Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan

Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan

Jack Harper, pakar survival ternama, terjebak dalam mimpi buruk saat acara realitasnya berakhir tragis akibat ledakan misterius. Teruntai di pulau terpencil penuh reruntuhan kuno dan suku berbahaya, Jack harus memimpin sekelompok selebritas untuk bertahan hidup. Namun, ancaman terbesar muncul dari Mei Ling, kontestan yang ternyata pembunuh bayaran dengan dendam pribadi padanya. Di tengah konspirasi pulau dan pengkhianatan, Jack harus bertarung demi nyawa dan kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 3

"BOM! BOOOM!"

Suara ledakan memecah kesunyian pulau yang sebelumnya hanya diisi suara ombak dan burung-burung. Semua kepala langsung menoleh ke arah pantai, ke tempat kapal utama yang seharusnya masih terparkir dengan aman. Detik berikutnya, asap hitam pekat membubung ke udara, diiringi api yang menjilat-jilat bagian kapal.

"Apa itu barusan?!" Elena menjerit, suaranya penuh kepanikan.

Jack Harper, yang saat itu sedang memeriksa tali jebakan di pinggir hutan, langsung berdiri tegak. Matanya menyipit, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"Kapal kita..." Sofia berbisik dari belakang Jack, suaranya bergetar.

Jack tidak menunggu lebih lama. Dia berlari ke arah pantai, meninggalkan jebakan yang tadi sedang ia periksa. Sofia mengikuti di belakangnya, wajahnya pucat pasi, sementara di kejauhan, para peserta yang lain juga mulai berlarian menuju sumber ledakan.

Di pantai, pemandangan kacau balau menyambut mereka. Kapal utama, yang sebelumnya menjadi alat komunikasi sekaligus penyelamat jika terjadi keadaan darurat, kini tinggal kerangka. Api yang menyala-nyala di atasnya seperti menegaskan bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan.

"Kapalnya..." Victoria berdiri membeku di tempat, suaranya pelan dan nyaris tidak terdengar. "Peralatan kita ada di sana... semua kru..."

"Semua alat komunikasi juga..." Mei Ling menambahkan dengan nada dingin.

Jack melangkah lebih dekat ke kapal yang terbakar, berhenti beberapa meter dari air karena panas yang menyengat. Matanya dengan cepat memeriksa sekitar, mencari tanda-tanda kehidupan atau jejak penyebab ledakan.

"Ini bukan kecelakaan," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Victoria yang berdiri di belakangnya langsung menoleh. "Apa maksudmu? Kau pikir ini disengaja?"

Jack tidak langsung menjawab. Dia berbalik menghadap peserta lain yang sudah berkumpul, wajah mereka dipenuhi kebingungan dan ketakutan.

"Dengar," Jack mulai berbicara, suaranya tegas. "Ledakan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Kapal itu sudah dicek sebelum kita berangkat. Tidak ada bahan peledak, tidak ada kebocoran bahan bakar yang bisa menimbulkan api sebesar ini. Seseorang... atau sesuatu... sengaja membuat ini terjadi."

Elena langsung mengangkat tangan, wajahnya penuh ketidakpercayaan. "Kau bercanda, kan? Maksudmu ada yang sengaja meledakkan kapal kita? Untuk apa? Ini reality show, Jack! Bukan film action!"

"Aku serius," balas Jack, tatapannya tajam. "Dan aku butuh kalian semua untuk tetap tenang. Panik tidak akan membantu."

"Tunggu," Victoria menyela, nada bicaranya datar tapi penuh ketegasan. "Apa kau punya bukti? Atau ini cuma instingmu?"

"Instingku ini yang menyelamatkan nyawaku berkali-kali," Jack menjawab cepat. "Aku tahu apa yang aku katakan."

Sofia, yang berdiri di samping Jack, angkat bicara untuk pertama kalinya. "Tapi... kalau ini benar-benar disengaja, siapa yang melakukannya? Dan kenapa?"

Kata-katanya membuat semua orang terdiam sejenak. Tidak ada yang punya jawaban, tapi jelas mereka tidak nyaman dengan kemungkinan itu.

"Kita tidak bisa tinggal di sini kalau kapal kita sudah tidak ada," Victoria akhirnya membuka suara lagi. "Kita harus mencari cara lain untuk keluar dari pulau ini."

"Bagaimana cara kita keluar?!" Elena membentak, nadanya tinggi. "Kapal sudah hancur, alat komunikasi tidak ada lagi. Kau mau berenang sampai ke daratan?"

"Tenang, Elena," Jack memotong, suaranya tajam. "Kita masih punya beberapa persediaan di pantai. Kita bisa mulai dengan itu."

"Persediaan? Kau pikir itu cukup?" Elena mendengus. "Kita bahkan tidak tahu apakah ada yang masih tersisa setelah ledakan itu!"

Jack menatapnya tajam, tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling angkat bicara, suaranya dingin tapi tenang. "Jack benar. Kita tidak bisa panik, apalagi membuat situasi ini lebih buruk. Kita butuh rencana."

Jack menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. Dia tidak menyangka wanita itu akan mendukungnya. Tapi ekspresi Mei Ling tetap datar, sulit untuk dibaca.

"Baik," Jack akhirnya berkata. "Langkah pertama: kita cari apa yang masih bisa diselamatkan dari kapal. Setelah itu, kita buat kelompok kecil untuk menjelajahi pulau. Kita harus tahu apa yang kita hadapi di sini."

