuat kepalaku pening, membayangkan bayar sejuta bisa nidurin akhwat setiap malam selama menjadi suami sirinya.

“Udah deh, lu mendingan kawin aja kayak gua. Banyak loh akhwat yang nungguin perjaka lu, heheheh,” katanya setengah berbisik.

Aku tidak menduga jika Farid sudah beberapa kali gonta ganti istri, hanya bermodalkan uang mahar seratus ribu. Dan yang membuatku masih salut, Farid tetap menganggapku sebagai remaja kampung yang cupu, polos bahkan perjaka ting-ting. Ternayata aktingku sebagai orang polos sudah berhasil. Aku sudah berubah sesuai keinginanku sendiri jadi ‘Anak Kampus Yang Soleh.’

“Bro, gua tahu kontol lu gede and panjang banget. Sayang aja kalau gak dimanfaatin dengan baik. Buat apa cuma dipake kencing doang. Jujur aja, kontol gua yang ukuran standar aja, banyak yang ketagihan, apalagi punya elu?” Farid kembali bicara dengan mimik yang sangat serius.

“Hahaha, Kodok Tasik! Emang lu tahu kontol gua kaya gimana?” bentakku sambil ngakak.

“Kan dari dulu kita sering renang bareng, keliatan kali, Oncom Bogor! hahahaha.”

“Dasar homo lu!” sergahku sambil terus ngakak.

“Kan gak sengaja keliatannya, Bangsat! Tapi sejujurnya gua emang salut sama kontol lu yang kaya punya orang Arab gitu!” Pujian Farid mulai terdengar tulus dan suci.

“Gitu ya, terus gua nanti tinggal dimana kalau udah punya istri siri?” tanyaku bingung. Setahuku semua tempat kost wajib menunjukan surat nikah yang resmi jika akan tinggal bersama atau setidaknya mengaku sebagai pasangan suami istri.

“Hahaha, gampang, serahkan sama ahlinya. Ayo ikut gua!” sergah Farid penuh percaya diri.

Farid mengajakku ke satu wilayah yang tidak jauh dari pusat kota, ternyata itu tempat kostnya yang kedua. Di tempat ini menerima penghuni suami istri yang sudah menikah, walau pun hanya nikah siri. Pemiliknya ternyata salah satu anggota legislatif yang jadi pendonor dana kelompok pengajian itu. Dia juga sering gonta-ganti istri siri. Biaya sewa kostan ini sangat murah jika dibandingkan tempat kost dekat kampusku. Farid juga mengajak aku bertemu dengan Aida, istri sirinya yang sudah lama menjadi penghuni di kostan itu.

Aida baru dua minggu dinikahi Farid. Dia mahasiswi kampus lain, berasal dari Karawang. Aida anggota pengajian dan usinya dua tahun lebih tua dari Farid. Saat di kamarnya Aida tidak memakai cadar, sehingga aku bisa melihat kecantikannya. Namun yang jadi perhatianku justru lirikan matanya yang genit dan jalang saat menatap selangkanganku yang menyembul besar. Entahlah mengapa penisku mendadak ngaceng saat bertemu Aida.

Kami ngobrol sambil duduk lesehan beralaskan karpet. Farid mengaku jika Aida wanita kedelapan yang dinikahi siri dalam setahun terkahir ini. Sedangkan Aida tanpa malu-malu mengaku sudah sebelas kali menikah siri sebelum kenal dengan Farid. Aida bahkan tak malu-malu bercerita jika dirinya sangat nakal dan binal di atas ranjang semenjak bersuamikan Farid yang katanya ‘hypersex.’

Aku benar-benar terperangah, tak menduga Aida ternyata sudah merasakan selusin penis. Dan entah mengapa libidoku kian melonjak mendengar ceritanya yang seakan sengaja untuk merangsangku, padahal ada Farid di dekatnya. Fantasiku melambung tinggi, membayangkan bagaimana binal dan nakalnya akhwat ini jika kugenjot dengan penisku yang super jumbo, beda jauh dengan milik Farid, suami sirinya.

“Ger, cewek kan punya kebutuhan batin juga, untuk menghindarkan dosa zinah, lebih baik kawin siri, kan sesuai dengan ajaran agama kita,” lanjut Aida kalem namun matanya kian liar menatap selangkanganku yang makin menyembul besar keras hingga agak sakit karena posisinya yang gak pas.

