
BECOME YOURS
Bab 3
Keesokan paginya, Rayya terbangun dengan kepala berat dan sakit luar biasa. Sungguh, seakan dihimpit dengan bebatuan besar. Tenggorokannya terasa kering. Mata dan wajahnya sembab. Ia merasa buruk.
Wanita itu mengernyit untuk menyesuaikan matanya dengan silau yang menyerang. Sinar matahari yang menyeruak masuk dari balik jendela berhasil membuat sakit kepalanya semakin parah.
'Nice!' sinisnya di dalam hati.
Ia bahkan tidak mampu menikmati indahnya langit biru yang bertemu langsung dengan Samudera luas di balik jendela kaca kamar itu.
“Ugh!” Rayya mengerang pelan sembari memegangi kepalanya. Lalu secara perlahan membuka mata dengan susah payah.
Seorang lelaki tampan bagai titisan malaikat terlihat damai di sampingnya. Siapa itu? Apakah dirinya bermimpi?
Wanita itu tersenyum lembut. Jika ini mimpi, maka ia akan berdoa pada Tuhan agar dibiarkan seperti ini untuk sementara waktu.
Rasanya, kehadiran lelaki dengan tulang rahang tegas dan hitung lurus dan mancung itu mampu menghilangan rasa sakit hatinya karena kehilangan seorang kekasih.
Apakah Tuhan begitu mengasihinya sehingga mengirimkan seorang malaikat untuk mengobati rasa sakit di hatinya? Rayya semakin melebarkan senyumnya memikirkan kemungkinan itu.
“Engh...” Lelaki yang bak malaikat itu mengerang pelan, dahinya mengernyit sesaat, sebelum akhirnya kembali terlihat tenang.
Tubuh Rayya membeku.
Sebuah palu besar seakan menghantam kepalanya seketika. Membuat Rayya tersadar siapa sosok yang sedang berbaring di sampingnya itu.
Ya Tuhan!
Ternyata semua yang sedang ia alami saat ini adalah nyata!
Sosok lelaki di sampingnya itu adalah nyata!
Kedua bola mata indahnya yang hitam pekat di balik barisan bulu mata lentik alami itu terbelalak tidak percaya.
Itu adalah Lydon Zimmerman!
CEO perusahaan di mana dirinya bekerja!
“Sial!” makinya pelan pada diri sendiri. Entah kebodohan apa yang sudah dilakukannya semalam, yang jelas dirinya sedang mengundang petaka!
Rayya segera beringsut bangkit dengan gerakan secepat kilat. Lalu ketika sadar bahwa apa yang dilakukannya itu dapat membangunkan Lydon, dirinya pun kembali bergerak dengan pelan dan hati-hati.
Wanita muda itu melupakan rasa sakit di kepalanya akibat kondisi mabuknya tadi malam. Jantungnya kini berdetak dengan cepat. Perasaan takut dan ngeri menyelimutinya tiba-tiba.
Bagaimana mungkin ia terbangun di samping Lydon Zimmerman?
'Oh My God! Gue harus segera keluar dari sini sebelum dia sadar.' pikir Rayya panik.
Saat berdiri di lantai kamar untuk segera melarikan diri dari sana, wanita berusia 21 tahun itu kembali disadarkan dengan kenyataan mengejutkan lainnya.
Ia tidak mengenakan apa pun di tubuhnya!
“What?!” serunya dengan pekikan tertahan.
Rayya segera membekap mulutnya dengan kedua tangan, lalu kembali memastikan lelaki yang bagaikan malaikat pencabut nyawa di atas ranjang itu tidak terjaga.
'Oh come on Rayya! Sebenarnya Lo ngapain sih semalam?' erang wanita itu di dalam hati.
Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha mengusir kemalut yang mulai mengusik benaknya.
Arrggh!
Rayya tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkannya sekarang. Kini, yang harus ia lakukan pertama sekali adalah segera pergi dari sana!
'Pergi atau lo akan membuat diri lo sendiri menjadi santapan malaikat maut, Rayya!' Ia kembali memperingati dirinya sendiri. Tentu saja hanya di dalam hati.
Wanita cantik bertubuh mungil itu segera memungut pakaiannya yang berserakan. Entah bagaimana setiap helai baju yang ia kenakan semalam tergeletak sembarangan di atas lantai kamar itu. Ia bahkan sempat merasa kesulitan menemukan celana dalamnya, yang ternyata berada tepat dibawah tumpukan kemeja Lydon.
