
Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh
Bab 3
"Kyaaaa!" Aurel berteriak histeris saat ia melihat apa yang ada di atasnya. Dengan cepat, ia turun dari ranjangnya. Namun...
Bruk!
"Aarrgh!" Aurel terjatuh dengan sangat keras karena ada seseorang yang menarik kakinya.
Sontak Aurel langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat ke kolong ranjangnya. Terlihat sebuah tangan penuh darah yang menggenggam kaki Aurel dengan sangat erat.
Dalam kegelapan yang menyelimuti kamar, terdengar suara mendesir dan seram seperti bisikan hantu. "Rasakan itu! Pembunuh!"
"Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan sangat keras karena kakinya terasa sangat sakit akibat dicengkeram dengan sangat erat oleh tangan itu.
Tes! Tes!
Aurel merasa ada tetesan demi tetesan benda cair membasahi kepalanya. Ia kemudian menengadah ke langit-langit kamarnya. Rupanya pria yang merayap tadi, kini sudah berada tepat di atasnya.
"Kyaaaa!" Karena ketakutan, Aurel menunduk dan tidak berani menatap langit-langit kamarnya lagi.
"Ekkhh!" Aurel terpaksa sedikit menengadahkan kepalanya, lantaran ada sebuah pisau yang hampir bersentuhan dengan leher mulusnya, cahaya samar mengkilat di mata pisau tersebut.
Kini Aurel sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakinya dicengkeram dengan erat oleh pria di kolong ranjang, tubuhnya didekap oleh pria yang juga mengacungkan pisau itu ke leher Aurel.
Dan... Jangan lupakan pria merayap di atas sana. Ia pasti akan langsung turun dan menangkap Aurel jika sampai ia berhasil lolos.
Brak! Brak!
Terdengar suara pintu kamar Aurel di dorong dengan keras berkali-kali. Dari balik pintu, terdengarlah suara seorang pria yang merupakan suara dari Audrey. "Aurel! Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi di dalam sana?"
π»π»π»π»π»π»
"Kakak! Menyingkir dari sana! Aku akan mendobrak pintu itu!" seru Aron dengan mata penuh tekad, bersiap mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang mengurung adiknya.
"Ba- baik!" jawab Audrey dengan gemetar, berjalan menjauhi pintu untuk membiarkan Aron melakukan aksinya.
"Jangan sakiti adikku!" teriak Aron dengan suara getar yang memotivasi, lalu berlari secepat kilat untuk menabrak pintu yang entah bagaimana bisa terkunci.
Brak!
Pintu kamar akhirnya terbuka dengan kekuatan besar yang menggetarkan seluruh tubuh Aron. Namun...
"Aaarrgghhh!" Aron berteriak histeris, berbaring di lantai dengan bahunya yang tertusuk pisau, mengeluarkan darah segar yang mengalir dengan deras.
Kengerian pun menghantui ruangan yang telah terbuka, menciptakan ketidakpastian yang lebih dalam daripada yang pernah mereka bayangkan.
"Kakak!" Aurel berteriak histeris, matanya dipenuhi ketakutan, melihat kakaknya terluka parah akibat berusaha menyelamatkannya.
"Lepas! Lepaskan aku! Aku ingin melihat kakakku!" teriak Aurel sambil menghentakkan kakinya berulang kali, berusaha keras untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman misterius itu.
Setelah upaya keras yang menguras tenaganya, akhirnya Aurel merasakan sentuhan misterius itu menghilang. Tanpa ragu, ia berlari menuju kakaknya yang terluka. Namun...
Barang-barang di kamar Aurel tiba-tiba berjatuhan dengan keras, terutama barang-barang yang mudah pecah seperti cermin, botol kaca, dan lainnya.
"Kyaaaa!" Aurel berteriak ketika pecahan barang-barang itu berhamburan, menutupi lantai kamar dengan fragmen yang tajam dan berbahaya. Ia berusaha melindungi dirinya sendiri, tetapi ketakutan dan kekacauan semakin merasuk ke dalam ruangan, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.
"Aurel!" Audrey berteriak panik sambil mengamankan Aron di tempat yang lebih aman. Dengan cepat, dia meraih sapu ijuk yang berada dekatnya.
"Kakak, apa yang ingin kau lakukan? Apakah ini saat yang tepat untuk bersih-bersih?" tanya Aron yang keheranan melihat kakaknya.
"Maksudku... Apa yang dilakukan pengidap OCD ini disaat genting seperti ini?" tanya Aron dalam hati. Karena jika ia mengatakannya langsung, ia akan langsung ditebas menggunakan sapu yang digenggam kakaknya. "Tunggu! apakah kak Audrey punya rencana?"
"Kau tunggu dulu di sini! Dan jangan coba-coba untuk mencabut pisaunya!" suruh Audrey dengan tegas, memperingatkan betapa bahanya bertindak gegabah.
"Aurel! Tunggu! Kakak akan segera menyelamatkanmu!" Audrey berteriak, berlari masuk ke dalam kamar Aurel dengan sapu ijuk yang dipegang teguh.
Wush! Wush!
Audrey dengan cepat menyapu semua barang-barang yang berserakan di kamar Aurel menggunakan sapu ijuk yang dibawanya. Kedua matanya penuh dengan tekad dan kekhawatiran untuk saudara perempuannya.
"Apa yang aku harapkan dari tukang bersih-bersih itu?" tanya Aron yang memerhatikan kakaknya dari kejauhan dengan tatapan malas. Menunjukkan kekecewaannya atas aksi kakaknya yang tidak sesuai harapan.
