
Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
Bab 2
Gadis yang gamblang. Kesan pertama Rafaele, untuk perjumpaan perdananya dengan Belleza hari ini. Gadis yang sejak kecil hidup di Thailand bersama pamannya itu, memang sudah terlihat tegas. Dari saat kedatangannya ke istana Jeffie.
Namun, Rafaele harus jujur. Bella benar-benar bukan tipe wanita yang bisa ia sebut idaman. Jauh. Dan sangat bertolak-belakang dengan kriteria wanita yang Rafaele suka. Tepatnya, kriteria wanita yang terkadang turut menghangatkan ranjang agung milik sang putra mafia.
“Untuk seorang gadis Asia, kau cukup sombong, Belleza. Tapi kesombongan, tidak akan membuat bisnis Ayahmu menjadi kuat. Jangan hanya mengandalkan emosi. Tapi ....” Kemudian Rafaele menempatkan ujung jari telunjuk dan jari tengah, tepat pada pelipis kanannya, “gunakan juga otakmu,” pungkasnya diakhiri selarik senyum singkat.
Bella tidak terlahir menjadi seorang anak perempuan yang manis dan penyabar. Tidak mengherankan, jika ia pun lantas merasa tersulut kesal ketika mendapat kalimat sekasar itu dari Rafaele.
Ingin rasanya Bella melayangkan tinjunya. Atau sedikit tendangan telak, tepat di mulut besar Rafaele. Tapi, Bella masih sadar diri. Dia datang sebagai tamu di sana. Mana etis, bertingkah semau sendiri. Terlebih di hadapan sang putra mafia yang berkuasa.
Ada rasa senang, saat Rafaele melihat kilat keputus-asaan bersembunyi di balik sepasang iris hitam milik Bella. Tapi, itu saja belum cukup untuk menenangkan sesuatu yang begitu panas. Membara di dalam dadanya.
“Di dalam tubuhku juga mengalir darah seorang wanita Asia. Tapi pola pikirku, laki-laki Italia seutuhnya. So, kau bisa menjadikanku sebagai teladan, Belleza. Kau ingin bertahan di dunia kita ini, maka segeralah menyesuaikan diri. Mereka tidak akan melepasmu, hanya karena kau seorang wanita.” Kembali Rafaele berkata. Sebelah alisnya tampak ia naikkan sekilas. Memberi kesan sombong pada ekspresi wajahnya kala itu.
Bella sempat akan terpengaruh, ketika Rafaele menyinggung perihal dirinya merupakan seorang perpaduan Italia dan Thailand.
Tentu saja, Alaric juga sudah bercerita pada Bella. Rafaele lahir dari rahim seorang wanita Asia. Wanita malang yang terpaksa harus menikah dengan Henry Jefferie. Mendiang ayah Rafaele.
Rasa ingin Bella tertawa. Bukankah kisah itu juga akan segera menjadi kisahnya bersama Rafaele? Barangkali, Rafaele pun akan mengulang cerita antara kedua orang tuanya dulu. Miris. Bisa Bella bayangkan, betapa bencinya ibu dari Rafaele, karena harus menikah dengan seorang pemimpin mafia.
Sebab, bengis dan kejam, bukan hanya karakter yang dimiliki oleh Rafaele saja. Ia telah menuruni ke-dua hal tersebut dari ayahnya.
Sebelum ambruk karena jantung koroner yang kian merongrong jiwanya, mendiang Henry dikenal sebagai seorang pemimpin klan yang nyaris tak memiliki belas kasih. Bukan hanya pada musuh. Tapi juga pada anggota keluarga yang tak patuh pada setiap aturannya. Bisa jadi, itu pula yang telah membuat Stevanny Maurer (ibu Rafaele) memutuskan untuk bunuh diri.
