Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BIDADARI DALAM HIDUPKU

BIDADARI DALAM HIDUPKU

Dalam balutan kisah remaja yang penuh emosi, seorang pemuda harus menghadapi kerasnya realita saat ia memulai perjalanan panjang untuk menemukan keberadaan sang ibu yang telah lama hilang. Di tengah gejolak masa muda dan pencarian jati diri, ia berjuang menelusuri jejak masa lalu demi sebuah pertemuan yang sangat ia dambakan. Inilah perjuangan batin seorang anak dalam misi pencarian penuh haru untuk menyatukan kembali kepingan keluarganya yang terpisah.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Udah pergi." kata Riri terdengar lirih. Ia merasa bingung harus bertindak seperti apa.

"Lah gimana sih. Kamu nggak kangen sama bapakmu?"

"Nggak tau deh." ucap Riri dengan perasaan kecewa yang kembali muncul ketika melihat bapaknya. Rasa benci seakan tak bisa di bunuhnya. Mungkin terlalu banyak perbuatan bapak yang membuat Riri sakit hati.

"Sebenernya aku kangen juga sih sama sosok seorang bapak. Tapi bapakku sepertinya udah lupa sama aku apalagi sama ibuku." jelas Riri sedih.

Akbar tidak menanyakan lebih dalam lagi soal bapaknya. Takut Riri akan lebih sedih lagi.

Mereka pun mulai menukar tulisannya masing-masing. Riri memegang kertas milik Akbar dan siap membacanya. Ia membuang pikirannya tentang bapak. Ia hanya ingin luka yang bapak berikan di pendam dalam-dalam di dalam hatinya.

(Kenapa harus kulihat luka di ujung sana. Luka yang tak pernah ku rasakan. Seakan semburat duri menancap di dada.

Papa, seharusnya kau menjadi panutanku, tetapi ada apa denganmu? Kenapa seolah kau melukiskan tinta hitam dan membawa kabar buruk.

Tidak ingatkah kau selama ini aku selalu menjadikanmu penyemangat dalam hidupku? tolong jangan rusak jiwa ini. Anakmu sangat menyayangimu wahai sang pemimpin keluarga.)

Riri membaca dengan penuh rasa iba kepada Akbar.

Ia melayangkan pandangan kepada Akbar.

"Gimana menurut kamu?" tanya Akbar dengan raut wajah datar.

Riri seakan bisa melihat kesedihan di mata Akbar.

"Bagus tulisannya. Jujur aku sedih bacanya. Memangnya ada apa dengan papa kamu?" tanya Riri selembut mungkin. Ia tidak ingin memecahkan luka yang di simpan Akbar.

"Aku melihat papa dengan wanita lain." kata Akbar dengan matanya yang menerawang jauh.

Mata Riri membelalak mendengar ucapan Akbar.

"Serius kamu? mungkin kamu salah liat kali. Aku tahu papa kamu orangnya sangat baik. Nggak mungkin papa kamu berbuat kaya gitu." Riri merasa sedikit kesal dengan apa yang terjadi. Sejujurnya ia sangat kaget dengan cerita Akbar.

"Aku serius Ri, aku liat pake mata kepalaku sendiri. Selama ini aku udah memata-matai papaku. Dan ternyata memang benar papaku berselingkuh. Puncaknya aku melihat perempuan itu masuk ke dalam mobil papa dan mereka berdua melakukan hal layaknya suami istri. Disitu aku marah banget. Hati aku sakit. Malam itu aku nangis." jelas Akbar dengan mata berkaca lalu menunduk. Sebenarnya ia sangat malu harus menangis dan menceritakan semua yang terpendam dalam hati.

"Yaudah sekarang waktunya kamu ngomong sama mama kamu." Riri memberi saran dengan menggebu-gebu. Sebagai seorang wanita. Ia merasa kesal jika ada di posisi mama Akbar. Bukan kesal lagi, mungkin ia akan menangis sejadinya.

"Nggak mungkin aku ngomong sama mamaku." kata Iyan dengan tegas. Ia tidak mau menyakiti hati mamanya. Namun di sisi lain ia ingin membongkar kebusukan papa.

"Kamu harus ngomong Bar!" bentak Riri saat itu juga. Baru kali ini ia bersuara tinggi dengan Akbar.

"Aku nggak mau nyakitin mama aku,Ri." jawab Akbar tanpa membalas nada tinggi Riri. Ia tetap menjaga emosinya agar stabil.

"Kalo kamu nggak ngomong sama mama kamu. Itu artinya kamu perlahan nyakitin mama kamu sendiri. Mama kamu hidup dalam kepalsuan cinta papa kamu." Tuduh Riri seakan ia tahu segalanya. Ia memang merasa sangat emosi.

"Kamu nggak tau rasanya jadi aku. Aku bingung, Ri." Akbar mengacak rambutnya dengan kasar.

