
Birahi Anak Tiri
Bab 3
Aku iktui permintaannya itu. Kujauhkan mulut ku dari kemaluan kakak tiri ku. Lalu duduk bersila di samping tubuh telanjang yang sangat menggiurkan itu.
Mbak Ayu yang masih terlentang itu menatap ku dengan senyumnya yang tampak begitu manis di mata ku.
“Mbak sudah orgasme ya?” ucap ku sambil mengelus-elus perut Mbak Ayu yang terasa lembab oleh keringat.
Mbak Ayu bangkit, duduk di samping ku sambil menyahut.
”Kayaknya sih iya… barusan terasa seperti melayang-layang… lalu ada sesuatu yang mengalir di dalam kemaluan ku. Nikmat sekali…. terima kasih Sam… “
Ucapan Mbak Ayu itu dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibir ku. Dalam suasana batin yang sudah berubah.
Ya, dalam keadaan seperti ini aku memandang Mbak Ayu tak sekadar kakak tiri yang harus aku anggap seperti kakak kandung ku belaka. Aku pun memandang Mbak Ayu sebagai cewek yang menggiurkan, karena tubuh tinggi montoknya begitu mulus dan hangat. Wajahnya pun cantik, sehingga bodohlah aku ini kalau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Karena itu, ketika Mbak Ayu mengecup bibir ku, langsung kusambut dengan lumatan hangat, sambil mendekap pinggangnya yang masih telanjang bulat. Dan Mbak Ayu pun terasa menyambut lumatan ku. Lengannya melingkar di leher ku, lalu balas melumat bibir ku, tak ubahnya membalas lumatan kekasih tercintanya.
Setelah ciuman kami terlepas, Mbak Ayu menatap ku sambil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalam ku.”Sam… kamu sudah memuasi diri ku… tapi Sam sendiri belum mendapatkan apa-apa ya?”
“Nggak apa-apa Mbak. Yang penting Mbak sudah puas. Kalau aku sih gampang… dikocok juga nanti ngecrot,” sahut ku.
“Kuemut aja ya. Mau?”
“Kalau Mbaknya mau sih silakan aja.”
“Mau,” Mbak Ayu mengangguk sambil tersenyum,”hitung-hitung belajar aja. Tapi putar dulu bokep yang ada adegan ngemut batang rudal.”
Dengan mudah kuputar bokep yang sesuai dengan permintaan Mbak Ayu. Bokep yang menonjolkan felatio ngemut batang rudal. Kebetulan ada bokep yang dimintanya itu.
Adegan di bokep itu awalnya gantian saling oral, kemudian berlanjut ke adegan posisi 69.
“Nah itu adegan enam sembilan Mbak,” kataku setelah layar laptop ku menayangkan adegan 69. ceweknya di atas cowoknya di bawah dalam posisi sungsang.
“Heee… boleh juga tuh… kita ikutin posisi itu ya,” ajak kakak tiri ku sambil mengguncang pergelangan tanganku.
Aku pun menyetujui ajakan Mbak Ayu. Lalu melepaskan celana dalam ku sambil menelentang di dekat laptop ku. Sengaja kuambil posisi sedemikian rupa, agar Mbak Ayu tetap bisa memandang ke arah layar laptop ku pada waktunya nanti.
Setelah aku menelentang dengan batang rudal yang sudah sangat tegang ini, Mbak Ayu menelungkup di atasku dalam posisi terbalik. Wajahnya berada di atas rudal ku, sementara kemaluannya berada di atas wajah ku.
Lagi-lagi aku menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan. Menyaksikan sebentuk kemaluan yang tembem dan agak menganga, karena sudah mencapai orgasmenya tadi. Dan kini aku akan menjilatinya kembali, sementara Mbak Ayu akan mengoral rudal ku.
Ya… ia mulai menjilati leher dan puncak rudal ku, seperti yang sedang ditayangkan di layar laptop ku. Lalu ia mengulum rudal ku yang sedang dipegangnya, lalu air liurnya terasa mengalir ke badan rudal ku.
Aku tidak memberi pengarahan tentang bagaimana cara mengoral batang rudal yang baik. Biarlah dia mengerti sendiri dengan mengikuti adegan-adegan di layar laptop ku. Lagian aku sendiri mulai sibuk menjilati kemaluannya yang sudah bertempelan dengan mulut ku.
Jujur, aku sendiri baru pertama ini merasakan dioral oleh perempuan. Karena itu ketika Mbak Ayu makin agresif menyelomoti dan mengurut-urut rudal ku, melayang-layang juga batin ku dibuatnya. Dalam nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika aku sedang asyik menjilati kemaluan Mbak Ayu, terkadang aku sendiri mengejang-ngejang karena permainan oral kakak tiri ku itu menyentuh bagian sensitif di rudal ku, yang membuat ku harus menahan napas saking enaknya.
Mbak Ayu juga sama. Ketika sedang asyik menyelomoti dan mengurut-urut rudal ku, terkadang ia pun mengejang-ngejang, terutama pada waktu aku menjilati daging kecilnya.
Begitulah yang terjadi. Kami saling mengoral, tapi terkadang diam dan mengejang, karena merasakan nikmatnya dioral.