Bella tersenyum datar, “Kau tidak perlu mengguruiku, Mr.Jeffie. Mungkin kau tidak tahu ... tapi aku tidak selemah yang kau pikirkan. Meski selama ini aku berada jauh di pengasingan, aku tetaplah seorang nona Steel. Sejak pertama kali aku mengenal tentang siapa Ayahku, mulai dari saat itu juga aku sudah dipersiapkan untuk hari ini,” paparnya menaikkan nilai untuk dirinya sendiri.
Di sebelah sana, Rafaele tampak tersenyum tipis. Sembari meneguk lagi anggur dari gelas kristal yang masih ia pegangi. Meski hanya sesaat, tapi ia sempat terkesan atas kalimat dari Bella tadi. Gadis itu punya tekad dan nyali. Pikir Rafaele.
“Terima kasih untuk perkenalan dirimu, Nona Steel. Aku terkesan.” Kemudian Rafaele menyahut datar. Kini ia menatapi lagi sosok yang baru saja melepaskan topi dari kepalanya.
Wow. Tidak dipungkiri. Bella memiliki kecantikan itu. Kecantikan khas wanita Asia yang berpadu dengan darah Italia dari Alaric—ayahnya. Andai saja bibir tipisnya mau sedikit saja tersenyum, sudah pasti akan menyempurnakan kecantikan di wajah Bella meski tanpa riasan make-up sekalipun.
Kembali Rafaele tersenyum, tatkala kini Bella tengah berjalan menghampiri dirinya. Lalu, ia menurunkan kedua kaki dari atas meja. Menarik punggungnya dari sandaran sofa, lantas termangu dengan satu tangan yang bertumpu di atas paha. Menengadahkan wajah sedikit, membalas lekat tatapan mata Bella kepadanya.
“Sampai bertemu lagi di altar pernikahan, Mr.Jeffie.” Hanya sesingkat itu kalimat yang keluar dari mulut Bella, ketika dia sudah berdiri beberapa jengkal di hadapan Rafaele.
Rafaele kira Bella akan mengatakan hal-hal tidak berguna seperti saat awal kedatangannya tadi. Namun, ternyata? Gadis itu akhirnya sepakat dengan pernikahan. Cukup menghibur. Sebentar lagi Rafaele akan memiliki mainan baru. Dan untuk yang satu ini, tak akan selesai hanya dalam satu malam saja. Tentu Rafaele amat menantikan hari pernikahan itu tiba.
“Tentu saja, Nona Steel.” Rafaele menyahut, disusul menempelkan lagi bibirnya pada gelas kristal. Menenggak habis, sisa minuman yang masih ada di sana.
Sejurus kemudian, seorang anak buah Rafaele datang ke ruangan itu. Berdiri di dekat pintu masuk. Membungkuk sekilas, memberi salam hormat pada sang putra agung klan Jeffie.
Sebagai tanggapan, Rafaele tersenyum singkat pada laki-laki dengan setelan kemeja hitam tersebut.
“Jerome, tolong kau antarkan calon istriku pulang. Aku tidak ingin dia menyetir sendiri. Di luar sana, banyak sekali mata yang penasaran dengan putri dari keluarga Steel. Kau harus pastikan dia sampai di rumah dengan aman,” cetus Rafaele memberikan mandatnya pada sang ajudan. Jerome.
Di tempatnya berdiri, Jerome mengangguk patuh atas perintah yang telah diterima. Sementara Bella menoleh sekilas ke arah Jerome. Bahkan ajudan itu juga tampak begitu segan pada seorang Rafaele.
“Aku bisa pulang sendiri.” Bella kembali lagi pada wajah Rafaele dan menjawab.
“Mulai saat ini, nyawamu juga menjadi sesuatu yang berada di bawah tanggung-jawabku. Akan lebih baik jika kau menurut. Atau, aku terpaksa harus memaksa.” Rafaele bangkit berdiri dan menegaskan perintahnya kepada Bella.
Bella diam. Belum apa-apa saja, Rafaele sudah berani mengatur dan mendikte. Bagaimana nanti, saat mereka benar-benar telah menikah.
