
Birahi Janda Binal
Bab 3
BACK TO…
Saat Widya sedang mengingat masalah yang baru saja terjadi, Evan memanggil Widya dengan suara sedikit manja seperti biasa.
“Bu…bu. minum”, Widya memesan minuman yang tadi ia lupa.
Widya kembali dengan segelas teh hangat manis di tangannya lalu diberikan pada Evan. Ia duduk disebelah anaknya lalu mengusap kepalanya pelan sambil berbicara seperti sosok ibu pada umumnya. Widya mencoba untuk menyuapi Evan, namun oleh Evan ditolak dengan alasan kalo Evan bukan anak kecil lagi karna dirinya sudah kelas 1 SMP. Sementara Widya hanya tertawa kecil melihat reaksi anak semata wayangnya itu.
Menurut info yang dikatakan oleh bu Nonik bahwa rumah mbah Mitro, orang yang akan membantu Widya tak begitu jauh dari terminal bus, Cuma letaknya saja yang berada di dekat bukit yang lumayan pelosok. Dirinya hanya perlu satu kali naik angkot dan naik ojek untuk ke rumah mbah Mitro karna akses jalan yang akan dilalui tak bisa dilewati oleng angkot. Akses jalan menuju rumah mbah Mitro merupakan jalan terjal berupa jalan tanah yang mengarah ke hutan.
Setelah naik angkutan umum, Widya akan menggunakan jasa ojek. Saat tiba di pangkalan ojek ternyata hanya terdapat satu orang karna yang lain tengah mengantarkan penumpang. Dengan kebiasaan ibu-ibu Widya menawar harga untuk pergi ke tempat mbah Mitro.
“Mahal banget, bang”, ucap Widya.
“Ya bu. Namanya juga naik ke bukit, lagian ibu juga sama anaknya. Harga segitu juga sudah saya kurangin”
“Yaudah, 50 ribu berdua ya”
Sekilas tukang ojek tersebut memperhatikan tubuh Widya dengan saksama dari atas hingga bawah. Lumayan juga pikir tukang ojek tersebut. Karna hal tersebut akhirnya ia menyetujui tawaran yang Widya berikan padanya dengan membayar 50 ribu sampai ke tempat mbah Mitro.
Dengan Evan duduk di depan dan Widya paling belakang motor tersebut mulai berjalan masuk ke jalan tanah. Jalan tanah yang di sekelilingnya hanya terdapat rumput ilalang yang lebat dan memasuki area pepohonan lebat. Di area itu jalan mulai susah disertai dengan medan yang mulai naik.
Baru setengah perjalanan Widya menyuruh Kanto, Si tukang ojek untuk berhenti sejenak karna perut Evan merasa mulas. Untung tak jauh dari jalan yang dilewati terdapat sungai kecil yang mengalir. Kanto memberhentikan sepeda motornya dan menunggu Widya beserta anaknya untuk pergi ke sungai tersebut. Kanto yang sedari tadi membayangkan tubuh Widya mulai mempunyai hal kotor yang terlintas dikepalanya. Dimana dia membuka tas yang Widya bawa dan ternyata tas tersebut berisi beberapa pakaian. Di dalam sana terlihat juga celana dalam serta Bra milik Widya, tanpa berpikir Kanto mengambil celana dalam putih serta Bra warna putih juga milik Widya. Ia turun dari motornya dan membawa kedua pakaian dalam tersebut untuk digunakannya sebagai sarana masturbasi.
Kanto punya ide lain, ia mengintip Widya yang tengah berdiri menunggu Evan buang air besar. Dengan tak sabarnya Kanto mengeluarkan kontol besarnya yang sudah tegak sedari pertama berangkat tadi. Ia gunakan celana dalam Widya untuk mengocok kontol besarnya sedangkan Bra milik Widya ia gunakan untuk mengusap-usap ujung kontolnya dan akan digunakan untuk menampung peju nya saat keluar nanti.
Dari balik semak yang lebat, Kanto mengocok kontolnya yang besar sambil menatap tiap jengkal tubuh Widya, terutama bagian payudaranya yang kelihatan sangat menggoda itu.
“Ssshhh…..ssshhhhh….mantap banget ibu toket. Pengen banget gue entotin memeknya. Sshhhh….”