Lebih dari setengah jam kami melakukannya, sampai akhirnya rudal ku berejakulasi, sementara Mbak Ayu sudah duluan mencapai orgasme lagi untuk yang kedua kalinya.
“Aduuuuh…. luar biasaaa… “ ucap Mbak Ayu sambil menelentang di samping ku.
“Apanya yang luar biasa Mbak?”
“Luar biasa enaknya… “ sahut Mbak Ayu sambil memiringkan tubuhnya ke arah ku. Dan mengelus dada ku yang masih keringatan,”Kalau batang rudalmu dimasukkan ke dalam vaginaku, mungkin lebih enak lagi, ya Sam.”
“Jangan mikir ke sana Mbak. Kita cari yang aman-aman aja. Kalau benar-benar bersetubuh kan ada resikonya. Pertama, virginitas Mbak hilang. Kedua, Mbak bisa hamil.”
“Aku rela kalau kamu yang ambil perawanku,” kata Mbak Ayu sambil memegangi rudal ku yang sudah lemas.
”Soal hamil kan bisa dicegah. Besok aku beli pil kontrasepsi ya.”
“Besok kan Minggu Mbak. Apotek tutup semua.”
“Oh iya ya. Senin aja beli pil kontrasepsinya.”
“Senin pagi Papa, Mama, Fardan dan Mbak Nita udah pada pulang.”
“Iya ya… “ Mbak Ayu tampak seperti sedang berpikir.
“Santai aja Mbak… jangan terburu nafsu. Apa pun yang Mbak inginkan, akan ku lakukan. Tapi jangan terburu-buru gitu. Kita cari dulu waktunya yang ngepas.”
“Janji ya… kamu bakal mau menyetubuhiku nanti… “
“Iya, iya… asalkan Mbak bisa merahasiakannya dan jangan menyesal di kemudian hari.”
Mbak Ayu tersenyum manis. Mengecup pipi ku, lalu berbisik, ”Aku akan merahasiakannya. Dan tak akan menyesal di kemudian hari.”
Dan malam semakin larut
Senin pagi Mama, Mbak Ita dan Fardan pada pulang dari Semarang. Tapi Papa tak pulang bersama mereka. Kata Mama, Papa masih akan berada di Semarang, karena ada urusan keluarga besar yang harus diurusnya.
Sorenya, baru saja aku pulang kuliah, Mama minta diantarkan ke mall. Banyak yang mau dibeli, katanya.
Memang Mama sering mengandalkanku nyetirin mobilnya, meski dia bisa nyetir sendiri. Bahkan Papa juga terkadang suka minta disetirin oleh ku.
“Kalau gitu aku mau mandi dulu, ya Mam,” kataku minta izin kepada ibu tiri ku.
“Iya mandi dulu deh. Makan malam sih nanti aja di mall, sambil temenin mama makan.”
“Siap Mam,” sahut ku, lalu bergegas masuk ke dalam kamar ku. Dan masuk ke dalam kamar mandi pribadiku.
Setelah mandi, kukenakan celana jeans dan baju kaus berwarna biru tua. Lalu mengambil kunci mobil Mama yang tergantung di atas lemari kecil ruang keluarga.
Mesin mobil Mama kupanaskan beberapa menit, kemudian kukeluarkan dari garasi. Mama pun muncul di teras depan dan melangkah ke pintu mobil sebelah kiri depan.
Sesaat kemudian aku sudah meluncurkan mobil Mama di jalan aspal.
Lalu terdengar suara Mama di samping kiri ku.
”Sam… di mall itu kan ada hotel. Pintu liftnya juga ada di dekat tempat parkir kan?”
“Iya. Emangnya kenapa Mam?” aku balik bertanya.
“Nanti pada waktu mama belanja, kamu cek in aja di hotel itu. Ada suatu hal penting yang ingin mama sampaikan. Tapi mama ingin menyampaikannya dalam keadaan tenang, jangan sampai ada orang ikut dengar.”
Meski heran kuiyakan saja perintah ibu tiri ku itu. Lalu Mama memberikan sejumlah uang untuk membooking kamar hotel itu.
Setibanya di parkiran mall langganan Mama itu, kami berpisah. Mama masuk ke mall, sementara aku melangkah ke pintu lift yang menuju hotel itu. Untuk melaksanakan tugas dari Mama.
Setelah mendapatkan kamar yang diinginkan, aku pun menghubungi Mama lewat hape ku. Untuk melaporkan nomor kamar yang sudah dibooking atas nama ku.
“Iya. Dalam seperempat jam juga mama udah selesai belanjanya dan langsung ke situ,” sahut Mama di speaker hape ku.
Aku pun rebahan di bed, sambil menunggu Mama datang. Sementara pintu kamar hotelnya sengaja tidak dikunci, supaya Mama bisa langsung masuk nanti.
Sebenarnya aku penasaran juga. Masalah apa sebenarnya yang ingin Mama sampaikan nanti? Sedemikian penting dan rahasiakah sehingga harus menyewa kamar hotel segala?
Ah… mudah-mudahan saja Mama bukan mau menanyakan masalah Mbak Ayu. Kalau hal itu yang ditanyakannya, pasti aku akan sulit menjawabnya.
^^^
Anda Mungkin Juga Suka