Ya Tuhan! Ia tidak ingin menebaknya. Hanya akan membuat dirinya merinding disco saja!
Rayya mengenakan setiap helai pakaiannya dengan cepat. Lalu, tiba-tiba gerakannya yang buru-buru dan tanpa perhitungan itu membuat dirinya menyadari rasa sakit dan nyeri di bagian paling rahasia di tubuhnya. Bagian yang tidak pernah terjamah oleh siapa pun sebelumnya.
'Apa ini?' pikirnya dengan ngeri.
Rayya mengerang dengan pelan, lalu sedikit membungkukkan tubuh karena menahan sakit. Tangannya menekan keras bagian bawah tubuhnya itu dari luar sembari memejamkan mata. Dengan langkah tertatih, ia pun kembali bergerak menuju pintu keluar.
Rayya membuka pintu kamar mewah itu dengan gerakan pelan dan hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin menambah masalah dengan membangunkan sosok yang tidak seharusnya ada di sampingnya itu.
Hingga akhirnya berada di luar kamar, dirinya pun dapat bernapas lega. Sama sekali tidak menyadari kedua bola matanya yang indah kini dihiasi dengan maskara luntur. Dan dalam keadaan kacau itu lah ia mengikuti lorong panjang di hadapannya.
Syukurlah tidak ada siapa pun di sana. Sepi. Wanita itu kembali mendesah lega. Ia harus memastikan tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar terbaik di kapal pesiar mewah tersebut.
Rayya sama sekali tidak menyadari, bahwa begitu pintu kamar itu tertutup di belakangnya, kedua mata biru di balik bulu mata hitam dan lebat miliki Lydon Zimmerman terbuka lebar. Menatap pintu dengan matanya yang tajam. Ekspresinya datar, tidak dapat dibaca.
***
Dua bulan kemudian ....
Rayya melewati hari itu dengan berat. Ia merasa pusing dan tidak enak badan. Segala persiapan ulang tahun perusahaan dan juga seremonial pengangkatan beberapa anak magang sebagai karyawan tetap menguras tenaganya.
Dan ... sejak siang tadi, perutnya mual dan kepalanya sakit bukan main.
Rayya dan kedua sahabatnya, Ratna dan Ayumi, berhasil menaiki satu lagi anak tangga perjalanan karir mereka. Mereka berhasil melewati tahap magang dengan baik dan akhirnya menandatangani kontrak kerja sebagai desainer tetap perusahan The Crown.
Sebuah kehormatan, tentu saja. Namun tubuhnya rasanya remuk redam. Ia ingin pulang dan beristirahat saja saat ini.
Tetapi itu artinya Rayya menyia-nyiakan kesempatan langkq, karena nanti namanya akan disebut di hadapan para pesohor negeri. Mulai dari artis ibu kota, hingga pebisnis nasional maupun internasional. Ada pula beberapa pejabat tinggi negara.
“Nih, lo minum obat ini dulu.” Ayumi datang dan memberikannya sebutir pil putih kecil dan segelas air mineral.
“Obat apa?” tanya Rayya enggan. Ia memang jarang mengkonsumsi obat-obatan.
“Cuma pereda nyeri. Minum aja dulu. Seenggaknya bisa untuk bertahan beberapa jam lagi sebelum lo bisa pulang.” sahut Ayumi.
Akhirnya Rayya setuju. Ia menerima pil itu dari tangan Ayumi, lalu meminumnya.
Ayumi benar. Rayya memang harus bertahan untuk beberapa jam lagi. Demi karir dan masa depannya.
***
Nama-nama peserta magang yang lolos menjadi pegawai tetap disebutkan satu per satu. Lydon Zimmerman sendiri yang memberikan penobatan itu.
Saat nama Rayya disebut, mata lelaki itu sempat menoleh arahnya. Menatapnya dengan tajam.
Memang hanya seper sekian detik, namum berhasil membuat jantung Rayya berhenti berdetak beberapa saat. Bulu kuduknya berdiri, merinding karena dicekam rasa takut dan ngeri.
'Apakah lelaki itu mengenalinya?' batin Rayya bertanya-tanya.
