Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel BIDADARI DALAM HIDUPKU

BIDADARI DALAM HIDUPKU

Dalam balutan kisah remaja yang penuh emosi, seorang pemuda harus menghadapi kerasnya realita saat ia memulai perjalanan panjang untuk menemukan keberadaan sang ibu yang telah lama hilang. Di tengah gejolak masa muda dan pencarian jati diri, ia berjuang menelusuri jejak masa lalu demi sebuah pertemuan yang sangat ia dambakan. Inilah perjuangan batin seorang anak dalam misi pencarian penuh haru untuk menyatukan kembali kepingan keluarganya yang terpisah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Riri dan Cahaya memasuki musolla yang penuh dengan jamaah. Barisan sholat maghrib lebih banyak dari pada sholat wajib yang lain.

Beribadah kepada sang pencipta memang membuat hati menjadi lega dan terasa adem. Apalagi jika dilakukan dengan bersama-sama, rasa semangat pasti muncul seketika.

Riri berharap ia akan masuk surga bersama orang-orang sholeh. Matanya melihat kedepan orang-orang yang memakai mukena. Melihat warna putih itu perasaan Riri menjadi tenang. Ia sangat bersyukur bisa berada di pengungsian ini. Karena ia bisa beribadah tanpa rasa malas. Ia berharap semoga tetap istiqomah dalam menjalankan perintahnya.

Sudah sejatinya bahwa manusia di ciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.

Setelah semua orang telah keluar dari musolla. Dan hanya ada Riri dan Cahaya yang masih melipat mukenanya. Kemudian mereka bercermin di sebuah kaca yang menempel pada tembok.

"Aku pengin deh! pake kerudung kaya kamu," ucap Cahaya spontan langsung membuat Riri terharu.

"Yaudah pake aja, pasti kamu terlihat cantik saat memakai kerudung," kata Riri sambil melihat wajah Cahaya. Rambut Cahaya yang panjang kini di kuncir.

"Tapi aku nggak pede makenya," ucap Cahaya bercermin sambil melihat-lihat wajahnya sendiri.

"Itu nggak masalah, kalo udah terbiasa pasti bisa kok. Dan wanita muslim memang wajib memakai hijab dari kepala sampai menutupi dadanya." jelas Riri dengan mantap.

"Duh aku jadi nggak pede nih kamu ngomong kaya gitu, aku jadi nggak pede kalo nggak pake kerudung." Cahaya tersenyum kecil kepada Riri.

"Baguslah kalo kamu merasa seperti itu," kata Riri membalas senyum Cahaya.

"Jadi kapan nih kamu mau pake kerudung?" tanya Riri seperti meledek temannya.

"Secepatnya sih, tapi aku bingung. Aku nggak punya gamis kaya kamu. Kerudung juga nggak punya." tutur Cahaya sambil cemberut.

"Aduh kamu nggak usah mikirin itu. Kamu kan bisa pinjem sama aku." jawab Riri antusias. Ia membayangkan Cahaya yang mengenakan gamis dan kerudung pasti terlihat sangat cantik.

"Hah? emang nggak papa Ri?" tanya Cahaya dengan mendekatkan dirinya kepada Riri.

"Ya nggak papa lah! Nyantai aja kali," kata Riri dengan santainya sambil memperlihatkan giginya di depan Cahaya.

Seketika Cahaya memeluk Riri dengan cepat. Ia sangat bersyukur mendapatkan teman seperti Riri.

Cahaya melepas pelukannya. Seketika Riri melihat bulir bening meleset di pipi Cahaya.

"Hei kenapa nangis?" tanya Riri sambil menyeka air mata Cahaya, namun jari temannya mencegah tindakannya.

"Nggak papa kok, aku ngrasa lega aja setelah memutuskan untuk memakai kerudung. Pasalnya baru kali ini aku mendapat teman seperti kamu, Ri." jelas Cahaya sambil menyeka air matanya sendiri dengan malu.

"Ya Allah aku terharu dengernya. Duh jadi pengin nangis nih!" ucap Riri memegang dadanya. Entah bagaimana ada rasa bahagia di ruang hatinya.

"Aku pengin jadi wanita sholehah," kata Cahaya tersenyum sambil menunduk.

"Masya Allah! Alhamdulillah aku seneng dengernya." kata Riri mengelus lengan Cahaya.

Merekapun segera keluar dari musolla. Lalu Riri mengambil baju dan gamisnya kemudian meminjamkannya kepada Cahaya.

"Nih kamu pake sekarang ya. Semoga tetap istiqomah ya!" senyum Riri merekah. Cahaya meraih baju gamis dan kerudung. Lalu pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya.

Riri menunggu sambil berselonjor di atas karpetnya. Di sebelahnya ada mama Akbar yang sibuk mengipasi Bintang yang akan tidur.

"Papa mana sih!jam segini belum pulang juga. Biasanya kan habis maghrib papa udah pulang kerja. Kenapa akhir-akhir ini pulang kerjanya suka kemaleman. Bahkan sampai jam 10 malam." Gerutu mama Akbar sambil mengipasi anak kecilnya.