Saat Kanto tengah mengocok kontolnya, Widya membenarkan posisi kedua payudaranya dengan tangannya yang masuk ke dalam baju. Sehingga payudara Widya bisa terlihat lebih jelas dan lebih membuat bernafsu. Hal tersebut membuat Kanto tak tahan. Hanya beberapa kocokkan cepat akhirnya Kanto mengeluarkan peju nya di cup Bra milik Widya. Ia gunakan juga celana dalam Widya untuk mengelap sisa peju yang menetes di ujung kontolnya.
“Hehehe…Bra sama celana dalam ibu sudah saya baluri dengan peju saya. Silahkan dipake , bu. Semoga karna ibu pake celana dalam sama Bra yang sudah saya baluri peju saya, semoga saya bisa ngerasain nikmatnya memek ibu itu”, ucap Kanto sambil memasukkan kembali kontolnya le dalam celana. Ia kembali ke motornya dan memasukkan celana dalam serta Bra Widya kembali k dalam tasnya.
Tak lama Widya dan Evan kembali dari sungai. Kanto memasang sikap biasa saja di depan ibu dan anak itu dan kembali melanjutkan perjalanan.
—
Saat tiba di depan rumah mbah Mitro, Kanto mengetuk pintu rumah bambu tersebut.
“mbah…mbah Mitro”
Tak lama terdengar jawaban dari dalam rumah dan keluarlah sosok pria tua sekitar umur 60 tahun dengan tubuh masih kelihatan sehat. Pria tua yang dipanggil mbah Mitro berdiri diambang pintu memperhatikan siapa yang datang pagi itu ke rumahnya.
“Ini ada yang mau ketemu sama mbah katanya”, ucap Kanto.
Mbah Mitro menyuruh Widya untuk mendekat, “ada perlu apa kesini, bu?”
“saya Widya, mbah dan ini anak saya, Evan namanya. Tujuan saya datang kesini…”, ucap Widya terhenti sambil melihat ke arah Kanto. Mbah Mitra yang tau kecanggungan Widya menyuruh Kanto untuk segera pergi setelah Widya membayarnya.
“Masuk aja, nduk. Cerita di dalam aja biar enak”
Di dalam rumah hanya terdapat beberapa meja dan kursi sedangkan lantainya masih berupa lantai tanah. Walau begitu tempat tersebut terlihat sangat terawat dan terlihat bersih tanpa ada kesan jijik.
Widya dan anaknya disuruh untuk duduk di kursi, sedangkan mbah Mitro ke belakang untuk membuatkan minuman hangat untuk tamunya itu. Tak lama mbah Mitro datang sambil membawa dua buah gelas berisi teh hangat tawar dan disajikan ke depan ibu dan anak itu. Belum memulai pembicaraan, mbah Mitra membuat menyalakan rokok lintingnya.
“ada perlu apa datang kesini, bu? Apa ini anakmu?”, tanya mbah Mitro.
Widya mengangguk, “saya dengar dari teman saya kalo mbah bisa membantu masalah yang saya alami dan tujuan saya kesini…anu…saya mau pasang pelaris”. Terlihat mbah Mitro tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Apa ibu tau apa itu pelaris dan seperti apa prosesnya?”, tanya mbah Mitro dan Widya diam.
“Saya jujur saja. Pelaris yang dimaksud disini itu semacam memasukkan pusaka ke dalam tubuh bu Widya dan untuk prosesnya sendiri dengan bersetubuh karna pusaka yang bu Widya perlukan itu berada di dalam kontol saya”, jelas mbah Mitro vulgar tanpa memedulikan bahwa ada anak kecil di depannya. Widya yang tak berani melarang mbah Mitro mengucapkan hal kotor seperti itu hanya diam.
“prosesnya mbah harus bersetubuh dengan ibu selama sampai dirasa pusaka tersebut benar-benar masuk ke dalam tubuh ibu. Setelah proses pemasangan selesai bukan berarti semuanya juga telah usai. Pusaka yang berada di dalam tubuh ibu harus terus dikasih makan supaya ibu bisa mendapatkan uang dengan lancar. Sementara pusaka tersebut makannya peju dari orang yang memasangnya, dengan kata lain ibu harus bersetubuh atau ngentot dengan mbah setiap mau kasih makan”
Widya terlihat terdiam dengan penjelasan mbah Mitra yang vulgar tersebut di depan anaknya. Sementara Evan hanya diam mendengarkan apa yang dibicarakan antara mbah Mitro dengan mamanya.