Tetapi, bagaimana mungkin? Mereka pasti mabuk berat malam itu, sampai itu semua terjadi!
Secara reflek Rayya menyembunyikan tubuh di belakang kedua sahabatnya. Seakan itu dapat menutupi dirinya dari pandangan tajam Lydon.
Selama dua bulan ini, setelah kembali dari kapal pesiar itu, ini adalah kali pertama Rayya kembali melihat Lydon secara langsung.
Mereka memang bekerja di gedung yang sama, namun di lantai yang berbeda.
Bahkan setelah pengangkatan pegawai tetap ini pun, masih saja dirinya akan sulit bertemu langsung dengan pemilik perusahaan The Crown itu.
Rayya merasa ngeri membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Apakah lelaki itu memaksanya? Tetapi ... untuk apa?
Lydon dengan mudah dapat mengencani wanita cantik mana pun yang ia inginkan. Model-model cantik papan atas selalu berkeliaran di sekitar pria itu.
Jadi, apakah itu artinya dirinya lah yang memaksa?
'Oh Ya Tuhan ... jangan sampai itu terjadi!'
Rayya menggeleng dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia memukul pelan kepalanya dengan kepalan tangan.
“Ngapain sih lo, Ray?” tanya Ayumi dengan dahi mengernyit bingung.
Rayya tersentak. Ia mendongak dan menatap kedua sahabatnya yang kini menatapnya aneh.
“He he, nggak. Ini nih ... kepala gue sakit banget.” kilah Rayya memberi alasan. Ia menyengir garing. Ratna dan Ayumi mendengus dan menggeleng pelan menanggapi tingkahnya.
“Jangan malu-maluin! Jaga sikap. Banyak tamu terhormat yang hadir!” bisik Ratna sembari menarik tangannya sedikit kasar. Memaksanya untuk berdiri dengan tegak dan anggun.
Di depan sana, Lydon menyelesaikan kata-kata sambutannya, lalu tepuk tangan yang meriah kembali menggema.
Saat turun dari panggung kecil tersebut, matanya kembali melirik tajam ke arah Rayya. Sekali lagi jantung wanita itu berhenti berdetak, dan membuat napasnya tertahan. Ia seakan lupa caranya bernapas.
“Dia ngelihat ke arah kita nggak sih?” tanya Arumi yang ternyata juga menyadari tatapan lelaki itu.
Tiba-tiba saja pekikan kegirangan tertahan dari yang lainnya di sekitar mereka kembali terdengar.
Rayya menoleh, dan melihat lelaki itu melangkahkan kakinya menuju tempat mereka berdiri.
Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar ketika Lydon mengulurkan tangannya untuk menyalami mereka. Di mulai dari yang paling kanan, dua orang anak magang di bagian pemasaran.
Rayya berdiri di posisi ke dua dari kiri. Di antara Ayumi dan Ratna. Dan seketika itu pula wanita itu menjadi panik. Ia merasa lututnya bergetar dan telapak tangannya menjadi basah karena keringat dingin. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Please ...
Malam ini, Rayya ingin berada di mana pun, selain di hadapan Lydon Zimmerman!
Sembari menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, Rayya memantapkan hati. Ia memberanikan diri dan berusaha bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Sama seperti yang lainnya.
Ia hanyalah seorang pegawai, dan Lydon adalah CEO perusahaan ini. Tidak lebih.
'Ayo lah, Rayya ... jangan berlebihan!' sinisnya pada diri sendiri.
Lydon sampai di hadapannya, lalu mengulurkan tangan. Dan Rayya menyambut uluran tangannya dengan tubuh gemetaran. Rayya tidak mampu menyembunyikan itu.
Lydon pasti bisa merasakan telapak tangan Rayya yang basah dan dingin. Itu dapat dilihat dari cara lelaki itu menarik sedikit sudut bibirnya, membentuk senyum mengejek.
Rayya menatap gugup ke dalam sepasang netra biru di balik barisan bulu mata lebat itu. Lalu dirinya terpaku.
Itu adalah mata paling indah yang pernah dilihatnya. Seakan mampu menghipnotis siapa saja yang memandang.
“Ternyata kau di sini.” gumam lelaki itu pelan. Yang seketika membuat tubuh Rayya membeku.
Apa maksudnya itu?
Anda Mungkin Juga Suka