"Aku emang nggak tahu rasanya jadi kamu. Tapi aku peduli sama kamu. Makannya aku kasih saran buat kamu." ucap Riri mengalihkan pandangan.

"Aku nggak bakal ngomong sama mamaku. Mungkin aku akan ngomong terlebih dahulu sama papaku. Aku ingin tahu seberapa besar pedulinya dia sama Aku, mama dan Bintang." ucap Akbar dengan sorot mata menyipit. Ia sangat berharap bisa berbicara dengan papanya secara perlahan agar papanya sadar.

"Iya kamu benar juga, mungkin kamu harus ngomong sama papa kamu dulu. Semoga aja papa kamu segera bertaubat dan kembali bersama mama kamu. Mencintai mama kamu dengan tulus." Kata Riri sangat berharap keluarga Akbar bisa harmonis seperti dulu. Pasalnya ia trauma dengan keluarganya. Ia takut papa Akbar akan seperti bapaknya sendiri yang menikahi perempuan lain dan meninggalkan ibu.

Mereka berdua terdiam sejenak. Mencoba bernafas setelah percakapan penuh api yang terjadi. Adzan maghrib memecah keheningan diantara keduanya.

"Aku sholat dulu ya, Bar." ucap Riri dengan lirih. Ia kehilangan sedikit tenaganya setelah obrolan yang menggebu-gebu.

"Iya aku juga mau sholat. Eh ini tulisan kamu belum aku baca. Nanti aku baca setelah makan malam ya. Soalnya laper banget nih. Habis sholat maghrib aku mau langsung ngambil jatah makan malamku." kata Akbar mencoba menghibur diri dengan melemparkan senyum kepada Riri.

"Oke. Nih tulisan kamu." Riri menyerahkan kertas puisi milik Akbar kepada pria jangkung di depannya.

Akbar meraihnya. Lalu mereka berdua berjalan bersama kemudian melewati jalan yang berbeda untuk pergi ke toilet dan berwudhu.

"Ri, kemana aja kamu? Aku cari kamu loh. Tadi ada bapak-bapak yang nyari kamu. Katanya itu bapak kamu ya Ri?" ucap Cahaya penasaran.

"Hah? apa?" mata Riri mendelik tak habis pikir dengan yang di lontarkan Cahaya.

"Ciri-cirinya kaya gimana?" Riri kembali bertanya.

"Rambut ada sedikit ubannya, berkumis tipis, Badannya tinggi dan nggak gemuk. Tadi bapak itu pake jaket." kata Cahaya seraya mengingat kembali orang yang di temuinya.

"Terus kamu bilang apa sama bapak itu?"

"Ya aku bilang, kamu ada di pengungsian ini. dan dia menjawab kalo besok akan kesini buat menemui kamu." jelas Cahaya membuat Riri tak percaya.

"Terus bapak itu pergi naik becak?" tanya Riri penasaran.

"Iya dia mengendarai becaknya sendiri." jawab Cahaya mengangguk-angguk.

"Berarti benar, dia bapak aku. Tadi aku sempet ngliat dia. Tapi aku cuma bisa diam aja." cerita Riri sambil menunduk.

"Kenapa kamu nggak nyamperin?"

"Ya aku bingung aja mau ngapain setelah ngliat bapak aku. Pas aku ngliat dia rasanya luka yang dulu muncul. Kelakuan kasar bapak pada ibu seketika muncul di benakku dan aku merasa sakit." jelas Riri dengan perasaan sedihnya.

"Sabar ya, Ri. Mungkin bapak kamu kesini pengin tahu kabar kamu. Mungkin juga dia pengin minta maaf sama kamu." Kata Cahaya berusaha menenangkan teman baiknya.

"Semoga aja ap yang kamu ucapkan itu bisa menjadi kenyataan." Riri berharap dengan penuh.

"Yaudah yuk! kita sholat maghrib dulu." ajak Cahaya merangkul pundak Riri yang sedang rapuh.

Mereka berjalan menyusuri lorong lalu mengantri di toilet. Setelah giliran Riri masuk ke toilet. Ia menangis sejadinya. Ia merasa hari ini penuh dengan emosi. Di depan orang-orang ia bisa tersenyum. Tapi ketika sendiri ia begitu teriris.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Back To School
9.7
Diwi, Tari, Lani, dan Emily tergabung dalam geng Prit..Prit..Can yang berjanji takkan jatuh cinta pada kakak kelas. Sebagai detektif hiperaktif di SMA Siliwangi, mereka sibuk mengusut berbagai kejanggalan. Namun, komitmen mereka goyah saat benih cinta mulai tumbuh dan memicu konflik besar. Situasi semakin rumit ketika mereka menyadari bahwa mereka menyukai cowok yang sama. Kini, persahabatan dan perasaan mereka dipertaruhkan dalam sebuah pilihan sulit.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.