Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayiku Bukan Untukmu

Bayiku Bukan Untukmu

Nayla, asisten rumah tangga yatim piatu, terjebak dalam tragedi berdarah yang menewaskan majikannya. Setelah menyelamatkan bayi sang majikan, ia bertemu Arkan, pria misterius yang menawarkan perlindungan. Arkan mengajukan kontrak pernikahan senilai satu miliar rupiah agar Nayla bersedia menjadi istri palsu sekaligus ibu bagi bayi itu. Demi masa depan si kecil, Nayla setuju. Namun, rahasia dan bahaya mengintai saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam hujan kembali turun. Tidak sederas malam pertama saat tragedi itu menimpa Nayla, tetapi cukup untuk membuat kaca jendela apartemen dipenuhi titik-titik air.

Nayla duduk di lantai kamar bayi, bersandar pada dinding sambil menatap boks kecil tempat si mungil tidur nyenyak. Ia menelusuri wajah polos itu dengan mata sembab. Bayi itu tampak damai, seakan dunia di sekelilingnya tidak pernah retak, seakan ia tidak tahu bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.

Nayla menggenggam jari-jemarinya sendiri erat, menahan gemetar.

"Kenapa aku?" bisiknya pada diri sendiri. "Kenapa aku yang harus melewati semua ini? Aku hanya seorang pembantu, aku tidak pantas berada di sini..."

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Ia teringat wajah nyonya Ratih, majikannya, yang terakhir kali menjerit sebelum suara tembakan mengakhiri segalanya. Nayla menggigit bibir hingga terasa asin. Bayangan itu begitu jelas-darah, jeritan, langkah-langkah terburu.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka pelan.

"Nayla."

Arkan berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja putihnya yang kini dilonggarkan. Rambutnya agak berantakan, seolah ia juga belum tidur. Sorot matanya menelisik, tajam namun ada sesuatu di sana... kekhawatiran?

Nayla buru-buru mengusap air matanya. "Aku... hanya memastikan dia tidur dengan tenang."

Arkan masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Nayla yang duduk di lantai. "Kau belum juga tidur."

"Aku tidak bisa tidur," jawab Nayla singkat.

Arkan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di dekat boks bayi. Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Hanya suara hujan yang terdengar.

"Aku tahu kau ketakutan," ucap Arkan akhirnya, nada suaranya lebih lembut daripada biasanya.

Nayla mendongak, menatapnya penuh curiga. "Tentu saja aku ketakutan. Aku melihat orang-orang mati di depan mataku. Aku tidak tahu siapa yang mengejarku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa percaya padamu."

Kata-kata itu meluncur begitu saja, membuat jantung Nayla berdebar. Tapi ia tidak peduli. Ia butuh mengatakannya.

Arkan menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya tetap datar, tapi mata itu... mata itu tampak berbeda.

"Kau benar. Kau tidak punya alasan untuk percaya padaku," katanya tenang.

Nayla sedikit terkejut. Ia mengira Arkan akan marah, akan menghardiknya karena berani berkata seperti itu.

"Tapi aku beri kau pilihan, Nayla," lanjut Arkan, suaranya tegas namun tidak menekan. "Kau bisa pergi besok, kalau kau mau. Aku tidak akan menghentikanmu. Tapi kau tahu risikonya. Bayi itu... akan menjadi rebutan. Dan kau... tidak akan bisa melindunginya sendirian."

Nayla terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tahu Arkan benar.

"Kalau kau bertahan bersamaku," kata Arkan lagi, "maka aku pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh kalian."

Nayla menunduk. Air matanya kembali jatuh.

"Kenapa?" suaranya serak. "Kenapa kau peduli pada kami? Aku bukan siapa-siapa bagimu. Bayi ini juga bukan darah dagingmu."

Untuk pertama kalinya, Arkan terlihat ragu. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Karena aku pernah kehilangan orang yang kucintai... dan aku tidak ingin itu terjadi lagi."

Nayla terdiam, hatinya bergetar. Itu pengakuan paling jujur yang pernah ia dengar dari Arkan.

Hari-hari berikutnya, Nayla semakin larut dalam dilema.

Di satu sisi, ia takut pada dunia Arkan. Pria itu penuh rahasia. Telepon-telepon larut malam, pertemuan singkat dengan orang-orang berjas gelap, dan tatapan mata yang seolah selalu siap menghadapi perang. Ada kalanya Nayla merasa ia hanya pion kecil dalam permainan besar yang tidak ia pahami.

Tapi di sisi lain, ada momen-momen kecil yang perlahan menggoyahkan tembok ketakutannya.

Seperti pagi itu, saat Nayla ke dapur dan mendapati Arkan sedang menyiapkan botol susu untuk bayi. Tangannya terampil, wajahnya serius tapi tenang.

"Kau... benar-benar terbiasa melakukan ini," ucap Nayla tanpa sadar.

Arkan menoleh sebentar. "Aku bilang padamu, aku pernah mengurus adik kecilku."

"Di mana dia sekarang?" Nayla memberanikan diri bertanya.

