Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Berpisah Karena Game Online

Berpisah Karena Game Online

Kehidupan rumah tangga Rani hancur berantakan akibat kegemaran sang suami bermain game online. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa hobi tersebut menjadi pemicu keretakan hubungan mereka yang semula harmonis. Kenyataan pahit harus dihadapi Rani saat ia mengetahui suaminya telah mengkhianati komitmen pernikahan mereka. Lewat dunia virtual itu, sang suami tega berselingkuh hingga akhirnya Rani terpaksa memilih jalan perpisahan yang menyakitkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Rani!" Suara ibu mertua membuyarkan lamunan diriku.

"Kenapa kau diam saja?" tanya ibu mertua. "Benar kan ucapan Rudy? Kau yang maksa-maksa kerja, sekarang kau belagak jadi korban."

"Saya bukannya belagak jadi korban, Bu," ucapku kepada ibu mertua. "Hanya saja, saya ...."

Ibu mertua langsung memotong ucapanku dan tak memberiku kesempatan bicara. "Apapun alasan kamu, kamu tetaplah salah. Sejak awal kamu yang mengajak perang dengan Rudy. Ya, gara-gara itu, terimalah akibatnya."

"Tapi, Bu, maksud saya, saya memang meminta untuk kerja karena keadaannya sangat kepepet," ucapku menjelaskan alasanku kepada ibu mertua agar ibu mertua keadaanku sebenarnya dan berharap ibu mertua mau terbuka pikirannya. "Saya juga terpaksa cari kerja karena uang pesangon dari perusahaan Mas Rudy sudah habis. Ditambah, Mas Rudy juga tak segera dapat penggilan kerja. Jadi, daripada saya diam, saya lebih memilih berinisiatif cari kerja sebab saya sendiri sudah punya banyak hutang untuk biaya kami sehari-hari. Bahkan, saat saya lahiran, saya juga sempat berhutang kepada teman saya ...."

Dan, ibu mertua langsung bungkam mendengar penjelasanku.

"Di saat saya bekerja, saya hanya minta hal sederhana dari Mas Rudy. Seperti mengurus Radit dan mengerjakan pekerjaan mudah lainnya, tapi nyatanya ...."

Ibu mertua tiba-tiba mengangkat tangannya ke arahku sebagai tanda kalau dirinya tak mau aku melanjutkan ucapanku. "Apakah pantas, seorang istri menjelek-jelekkan suaminya di hadapan orang lain?" tanyanya.

"Tapi, Ibu bukan orang lain. Ibu adalah ibu dari Mas Rudy."

"Terserah apa kata kamu, tapi bagi ibu, caramu itu salah, Rani. Seburuk-buruknya Rudy, dia tetaplah suamimu. Jangan sampai kau buka aibnya."

Aku langsung menundukkan kepala. Hatiku hancur. Sebab, di saat terpuruk seperti itu, tak ada satupun yang membela diriku.

***

Esoknya ...

"Mas, aku jalan kerja dulu," ucapku kepada Mas Rudy. "Kalau Mas Rudy mau makan, aku sudah masakkan sayur sup dan tempe."

"Yaa!" ucap Mas Rudy tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya terus-terusan fokus ke arah ponselnya. Bahkan, dia terlihat senyam-senyum sendiri. "Jalan aja sana. Kerja yang rajin ya, Ran."

"Iya, Mas," ucapku. "Radit biar aku bawa."

"Ya, terserah kamu lah. Suka-suka kau lah."

"Oh, iya, Mas, ada satu lagi."

Kini, Mas Rudy nampak kesal denganku. Terlihat dari sorot matanya yang langsung menatapku tajam. "Apa lagi?" tanyanya setengah membentak. "Kau buta kah kalai aku sedang main game?"

"Anu ... itu aku lagi cuci baju, aku minta tolong, nanti kalau udah selesai tolong dijemurin," kataku. "Soalnya aku sudah telat banget."

