
Birahi Kadang Tak Ada Logika
Bab 3
Karena tidak membawa motor, terpaksa aku harus mencegat angkot buat pulang. Farid menawari motonya untuk kupakai, namun kutolak. Sepertinya aku tidak usah bertemu mereka dulu untuk satu atau dua minggu, supaya otakku bisa lebih jernih. Aku makin curiga jika mereka sebenarnya kaum free sex bermoduskan agama untuk pembenarannya.
Saat sedang menunggu angkot di pinggir jalan, tiba-tiba aku melihat seseorang yang sudah lama tidak bernumpa. Dia adalah teman kecilku di kampung. Bahkan sekolah kami bareng satu kelas walau usia dia dua tahun lebih tua dariku. Sudah hampir tujuh tahun kami tidak bertemu, dan penampilan dia pun tampkanya sudah banyak berubah, namun aku masih sangat mengenalinya.
Aku pun bergegas mendatanginya dan langsung bertanya, “Maaf, ini Ilham Komarudin ya?” tanyaku to the point.
Orang yang aku yakini Ilham itu pun terlihat kaget. Dia mengernyit dahinya, menatapku intens penuh curiga.
“I… ya sa… saya Ilham. Ka… mu… siapa ya?” tanyanya agak sedikit gelagapan.
Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak, masa iya Ilham sudah lupa denganku, sementara aku masih sangat ingat dengannya.
‘Astaga!’ Aku langsung tersadar. Ilham tidak salah, wajar jika dia tidak mengenaliku lagi saat ini. Keadaanku sangat jauh berbeda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu saat kami masih sama-sama tinggal di kampung. Jangankan Ilham yang sudah lama tidak bertemu, teman-teman SMA-pun banyak yang hampir tidak mengenaliku saat ini. Sekarang aku sudah seperti selebriti papan atas, canda mereka.
“Babang Ilham masih inget gak dengan Leuwi Ciparay?” Aku sengaja menyebut nama itu, karena yakin Ilham tidak akan melupakan tempat yang sangat bersejarah itu.
“Hah, kamu Gerald Ramadhan bukan?” tanyanya setengah berseru sambil menerima jabatan tanganku, namun mimik wajahnya masih tetap menggambarkan ketidak percayaannya jika aku adalah Gerald, sahabt masa kecilnya.
“Yes, gua Gerlad dan sudah gua duga, lu kagak bisa lupa sama tempat itu, hahahaha!” balasku sambil menarik tubuh Ilham masuk dalam dekapan dan memeluknya erat.
“Aduh Ger!” Ilham berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku, dia mengatakan malu karena tubuhnya kotor dan bau. Aku tidak peduli. Ilham memang terlihat sangat kumal, bajunya pun sangat lusuh, keringatnya juga bau menyengat.
“Gua sangat kangen sama elu dan Melly, Ham!” bisikku di telinganya sambil tetap tidak melepaskann pelukan.
Aku lupa, bicara dengan aksen anak gaul masa kini, padahal dari dulu Ilham tidak suka jika ada temannya yang bicara pake ‘lu-gua,’ menurutnya itu sangat kasar dan tidak sopan. Ilham memang terkenal paling alim, santun dan religius untuk ukuran bocah di kampung kami saat itu. Rata-rata warga kampung kami sangat amburadul pemahaman agamanya.
“Kamu mau kemana, Ham?” tanyaku kalem setelah puas memeluk dan melepas rinduku.
“Saya mau pulang, Ger,” jawabnya agak singkat dan masih terasa canggung, bahkan dia seperti masih sangat malu, tak mau mengangkat wajah menatapku.
“Hmmm, sebelum pulang, gimana kalau kita ngerokok sambil ngobrol sebentar, mau kan?” tawarku. Aku tahu sekarang dia merokok karena di kantong kemeja lusuhnya terlihat ada sebungkus rokok kretek merek murahan yang gak jelas cukainya.
“Ta…tapi sebentar aja ya, Ger, saya kan harus pulang, udah mau sore ini!” Ilham berusaha menolak namun aku terus memaksanya dengan halus.
Ilham aku ajak mampir ke salah satu café terdekat, lalu aku memesan kopi, makanan ringan dan rokok kretek termahal yang ada di sana. Kami ngobrol agak lama yang akhirnya kuputuskan untuk ikut main ke rumahnya. Ilham menolak karena malu rumah kontrakannya dalam gang sempit yang sangat kumuh. Bahkan tak layak disebut rumah. Aku tetap memaksanya.