Sekilas, ada bayangan gelap di wajah Arkan. Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. "Dia sudah tiada."

Nayla tercekat. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi tatapan Arkan yang mendadak dingin membuatnya mengurungkan niat. Meski begitu, ada simpati yang tumbuh dalam hatinya.

Sore itu, Nayla membawa bayi jalan-jalan kecil di taman atap apartemen. Udara segar, bunga-bunga bermekaran, tapi hatinya masih dihantui pertanyaan besar.

Arkan muncul, mengenakan pakaian santai untuk pertama kalinya. Tanpa jas, tanpa kemeja kaku. Hanya kaus hitam dan celana panjang. Pemandangan itu begitu asing, membuat Nayla nyaris tidak mengenalinya.

"Kau tampak lebih rileks tanpa jas itu," ucap Nayla, mencoba mencairkan suasana.

Arkan meliriknya. "Kau menyindir?"

"Tidak. Aku hanya jujur."

Untuk sesaat, sudut bibir Arkan terangkat. Bukan senyum penuh, tapi cukup membuat Nayla terkejut.

Mereka duduk di bangku panjang, menatap matahari sore. Bayi itu tertidur di kereta dorong.

"Arkan," panggil Nayla pelan.

"Hm?"

"Aku... aku masih takut." Nayla menunduk, jemarinya saling meremas. "Aku takut semua ini hanya permainan. Aku takut suatu hari aku dan bayi ini akan dibuang begitu saja."

Arkan menoleh, menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak main-main dengan nyawa, Nayla. Kau harus percaya itu."

"Tapi bagaimana aku bisa percaya?" suara Nayla bergetar. "Kau terlalu misterius. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kau lakukan."

Arkan menarik napas panjang. "Mungkin suatu hari aku akan memberitahumu. Tapi untuk sekarang... cukup percaya bahwa aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu."

Mata Nayla panas. Ia menatap pria itu, mencari tanda kebohongan, tapi tidak menemukannya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia ingin mempercayainya.

Malamnya, Nayla sulit tidur. Ia berbaring di ranjang, memeluk bantal erat-erat. Pikirannya bercampur aduk. Ketakutan, keraguan, tapi juga rasa aman yang samar-samar mulai tumbuh ketika mengingat tatapan mata Arkan.

"Apa aku bodoh... kalau mulai percaya padanya?" gumamnya sendiri.

Ia menoleh ke arah pintu kamar, seolah membayangkan sosok Arkan di baliknya. Pria dingin itu, pria misterius yang bisa jadi ancaman sekaligus pelindung.

Dan malam itu, Nayla sadar... hatinya mulai rapuh. Ia tidak tahu apakah kepercayaan yang tumbuh ini akan menyelamatkannya, atau justru menghancurkannya lebih dalam.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta Terlarang
8.0
Maya adalah arsitek sukses yang memiliki segalanya, namun hidupnya terasa hampa meski sudah bertunangan dengan Daniel. Segalanya berubah saat ia bertemu Ethan, pengusaha karismatik yang memicu gairah terpendamnya. Mereka terjebak dalam perselingkuhan membara yang penuh risiko. Di tengah kecurigaan Daniel yang mulai menguat, Maya dihantui rasa bersalah. Kini ia harus memilih antara kenyamanan hidup lama atau mengejar cinta terlarang yang bisa menghancurkan dunianya.
Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel Cinta Balas Dendam
8.0
Pasca kematian orang tuanya, Alena Geraldine terjebak dalam pernikahan paksa dengan CEO kejam, Azam Dirgantara, akibat ulah paman dan bibinya. Alena diperlakukan layaknya tawanan tanpa cinta, karena Azam hanya memanfaatkannya demi membalas dendam pada Jonatan. Namun, benih cinta justru tumbuh di hati Alena bagi Azam. Ironisnya, Azam masih terobsesi pada cinta pertamanya. Sanggupkah Alena bertahan saat suaminya sendiri mendambakan wanita lain?
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Olivia menyusuri jalanan dengan lelah, menggenggam map lamaran kerja sambil berharap ada lowongan bagi dirinya. Saat ia bertanya pada satpam, perhatian teralih oleh kedatangan Alexander Drake, pengusaha berwibawa yang turun dari mobil mewahnya. Pertemuan singkat itu menciptakan ketegangan saat mata mereka beradu. Meski Olivia merasa rendah diri dan Alexander bersikap dingin, ketertarikan mulai muncul. Tanpa disadari, momen di gerbang kantor itu akan mengubah hidup Olivia selamanya.
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Istri Yang Kau Remehkan
8.4
Jiwa Eleanor Vienne, seorang supermodel ternama, berpindah ke raga Seraphina Elmswood setelah kematian tragisnya. Seraphina adalah istri dari keluarga kaya yang selama ini dihina karena dianggap buruk rupa dan bodoh. Suaminya, Lysander, bahkan bersikap dingin dan tidak setia. Namun, pesona Eleanor mengubah segalanya. Kini Seraphina tampil berkelas, memicu kecemasan keluarga Elmswood dan membuat Lysander terpesona. Akankah ia memaafkan pria yang dulu meremehkannya?