
Bayiku Bukan Untukmu
Bab 2
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis apartemen mewah yang tak pernah Nayla bayangkan bisa ia tinggali. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian sederhana dari semalam. Bayi mungil itu tidur pulas di dalam boks portabel yang semalam sudah disiapkan oleh Arkan.
Nayla memandang wajah polos si kecil dengan hati bergetar. Air mata hampir menetes setiap kali ia mengingat kejadian malam itu. Nyawa-nyawa melayang, rumah megah yang selama ini ia tinggali sebagai pekerja luluh lantak oleh darah dan jeritan. Dan kini, hanya bayi ini yang tersisa.
"Kalau bukan karena kamu, Nak... mungkin aku sudah kabur sejauh-jauhnya dari semua ini," bisik Nayla, mengelus pipi bayi itu lembut.
Bunyi ketukan pelan terdengar dari arah pintu. Nayla menoleh dengan cepat, hatinya langsung dipenuhi waspada.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Arkan dengan jas rapi, rambut disisir sempurna, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Ia masuk sambil membawa nampan berisi sarapan.
"Kau belum makan sejak semalam," katanya datar, meletakkan nampan di atas meja.
Nayla sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria setegas itu sempat-sempatnya menyiapkan makanan untuknya.
"Aku tidak lapar," jawab Nayla pelan.
Arkan meliriknya singkat. "Kalau kau mati kelaparan, bagaimana bisa menjaga bayi itu? Makanlah."
Nada suaranya terdengar seperti perintah, tapi bukan tanpa alasan. Nayla menunduk, lalu perlahan menarik piring roti panggang dan segelas susu. Ia makan dalam diam, sementara Arkan berdiri di dekat jendela, menatap kota dari ketinggian lantai dua puluh.
Suasana hening. Hanya suara bayi yang sesekali bergerak kecil dalam tidurnya.
"Arkan," panggil Nayla akhirnya.
Pria itu menoleh. "Ya?"
"Kau bilang... aku harus menyamar menjadi istrimu. Bisa kau jelaskan lebih detail?" suara Nayla bergetar, tapi tatapannya berusaha tegas.
Arkan menyilangkan tangan di dada, matanya tetap tajam. "Aku berada dalam tekanan besar. Beberapa pihak berusaha menjatuhkanku, terutama keluarga besar yang ingin merebut warisan. Kalau aku punya istri dan anak, statusku akan jauh lebih kuat di mata mereka. Aku butuh tameng... dan kau akan menjadi tameng itu."
Nayla menelan ludah. "Jadi, semua ini hanya sandiwara?"
"Awalnya, ya."
"Dan kau pikir aku bisa berpura-pura menjadi istri seorang pria kaya raya yang bahkan baru kukenal semalam?" Nayla menantangnya.
Arkan tersenyum tipis, sinis tapi entah kenapa tetap memikat. "Kau tidak punya pilihan lain. Kalau tidak, anak itu akan diambil dari tanganmu. Dan kau tahu betul, mereka yang memburumu semalam tidak akan berhenti sampai mendapatkannya."
Hati Nayla mencelos. Benar. Ia bukan siapa-siapa. Tanpa perlindungan Arkan, ia dan bayi itu hanya akan menjadi mangsa empuk.
"Berapa lama aku harus menjalani peran ini?" tanya Nayla lagi.
"Selama diperlukan." Jawaban Arkan singkat, padat, dan membuat Nayla semakin resah.
Hari-hari pertama bersama Arkan terasa asing. Apartemen mewah itu bak penjara emas bagi Nayla. Ia tidak bebas keluar, karena Arkan khawatir para musuhnya masih mencari. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk-beberapa staf kepercayaan yang semua tunduk penuh pada Arkan.
Meski begitu, Arkan selalu memastikan Nayla dan bayi itu mendapatkan semua yang mereka butuhkan. Dokter pribadi datang memeriksa bayi, memastikan kesehatannya. Perawat juga dipanggil untuk membantu Nayla yang masih canggung mengurus anak kecil.
Namun, tetap saja... Nayla merasa terasing.
Malam itu, saat bayi menangis keras karena kolik, Nayla berusaha menenangkannya sendirian. Tangannya gemetar saat mencoba memberikan susu, tapi bayi itu menolak dan terus menangis.
"Shhh... tenanglah, Nak... tolonglah berhenti menangis... aku tidak tahu harus bagaimana..." Nayla hampir menangis sendiri.
