Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Berpaling Darimu

Berpaling Darimu

Aris mencoba sabar menghadapi sikap dingin Bella di tengah hubungan rahasia mereka yang terhalang restu. Perseteruan abadi antar keluarga memaksa keduanya bersembunyi, namun Bella justru semakin abai. Di titik jenuhnya, Aris justru menemukan kehangatan dari sosok Ana. Perhatian tulus yang diberikan Ana perlahan mulai mengikis perasaan Aris pada Bella, hingga hatinya kini beralih sepenuhnya pada wanita lain yang lebih menghargai kehadirannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sorenya di SMAN Satu.

Waa..waaa....

Teriak para siswi-siswi di sekolah itu saat melihat ada seorang laki-laki tampan berkacamata hitam yang masih mengenakan Jas kantornya, pria itu tengah berdiri dengan posisi kedua tangannya masuk ke saku celana sambil menyandarkan punggungnya di kaca mobilnya.

Terlihat sekali kalau dia tengah menunggu seseorang.

Para siswi-siswi yang berteriak itu pun tak lain adalah teman-teman sekelasnya Ana, sementara anak-anak kelas 3 yang berasal dari kelas sebelah ( kelasnya Aldo) sudah pulang terlebih dahulu sekitar 20 menitan yang lalu, jadi saat ini sekolah sudah mulai sepi.

"Hey siapakah lelaki tampan itu? sepertinya dia tengah menunggu seseorang yang juga berada di lingkungan sekolah ini, Bisik-bisik mereka.

"Ya, Aku rasa juga begitu," Sahut yang lainnya.

Anak-anak itu masih berkerumunan di sana demi melihat pria tampan itu, sementara orang yang menjadi bahan tontonan hanya cuek tak memperdulikan mereka.

Ana yang saat itu baru saja keluar dari kelasnya langsung di buat terheran-heran saat melihat kerumunan teman-teman sekelasnya itu.

Ana pun langsung mempercepat langkah kakinya untuk melihat apa yang tengah mereka lihat, sesampainya Ana di situ,

Ana pun langsung di buat melongo saat melihat apa yang tengah di tonton oleh para siswi-siswi teman sekelasnya itu.

"Pak Aris, kenapa beliau ada di sini? dia sedang menunggu siapa?" Gumam Ana.

Tapi setelah Ana berdebat dengan pikirannya.

Ana pun langsung memutuskan untuk segera pulang ke rumah, mungkin saja majikannya itu tengah ada urusan di sekolahnya, begitu pikir Ana.

Tanpa pikir panjang, Ana pun langsung menerobos kerumunan teman-temannya itu untuk segera pulang ke rumah secepat mungkin.

Aris yang saat itu kebetulan sudah menemukan objek yang di carinya dari tadi itu langsung buru-buru memanggil gadis cantik yang tengah berjalan kaki menjauh dari halaman sekolah itu.

"Ana..." Panggil Aris.

Ana yang merasa namanya di panggil itu pun lantas langsung menolehkan wajahnya ke belakang saat mendengar seseorang menyebut namanya itu.

Sementara itu siswa-siswi yang dari tadi tetap asyik memandangi pria tampan itu, langsung dibuat terperangah karena terkejut saat mendengar pria itu memanggil nama Ana, perempuan yang satu kelas dari mereka itu.

"Pak Aris!" Sapa Raihan( kepala sekolah

Ana) saat melihat Pria itu tengah berada di halaman gerbang sekolahnya.

Raihan pun langsung mengulurkan tangannya pada pria itu.

"Oh hay pak Raihan, Sapa Aris balik seraya menerima uluran tangan pria itu.

"'Sedang apa anda di sini?"

Tanya Raihan penasaran.

"Ah tidak apa-apa saya memang kebetulan berada di sini untuk menunggu anda, karena ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda' Ujar Aris menjelaskan.

Mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain,

karena Aris merupakan salah seorang donatur di sekolah SMA N satu.

Ana yang saat itu tidak melihat siapa yang memanggilnya barusan, selain majikannya yang tengah asik mengobrol dengan kepala sekolahnya itu pun langsung melanjutkan perjalanannya kembali.

Awalnya Ana sempat berpikir kalau yang memanggilnya barusan itu adalah majikannya, tapi berhubung saat dia melihat majikannya yang tengah asik mengobrol dengan kepala sekolahnya itu pun, dia pun langsung berpikir mungkin saja tadinya dia hanya salah dengar.

