Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan

Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan

Jack Harper, pakar survival ternama, terjebak dalam mimpi buruk saat acara realitasnya berakhir tragis akibat ledakan misterius. Teruntai di pulau terpencil penuh reruntuhan kuno dan suku berbahaya, Jack harus memimpin sekelompok selebritas untuk bertahan hidup. Namun, ancaman terbesar muncul dari Mei Ling, kontestan yang ternyata pembunuh bayaran dengan dendam pribadi padanya. Di tengah konspirasi pulau dan pengkhianatan, Jack harus bertarung demi nyawa dan kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kalau begini caranya, kita semua cuma jadi bahan tontonan murahan."

Jack Harper melontarkan kalimat itu sambil menatap tajam ke arah kamera yang terpasang di atas pohon kelapa. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar oleh Victoria Huxley yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu hanya menaikkan alis, menahan komentar yang sudah hampir keluar dari bibirnya.

"Ya ampun, Jack. Ini cuma acara TV. Santai aja," sahut Elena Martinez. Aktris terkenal itu sedang duduk di atas batang kayu besar sambil memeriksa kuku-kukunya yang baru saja dicat ulang beberapa jam sebelum mereka tiba di pulau ini.

Jack menghela napas panjang. "Santai? Kita lagi di tengah pulau terpencil, Elena. Ini bukan sekadar syuting. Kita harus tetap waspada."

"Waspada dari apa?" Elena mendengus kecil, lalu menoleh ke arah Sofia Novak yang berdiri di dekatnya. "Aku yakin cewek ini lebih takut sama kerikil kecil daripada hal lain di pulau ini."

Sofia mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia tahu, Elena punya hobi menjatuhkan orang lain dengan kalimat pedasnya. Meski begitu, Sofia tetap diam. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang seperti Elena.

"Cukup," suara Victoria memotong. CEO itu melangkah mendekat, sikapnya tenang tapi penuh otoritas. "Kita baru sampai di sini beberapa jam, dan aku sudah muak sama drama kalian. Kita semua harus bekerjasama kalau mau keluar dari sini hidup-hidup."

Elena tertawa pelan, tapi tidak membantah.

Sementara itu, di sisi lain pantai, Mei Ling diam-diam mengamati percakapan mereka dari balik pepohonan. Dia memperhatikan setiap gerakan Jack Harper dengan cermat. Cara pria itu berbicara, bagaimana ia memimpin kelompok, nada suaranya yang penuh percaya diri-semuanya terekam dalam ingatan Mei Ling.

"Lihatlah, pahlawan besar yang selalu ingin menyelamatkan semua orang," gumam Mei Ling pelan. Bibirnya membentuk senyum tipis, tapi matanya dingin. Dia tahu betul siapa pria itu. Dan lebih dari itu, dia tahu apa yang harus dia lakukan.

"Selamat datang di Pulau Paradise!"

Suara pembawa acara terdengar nyaring dari speaker kecil yang dipasang di sebuah tiang kayu di tengah pantai. Para peserta berdiri berbaris, sebagian tampak antusias, sementara yang lain-seperti Jack-hanya berdiri dengan ekspresi datar.

"Untuk tantangan pertama kalian, kami ingin melihat seberapa cepat kalian bisa membuat tempat berlindung sederhana. Kalian punya waktu tiga jam, dan kalian akan dinilai berdasarkan kreativitas serta fungsionalitasnya. Hadiah? Sebuah peti makanan yang bisa kalian gunakan untuk makan malam nanti. Semuanya siap?"

Elena langsung mengangkat tangan. "Uh, maaf, tapi aku nggak tahu apa-apa soal bertahan hidup. Aku aktris, bukan tukang kayu."

"Bagian itu yang bikin acara ini menarik, sayang," sahut Victoria dengan nada sinis.

Jack tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah berjalan ke arah hutan, mencari bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membangun tempat berlindung. Sofia mengikuti di belakangnya, membawa tas kecil berisi pisau dan tali yang diberikan oleh kru sebelum acara dimulai.

"Jack, kita bisa kerja sama, kan?" tanya Sofia, suaranya pelan dan hati-hati.

Jack menoleh sebentar, lalu mengangguk. "Tentu. Tapi kita harus bergerak cepat."

Mereka mulai memotong ranting-ranting panjang dan mencari daun besar untuk atap. Sementara itu, di sisi lain pantai, Elena malah duduk di pasir sambil mengeluh.

"Aku nggak peduli soal peti makanan itu. Aku bisa makan kelapa kalau perlu," katanya dengan nada malas.

Mei Ling mendekati Elena, memasang senyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu benar. Lagipula, Jack pasti akan menang. Dia kan mantan tentara. Kita nggak punya peluang."

Elena menoleh, matanya menyipit. "Kamu pikir dia sebagus itu?"

Mei Ling mengangkat bahu. "Dia cuma manusia biasa. Semua orang punya kelemahan."

Kata-kata itu terdengar ringan, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Elena terdiam. Mei Ling tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. "Ayo, aku bantu kamu. Setidaknya kita coba bikin sesuatu."