Victoria mengangguk setuju. "Aku setuju. Tapi kita tidak boleh ceroboh. Pulau ini mungkin terlihat indah, tapi kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya."

"Ya, tentu saja," Elena menyela sinis. "Mungkin ada monster laut atau alien, kan?"

"Cukup, Elena," Jack menatapnya tajam. "Ini bukan lelucon."

Setelah beberapa menit berdiskusi, kelompok itu akhirnya sepakat untuk memeriksa kapal yang sudah hancur. Jack memimpin, diikuti oleh Sofia, Mei Ling, dan Victoria. Elena menolak ikut, memilih untuk duduk di tepi pantai sambil menggerutu bahwa semua ini tidak masuk akal.

Jack berjalan mendekati sisa-sisa kapal yang masih mengepulkan asap. Panasnya masih terasa, tapi sudah cukup aman untuk mendekat. Dengan hati-hati, dia mulai memeriksa barang-barang yang berserakan di sekitar kapal.

"Kita butuh air bersih," Jack berkata tanpa menoleh. "Juga alat-alat yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup."

Sofia menemukan sebuah kotak kecil yang tersangkut di antara reruntuhan. Dia membukanya dengan hati-hati, lalu mengangkat beberapa botol air dan paket makanan kering. "Aku menemukan ini!" katanya dengan nada lega.

"Bagus," Jack mengangguk. "Simpan semuanya."

Mei Ling, yang berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan sisa-sisa kapal dengan ekspresi dingin. Matanya mencari sesuatu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Apa yang kau cari?" tanya Jack tiba-tiba, menyadari gerak-geriknya.

Mei Ling menoleh, ekspresinya tetap datar. "Aku hanya memastikan tidak ada yang berbahaya di sini."

Jack tidak sepenuhnya percaya, tapi dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.

Setelah satu jam mencari, kelompok itu kembali ke pantai dengan hasil yang minim. Beberapa botol air, beberapa paket makanan, dan sedikit alat-alat kecil seperti pisau dan korek api.

"Ini tidak akan cukup," Victoria berkata sambil memeriksa barang-barang itu. "Kita butuh lebih banyak."

"Kita harus mulai menjelajahi pulau," Jack menjawab. "Kita tidak punya pilihan lain."

Elena, yang duduk di tepi pantai sambil memeluk lutut, menatap mereka dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Kalian serius mau masuk ke hutan itu? Bagaimana kalau ada yang mengintai kita? Atau binatang buas?"

"Kita tidak punya pilihan lain," Jack menjawab tegas. "Kalau kau punya ide yang lebih baik, aku akan dengar."

Elena terdiam, tapi wajahnya masih menunjukkan ketidaksetujuan.

Mei Ling memperhatikan interaksi mereka dengan cermat. Dia tahu Jack adalah pemimpin alami, seseorang yang dengan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Tapi dia juga tahu, semakin besar kepercayaan itu, semakin mudah untuk menghancurkannya.

"Kita mulai besok pagi," Jack akhirnya berkata, mengakhiri diskusi. "Sekarang, kita buat tempat berlindung untuk malam ini."

Malam mulai turun, dan kelompok itu berkumpul di sekitar api unggun kecil yang dibuat dengan susah payah. Suasana hening, hanya diisi suara angin dan ombak yang memecah pantai.

Jack duduk di dekat api, matanya menatap ke dalam kegelapan hutan. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Sofia, yang duduk di sebelahnya, akhirnya angkat bicara. "Jack... menurutmu... apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Jack tidak segera menjawab. Dia mengambil napas panjang, lalu berkata pelan, "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ini bukan kecelakaan biasa. Ada sesuatu... atau seseorang... yang ingin kita tetap di sini."

Sebelum Sofia sempat menjawab, Mei Ling yang duduk di seberang mereka tiba-tiba berkata, "Pertanyaannya sekarang adalah... siapa, dan kenapa?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EWZ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EWZ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Comeback With You
8.1
Terjebak utang dan perdagangan manusia di Nepal sejak SMP, Laluna bertransformasi menjadi kriminal tangguh demi bertahan hidup. Sepuluh tahun berlalu, gadis asal desa kecil di Indonesia ini memilih menjadi pencuri alih-alih pelacur untuk membiayai keluarga dan menyelamatkan teman-temannya. Takdir mempertemukannya dengan tentara Indonesia yang menyamar dalam misi penyelamatan budak. Bersama, mereka berjuang melawan sindikat kejam demi pulang ke tanah air.
Sampul Novel DENDAM INDRIANA
9.0
Indriana harus menelan pil pahit saat status pengantin barunya berubah menjadi janda dalam semalam. Setelah kepergian sang ayah pasca pernikahan mendadak dengan Andi, dunianya runtuh seketika. Pengkhianatan keji dan perselingkuhan yang terungkap menghancurkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang itu bangkit dengan kemarahan membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian ini?
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.7
Kehidupan seorang ibu hancur setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang. Di tengah rundungan siber, upaya hukum orang tuanya justru berakhir dengan kematian tragis mereka akibat terlindas mobil pelaku. Masih dalam kondisi lemah, wanita ini diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami yang berdalih demi kebaikan. Namun, maut bukan akhir; ia mendadak terbangun kembali di hari bayinya lahir.