Sementara itu para siswi-siswi yang tadinya berkerumun di sana pun langsung berbubaran saat melihat kepala sekolahnya itu.

"Kenapa bapak tidak menelepon saya saja, kenapa harus susah-susah datang kemari?"

Ujar Raihan.

"Ah kebetulan saya memang ada urusan yang lainnya juga di sini,"

Ujar Aris menjelaskan.

"Oohh" Ujar Raihan manggut-manggut.

Setelah itu keduanya pun langsung terhanyut dalam obrolan, setelah urusannya sudah selesai Aris pun langsung pamit ingin undur diri.

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,

Pamit Aris setelah maksudnya sudah tersampaikan kepada Raihan.

"Ya, silahkan pak' Sahut Raihan.

setelah itu keduanya pun langsung berpisah, Raihan pun langsung melanjutkan perjalanannya kembali.

Sementara Aris saat melihat orang yang dipanggilnya sudah tiada, langsung bergegas melajukan mobilnya kembali.

"Kemana gadis itu?"

Ujar Aris dalam hati, sembari mobilnya tetap menyusuri sepanjang jalanan raya untuk mencari gadis itu.

Tak seberapa jauh dari penglihatannya, akhirnya Aris pun sudah menemukan objek yang di carinya.

"Ana naiklah!" Titah Aris saat dia sudah berhasil mensejajari langkah gadis itu.

"Bapak' Gumam Ana.

Tanpa banyak bersuara lagi Ana pun langsung naik ke dalam mobil.

"Kenapa kau tidak menungguku?"

Tanya Aris sembari melanjutkan perjalanannya kembali.

"Memangnya bapak menunggu Ana?"

Tanya Ana keheranan sembari menatap pria tampan di sampingnya itu.

"Ya aku menunggumu, bahkan aku tadi memanggilmu."

"'Ah itu Ana tidak tahu pak, awalnya Ana memang ada mendengar suara bapak memanggil Ana, tapi saat Ana menoleh ke belakang, bapak tengah asik mengobrol dengan kepala sekolah, jadi Ana fikir, Ana hanya salah dengar"

Ujar Ana menjelaskan.

"Oh begitu' Sahut Aris.

"*Ada apa dengan pak Aris? kenapa dia sampai harus menjemputku ke sekolah, dan satu lagi kenapa dia harus berpenampilan seperti ini?"

Ujar Ana dalam hati seraya memandangi wajah tampan pria itu, bahkan awalnya Ana tak mengenali penanmpilan majikannya itu.

Akan tetapi setelah Ana melihat warna jas kerja dan juga mobilnya, Ana pun langsung tersadar bahwa pria tampan itu adalah majikannya.

"Ana hari ini aku memang sengaja menjemputmu, karena tadinya mamaku ada memintaku untuk mengajakmu bermain ke rumah,"' Ujar Aris bercerita.

Aris langsung tahu apa yang ada di pikiran gadis itu, saat melihat expresinya yang nampak kebingungan, jadi Aris pun langsung cepat-cepat menjelaskannya.

"Ouuhh Sahut Ana singkat.

Tak lama setelah itu Aris pun terlihat tengah memarkirkan mobilnya di sebuah

Butik.

"Kenapa kita malah ke sin?" Batin Ana.

Dia merasa heran karena pria itu justru mengajaknya ke sebuah butik.

"Ayo kita turun dulu!" Ajak Aris.

"Bukankah bapak bilang ingin mengajak

Ana untuk bermain ke rumah orangtuanya bapak, lantas kenapa kita justru mampir ke sini?"

"Kau harus mengganti baju sekolahmu terlebih dahulu, tidak mungkinkan kita ke sana dengan pakain sekolahmu itu" Ujar

Aris menerangkan.

"'Ah iya pak' Sahut Ana.

Dia baru tersadar, kalau ucapan majikannya itu ada benarnya juga.

Akhirnya keduanya pun langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam butik itu.

Tak seberapa lama, keduanya pun sudah terlihat keluar dari butik itu, lalu melanjutkan perjalananya kembali.

Ting tong...

Bik Nung yang kebetulan saat itu tengah menata piring di atas meja makan pun langsung buru-buru berjalan ke arah pintu saat mendengar Bel rumah majikannya berbunyi.