Riri hanya bisa diam mendengar ocehan mama Akbar. Seandainya ia boleh bicara. Ia akan mengungkapkan apa yang sebenarnya papa Akbar lakukan kepada mama Akbar.

"Ri, tolong jagain Bintang ya. Tante mau ke toilet sebentar. Mau cuci muka." kata tante seraya menyerahkan kipas kepada Riri.

"Oh! iya tante," Riri segera mengipasi Bintang. Takut gadis kecil itu bangun, gara-gara mamanya pergi.

Seketika itu mata Riri berbinar melihat teman yang lebih tua dari umurnya memakai gamis dan kerudung.

Cahaya duduk di sebelah Riri.

"Cantik banget kamu!" Riri terkagum-kagum melihat penampilan Cahaya dari ujung kaki hingga kepala.

"Eh! beneran deh, aku malu nih." ucap Cahaya dengan menutup mulutnya sambil tertawa. Riri pun ikut tertawa.

"Yaudah nggak usah malu sih. Aku seneng ngliat penampilan kamu."

"Makasih ya Ri! kamu udah mau minjemin aku baju." kata Cahaya melempar senyum. Ia begitu bahagia sekarang.

"Iya, kamu boleh minjem baju aku berapapun. Eh aku kasih kamu tiga baju deh sama kerudung."

Mendengar itu Cahaya membelalak tak percaya.

"Apa? seriusan?"

"Iyalah serius, maap ya baju bekasku. Bukan baju baru. Nanti kalo aku udah kerja dan dapet gaji. Aku bakal kasih kamu baju dam kerudung." ucap Riri dengan semangat. Pasalnya ia sangat bahagia bisa membuat orang menjadi taat kepada Allah.

"Duh aku terharu sama kebaikan kamu." kata Cahaya kemudian memeluk lagi.

"Udahan dong peluk-pelukannya. Berasa kaya lagi pacaran aja." kata mama Akbar dengan nada menyindir.

Mereka berdua pun melepas pelukannnya.

"Eh kirain tante kamu bukan Cahaya." ucap mama Akbar merasa pangling dengan penampilan Cahaya.

"Masa sih tante? tanya Cahaya memegangi kerudungnya. Takut jika ia salah cara memakai kerudungnya.

"Iya, dari deket aja kaya bukan kamu. Cantik kok. Tante suka." ucap Mama Akbar memandang Cahaya.

"Tante dong pake kerudung coba." ucap Cahaya berani.

"Heh?" wajah mama Cahaya belum siap untuk menjawab.

"Tente belum siap pake kerudung, di sini aja panas bnget. huh!" katanya sambil mengipas dengan telapak tangannya.

"Masih mending tante, panas di dunia dari pada panas di neraka." ucap Cahaya dengan blak-blakan. Riri melirik seakan memberi aba-aba bahwa apa yang di ucapkan Cahaya akan menyakiti hati mama Akbar.

"Nih bocah kalo ngomong suka bener aja." kata mama akbar sambil tertawa kecil. Mereka berdua pun tertawa. Riri lega, untung mama Akbar tidak sakit hati atas omongan Cahaya.

Seseorang membagikan bungkus makanan kepada mereka bertiga. Merekapun segera membukanya dengan perut yang sudah lapar.

"Wah ayam geprek!" ujar Riri dengan mata berbinar melihat ayam geprek dengan sambal yang menggoda.

"Tumben banget ya lauknya ayam geprek, biasanya kan cuma tahu tempe sama sayuran gitu." kata Cahaya kemudian memakan nasinya dengan tangan kosong.

"Alhamdulillah." ucap Riri bersyukur dengan makanan yang di sajikan malam ini.

"Akbar kemana ya sama iyan? biasanya mereka ikut makan bareng di karpet ini." ucap mama sambil mengunyah makanannya.

"Tadi pas aku ke toilet, aku sempet ngliat mereka lagi ngobrol di luar." ucap Cahaya.

"Hem! gimana sih Akbar, waktunya makan harusnya cepet makan dong!" mama berkata dengan kesal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Back To School
9.7
Diwi, Tari, Lani, dan Emily tergabung dalam geng Prit..Prit..Can yang berjanji takkan jatuh cinta pada kakak kelas. Sebagai detektif hiperaktif di SMA Siliwangi, mereka sibuk mengusut berbagai kejanggalan. Namun, komitmen mereka goyah saat benih cinta mulai tumbuh dan memicu konflik besar. Situasi semakin rumit ketika mereka menyadari bahwa mereka menyukai cowok yang sama. Kini, persahabatan dan perasaan mereka dipertaruhkan dalam sebuah pilihan sulit.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Dalam dunia ini, kemampuan kultivasi hanyalah milik mereka yang terlahir dengan ikatan spiritual yang kuat. Sebaliknya, setiap individu dengan akar kefanaan telah ditakdirkan untuk menjalani hidup biasa tanpa kekuatan. Mo Wuji mendapati dirinya terjebak dalam kasta terendah tersebut karena hanya memiliki akar makhluk fana. Namun, apakah takdir benar-benar sudah mutlak baginya? Ikuti perjuangan Mo Wuji dalam menantang batas demi melampaui garis kemiskinan bakatnya.
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.