Aku memang sangat penasaran. Selama diajak ngobrol, Ilham selalu menghindar setiap kutanya keadaan dirinya saat ini. Dia tidak mau terbuka tentang kegiatan atau pekerjaannya. Dia juga tidak mau menceritakan kondisi keluarganya, padahal sempat keceplosan mengaku jika dia sekarang sudah menikah dan sudah punya anak satu. Aku yakin Ilham sangat membutuhkan pertolonganku, makanya aku perlu tahu kondisi dia dan keluarganya.
Walau dengan muka cemberut karena berat hati, akhirnya Ilham mengajak aku naik angkot menuju kawasan kumuh tempat tinggalnya. Agar Ilham tidak terlalu minder, aku pun mengaku sedang menganggur dan hendak mencari kerja di kota ini.
“Saya heran. Kok kamu hebat, Ger. Katanya masih pengangguran, tapi bisa nraktir saya, malah beli rokoknya juga yang paling mahal!” ucap Ilham yang sudah mulai bisa bicara santai saat kami berada dalam angkot yang sepi penumpang.
“Hahaha, itu namanya rizki anak soleh, Ham!” balasku sambil nyengir kuda.
“Anak Soleh, Ndasmu!” sergahnya sambil nyengir kesal
“Hahahahaha!” Kami pun kompak tertawa ngakak. Sama-sama teringat kelakuan gila masa kecil di kampung yang sangat tidak layak disebut ‘Anak Soleh.
Tak sampai setengah jam, Ilham mengajakku turun dari angkot dan berjalan menuju sebuah gang sempit. Saat melewati minimarket, aku meminta Ilham belanja dulu untuk oleh-oleh anak dan istrinya di rumah. Ilham langsung menolaknya, dia bilang masih cukup persediaan di rumahnya. Namun aku tidak percaya. Lalu aku mengambil uang cah sejuta dari dompet dan menyodorkan padanya.
“Hah, ini kamu serius, Ger?” tanya Ilham masih tak percaya, dan masih tidak mau menerima uang yang kusodorkan.
“Serius. Masih kurang? Oke gua tambah lagi dua juta, mau?” tantangku lagi agak kesal karena dia terlalu banyak menolak tawarnaku walau akhirnya menerimanya.
“Aduuuuh Geraaaaald!” Tiba-tiba Ilham berteriak dan merangkul tubuhku dengan sangat erat. Dia menangis tersedu-sedu sambil memelukku persis anak kecil hingga menarik perhatian banyak orang.
Aku yang kebingungan langsung mengajak dia pergi untuk menghindar tatapan orang yang curiga. Takut dikira aku debt collector yang sedang menagih hutang dengan cara kekerasa atau memaksa hingga nasabah yang sudah tidak berdaya itu ketakutan dan menangis meraung-raung.
Setelah tenang, Ilham bercerita jika istrinya sedang sangat membutuhkan uang. Dia memintaku agar langsung memberikan uang itu pada istrinya. Aku setuju dan kami pun segera masuk gang sempit menuju kontrakan Ilham, tanpa belanja dulu.
Kami sampai di sebuah rumah yang susah aku ceritakn sebagai hunian yang layak. Ada ruang tamu ukurannya 2 x 3 m, lalu ada ruangan di belakangnya yang kukira kamar tidur. Aku sangat terenyuh dan nyaris meneteskan air mata saat melihat keadaan rumah Ilham yang sebenarnya. Bahkan untuk saat ini, di kampungku tidak ada warga yang tinggal di gubug yang sangat kumuh seperti ini. Ternyata sahabat kecilku benar-benar hidup di bawah garis kemiskinan.
“Mana istri dan anakmu, Ham?” tanyaku pelan setelah Ilham menyuguhkan segelas air putih padaku.
“Masih kuli nyetrika, nanti satu jam lagi balik,” jawab Ilham sambil menatap sebuah foto berukuran sedang yang ditempel pada dinding bambu rumahnya.
“HEY!” seruku setengah berteriak sambil bangkit dari duduk, lalu berdiri memandang foto tersebut yang jelas-jelas memperlihatkan Ilham dan Melly yang sedang menggendong seorang bayi mungil. Aku kira bayi itu usianya setahun dan berjenis kelamin laki-laki.
“I..ini Melly kan?” tanya pada Ilham.