"Bik Nung!" Panggil Suci (mamanya Nisa). "Ya Non,' Sahut Bik Nung seraya menghentikan langkahnya.

"Bik Nung lanjut aja nata piringnya di meja makan! pintunya biar saya aja yang buka,"

Pesan Suci seraya langsung berjalan menuju pintu.

"Enggeh non,' Sahut Bik Nung seraya langsung melanjutkan kegiatannya kembali.

Ceklek..

Pintu terbuka.

"Ngapain lho di sini?" Ujar Aris sinis saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya, karena Aris paling sebal saat melihat wanita itu, gara-gara Suci sering menitipkan anak tengiknya itu pada mamanya.

Banyak sedikitnya Aris selalu saja kena imbasnya karena ulah konyol Nisa.

"Ketemu bibik bukannya nanyain kabar, malah di sinisin kek gitu, Gerutu Suci.

Setelah itu Suci pun langsung berlalu begitu saja di hadapan Aris, untuk menghampiri gadis cantik yang ada di sebelahnya itu, lalu menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Sementara Ana yang di perlakukan seperti itu oleh suci hanya diam dan menurut saja

Saat lengannya di tarik oleh wanita cantik yang mengaku sebagai bibik majikannya itu.

Setibanya di dalam.

"Hey lihatlah! siapa yang datang" Ujar Suci memberitahu kepada semua keluarganya yang saat itu tengah berkumpul di ruang tengah.

Lantas semua orang yang berada di situ pun langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita cantik itu.

"Wahhh apakah kamu yang bernama

Ana?" Tanya Gina (Omanya Aris) seraya menghampiri gadis cantik itu.

"lya nek," Sahut Ana malu-malu lalu mencium punggung tangan wanita tua itu terlebih dahulu.

"Jangan panggil nenek sayang! tapi panggil saja saya Oma, nama saya Gina, jadi kamu bisa panggil saya dengan sebutan Oma

Gina!"

"lya Oma' Sahut Ana malu-malu.

Namun masih terdengar sangat canggung, setelah itu giliran yang lainnya lagi yang ikut menyapa dan mengajak Ana berkenalan.

Senang sekali rasanya Ana bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga majikannya itu, walaupun di sini statusnya hanya sebagai orang luar, namun keluarga Aris memperlakukan Ana seperti keluarga mereka sendiri.

"Oma! Oma juga berada di sini?" Ujar

Aris terkejut, lalu langsung memeluk dan menciumi kedua pipi Oma kesayangannya itu.

Sudah berbulan-bulan Aris tak pernah berjumpa dengan Omanya, karena Gina selama ini tinggal di luar kota bersama

Suaminya.

"Sudah lama sekali Oma tak bertemu cucuk kesayangan Oma ini, lihatlah dirimu! semakin terlihat bertambah tua dari saat kita bertemu terakhir kali waktu itu,' Ejek Gina.

"Oma sudahlah! kalian sepertinya sangat senang memojokan Aris" Aris langsung merajuk saat mendengar ucapan omanya itu.

"Kalau kau tak ingin di ejek lagi, makannya menikahlah secepatnya! Oma sudah tidak sabar untuk menimang cicitnya Oma," Ujar

Gina seraya melirik ke arah Ana.

Sementara orang yang di lirik hanya tersipu malu, Ana sudah tahu apa yang akan terjadi padanya kalau sampai berjumpa dengan keluarga majikannya itu. Huh lagi-lagi Aris hanya bisa merajuk saat mendengar ejekan anggota keluarganya itu.

"Wah gadis cantik ibuk rupanya sudah datang!" Ujar Rika menyapa.

Saat matanya bertemu pemandangan seorang Ana yang sudah berkumpul di tengah-tengah keluarganya itu.

Rika memang baru saja menampakan batang hidungnya di sana, karena dari tadinya dia tengah sibuk memasak makanan di dapur, Rika sengaja turun langsung ke dapur, untuk memasakan makanan bagi semua keluarga besarnya itu.

Karena setiap akhir pekan dalam 6 bulan sekali, keluarga mereka memang memiliki tradisi untuk berkumpul-kumpul di salah satu rumah keluarga mereka. Kebetulan kali ini yang terkena giliran adalah keluarganya Rika.

