
Bastard My Stepfather
Bab 3
Karena sepertinya papa mulai menyukai kamu.
Dave yang kembali mengingat ucapannya langsung mendesah kasar dan menyandarkan tubuh di punggung kursi. Rasanya bingung harus bertingkah seperti apa setelah mengatakannya. Selain itu, melihat reaksi Clara yang langsung diam dan keluar dari ruangannya membuat Dave benar-benar tidak tenang sama sekali.
Apa dia marah denganku, batin Dave dengan raut wajah gusar. Berulang kali dia mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan kecemasan yang sejak tadi menyelimutinya.
“Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan? Kenapa aku malah bilang dengannya?” Dave mencoba menerka pikirannya yang jelas tidak sesuai dengan keinginannya.
Namun, tidak bisa Dave pungkiri jika kali ini dia merasa lega karena sudah mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Perasaan yang selama beberapa tahun sudah dia pendam akhirnya terucap dengan sendirinya. Ya, Dev memang menyukai Clara. Mendapat perhatian dan kasih sayang dari putri tirinya membuatnya lupa dengan statusnya kali ini. Katakanlah jika dia tidak bermoral, tetapi dia sendiri tidak bisa membendung perasaannya. Semakin dia berusaha melupakan, semakin membuncah rasa cintanya dengan gadis tersebut.
Dave yang mengingat kebodohannya mendesah kasar. Dia mulai mendongak, menatap langit ruangannya dengan pandangan kosong. Jika dulu dia masih bisa melihat dan dekat dengan Clara, kali ini Dave merasa berbeda. Dia yakin, Clara akan menjauh darinya atau malah enggan dekat dengannya. Kali ini, dia benar-benar kehilangan cintanya. Mengingatnya membuat Dave tertawa kecil.
“Kamu benar-benar bodoh, Dev,” gumam Dev, tanpa membuka mata.
“Itu benar. Memangnya kamu baru sadar?”
Dev yang mendengar suara lain di ruangannya mulai membuka mata dan menatap ke asal suara. Dia langsung berdecak kecil ketika melihat seseorang yang dikenalnya mulai melangkah mendekat. Tidak ada raut wajah semangat, terlebih ketika pria dengan pakaian rapi tersebut duduk di depannya.
“Kenapa kamu di sini, Julian?” tanya Dev dengan tatapan lekat.
Julian—sahabat Dev tersebut langsung mengulas senyum lebar dan menyilangkan sebelah kaki. “Aku dengar kalau kamu akan berpisah, Dave. Jadi, aku khusus datang ke sini untuk melihat kondisi kamu,” jawab Julian yang membuat Dave langsung berdecak kecil dan memutar bola mata pelan.
“Aku serius, Dave,” ucap Julian, memasang raut wajah serius. “Aku awalnya pikir kamu akan biasa saja, tetapi ternyata kamu benar-benar frustasi karena mau bercerai. Beruntung aku datang ke sini. jadi, aku bisa menghibur kamu,” lanjut Julian dengan penuh percaya diri.
Lagi-lagi, Dave yang mendengar berdecak kecil. Pasalnya, kedatangan Julian kali ini bukannya menghibur, tetapi malah semakin membuatnya pusing. Dia tidak bisa memikirkan langkah selanjutnya. Selama ini dia memendam cintanya. Jadi, ada perasaan tidak rela ketika dia harus melepaskan begitu saja. Ditambah dengan Clara yang langsung pergi dan tidak memberikan jawaban, membuat Dave semakin penasaran.
Sebenarnya aku ditolak apa diterima, batin Dave. Meski dia tidak memaksa, tetap saja dia butuh kejelasan agar hatinya menjadi lebih tenang.
“Dave, apa kamu begitu mencintai Dara sampai terlihat begitu frustasi?” tanya Julian, penasaran karena sahabatnya yang sejak tadi terlihat banyak pikiran. Selain itu, Dave sudah lama mengetahui mengenai Dara yang berselingkuh. Jadi, seharusnya Dave tidak perlu begitu terkejut seperti kali ini, kan?
Lalu, kenapa dia seperti tertekan, batin Julian, semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran Dave.
“Aku tidak frustasi karena itu, Julian,” jawab Dave, masih asyik dengan pikirannya sendiri.
“Terus, kalau bukan karena perceraian kamu, karena apa?” tanya Julian, semakin menatap penuh curiga.