Wung...
Sebuah lampu tiba-tiba terjatuh tepat di atas kepala Audrey, mengeluarkan suara gemerincing yang mengancam.
"Kakak! Awas!" teriak Aurel dan Aron secara bersamaan, suara mereka penuh kepanikan dan kekhawatiran. Aurel dan Aron merasa panik karena melihat kakak mereka dalam bahaya.
Prang!
Audrey merespons cepat dengan menangkis lampu bohlam yang hampir mengenainya menggunakan sapu yang ia genggam. Dengan gerakan refleks, lampu bohlam itu terpental ke arah kiri dan hancur berkeping-keping.
"Keren!" seru Aurel dan Aron secara bersamaan dengan antusiasme yang menyala di mata mereka.
Mereka merasa sangat kagum dengan aksi heroik kakak mereka yang melindungi mereka dari bahaya, dan perasaan bangga serta rasa aman mulai menggantikan ketegangan sebelumnya.
"Jangan dulu senang, semua!" seru Audrey dengan nada serius, ingin memperingati adik-adiknya bahwa bahaya belum sepenuhnya berakhir.
Namun, mereka mendapat kejutan yang tak terduga. Pecahan-pecahan kaca dan barang-barang hancur di kamar Aurel tiba-tiba melayang secara bersamaan. Semua ujung yang tajam dari pecahan-pecahan itu tampaknya memiliki satu tujuan, yaitu mengarahkan diri mereka kepada Audrey.
"Apa... Apa-apaan ini?" Audrey bertanya dengan suara gemetar, matanya terbelalak saat melihat pecahan-pecahan tersebut yang mengancam. Rasa takut merasuki tubuhnya, dan dalam kepanikan, ia tanpa sadar menjatuhkan senjata satu-satunya yang ia punya, yaitu sapu ijuk.
"Kakak!" Aurel merapatkan dirinya dengan kakaknya, dan keduanya terjatuh bersama saat pecahan-pecahan tajam itu mengancam untuk melukai Audrey. Rasa panik dan kekhawatiran meliputi mereka berdua.
"Kita harus keluar dari sini!" seru Aurel, sambil mencoba membantu kakaknya yang masih gemetar untuk bangkit. Kemudian, dengan penuh tekad, Aurel membopong kakaknya untuk berusaha keluar dari kamar yang semakin terasa seperti perangkap mengerikan.
Namun...
Brak!
Pintu kamar yang sebelumnya berhasil Aron buka, tiba-tiba kembali tertutup dengan keras, menghasilkan suara yang menggelegar. Mata kunci pintu berputar sendiri dengan aneh, lalu terlempar keluar jendela dan jatuh ke tanah.
"Sial!" umpat Audrey dengan suara penuh frustrasi, merasa terjebak dalam situasi yang semakin mencekam dan misterius.
"Bagaimana ini, kak? Kita tidak bisa keluar dari sini!" ujar Aurel dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca oleh rasa takut yang mendalam.
Audrey merasa bertanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada adiknya dalam situasi yang semakin mencekam. "Masih terlalu dini untuk menyerah! Kita pasti bisaβ"
Namun, sebelum Audrey sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah gunting melayang dengan sangat cepat tepat ke arah wajah Aurel.
"Kyaaaa!" Aurel berteriak histeris, refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, takut akan bahaya yang mengintai.
Grep!
Dengan sigap, Audrey langsung menangkap gunting yang hendak melukai wajah cantik adiknya. Ekspresi Audrey mencerminkan keteguhan dan rasa perlindungan terhadap adiknya di tengah bahaya yang tak terduga.
"Ka- kakak..." Dengan perlahan, Aurel membuka matanya. Ia melihat gunting yang hampir melukainya berhasil ditangkap oleh kakaknya.
Kaki Aurel terasa sangat lemas, dan akhirnya ia terduduk di lantai karena tidak mampu berdiri lagi. Dengan segenap perasaannya yang terombang-ambing, Aurel membiarkan air mata mengalir bebas, mengekspresikan semua rasa takut dan kengerian yang dialaminya. "Huwaaaaa!"
"Tenanglah! Kita akan segera keluar dari sini!" ucap Audrey dengan suara lembut sambil berjongkok di dekat adiknya dan memeluknya untuk memberikan dukungan dan kenyamanan.
Namun, situasi mereka masih sangat berbahaya. Benda-benda tajam kembali melayang mendekati mereka satu-persatu, mengancam keselamatan kakak beradik ini.
"Masih belum selesai!" Audrey merasa ketakutan, tetapi juga bertekad untuk melindungi adiknya. Ia menggendong Aurel yang masih sangat ketakutan, berlari menghindari serangan demi serangan dari makhluk gaib yang misterius.
Akhirnya, Audrey sampai di depan brankas besi tempat Aurel menyimpan uang dan emas miliknya.
"Tunggu sebentar!" Audrey meminta adiknya turun dengan lembut, lalu dengan tenaga penuh, ia memutar gagang brankas dengan tekad yang kuat.
Wung... Wung... Wung...
Di tengah malam yang mencekam, keenam pecahan kaca melayang menuju mereka dengan kecepatan mematikan, memancarkan ancaman yang tak terduga dalam malam yang gelap dan mengerikan. Mereka berdua terjebak dalam situasi yang semakin mengancam, tetapi tetap bersatu untuk bertahan hidup.
Anda Mungkin Juga Suka