Ana pun langsung cepat-cepat berdiri dari duduknya untuk menyalami ibu majikannya sebagai tanda hormatnya pada wanita paruh baya itu.

"Wah kalian lihatlah! sepertinya sebentar lagi di rumah ini akan segera mengadakan pesta nikah besar-besaran' ejek Rika terangan-terangan seraya melirik ke arah anak tunggalnya itu.

"Mama diamlah! kalau kalian terus mengejek kami berdua seperti ini kami akan kembali pulang sekarang!"

Suara Aris terdengar sangat kesal.

Lalu menarik lengan pembantunya itu untuk membawanya pulang ke rumahnya saat ini juga.

"Heii.. Ana yang menjadi objek sasaran saja tak ada marah dan merajuk sepertimu, kenapa malah kau yang menjadi sewot dan juga ingin membawa-bawa Ana pulang ke rumah bersamamu, kalau kau tak suka kami ejek, pulang saja sana! tapi jangan membawa-bawa Ana pulang bersamamu!"

Usir Raka (ayahnya Nisa).

"Huh sewot katamu? suka-suka akulah kalau aku ingin mengajak Ana pulang, maka dia juga harus pulang bersamaku, karena Ana bekerja padaku, jadi kalau aku ingin kembali ke rumah sekarang maka dia juga harus ikut bersamaku, karena dia bisa kemari juga karena aku' Tukas Aris.

"Hey kalian itu sekarang bukanlah seorang teman lagi, jadi yang tua harus menjadi contoh yang baik bagi yang muda, dan yang muda juga harus menghormati yang tua!"

Tegur Andi pada kedua pria itu.

"Huh siapa juga yang mau menganggapnya paman papa, bahkan urusan otak saja otakku jauh lebih jenius darinya' Sahut Aris tak mau kalah.

"Sudahlah berdebatnya! lebih baik sekarang kita makan terlebih dahulu' Ajak Rika pada semua keluarganya itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel En-PD161
9.1
Dua tahun menikah, sang suami berubah drastis menjadi pria yang gemar bersenang-senang dengan banyak wanita. Meski sang pria telah berjuang mempertahankan hubungan hingga berurusan dengan polisi, suaminya hanya memberikan balasan dingin yang menyakitkan. Terungkap bahwa pernikahan ini hanyalah alat balas dendam atas kematian cinta pertama sang suami. Saat kesabarannya habis melihat pengkhianatan itu, sang pria akhirnya memilih bangkit dan menerima tantangan cerai.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang Ustadzah
9.7
Kehidupan seorang pemuda berubah drastis setelah menyaksikan rahasia di balik hijab syar'i Ustadzah Ika. Pemandangan tak terduga saat sang guru melepas pakaiannya meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Meski telah memiliki anak, kecantikan fisik Ustadzah Ika tetap mempesona dan memicu kekaguman yang berlebihan. Kini, bayangan tubuh molek sang ustadzah terus menghantui pikiran dan mengganggu tidur malamnya, menciptakan hasrat yang semakin liar setiap hari.
Sampul Novel Istri Keempat Sang Tuan Tanah
9.7
Demi melunasi utang, Lila terpaksa menjadi istri keempat Tuan Thakur, seorang tuan tanah kaya yang sangat dominan. Pria itu menegaskan bahwa pernikahan mereka bukanlah kontrak drama televisi yang mudah diakhiri. Tanpa ada kata cerai, Lila terjebak dalam komitmen seumur hidup kecuali maut memisahkan atau sang suami sendiri yang melepaskannya. Kini, Lila harus menghadapi kenyataan pahit dalam pernikahan penuh intimidasi ini. Sanggupkah ia bertahan hidup bersamanya?
Sampul Novel Kekayaan Setelah Pengkhianatan
7.9
Tepat di usia ke-20, Tristan dikhianati oleh kekasihnya hingga hancur secara emosional. Namun, tetesan darahnya tanpa sengaja mengaktifkan detektor garis keturunan kuno pada cincinnya yang telah lama mati. Rahasia besar terungkap, mengubah nasibnya dari mahasiswa miskin menjadi miliarder penguasa berbagai bisnis global. Kini, sang pemuda terkaya di dunia menghadapi mereka yang dulu menghina dan mengkhianatinya saat mereka datang bersujud memohon ampun padanya.
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.