“kalo ibu setuju dengan semua hal itu, malam ini saya bisa memulai ritualnya untuk menarik pusaka tersebut dengan cara bersemadi di air terjun di dalam hutan. Semua tergantung sama bu Widya sendiri. Kalo bu Widya merasa ini terlalu berat, bu Widya bisa membatalkannya juga saya tak masalah dan konsekuensi yang harus diterima juga berat”, tutur mbah Mitro.
“kalo…kalo buat kasih makan ada waktu pastinya ga, mbah?”
“untuk masalah itu setiap satu bulan sekali harus dikasih makan, kalo tidak lama kelamaan akan berdampak juga bagi pelaris yang ibu pakai”
“Sebelumnya saya mau tanya satu hal lagi, mbah. Sebenarnya pelaris itu jelasnya seperti apa ya? Saya masih kurang terlalu mengerti dari penjelasan pertama mbah tadi”
Mbah Mitro memperbaiki posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Widya dan dimatikan rokok linting nya.
“Pelaris ini secara gampangnya seperti namanya, hal yang bisa membuat sesuatu menjadi laku keras. Pelaris disini sebenarnya ada dua manfaat. Manfaat pertama dan utamanya untuk mendapatkan uang dengan cepat syarat yang penting harus rutin dikasih makan. Sedangkan manfaat kedua atau manfaat sampingnya….”
Mbah Mitro berdeham, “manfaat kedua ini juga berdampak pada pemakainya sendiri dimana si pemakai atau ibu sendiri akan ikutan laris”
“Maksudnya mbah?”
“maksudnya akan ada lebih banyak pria yang tertarik dengan tubuh ibu. Setiap pria yang melihat tubuh ibu pasti memiliki sebuah hasrat atau nafsu untuk mencicipi nikmatnya tubuh bu Widya. Seperti yang mbah bilang tadi kalo syarat dan konsekuensi memang berat”, ucap mbah Mitro.
Widya bagai disambar petir saat mendengar penjelasan mbah Mitro dimana konsekuensi saat dirinya memakai pelaris tersebut setiap lelaki yang melihatnya akan bernafsu. Terasa sangat berat dan sangat tak masuk diakal menurut Widya, tapi jika dipikir-pikir lagi untuk sekarang hanya ini jalan yang bisa ia ambil untuk masalahnya. Pikirannya sudah kalut sehingga menyingkirkan akal sehat yang pernah ia junjung tinggi selama ini.
Jika dirinya menerima semua hal tersebut berarti Widya harus siap setiap satu bulan sekali harus menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh mbah Mitro, sedangkan hal lainnya dirinya harus siap mendapat tatapan tatapan nafsu oleh para lelaki yang berjumpa dengan dirinya. Widya berpikir keras untuk keputusan yang akan diambilnya hari ini sambil melihat anak semata wayangnya itu. Evan hanya melihat Widya dengan tatapan biasa seperti obrolan yang ia dengar tak terlalu serius.
“Pertanyaan terakhir yang akan saya ajukan, mbah”, ucap Widya dan mendapat anggukan kepala oleh mbah Mitro.
“Kalau saya merasa semua sudah cukup dan saya ingin mengakhiri semuanya apa itu bisa dan konsekuensi apa yang bakal saya terima?”
“kalo bu Widya mau mengakhiri semuanya bisa dan kalo bu Widya ingin semuanya selesai caranya gampang. Bu Widya cukup tak memberi makan pelaris yang ada di dalam tubuh ibu, secara perlahan pelaris tersebut akan menghilang kekuatannya dan akan pergi dari tubuh ibu dengan sendirinya, tapi selama proses tersebut mungkin bu Widya hanya akan mengalami sakit selama beberapa minggu”
“Setelah bu Widya sembuh ada ritual terakhir yang haris dijalani untuk meyakinkan bahwa bu Widya sudah benar-benar terlepas dari pusaka Pelaris. Ibu Widya harus datang menemui saya dan kita harus bersetubuh kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mengantar kembali apa yang telah bu Widya pinjam, jika tidak hal tersebut bisa mengganggu bu Widya. Hanya itu saja”. Jelas mbah Mitro yang ternyata tak sebesar saat awal pemasangan.
Setelah mendengar penjelasan yang mbah Mitro berikan, Widya dengan sangat yakin dan mantap menyatakan keputusannya. Ia bersedia dan mau melakukan pemasangan pusaka pelaris tersebut.