"Ya," jawab Mas Rudy singkat.

***

"Kok kamu udah masuk kerja, Ran? Katanya kamu lagi sakit?" tanya Tiara, owner tempat laundry. Ia seumuran denganku. Bahkan, dulu dia juga satu SMA denganku. Hanya, saja, nasib kami yang berbeda. Ia berasal dari keluarga kaya yang kehidupannya selalu disokong oleh kedua orang tuanya. Bahkan, dia juga dikenal memiliki keluarga yang cemara dan membuat anak sepertiku iri.

"Iya, Tia, aku terpaksa," ucapku kepada Tiara yang biasa aku panggil Tia. "Daripada aku di rumah malah stress, mending aku kerja aja. Oh, iya, gak apa-apa kan kalau aku bawa Radit?"

"Gak apa-apa, yang penting kamu kerjanya selesai."

Aku pun tersenyum lebar ke arah Tiara. Lalu, aku berkata, "Oh, iya, hari ini apa ada yang perlu dicuci?" tanyaku.

"Gak ada. Soalnya sudah selesai kemarin sore."

"Oh, gitu?"

Tiba-tiba, ponsel Tia berdering. "Eh, yuk masuk, sambil nunggu pelanggan, aku mau main game dulu, ya."

"Iya."

***

"Woah! Gila! Ternyata mereka sudah udah ada pasangan!" teriak Tia.

Aku yang sedang mengajak main Radit langsung teralihkan ke arah Tia. "Siapa yang kamu maksud, Tia?" tanyaku.

"Ini nih, Ran, ternyata couple yang selama ini menebarkan keuwuan, ternyata mereka pasangan selingkuh!" ucap Tia sambil menunjukkan game online yang mirip seperti game online yang dimainkan Mas Rudy. "Pasangan asli mereka bikin gaduh di sini!"

"Emang bisa ya orang selingkuh lewat game?" tanyaku dengan penuh penasaran.

"Ya bisa dong! Apalagi jaman sekarang udah canggih," ucap Tia. "Kamu pernah baca berita gak kalau ada artis yang selingkuh lewat aplikasi orange?"

"Enggak tahu, soalnya ponselku sudah kujual buat beli susu Radit."

"Yah, kamu gak up to date dong kalau gini," ucap Tia. "Padahal banyak lho, cara orang berselingkuh. Bahkan, lebih parahnya ada juga yang selingkuh lewat aplikasi c*nva dan Exc*l dengan alasan bertukar tugas kantor," lanjutnya. "Omong-omong, kenapa kamu tanya hal itu ke aku?"

"Oh, gak ada kok."

Kedua mata Tia mendadak menyipit. "Apakah kamu lagi ada masalah sama Rudy?" tanyanya.

Aku langsung menggeleng. "Gak ada kok. Mas Rudy mana mungkin selingkuh, dia kan gak ada duit."

"Yeee, jangan kira, Ran!" ucap Tia yang justru membuat diriku overthinking. "Malah ada lho cewek yang suka sama cowok yang macam suami kamu itu. Yang gak kerja dan 24 jam selalu ada buat ceweknya," lanjutnya yang ucapaannya memang suka ceplas ceplos dan sering tidak direm.

"Enggak, aku yakin Mas Rudy gak bakal nyelingkuhin aku kok."

"Yaaa, semoga saja."

Di saat bersamaan, datanglah seorang perempuan yang tak membawa sesuatu di tangannya. Kulitnya sangat putih dan tubuhnya mungil. Ia nampak malu-malu. Melihat dia, Tia langsung beranjak dari duduknya. "Ayo, masuk, Risa," ucapnya sambil menarik tangannya.

Perempuan bernama Risa itu segera mengekor di belakang Tia. Lalu, Tia memperkenalkannya kepadaku. "Ran, kenalin, ini karyawan baruku. Namanya Risa. Dia udah kerja mulai kemarin waktu kamu lagi sakit."

