
Berharap Dicintai
Bab 2
Dariel berbalik badan kembali menghadap istrinya. "Jangan asal nuduh aja kamu, ya!" ucap Dariel tidak terima.
"Siapa yang nuduh!?" sangkal Merly merasa aneh dengan sikap suaminya itu. "Aku hanya tanya, kamu ada perempuan lain ga? Kamu langsung marah… Jangan-jangan benar ya, ada wanita lain selain aku di hati kamu!" Merly menunjuk dada bidang suaminya.
Dariel bungkam untuk sementara waktu. Pria itu berkata memaki dirinya sendiri.
Ya ampun Darieeelll kenapa kamu jadi mudah marah sih! Padahal bisa aja kamu tidak emosi dan terus sembunyikan rahasiamu dengan gadis malang itu sampai waktunya telah tiba. Aduh, sekarang Merly jadi curiga kan? Bodoh, bodoh… Dariel bodoh!
Merly yang melihat kebungkaman suaminya segera berkata. "Kalau benar ada, siapa perempuan itu Mas."
Jawab jujur atau tidak?
Bahkan untuk hal sesimpel itu Dariel masih bertanya. Dengan mencoba tegar ia berkata, "Memangnya kalau memang aku ada perempuan lain, apa yang akan kamu buat?"
Merly seketika terdiam seperti Dariel tadi pada Merly. "Hm, kalau benar kamu ada perempuan lain, aku akan hajar dia dan ga akan biarin dia masuk ke rumah."
Sadis. Itulah kata yang terbesit dalam pikiran Dariel saat ungkapkan Merly usai di tangkapnya. "Kenapa?" namun ia masih berusaha tidak terlalu ketahuan pada istrinya yang paling ia cintainya ini.
"Ya karena rumah ini milik aku, aku ratunya di sini, tiada seorang pun yang boleh ambil hak itu dari aku, sampai kapanpun!" Merly berkata dengan membangga-banggakan dirinya sendiri.
Lalu perempuan itu mendekat dan memeluk suaminya sendiri, menyandarkan pipinya ke dada bidang suaminya, "Tapi semua itu sama sekali ga akan pernah terjadi kan? Kamu cinta aku kan, Mas?" ia masih berusaha menyakinkan diri atas perdebatan cukup singkat tersebut.
"H-hm, iya. Aku cinta kamu kok," jawab Dariel tampak ragu.
***
Hari sudah larut malam.
Masih di rumah besar milik Dariel dan Merly, sepasang suami istri itu baru melakukan kegiatan suami istri mereka dengan penuh kenikmatan tiada tara.
Dariel di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedang Merly terkapar lemas, dan seperti biasa suaminya selalu memuaskan dirinya yang senang dengan hal berbau s*x.
Aneh.
Satu kata itu yang terbesit dalam kepala Merly.
Tidak biasanya.
Kemudian dilanjutkan dengan kata yang lain. Ya, aneh dan tidak seperti biasanya.
Merly bingung. Biasa, Mas Riel sama sekali ga pernah mandi setelah bercinta. Sekarang… Merly tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu.
Selalu, keanehan suaminya semakin menjadi. Membuat terkadang Merly berpikir kalau sang suami memiliki wanita lain dan rasanya ia tidak merelakan suaminya menjadi milik orang lain selain diriny.
"Sepertinya aku perlu ngawasi pergerakan suamiku," dia memutuskannya sendiri.
***
Huek!
Huek!
Huek!
Di dalam kamar mandi di apartemen tempat Diana berada, tepat pukul 02.00 subuh ia terbangun hanya karena merasa perutnya seolah berguncang di dalam sana.
Rasa tidak enak akan semua bau-bauan sungguh membuat Diana sangat tersiksa dengan keadaannya kini.
Walau hanya terjadi sebanyak tiga kali hingga detik ini, tetapi ia begitu lemas.
Terutama ketidak adaannya Dariel–ayah dari anak yang tengah di kandung Diana itu membuat Diana sangat kesepian sekalipun semua fasilitas diperlengkapi.
Setelah membersihkan mulut dan membasuh wajah, perempuan itu memasuki kamarnya kembali.
Dia menatap satu foto yang dipajang berbingkai daun ukiran di setiap sudutnya, terdapat gambar wajah tampan Dariel yang terpajang.
Senyuman terukir di sudut bibirnya, ntah mengapa melihat wajah Dariel dia sangat tenang.
Bahkan tanpa sadar, dia menyentuh permukaan perutnya yang diselipkan telapak tangannya itu.
Ada segelintir perasaan kehangatan dirasakannya di dalam hati tanpa ia ketahui alasan jelasnya.
Kamar ini kamar Dariel. Semua perlengkapan milik lelaki itu masih saja lengkap di sini.
Bahkan aroma mint lelaki itu masih tercium begitu jelasnya walau sudah sangat lama sejak pernikahan dengan Merly, 5 tahun yang lalu diselenggarakan dan Dariel sudah jarang tidak datang setidaknya menginap.
Bayangan mengenai rupa Dariel yang ntah mengapa malah dirindukan Diana membuat Diana kembali tenang dengan suasana kamar milik Dariel itu.
***
Kembali kepada Dariel.
Dariel masih berada di dalam kamar mandi, lelaki itu menggosok seluruh tubuhnya dengan rupa wajah yang tampak tidak suka, alias jijik.
Ntah mengapa ada dorongan dalam diri supaya tidak melakukan kewajiban tersebut walau kepada istrinya sendiri, Merly.
Dariel seolah sangat kotor setelah melakukannya dengan Merly. Tidak peduli jika Merly adalah wanita pertama yang disentuhnya seumur hidupnya.
Justru bayangan mengenai Diana yang terbesit dalam kepala Dariel.
Karena memang, pria itu selalu memikirkan Diana selama beberapa Minggu ini.
Bagaimana nasip Diana, apa yang dimakan Diana, siapa orang yang bergaul dengan Diana, bahkan sampai titik terkecil dari seseorang, kapan Diana keluar rumah dan kenakan pakaian apa, Dariel teliti semuanya lewat mata-mata miliknya yang sudah sangat lama tidak digunakannya.
Ntah itu cinta atau rasa bersalah atas tindakannya yang sama sekali tidak bermoral itu.
Pokoknya semua tentang Diana, Diana dan Diana. Banyak alasan dibuatnya kala sang istri menginginkannya datang ke rumah dan menikmati setidaknya kebersamaan mereka sebelum akhirnya Dariel kembali bekerja.
Masuk pagi, pulang pagi, kadang tiga hari kemudian baru ingat rumah
Dariel tahu istrinya tersebut geram.
Namun Merly hanya bisa sadar jika suami tidak kerja, istri makan apa?
Sementara Merly tipe wanita pemalas, hanya ingin memiliki uang tanpa bekerja.
Dan celah sempit itu sering dijadikan Dariel sebagai lubang untuk menolak keinginan Merly sebesar apapun harapan wanita itu.
Bersambung…
Anda Mungkin Juga Suka