“Baik, mbah saya mau dan saya siap untuk proses pemasangan pelaris itu”, ucap Widya.
“Hahahaha…bagus. kalo begitu nanti malam saya akan pergi untuk bersemadi di dalam hutan dan akan kembali besok siangnya. Untuk sementara silahkan ibu tunggu saya hingga selesai di rumah saya ini”
“baik, mbah”, ucap Widya patuh.
—
Saat sore menjelang. Widya menemui mbah Mitro untuk menanyakan dimana tempat untuk mandi karna di dalam rumah mbah Mitro sama sekali tak terlihat adanya kamar mandi maupun sumur untuk ia gunakan airnya. Dengan santai mbah Mitro menjawab sambil menunjukkan tempat yang dicari oleh Widya. Sebuah sungai kecil dekat rumah mbah Mitro.
Dengan dalih untuk awal proses pemasangan, mbah Mitro ikut serta mandi ke sungai bersama Widya, sementara Evan, anaknya Widya di suruh untuk tetap menunggu di dalam rumah bambu tersebut.
Seorang wanita muda dengan anak satu berjalan beriringan bersama pria tua berusia 60 tahun menuju sungai dan mereka berdua berniat untuk mandi bersama. Jika saja tempat mbah Mitro bukan di hutan, mungkin akan ada orang yang bisa melihat mereka, tapi untungnya tempat tersebut jarang sekali dijamah oleh warga sekitar karna memang hanya mbah Mitro yang tinggal di daerah tersebut dan mbah Mitro pun juga termasuk orang yang dihormati dan sesepuh di daerah tersebut.
“gapapa, bu. Buka aja semuanya, toh besok juga mbah bakal liat semuanya, bukan hanya lihat malah mbah bakal rasain juga tubuhmu”, ucap mbah Mitro dengan entengnya mengucapkan hal yang tabo pada Widya.
Dengan perlahan Widya mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu di hadapan mbah Mitro yang sudah terlebih dahulu berendam di air sungai dalam kondisi telanjang bulat.
“Bagus banget tubuh ini perempuan”, pikir mbah Mitro saat melihat ketelanjangan Widya.
Widya yang kini ikutan telanjang bulat hanya menggunakan kedua tangannya untuk menutupi kedua payudara beserta selangkangannya dari hadapan mbah Mitro. Namun, disaat Widya masih malu aku ketelanjangannya, mbah Mitro malah berdiri dari posisinya berendam dan hal tersebut membuat kontol besarnya terlihat jelas dihadapkan Widya. Kontol besar dengan sedikit urat dalam keadaan setengah tegang. Dalam kondisi seperti itu saja sudah terlihat besar, apalagi saat sudah tegang maksimal.
“KYYAAA!!!! MBAH, ITU BURUNGNYA!”, jerit Widya saat kaget melihat kelamin mbah Mitro yang terpampang di hadapannya.
“burung? Ini kontol, bu. Kontol bukan burung”, ucap mbah Mitro dengan sekarang malah memegang kontolnya sambil mengocok pelan kontol besarnya itu.
Sementara itu Widya masih dalam kondisi tetap sambil memejamkan matanya, walau sesekali ia buka sedikit matanya untuk melihat le arah selangkangan mbah Mitro.
“sudah lah, bu. Bu Widya ga usah malu kaya gitu, buka matanya terus kemari”, perintah mbah Mitro. Widya dengan memberanikan diri membuka matanya dan dengan perlahan mendekati mbah Mitro yang tengah mengocok pelan kontol besarnya.
Widya telah berdiri tepat di hadapan mbah Mitro yang kini masih dalam keadaan mengocok pelan kontol besarnya. Mbah Mitro memerintahkan Widya untuk berjongkok di hadapannya dan seperti kerbau yang dicucup hidungnya, Widya menurut seperti terhipnotis oleh kontol besar yang dimiliki oleh mbah Mitro. Sekarang posisi kepala Widya telah sejajar dengan selangkangan mbah Mitro.
“Coba bu Widya masukin ke dalam mulut ibu. Jangan salah, bu ini salah satu proses awal yang biasa dilewati sebelum mbah bersemadi untuk mengambil pusaka tersebut”, ucap mbah Mitro.
“sekarang masukan dan buat kontol mbah keras pake mulutmu”, sambungnya.