"Oh, hai, namaku Rani," ucapku sambil menjulurkan tanganku ke arah Risa.

"Iya, namaku Risa, Mbak," ucap Risa sambil membalas salamku.

Tia tiba-tiba berbisik di telinga Risa, tapi aku masih dengan jelas mendengar suaranya. "Jangan panggil dia mbak, dia umurnya sama kayak kita. Bahkan, bulannya pun masih lebih muda dia."

Pandangan Risa langsung teralihkan ke arahku.

"Gak usah berbisik, aku denger kok," ucapku.

Tia langsung nyengir kuda ke arahku.

"Emang Risa lahirnya bulan apa, Ti?" tanyaku.

"Bulan Januari, Mbak," jawab Risa. "Lebih tepatnya 1 Januari."

"Waduh! Jauh dong dengan aku. Aku lahir bulan Agustus."

Tia pun langsung memotong ucapan kami. "Nah, makanya, itulah kenapa aku minta dia jangan panggil kamu Mbak," ucapnya. "Ya, biar sekalian lebih akrab."

"Iya, aku setuju. Panggil saja aku Rani."

Risa nampak malu-malu. "Ya udah kalau gitu, aku panggil nama saja."

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95ERJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95ERJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!
9.2
Kania berjuang sendirian menyelamatkan Arka, putranya yang kritis di ICU, setelah diceraikan suaminya karena dianggap melahirkan anak penyakitan. Cobaan kian berat saat mantan mertuanya terus menghalangi setiap upaya pengobatan bagi sang buah hati. Meski merasa terpojok oleh dunia yang kejam, sebuah peristiwa tak terduga akhirnya memaksa Bagas menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia hindari. Kania membuktikan ia tidak butuh belas kasihan siapa pun.
Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Demi menyelamatkan ayahnya dari ibu tiri, Aruna terpaksa menjadi pengasuh Maira, putri dari bosnya yang bernama Brahmana. Namun, pengabdian di kediaman sang CEO justru menjeratnya dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai tumbuh. Meski mencoba pergi, ketulusan Maira dan kejujuran Brahmana terus mengejarnya. Aruna kini terjebak dalam pilihan sulit: mempertahankan dendam demi sang ayah atau menyerah pada dekapan cinta sang sultan.
Sampul Novel Dijodohin
8.0
Dunia ini tidak pernah memberikan apa pun secara cuma-cuma, termasuk dalam urusan hidup. Sayangnya, seorang gadis baru menyadari kenyataan pahit tersebut setelah semuanya terlambat. Ia telah terlanjur menggadaikan masa mudanya demi mengejar kebahagiaan yang bersifat sementara melalui sebuah ikatan perjodohan. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi dari pertukaran besar yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya di usia yang masih sangat belia.
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.
Sampul Novel Hasrat Terlarang Dalam Keluarga
9.1
Dalam jalinan hubungan keluarga yang seharusnya penuh kasih, muncul sebuah gejolak perasaan yang tidak semestinya. Kisah ini mengajak pembaca untuk merenungkan batas-batas emosi dan moralitas saat keinginan hati mulai melanggar norma yang ada. Di tengah konflik batin yang mendalam, setiap tokoh harus menghadapi konsekuensi dari perasaan mereka. Sebuah narasi romansa modern yang menantang nurani tentang cinta yang tumbuh di tempat yang salah.
Sampul Novel Kesabaran seorang istri
9.4
Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, seorang istri harus menanggung luka fisik dan batin akibat perlakuan kasar suaminya. Setiap hari ia menghadapi penghinaan yang menyakitkan, namun dirinya tetap memilih bertahan dengan kesetiaan yang luar biasa. Meski hatinya hancur berkeping-keping, ia terus berharap ketulusannya mampu mencairkan kedinginan hati sang suami. Inilah kisah emosional tentang keteguhan jiwa dan pengorbanan tiada henti di tengah badai penderitaan.