
Berharap Dicintai
Bab 3
Tiga hari.
Waktu yang cukup lama bagi Diana karena perempuan itu hanya mengurung diri di rumah tanpa keluar untuk hal yang tidak jelas.. Cukup berjemur di terik matahari pagi, kemudian merapikan rumah, sekedar memastikan semuanya rapih, sekalian mengisi waktu kosong yang mana Diana sendiri tidak tahu sampai kapan hal itu akan berakhir.
Diana, setelah mengemas rumah, perutnya tiba-tiba lapar sementara dua jam yang lalu baru saja ia memakan cemilan.
Jam baru saja menunjukkan pukul 10 pagi, tiba-tiba Diana ingin sekali makan dan ada saja dorongan jika ia harus membuat makanan dalam porsi yang banyak.
Sejam, adalah waktu yang cukup dihabiskannya di dapur. Semua makanan sudah siap, dibuatnya, dia menatanya dengan baik di atas meja makan.. Menutupnya dengan tudung saji, baru saja ingin melangkah keluar dari dapur, ketukan bersamaan dengan pencetan bel oleh orang yang tidak diketahui berbunyi saling bersautan.
"Siapa?" tanyanya penasaran sebelum membuka pintu.
Takutnya orang di balik pintu itu ada orang yang berbahaya, Diana tidak mau melukai anaknya yang masih di dalam kandungan walau untuk saat ini Diana masih saja tidak bisa menerima keadaannya dengan tangan terbuka.
"Aku," suara pria yang selama tiga hari ini ntah menatap terus terbayang-bayang dalam ingatannya.
Diana sontak melompat girang tanpa berusuara sama sekali.
"Diana?" tanya Dariel bingung
Setelah ungkapan singkatnya tadi, Dariel belum mendapatkan respon apapun dari Diana yang berada di dalam ruangan.
Dariel memang memiliki kunci duplikat atas apartement yang diberikannya untuk tempat tinggal sementara Diana, tetapi demi membuat wanita itu tetap tenang, Dariel berpikir lebih baik berlaku sopan dahulu terhadap Diana hingga hati Diana kembali pulih dan kemungkinan ia akan bisa dengan mudahnya mendekati wanita itu.
Tidak memiliki tujuan lain, hanya memastikan anaknya yang masih bertumbuh dalam rahim wanita itu baik-baik saja dengan mengontrol semua kelakuan Diana lewat kamera pengawas yang diletakkannya di tempat simple tapi Diana pasti tidak akan curiga.
Setelah sadar akan kelakuannya, Diana berhenti dari tingkah terbilang konyolnya itu.
"Aku kenapa sih!" Diana bergumam, merasa aneh dengan dirinya sendiri. ‘‘Seperti anak kecil saja…’’ gumamnya kemudian.
Diana segera membukakan pintu, dikala melihat rupa wajah pria yang selalu terbayang dalam ingatannya itu, Diana hanya mampu tersenyum dan menahan diri walau gejolak hati mengatakan Diana harus memeluk pria itu.
Padahal Diana sendiri paling anti berdekatan dengan pria karena sifatnya yang terlalu waspada. Namun satu kekhilafan, dia jatuh, terjerumus dalam hal yang tidak pernah diperkirakannya sejak dahulu, hamil di luar nikah.
"Kamu tidak apa kan?" tanya lelaki itu sembari menempelkan punggung tangannya di kening Diana.
Wajah Diana seketika mendadak panas. Tidak bisa menahan semua keinginannya tersebut, Diana segera menyambar tubuh Dariel dan memeluknya. Hidung perempuan itu mengendus tubuh lelaki itu… Aroma mint dari pewangi pakaian yang digunakan Dariel sungguh menenangkan hatinya.
Namun Dariel yang mendapatkan sambaran pelukan dari wanita yang belum menjadi istrinya tersebut, mendadak tegang, dia tidak tahu mau lakukan apa. Pikirannya saling berdebat di sana. Ada apa dengan Diana? Dia aneh sekali. Sekiranya begitulah ungkapan hatinya.
"D-Diana…" ucap Dariel mencoba kembali sadar dengan menstabilkan semua saraf otaknya yang sudah mulai berpikir aneh itu.
Diana yang mendapati dirinya sungguh kelewatan segera melepas pelukan yang diberikannya tersebut dan menunduk, "Maafkan aku," ucapnya dengan bersungguh-sungguh.
Dariel mengangguk. "Tidak apa. Hm, apa ada yang terjadi selama tiga hari aku tidak datang kemari?"
Diana menggeleng. "Tidak. Semuanya baik-baik saja."
Dariel mengangguk, dia berjalan mendekati sofa. "Sangat nyaman, jauh dari kemarin," gumam pria itu menunjukkan senyum kecilnya.
Diana menatap pria itu dengan berpikir. 'Aku kenapa bisa begini… Aneh, rasanya ingin dekat terus dengan pria ini. Padahal dia sudah jahat padaku. Ambil kesucianku, buat aku hamil sampai keseringan muntah padahal makanan yang kumakan enak-enak langsung main keluar dari mulut bukan dari bawah sana. Apa yang terjadi padaku.
Disaat dirinya bertanya begitu di dalam hati, lagi-lagi ada keinginan untuk membuatkan pria itu makan. Tanpa herpiki panjang, Diana mendatangi dapur dan mulai menyendok lauk, sayur, dan nasi yang dimasaknya tadi ke dalam wadah, piring. Tak lupa gelas berisi air minum.
Aroma yang seketika membuat perut Dariel yang melupakan makan dari istrinya tadi sewaktu di rumah itu seketika bergejolak.
"Apa itu?" tanyanya penasaran, sementara ia sudah tahu sendiri jawabannya.
"Hm, ini. Aku ada buat makanan. Kalau kamu belum makan silahkan, kalau sudah… Aku akan kembalikan semua ke tudung saji," ucap Diana terus terang saja.
"Ah, tidak. Aku lapar. A-aku akan terima."
Senyuman terukir dengan lebarnya dikala Dariel berucap begitu padanya.
"Baik, ini untukmu," Diana meletakkan benda yang semula berada di kedua belah tangannya itu ke atas meja di depan sofa.
Dariel menyantap makanan tersebut dengan senang hati, seolah dirinya sama sekali tidak pernah makan bahkan di rumahnya bersama sang istri, apapun yang dihidangkan sang istri di rumah akhir-akhir ini selalu diabaikannya.
***
Di sisi lain.
Seorang wanita dengan geram menatap hal yang didengarnya lewat pengeras suara di dalam mobil yang ditumpanginya.
"Arghhh, ternyata benar dugaanku, suamiku punya wanita lain!" ucapnya geram.
Anda Mungkin Juga Suka