“Kamu kaget ya, Ger? Iya dia Melly. Saya udah nikah dengan Melly, itu anak kami,” ucap Ilham lirih sambil berdiri di sampingku yang masih melongo memandangi foto keluarga kecil itu.
“Ja… ja … jadi kamu beneran nikah sama Melly?” tanyaku lagi dengan suara yang masih agak sedikit tercekat dan bergetar. Kaget, masih tidak percaya jika mereka benar-benar menjadi pasangan suami istri.
“Iya…” jawab Ilham pelan, setelah menatap mataku dia pun langsung menunduk kembali tanpa kata-kata.
“Kalian beneran nikah? Emang boleh nikah sama saudara?” tanyaku masih bingung.
“Panjang banget ceritanya, Ger. Kami terpaksa nikah siri, demi masa depan Gerlad, anak kami.”
“Hah, anak kalian namanya Gerald?” tanyaku makin terperanjat.
“Iya, Gerald Ramadhan, sama seperti nama kamu. Itu permintaan Melly, karena dia masih selalu ingat sama kamu. Maafin kebodohan Melly yang sudah nyuri nama kamu.” Ilham kembali bicara sambil menunduk seperti orang yang ketakutan atau malu tertangkap mencuri.
“No! Gak ada masalah. Itu nama yang umum, siapa aja berhak memakai nama itu. Tapi, beneran kalian udah nikah secara siri dan gimana kabar ibu dan bapak kalian?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Panjang banget ceritanya, Ger. Mungkin biar Melly aja yang nyeritainnya.”
“Oh my God, kenapa hari ini gua banyak banget dapat kejutan, Ham?” gumamku.
“Tapi yang pasti, sudah sejak lama aku, Melly dan Gerlad, terusir dari rumah orang tua kami. Aku kerja serabuatn kadang ngamen, atau apa saja pernah juga ngemis. Melly, kuli nyuci, nyetrika atau apa aja dari tetangga yang butuh tenaganya.” Ilham bercerita keadaannya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Oh my God! Sudah berapa lama kalian tinggal di sini?” Aku kembali tak sadar menarik tubuh Ilham dan memeluknya dengan sangar erat. Ilham pun meneteskan air mata kesedihannya.
“Baru setahun lebih. Ini juga rumah udah dua bulan gak kebayar sewanya. Makanya saya pikir kalau kamu punya uang, lebih baik kasihkan sama Melly, biar dimanfaatin buat bayar kontrakan ini, kalau ada sisanya bisa buat yang lain-lain,” ucap Ilham dengan suara yang sangat lirih hingga membuat hatiku serasa disayat sejuta sembilu.
“Hentikan ngamen dan ngemisnya, Ham. Mulai hari ini, kalian ikut aja sama gua. Di sana ada rumah yang bisa kalian tempati sesuka kalian tanpa harus bayar. Di sana jauh lebih baik dan kalian juga bisa buka usaha baru.”
“Me … me … memangnya ka …mu su… dah ja… di… pengusaha ya, Ger?” tanya Ilham terbata-bata.
“Gua bukan pengusaha. Masih mahasiswa tapi nanti lu akan tahu sendiri apa usaha gua sekarang, oke?”
“Iya, Ger. Terima kasih sebelumnya kamu mau bantu kami.”
“Gua ini sahabat juga saudara kalian, wajiblah bantu kalian.”
“Apakah Melly perlu saya jemput biar pulang lebih awal?” usul Ilham.
“Gak usah. Biar pulang kalau tugasnya udah beres, kaya biasanya.”
“Wah, berarti Melly bisa jadi milik kita berdua lagi ya, Ger,” bisik Ilham.
“Hahahaha, kagak gitu juga konsepnya, Bangsat! Sekarang dia udah jadi istri lu, gua gak bakal ganggu, titik!”
“Gak apa apa, saya rela kok, kalau kalian masih sama-sama mau, hehehehe.”
“Hahaha, tetep gak boleh. Kita bukan yang dulu lagi, Ilham! Mendingan sekarang tinggalin gua sendirian, mau mengenang masa kecil kita yang super edan itu. Nih bawa duit, ajak Melly sama anak lu belanja sepuas kalian, hahahaha.”
Kenangan indah masa kecilku bersama Ilham dan Melly, rasanya tak akan tergantikan oleh cerita apapun. Bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Terlalu indah dan gila di masanya…
*Bersambung Suami Siri, 4
Anda Mungkin Juga Suka





