
Benih Satu Milyar
Bab 2
"Gue mau jenguk nyokap, lo mau nemenin gue?" tanya Flora, kali ini disertai senyum yang mengembang.
"Mau lah, masa kaga? Kan, kaga mungkin gue biarin lo pergi sendirian."
"Makasih ya." Kembali Flora memelukku, selalu saja moment seperti ini yang kadang membuatku makin trenyuh.
"Ntar malam kita berangkat jam delapan, gue pengen beberapa hari di sana."
"Lo mau nginep di rumah sakit jiwa?"
"Ya kaga lah, Dodol ... masa iya gue nginep di rumah sakit."
"And then?"
"Kita nginep di hotel, sekalian ntar di sana kita refreshing."
Aku pun memberi tanda oke seraya mengedipkan satu mata. Sejenak melupakan seluruh problema, melepas penat yang setiap saat menghimpit.
***
"Pak, apa kaga ada jalan pintas?" tanya Flora pada sopir taksi yang akan mengantar kami ke terminal.
"Kita sudah terjebak macet begini, Mbak. Mana bisa puter balik cari jalan pintas."
Suasana jalanan yang padat semakin riuh karena suara klakson yang saling bersahutan. Tampak Flora tidak tenang, pasalnya bus yang dia pesan adalah bus terakhir.
"Lo sih, nolak pakai mobil gue."
"Bukannya nolak, Ra. Cuman masalahnya, perjalanan kita tuh jauh. Gue kaga mau bikin lo capek."
"Bener juga, sih. Terus gimana kalau ntar ternyata sampai terminal, busnya sudah kaga ada?"
Flora terdiam, sepertinya sedang mencari cara. Baru saja dia hendak membuka mulut, tetiba ponselnya berdering. Dia mendengkus kesal, lalu dengan kasar menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa, Om?"
"...."
"Tapi sekarang nggak bisa, Om. Ini masih terjebak macet."
"...."
"Huff ... bisnis apa lagi?"
"Apa??!" Ekspresi Flora membuatku turut terkejut.
Sepertinya ada suatu hal bikin dia syok. Tapi entah apa karena dia menggunakan earphone.
Selanjutnya, Flora hanya mengangguk dan mendengarkan ucapan orang dari seberang panggilan. Setelah panggilan berakhir, dia bersorak sorai kegirangan.
"Ada job besar, Nara. Duitnya satu em," ujarnya dengan sorot mata penuh binar.
Auto bola manikku turut membulat. Om om sultan nih kayaknya yang akan memakai jasa layanan Flora. Wajar aja, sih, kalau dia sebahagia itu.
"Emang jobnya apa?" tanyaku penasaran.
Yang ditanya bukannya jawab, tetapi malah garuk-garuk kepala. Sikap Flora membuatku semakin kepo.
"Mau mulai main rahasia rahasiaan sekarang?"
"Bukan gitu, Nara ... tapi ...."
"Tapi kenapa? Melayani bandot tua yang kelainan? Atau ...."
"Bukan. Tapi ... itu, jobnya ngasih anak."
"Maksudnya?" Dahiku mengernyit, makin tak mengerti dengan ucapan Flora yang kebingungan untuk menjelaskan.
"Ya .... ya kita hamil, terus anaknya dikasih ke keluarga itu."
Mataku seketika mendelik, bahkan sopir taksi yang mendengar percakapan kami pun menoleh dan membelalakkan mata. Aku mencoba memberi kode pada Flora untuk menghentikan percakapan, tentu saja merasa aneh jika membicarakan hal tabu di depan orang lain.
"Kita turun sini aja, Pak. Ini ambil aja kembaliannya," ucap Flora sembari mengulurkan uang seratus ribu.
Pak sopir yang sempat mendengar pembicaraan kami pun menepikan mobil. Dengan cepat Flora membuka pintu dan menarikku untuk keluar dari mobil.
Aku yang masih syok dengan cerita gila dia, hanya menurut saja. Bahkan tanpa bertanya saat dia mengajakku menyeberang jalan. Pada akhirnya kami membatalkan rencana pergi, Flora lebih memilih uang satu milyar dibanding pergi mengunjungi ibunya.
Mau heran, tapi itulah kami. Kalah dengan limpahan materi, uang ratusan juta mampu mengalihkan dunia orang seperti kami. Termasuk pilihan Flora yang mau menerima resiko kehamilan, semua demi uang.
Pilihan yang tak pernah terlintas dalam pikiranku.
Anda Mungkin Juga Suka