Widya memegang kontol mbah Mitro dan ternyata ukurannya memang besar serta terasa panas di tangannya. Perlahan Widya mulai memajukan wajahnya, ia julurkan lidahnya untuk memulainya dengan cara menjilat seluruh permukaan kontol tersebut sampai semuanya terbasahi oleh air liurnya. Saat dirasa sudah cukup, Widya mulai memasukkan kepala kontol mbah Mitro ke dalam mulutnya. Awalnya semua batang kontol mbah Mitro bisa masuk sepenuhnya di dalam mulut Widya, namun disaat kontol tersebut telah menegang maksimal hanya kepalanya saja yang bisa Widya kulum.
Mbah Mitro merasa gemas oleh nafsunya sehingga ia taruh kedua tangannya di kepala Widya dan sedetik kemudian ia dorong kepala Widya untuk lebih masuk ke dalam selangkangannya. Mbah Mitro memaksa mulut Widya untuk melahap semua batang kontolnya yang besar itu. Widya gelagapan, tubuhnya bergerak meronta tapi tak dihiraukan oleh mbah Mitro, hingga hanya berhasil memaksa masuk sampe setengahnya. Sehabis hal itu mbah Mitro mulai memompa mulut Widya dengan kontol besarnya. Widya kembali mengerang tertahan saat mulutnya penuh tersumpal oleh benda yang memenuhi mulutnya dan tengah keluar masuk.
“Ssshhh….Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….”, suara desahan mbah Mitro meresapi kenikmatan pada mulut Widya sambil memejamkan matanya.
GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!
Kini satu tangan mbah Mitro terlepas dari kepala Widya dan diarahkan lada payudara ranum milik Widya yang tergantung bebas dibawah sana. Ia remas payudara tersebut dengan gemasnya dan sesekali memainkan putingnya yang berwarna cokelat. Widya yang menerima rangsangan di payudaranya mulai menggelinjang kegelian.
“mulutmu enak banget, bu Widya. Sshhhh…..”
“Aakkkhhhh…Mulut aja sudah seenak ini apalagi memeknya”, lanjut mbah Mitro.
Mbah Mitro masih melakukan kegiatannya pada mulut Widya dengan tempo sedikit cepat dari sebelumnya. Mbah Mitro merasakan kehangatan dan rasa lembut yang menyelimuti kontol besarnya di dalam mulut perempuan muda beranak satu tersebut.
Mbah Mitro menyuruh Widya untuk mengarah ke batu sungai di dekatnya tanpa melepaskan kontolnya di dalam mulut Widya. Widya disuruh untuk bersandar dan kepalanya di tempelkan ke batu dan dalam posisi tersebut mbah Mitro mengangkat sebelah kakinya untuk mengangkang supaya ia bisa dengan leluasa menikmati mulut Widya dengan bebas. Widya benar-benar di deepthroat oleh kontol besar milik mbah Mitro.
Di dalam air posisi Widya duduk mengangkang dan hal tersebut digunakan oleh mbah Mitro untuk memainkan memek Widya menggunakan jempol kakinya. Sementara tangan satunya masih bermain di payudara putih Widya yang sangat membuat lelaki bernafsu itu.
PUAH!!!
UHUK!!! UHUK!!!
Widya terbatuk sambil mengatur nafasnya saat kontol mbah Mitro terlepas dari mulutnya. Tubuh Widya di bopong oleh mbah Martin untuk duduk diatas batu sambil membuka kedua kakinya. Kemudian ia julurkan lidahnya dan memainkan klitoris Widya sampai Widya mengeluarkan desahan.
“Ssshhh….mbah….”
SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!
Widya menjambak kecil rambut mbah Mitro yang sedang memainkan memeknya menggunakan lidah di bawah sana. Kembali Widya mulai berhasil dikuasai oleh hawa nafsu yang menyerangnya. Ia mulai menikmati kembali perbuatan pria lain selain yang bukan suaminya terhadap tubuhnya. Bahkan Widya mulai ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti jilatan lidah mbah Mitro pada memeknya.
“Aakkkhhhh…mbah…saya mau keluar mbah…sshhhh…”, desah Widya yang akan kalah oleh permainan lidah mbah Mitro.
“AAKKKHHHHH!!!!!”, erang Widya menikmati orgasme pertamanya di alam terbuka bersama pria tua.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