Pintu kamar terbuka. Arkan masuk, wajahnya masih dingin tapi matanya sedikit khawatir. Tanpa banyak bicara, ia mengambil bayi dari pelukan Nayla, menggendongnya dengan cara yang begitu natural, seakan ia sudah sering melakukannya.
"Dia tidak lapar. Perutnya kembung," ucap Arkan singkat.
Dengan lembut, ia menepuk-nepuk punggung bayi itu sambil mengayunkan perlahan. Tidak lama kemudian, suara tangisan reda. Bayi itu terlelap kembali di bahu Arkan.
Nayla terdiam, menatap pemandangan itu dengan mata melebar. Ada sesuatu yang bergetar di hatinya.
"Kau... kau terbiasa mengurus bayi?" tanya Nayla ragu.
Arkan menoleh singkat, ekspresinya sulit ditebak. "Aku pernah punya adik kecil. Aku yang merawatnya."
Nayla tercekat. Itu pertama kalinya Arkan membicarakan masa lalunya.
Keesokan harinya, Arkan mengajak Nayla keluar untuk pertama kalinya. Mobil hitam dengan sopir pribadi membawa mereka ke sebuah butik mewah. Nayla mengenakan pakaian sederhana yang jelas kontras dengan interior butik yang penuh gaun berkilauan.
"Apa kita... benar-benar harus di sini?" tanya Nayla canggung, menatap gaun-gaun yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun seorang pegawai biasa.
Arkan menatapnya datar. "Kalau kau akan menjadi istriku di mata publik, kau harus terlihat pantas."
Seketika, beberapa pramuniaga menyambut mereka dengan senyum ramah. Nayla diseret masuk ke ruang fitting, mencoba gaun demi gaun. Ia merasa seperti boneka yang dipakaikan baju.
Namun saat ia keluar dengan gaun biru tua yang jatuh anggun di tubuhnya, Nayla melihat pantulan dirinya di cermin besar. Ia nyaris tidak mengenali perempuan itu.
Arkan yang duduk menunggu di sofa menoleh, matanya terhenti sesaat. Ada sesuatu di sana-sekelebat kekaguman-meski cepat ia sembunyikan dengan wajah datarnya.
"Itu yang terbaik sejauh ini," katanya singkat.
Nayla menggigit bibir. "Aku bukan pameran, Arkan. Aku bukan barang yang bisa kau pajang untuk membuatmu terlihat berkelas."
Arkan berdiri, melangkah mendekat. Sorot matanya menusuk. "Kau bukan barang. Tapi mulai sekarang, kau adalah bagian dari hidupku. Suka atau tidak, kau harus siap menanggung konsekuensinya."
Nayla menatapnya dengan dada berdebar. Pria ini... selalu dingin, tapi setiap kata-katanya seakan mampu menghujam sampai ke hati terdalam.
Hari demi hari, sandiwara itu mulai dijalani. Foto-foto kebersamaan mereka sengaja tersebar di media sosial lewat tangan orang-orang Arkan. Publik mulai percaya: Arkan, pria dingin nan misterius, ternyata sudah berkeluarga dengan seorang wanita sederhana dan bayi mungil yang menggemaskan.
Namun di balik semua itu, Nayla tahu... ini hanyalah permainan.
Malam itu, saat ia berdiri di balkon apartemen memandangi lampu kota, Arkan menghampirinya.
"Kau mulai terbiasa dengan peranmu?" tanyanya, nada suaranya lebih lembut daripada biasanya.
Nayla menghela napas. "Aku tidak tahu. Rasanya aneh... berpura-pura bahagia, sementara aku bahkan tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
Arkan menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu ia berkata pelan, "Kau tidak perlu tahu semua tentangku, Nayla. Yang perlu kau tahu hanya satu: selama kau di sisiku, kau aman. Dan bayi itu pun aman."
Nayla menoleh, menatap matanya. "Tapi sampai kapan, Arkan? Sampai kapan aku harus hidup dalam kebohongan ini?"
Untuk pertama kalinya, wajah dingin itu terlihat rapuh. Ada luka lama yang samar-samar tercermin di mata Arkan.
"Sampai aku bisa memastikan tidak ada lagi yang berani menyentuh kalian," jawabnya akhirnya.
Dan malam itu, Nayla menyadari satu hal: di balik perjanjian gila ini, ada sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