“Tunggu apa lagi, Jerome? Siapkan mobilnya sekarang.” Rafaele menekankan titahnya sekali lagi pada si anak buah.
Tak banyak kata, Jerome hanya segera mengangguk dan pergi dari ruangan untuk menyiapkan kendaraan seperti perintah Rafaele. Sampai saat itu, Bella masih diam dengan mata sinisnya yang mengarah tepat ke wajah sang calon suami. Seberkuasa itulah seorang Rafaele. Tak ada satu pun mata yang berani menatap wibawa laki-laki berusia 32 tahun tersebut. Semua dari mereka tunduk, patuh pada apa pun yang Rafaele katakan. Terkecuali Belleza Steel. Sejak hari ini, ia bersumpah. Jika pun harus menerima pernikahan, namun hidup seorang Bella tetap milik Bella. Tak akan Bella biarkan, dirinya menjadi seperti salah satu dari anak buah Rafaele.
***
Di depan pintu istana Jeffie, tersaji hamparan pepohonan tinggi nan menghijau rimbun. Tak berada jauh dari sana, terdapat pula pantai dengan airnya yang biru jernih. Sementara luas pekarangan istana Jeffie sendiri, hampir mencapai seperempat dari lokasi pulau pribadi itu berada.
Butuh waktu berjam-jam, saat Bella berkendara menuju tempat tinggal Rafaele tersebut. Lokasi yang terbilang cukup terisolir dari ramainya aktifitas pusat kota Sisilia. Sedikit heran memang, mengapa seorang mafia seperti Rafaele menyukai tipe hunian yang cukup dekat bersinggungan dengan pantai. Jauh dari hingar-bingar tengah kota.
“Jerome sudah menunggumu di bawah. Sayang sekali aku tidak bisa ikut mengantarmu pulang, Belleza,” ucap Rafaele yang tengah berdiri berdampingan dengan Bella.
Bella menoleh pada Rafaele, “Panggil saja, Bella. Dan aku merasa lebih baik, karena kau tidak ikut mengantarku pulang. Aku belum terbiasa dengan bau asap cerutu dan mesiu di tubuhmu,” jawabnya menunjuk dengan tatapan mata ke arah dada sang putra mafia.
Mendengar kalimat Bella, Rafaele tersenyum kecil, “Ah, ya. Ini adalah bau kekuasaan seorang pemimpin keluarga. Kelak, kau akan terbiasa, ketika bau ini juga menempel di tubuhmu,” timpalnya ditutup kedipan sebelah matanya pada Bella.
Cih! Muak sekali Bella melihat dan mendengar kalimat Rafaele. Tanpa menjawab lagi, dia hanya segera melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu. Menuruni anak tangga outdoor yang akan mengantarnya pada Jerome. Rafaele hanya tersenyum, menyaksikan kaki-kaki jenjang Bella bergerak cepet berlalu dari pandangannya.
Sampai di pelataran istana, tampak Jerome sudah menunggu dengan mobil Limousine hitam yang akan mengantar Bella pulang.
“Silakan, Nona.” Jerome membukakan pintu mobil untuk Bella. Mempersilahkan wanita itu masuk.
Tak ada jawaban. Bella hanya segera beringsut masuk ke dalam sana.
***
“Kita percepat acara pernikahannya. Sudah terlalu banyak mata yang melihat wajah Bella. Aku tidak ingin mengambil risiko.” Kalimat itu terlontar dari mulut seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi besar berwarna cokelat gelap.
Asap cerutu mengepul ke udara, saat laki-laki yang tak lain adalah Alaric itu menghembuskannya bebas.
Sementara di seberang meja panjang yang berada tepat di depannya, juga berdiri seorang laki-laki muda.
“Aku baru saja berkumpul dengan Adikku. Cepat sekali kau akan menyerahkannya pada si brengsek itu, Ayah?”
Anda Mungkin Juga Suka