Sungguh aku tak paham. Kok bisa nikah cerai dalam waktu singkat seperti itu. Apakah dalam ajaran mereka tidak ada yang disebut iddah? Setahuku dalam ajaran agama islam ada yang namanya iddah. Seorang wanita yang menjanda atau bercerai dari suaminya tidak bisa serta merta mudah menikah lagi dengan lelaki lain tanpa melewati masa iddah yang kalau gak salah masa itu lamanya sekitar seratus hari atau tiga bulan.

Setelah panjang lebar ngobrol aku mempertanyakan soal bagaimana kalau orang tua mereka datang menjenguk, dan melihat anak-anaknya yang belum menikah tapi sudah hidup sekamar.

“Ah itu kan gampang Ger, kita hanya bilang bahwa tempat kost kita sangat ketat, tidak boleh membawa sembarang orang ke kamar, bertemu cukup sampai kamar tamu saja, kita selalu berpakaian tertutup dan berhijab begini, pasti bisa meyakinkan para orang tua lah!” katanya lagi, dan aku rasa memang alasan itu cukup logis dan mudah diterima akal sehat.

Kamar yang ditempati Aida cukup luas dan sangat nyaman untuk ditinggali dua orang dengan kamar mandi di dalam. Di belakang ada balkon kecil yang bisa ditempatkan kompor untuk sekedar memasak air atau mi instan dalam keadaan kepepet karena untuk makan dan lain-lain di lantai bawah ada kantin yang cukup lengkap.

Satu lagi pertanyaan yang menggelitikku ialah soal anak yang diperoleh dari hubungan nikah siri.

“Soal hamil, itu urusan cewek, Ger. Mau hamil atau tidak sepenuhnya berada di tangan cewek. Sekarang sudah maju, kontrasepsi banyak macamnya dan banyak yang gratis atau katakanlah murah dan terjangkau kantong mahasiswa, kenapa harus bingung dan pusing?” jawab Aida dengan santai, seperti sudah dipersiapkannya.

Aku kembali kalah bicara. Setelah jawaban itu baru kusadari bahwa aku memang bodoh. Cocoknya pertanyaan seperti itu aku lontarkan pada masa sebelum zaman kemerdekaan.

“Ger, dengan kawin begini, kita jadi irit terutama untuk kost dan makan. Kalau dulu kan semua harus ditanggung sendiri. Udah deh buruan aja cari istri, apa perlu aku kenalin sama temen-temenku yang lagi jomblo. Dari pada tiap hari kontolmu hanya dikocok sendiri, kan lebih bagus diadu sama yang seharusnya,” kata Aida nyablak yang sontak membuatku kian terangsang, namun sayang ada Farid di antara kami.

Dan anehnya Farid juga sepertinya tak terganggu dengan ucapan istri sirinya yang kurasa cenderung menjurus pada upaya menggodaku. Jangan-jangan Farid dan Aida, sudah terbiasa thresome, tukar pasangan atau sejenisnya. Lantas buat apa mereka harus repot-repot nikah siri kalau akhirnya melakukan free sex dengan pasangan lain. Dan Farid juga menyarankan aku pindah kost supaya mudah koordinasi.

Koordinasi bua apa? Buat tukar pasangan? Masa sih?

“Ger, ini ada foto temen-temenku, aku kirim ke nomormu ya,” kata Aida, dan tak lama kemudian aku menerima belasan foto akhwat berhijab dan kelihatan cantik-cantik karena tanpa cadar.

“Mereka semua mahasiswa loh, bukan pecun. Gerald sebutin aja seleranya yang mana. Apa yang montok, yang tinggi atau yang pengalaman? Pokoknya tinggal sebut aja, entar kalau pengajian lagi, aku kenalin sama mereka, kalau mau langsung kawin siri juga bisa.” Aida makin semangat berpromosi.

Lagi-lagi aku melihat kerlingan mata istri siri Farid seperti memberi kode, bahkan dengan cueknya menatap selangkanganku, sinar matanya seolah berkata ‘Lihat tuh, kontolmu ngaceng terus dari tadi, Ger. Mending cepetan nikah, nanti kita bisa tuker pasangan loh.’

Aku belum bisa mengambil keputusan karena rasanya sangat aneh, seolah penuh rekayasa. Banyak kejanggalan yang susah kudefinisikana. Aku meminta waktu seminggu untuk berpikir lebih jauh. Sejujurnya aku merasa apa yang ditawarkan Farid dan Aida, tak ada bedanya dengan perzinahan biasa, hanya lebih terhormat karena dibalut dalil-dalil nikah siri. Memakai pendekatan agama yang entah benar atau salah dalil yang mereka gunakan.

