Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Adik Ipar

Belenggu Adik Ipar

Nara yang sedang hamil tua mendadak hancur saat menemukan tumpukan alat tes kehamilan misterius yang jatuh dari tas suaminya, Juan. Kecurigaan mendalam muncul karena setiap benda itu ditandai dengan angka unik, padahal Nara merasa tidak pernah memilikinya. Di tengah usia kandungan tiga puluh delapan minggu, hatinya bergejolak hebat antara rasa kecewa dan gelisah. Mungkinkah Juan selama ini menyembunyikan pengkhianatan besar di balik punggungnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Re, kenapa? Apa mungkin akan ..." Ucap Mas Juan menggantung. Seolah ia kini menjaga ucapannya karena menyadari keberadaanku.

"Nggak, Kak. Gak mungkin, ini pasti karena aku belum makan apa pun sejak pagi tadi." Elak Rea pada Mas Juan.

Wajahnya bertambah pucat, menyiratkan tubuh yang sedang tidak fit. Ah, mungkin saja aku terlalu berlebihan atas sakit yang dialami Rea, muntah dan mualnya barusan mungkin saja karena asam lambungnya naik, apalagi dia sudah mengatakan kalau dari pagi belum masak makanan apa pun.

"Kakak ambil makanan dulu, setelah itu kamu minum obat ini ya!" Jelas Mas Juan sambil mengeluarkan obat dari dalam tasnya.

Obatnya kecil dan hanya sebiji saja, Bahkan tidak tampak seperti obat lambung.

Aku hanya diam termangu, tidak berani ikut dalam perbincangan kedua kakak beradik didepan ku ini. Ingin bertanya lebih banyak, aku takut malah yang kudapatkan adalah bentakan seperti tadi.

Diam sambil mengelus perut yang sudah besar seperti buah semangka, berharap bayiku bisa lebih tenang setelah mendapatkan bentakan dari Ayahnya.

Tak perlu waktu cukup lama, Mas Juan kembali dengan sepiring nasi dengan beberapa lauk dipinggirnya.

Lagi-lagi aku dibuat cemburu dengan adegan romantis didepanku, Aku tau Rea adalah Mas juan. Namun, salahkah bila aku sebagai istrinya cemburu melihat Mas Juan begitu perhatian pada Rea, caranya menyuapi Rea terlihat begitu tulus, sedang aku? Kapan terakhir kalinya Mas Juan memberikan perhatian begitu padaku?

Ah, sudahlah. Aku harus menepis rasa cemburuku ini, aku tidak boleh menjadi istri yang baperan. Toh mereka bersaudara? Aku yakin, rasa baper ini pasti bawaan karena aku sedang hamil.

"Ini, Re. Diminum," Mas Juan menyuguhkan obat yang ia bawa pada Rea. Namun anehnya, ada keraguan yang tersirat dari mimik wajah Rea. Seperti, ia enggan untuk meminum obat pemberian Mas Juan.

"Ayok, Re. Ini demi kebaikan kamu juga loh!"

"Tapi, Kak. Aku ..."

Rea termangu, seolah pilihan yang ada didepannya sangat berat. Padahal hanya meminum obat saja.

"Ya sudah, kamu pilih minum obat ini atau kamu kehilangan masa depan kamu."

Masa depan? Apa hubungannya, hanya sebiji obat saja tapi berpengaruh besar pada masa depan Rea. Aku benar-benar bingung, tapi sulit untuk ku utarakan kebingungan ku ini.

"Ya sudah kalau kamu gak mau, tapi kedepannya jangan salahkan Kakak jika tidak bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi pada hidupmu." Mas Juan bersiap membuang obat yang ada digenggamannya.

"Kak... Aku minum obat itu," Rea mengambil obat itu dan langsung melahap habis obat sebesar biji jagung itu.

"Bagus, sekarang kamu istirahat. Kalo udah baikan, kita berangkat beli Handphone."

Rea mengangguk tersenyum, wajahnya sudah tidak sepucat barusan. Mungkin hanya karena dia tidak makan, makanya sampai lemas dan muntah-muntah begitu. Tidak mau memecah keheningan aku hanya bisa berdiam diri, menunggu Mas Juan selesai mengurusi Rea. Baru setelah itu, aku akan menanyakan semua kegundahan yang mengganggu isi pikiranku.

Mulai dari tespack yang ku pungut saat terjatuh dari dalam tasnya, sampai semua perbincangan antara dia dan Rea. Bukankah aku juga berhak tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Rea? Aku Kakak iparnya dan juga bagian dari keluarga ini. Ya, meskipun hubunganku dengan Rea tidak begitu baik.

"Nara, kamu masih disini?" Tanya Mas Juan saat menoleh ke arah belakang dengan tatapan yang sinis.

"I...iya, Mas." Aku masih takut bersuara mengingat kejadin yang membuatku sedikit terkejut saat aku dibentak oleh Mas Juan.