“Karena aku baru saja mengatakan isi hatiku dengan Clara,” jawab Dave tanpa sadar.
“Apa?” pekik Julian dengan kedua mata melebar.
Seketika, Dave yang sejak tadi sibuk dengan lamunannya langsung tersadar dan menatap ke arah Julian. Keduanya matanya mulai melebar dan menelan saliva pelan ketika melihat sahabatnya sudah menatap penuh selidik.
“Katakan denganku, Dave. Apa yang kamu maksud dengan mengatakan isi hati? Kamu mencintai Clara?” Julian langsung memberondong dengan pertanyaan dan menatap lekat. Kali ini, dia harus menuntaskan semua rasa penasarannya.
Sedangkan Dave yang ditanya langsung mendesah kasar. Astaga, aku yakin ini akan lama, batin Dev dengan raut wajah frustasi.
***
Karena sepertinya papa mulai menyukai kamu.
Clara yang mengingat kalimat tersebut berulang kali langsung mendesah kasar. Sejak tadi dia berusaha melupakan, tapi berulang kali juga kalimat yang sama terus berulang, berdengung dan benar-benar sulit untuk dilupakan. Bahkan, selama mengikuti materi, pikirannya tidak bisa fokus dengan apa yang dosen terangkan.
Sejenak, Clara menarik napas dalam dan membuang perlahan, berusaha mengatur kembali degup jantungnya yang tidak karuan. Selama ini dia tidak pernah menyangka jika papanya akan memiliki perasaan lebih dengannya. Clara menganggapnya sebagai Papa, meski sempat terlintas dalam pikirannya jika dia begitu mengagumi sang papa tiri. Namun, mengingat statusnya, Clara langsung mengabaikan. Sayangnya, saat mendengar ungkapan tersebut secara langsung Clara kembali merasakan detak tidak karuan.
Astaga, aku tidak mencintai papa, kan, batin Clara dengan tangan mengepal, merasa benar-benar tidak karuan sama sekali. Berulang kali dia mencoba menenangkan hatinya, tetapi tetap saja hal tersebut tidak berhasil. Hingga suara pergeseran bangku di depannya terdengar, membuat pikirannya teralihkan.
“Kamu kenapa, Clara?” tanya Diandra—sahabat Clara.
Clara yang ditanya langsung mendesah kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. Namun, mulutnya masih saja bungkam, bingung harus mengatakannya dengan Diandra atau tidak. Pasalnya, dia merasa malu sekaligus takut kalau sahabatnya akan mengatakan dengan sang mama mengenai masalahnya kali ini.
“Cla, kenapa hanya diam?” tegur Diandra karena tidak juga mendapat jawaban dari Clara.
Clara tersentak kaget, membuat lamunannya buyar. Manik matanya masih memperhatikan sahabatnya, seakan menimang apa yang akan dia lakukan. Hingga lagi-lagi Clara mendesah kasar, mencoba meringankan beban yang sejak tadi bersarang di dadanya. Dia mulai mencondongkan tubuh, mendekat ke arah Diandra dan memberikan isyarat agar sahabatnya tersebut mendekat.
Diandra yang mengerti pun langsung menuruti. Dia mencondongkan tubuh, mendekat ke arah Clara dan menatap lekat, menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya. Sedangkan Clara, dia sedang sibuk mengamati sekitar, seakan apa yang akan dikatakan adalah rahasia negara dan jika ada yang tahu akan menimbulkan masalah besar. Hingga dia yang merasa aman mendekat dan menatap lekat.
“Aku mau mengatakan sebuah rahasia, Dian. Tapi aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini,” ucap Clara setengah berbisik, agar tidak terdengar siapa pun.
Diandra yang mendengar hal tersebut langsung menganggukkan kepala tanpa berpikir lebih dulu.
“Sebenarnya tadi aku baru dari perusahaan Papa untuk menanyakan mengenai alasan dia dan mama bercerai. Tapi ternyata di sana papa malah …,” Clara menjeda ucapannya sejenak dan menata kearah Diandra lekat. “mengatakan kalau dia mencintaiku,” lanjut Clara dan langsung memejamkan mata.
“Apa?!” pekik Diandra dengan kedua mata yang langsung melebar.
Sedangkan Clara hanya diam dengan mulut tertutup rapat. Astaga, seharusnya aku memang tidak cerita dengannya, batin Clara, merutuki kebodohannya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