Dan aku sangat terkejut saat akan keluar dari kamar mereka, tiba-tiba Aida seperti tak sengaja menyentuh dan meremas penisku dari balik celanaku. Gila, Farid yang melihatnya hanya tersenyum simpul, sementara aku terperanjat kaget.

“Yang penting nikah aja dulu, nanti kalau bosan kan bisa saling tukar pasangan, Bro!” bisik Farid seolah membenarkan semua praduga jelekku tadi.

‘Jadi ini yang kalian sebut sebagai tindakan halal dan terhindar dari dosa zinah? Edan!’ makiku dalam hati sambil melangkah pergi.

‘Kalau gabung dengan kalian, terus kapan gua jadi Anak Soleh-nya?

*Bersambung Suami Siri, 3

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bersinar Setelah Menjanda
9.0
Irfan meremehkan Amira dengan menyebutnya tidak berdaya tanpa dirinya. Namun, takdir berputar saat Amira berhasil meraih kesuksesan besar, sementara Irfan terjebak dalam keterpurukan. Kini, sang mantan suami kembali datang mencoba merayu dan memenangkan hatinya lagi. Akankah Amira terjatuh ke lubang yang sama, atau justru membiarkan Irfan menderita dalam penyesalan? Saksikan perjuangan emosional Amira untuk bangkit dan membuktikan harga dirinya.
Sampul Novel Bukan Wanita Kedua
8.2
Dulu dibutakan cinta, Aulia kini hancur saat mengetahui Dimas berkhianat dengan menikah lagi. Tak hanya dikhianati, ia bahkan diusir dan dihapus dari kehidupan keluarga suaminya. Bertekad bangkit, Aulia menemui Rina untuk mencari kerja demi melupakan luka. Ia pun bekerja pada Sagas untuk membalas budi masa lalu. Meski hatinya sering goyah, dukungan sahabatnya terus menguatkan Aulia agar tidak kembali pada kekejaman Dimas. Sanggupkah ia berdiri tegak?
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Gita Cinta dari Gadjah Mada menyajikan kisah asmara antara Gita, mahasiswi penuh talenta, dan Mada, pemuda yang sangat ambisius. Berlatar di lingkungan Universitas Gadjah Mada yang dinamis, hubungan mereka menghadapi berbagai dinamika kehidupan perkuliahan. Pembaca akan diajak menyelami perjuangan cinta yang emosional di tengah atmosfer kampus yang berwarna. Sebuah narasi tentang romansa masa muda yang harus bertahan melewati segala rintangan dunia akademik.
Sampul Novel Godaan Mas Duda Posesif
8.1
Kaluna, mahasiswi tingkat akhir yang terdesak kebutuhan finansial, mendapat tawaran mengejutkan dari seorang duda kaya bernama Liam. Ia dijanjikan upah lima puluh juta per bulan hanya untuk menjadi ibu susu bagi anak pria itu. Kaluna yang pernah melahirkan di luar nikah pun menyanggupinya. Namun, pekerjaan yang awalnya ia kira sederhana justru membawanya terjebak dalam pesona dan sikap posesif Liam yang sulit untuk ia hindari di kehidupannya.
Sampul Novel Guard You
9.3
Kania Raiza, gadis sombong putri pemilik sekolah, kehilangan segalanya saat ayahnya wafat dan ibunya jatuh sakit. Hidupnya berbalik drastis dari penguasa sekolah menjadi rakyat jelata yang menderita akibat karma perundungan masa lalunya. Di tengah kehancuran dunianya, muncul seorang pemuda misterius yang berjanji menjadi pelindung setianya. Mampukah sosok ini menjaga Kania saat ia harus menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan?
Sampul Novel Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu
8.7
Maura Laksmi, gadis polos berumur 21 tahun, bekerja sebagai pelayan di kediaman mewah keluarga Santoso. Namun, hidupnya hancur saat Ravel Santoso melampiaskan rasa sakit hatinya akibat dikhianati tunangan kepadanya dalam sebuah insiden kelam. Trauma mendalam membuat Maura melarikan diri ke rumah kakeknya. Keadaan kian pelik saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Kini, Maura terjebak dilema besar antara menuntut pertanggungjawaban Ravel atau menanggung beban itu sendiri.