Tak ayal, sedari kecil aku memang tidak pernah dikasari oleh Papa maupun Mama ku. Jadi, saat ada orang yang bersikap maupun berkata kasar, aku jadi takut dan gampang trauma.

"Mau ngapain? Aku kan sudah menyurumu untuk pulang!"

Mas Juan tak lagi menyebut dirinya dengan sebutan "Mas" saat berbicara padaku, apakah harus semarah itu dia padaku? Padahal aku datang karena kemauan dari ibunya.

"Aku mau ketemu Ibu, Mas. Beliau menyuruhku untuk berkunjung setelah selesai cek kandungan dari Dokter." Jelasku singkat.

"Untuk apa? Toh Ibu juga gak ada kan!"

"Apa salah, jika seorang mertua ingin bertemu dengan menantunya, Mas? Apalagi aku memang jarang berkunjung kesini sejak memasuki trimester ketiga." Mas Juan menghela nafas dan menatapku lekat-lekat tanpa sepatah kata pun.

"Dan juga, Rea sedang keadaan tidak sehat. Apa salah aku sebagai Kakak Iparnya sekalian menjeguk, dan tau Rea sebenarnya sakit apa, Mas?"

"Mbak gak usah sok peduli deh, mending pergi aja dari sini. Aku gak butuh dijengukin sama mbak." Entah kenapa, dalam keadaan sakit pun Rea sangat membenciku. Niat baikku saja tak pernah terlihat sedikit pun dimatanya.

Dan Mas Juan, harusnya dia bisa menjadi penengah. Sebagai seorang Kakak, dia tidak boleh membiarkan Adiknya bersikap tidak sopan padaku. Layaknya Rea  yang selalu menghormati dirinya sebagai Kakak, padaku juga harus demikian. Ini malah tidak menegur sama sekali, padahal sudah berkali-kali aku mengingatkan Mas Juan soal hubunganku yang tidak sehangat dengan dirinya.

Mas Juan hanya berkata, "Dia gak pernah punya Kakak perempuan, jadi ya maklumi saja. Suatu saat pasti dia akan bersikap baik padamu, Ra. Atau saat anak kita lahir, dia pasti akan sangat senang."

Tidak pernah ada jalan atau solusi dari keambiguan hubungan ku dengan Rea, dan aku juga tidak ingin mengambil pusing dan mungkin saja apa yang dikatakan Mas Juan asa benarnya. Tapi sayangnya, sampai aku hamil besar pun dia tetap tidak bisa menghormatiku sebagai Kakak iparnya.

"Baik, kalau memang kamu gak sudi mbak peduli dan pengen jengukin kamu, gak papa. Mbak disini karena Ibu, bukan kamu."

"Ibu kemana, Re? Apa beliau tau kamu sedang tidak enak badan?" Tanyaku memastikan keberadaan Ibu. Karena tidak mungkin Ibu menyuruhku kemari sedang dia sedang berada jauh dari rumah.

"Arisan di rumah Bu Rt. Jadi mending mbak pulang aja, jangan buang-buang waktu disini."

"Ra, ikut Mas sekarang." Dengan sedikit kasar Mas Juan menarikku keluar dari kamar Rea, sedang Rea berbalik dari posisi telentang ke posisi miring sambil menarik selimutnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MMS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MMS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Pembawa Masalah
8.0
Kehilangan uang kantor sebesar empat ratus juta rupiah karena dipinjamkan paksa oleh ayahnya membuat protagonis dipecat dan dituntut ganti rugi. Alih-alih dibela, keluarganya justru menyalahkannya. Demi melunasi utang, sang ayah mencarikannya pekerjaan sebagai pengasuh pria tua. Namun, ia justru dilecehkan dan dipukuli hingga tewas akibat kesalahpahaman putri sang pria tua. Beruntung, ia terbangun kembali tepat di hari saat sang ayah meminjamkan uang tersebut ke tetangga.
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Dalam kondisi mengandung, aku terkejut mendapati kenyataan pahit bahwa Liam Barnes, kekasihku, membiarkan saudara kembarnya, Lucas, meniduriku selama tiga tahun. Liam melakukan pengkhianatan ini demi membalas dendam untuk cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, saat aku mengonfrontasi Lucas yang berlutut di hadapanku, ia justru menunjukkan pengabdian yang berbeda. Sambil mencium kakiku dengan khidmat, Lucas bersumpah bahwa kesetiaannya hanya untukku.
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami
8.0
Nisa terjebak dalam pernikahan penuh tekanan bersama Arman, suami yang sangat perhitungan dan keras. Meski Nisa berusaha menghormati mertua dan iparnya, Arman selalu merasa istrinya kurang berbakti. Kesedihan Nisa memuncak saat Arman membatasi asupan gizi putra mereka, Ahmad, dengan dalih penghematan. Nisa hanya bisa berdoa agar suaminya menepati janji untuk menerima sang anak sepenuhnya, di tengah tuntutan hidup dan perilaku kasar yang terus diterimanya.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.