Tiga jam kemudian, semua peserta berkumpul lagi di pantai untuk menunjukkan hasil kerja mereka. Tempat berlindung buatan Jack dan Sofia tampak sederhana tapi kokoh. Mereka menggunakan batang kayu sebagai kerangka dan daun-daun besar untuk atap.

"Bagus. Fungsional," komentar pembawa acara.

Elena dan Mei Ling, di sisi lain, hanya berhasil membuat sesuatu yang lebih mirip tumpukan ranting dibandingkan tempat berlindung.

"Yah, setidaknya kami mencoba," kata Elena sambil tersenyum kecut.

Victoria, yang bekerja sendirian, berhasil membuat tempat berlindung kecil yang terlihat rapi tapi terlalu sempit untuk digunakan.

"Aku nggak butuh bantuan orang lain," katanya dengan nada puas.

Saat mereka sedang menunggu hasil penilaian, Jack mendekati Sofia. "Kerja bagus tadi."

Sofia tersenyum kecil. "Aku cuma mengikuti arahannya."

"Tetap saja, kamu membantu banyak."

Di kejauhan, Mei Ling memperhatikan mereka dengan mata tajam. Dia memperhatikan bagaimana Jack berbicara dengan Sofia, nada suaranya yang tenang, sikapnya yang selalu melindungi.

"Dia terlalu percaya diri," gumam Mei Ling. "Tapi itu bagus. Orang seperti dia biasanya lengah pada saat yang salah."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah hutan. Semua peserta terkejut dan langsung melihat ke arah itu.

"Apa itu?" tanya Elena dengan wajah panik.

Jack sudah bergerak lebih dulu, berlari ke arah hutan tanpa menunggu yang lain. Sofia mengikuti di belakangnya, meskipun dia tampak ragu-ragu.

Victoria berdiri di tempatnya, matanya menyipit. "Ini nggak ada di skrip."

Jack dan Sofia tiba di lokasi ledakan pertama. Mereka menemukan sebuah lubang kecil di tanah, dengan bekas-bekas asap yang masih mengepul.

"Bahan peledak?" gumam Jack sambil memeriksa tanah.

"Kenapa ada bahan peledak di sini?" tanya Sofia, suaranya gemetar.

Jack tidak menjawab. Dia berdiri dan melihat sekeliling, matanya tajam seperti sedang mencari sesuatu.

"Kita harus kembali ke pantai. Beritahu yang lain untuk tetap bersama-sama," katanya akhirnya.

Tapi sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah kaki terdengar dari belakang mereka. Jack langsung berbalik, siap menghadapi apapun yang muncul.

Ternyata itu Mei Ling.

"Apa yang kalian temukan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Jack menatapnya curiga. "Kenapa kamu di sini?"

Mei Ling mengangkat bahu. "Aku penasaran. Lagipula, aku dengar suara ledakan tadi."

Jack tidak menjawab. Dia hanya menatap wanita itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Kita kembali ke pantai. Sekarang."

Saat mereka kembali ke pantai, suasana sudah berubah. Para peserta tampak bingung dan panik, sementara Victoria berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah serius.

"Kita nggak sendiri di pulau ini," katanya pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.

Elena langsung bereaksi. "Maksudmu apa? Bukannya ini pulau kosong?"

Victoria menggeleng. "Aku menemukan jejak kaki di dekat tempat berlindungku. Dan jejak itu bukan milik salah satu dari kita."

Semua orang terdiam.

Jack menatap Victoria dengan ekspresi serius. "Kamu yakin?"

"Sangat yakin."

Sofia mulai gemetar. "Jadi... ada orang lain di sini?"

Jack mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling membuka mulutnya.

"Atau mungkin... kita cuma bagian dari permainan yang lebih besar."

Jack menoleh tajam ke arahnya. "Apa maksudmu?"

Mei Ling hanya tersenyum tipis, lalu menjawab dengan satu pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.

"Kamu yakin kita benar-benar terdampar di sini, Jack?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Comeback With You
8.1
Terjebak utang dan perdagangan manusia di Nepal sejak SMP, Laluna bertransformasi menjadi kriminal tangguh demi bertahan hidup. Sepuluh tahun berlalu, gadis asal desa kecil di Indonesia ini memilih menjadi pencuri alih-alih pelacur untuk membiayai keluarga dan menyelamatkan teman-temannya. Takdir mempertemukannya dengan tentara Indonesia yang menyamar dalam misi penyelamatan budak. Bersama, mereka berjuang melawan sindikat kejam demi pulang ke tanah air.
Sampul Novel DENDAM INDRIANA
9.0
Indriana harus menelan pil pahit saat status pengantin barunya berubah menjadi janda dalam semalam. Setelah kepergian sang ayah pasca pernikahan mendadak dengan Andi, dunianya runtuh seketika. Pengkhianatan keji dan perselingkuhan yang terungkap menghancurkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang itu bangkit dengan kemarahan membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian ini?
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.7
Kehidupan seorang ibu hancur setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang. Di tengah rundungan siber, upaya hukum orang tuanya justru berakhir dengan kematian tragis mereka akibat terlindas mobil pelaku. Masih dalam kondisi lemah, wanita ini diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami yang berdalih demi kebaikan. Namun, maut bukan akhir; ia mendadak terbangun kembali di hari bayinya lahir.