
Bangkit dari Kematian Palsuku
Bab 2
Adelia POV:
Ponsel di tanganku bergetar sesaat, lalu bunyi 'ding' menandakan balasan masuk. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Hanya satu kata: "Selalu."
Lalu, pesan kedua, "Aku akan menjemputmu di bandara besok malam jam sembilan. Pesawatmu akan lepas landas jam delapan."
Aku tertegun. Dia tahu. Dia tahu tanpa aku memberitahunya. Dia selalu tahu. Aku tertawa, tawa yang hampa, tawa yang lebih mirip isak tangis.
Prakoso memang selalu seperti itu. Dia mengenaliku lebih baik dari siapa pun, bahkan mungkin lebih baik dari diriku sendiri. Aku hanya perlu mengangguk, menyetujui rencananya. Aku percaya padanya. Dia akan membuatku menghilang tanpa jejak.
Malam itu, aku tidak membalas pesan Mahendra yang terus berdatangan, membanjiri kotak masukku. Ponselku kumatikan. Biarkan dia khawatir. Biarkan dia merasa cemas. Biarkan dia merasakan sedikit saja dari apa yang kurasakan.
Mahendra POV:
Aku merasa panik. Adelia tidak membalas pesanku. Panggilan teleponku tidak diangkat. Dia tidak pernah seperti ini. Aku merasa ada yang tidak beres.
Aku membatalkan semua rapat dan pulang lebih awal. Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi, hatiku berdebar tak karuan. Aku harus melihatnya. Aku harus memastikan dia baik-baik saja.
Ketika aku sampai di rumah, aku melihat Adelia duduk di sofa, membaca buku. Rasa lega membanjiri diriku. Aku berlari menghampirinya, memeluknya erat.
"Sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku? Aku khawatir," kataku, mencium puncak kepalanya.
Adelia membalas pelukanku, tapi rasanya berbeda. Dingin.
"Ponselku mati, Mas. Kompetisiku ditunda," jawabnya, suaranya datar.
Aku menghembuskan napas lega. "Syukurlah. Aku kira kamu kenapa-kenapa."
Aku mencium keningnya. "Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang."
Mata Adelia menatapku. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak bisa kubaca. Tapi aku terlalu lega untuk memikirkannya. Aku rasa dia masih marah padaku.
Aku hampir saja. Hampir saja dia bertanya tentang Kiana. Tentang bayi itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak ingin aku tahu bahwa dia tahu.
Aku harus tenang. Aku harus tetap membuatnya percaya. Dia tidak boleh tahu aku tahu dia tahu.
Aku menatap matanya, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia terlihat begitu tenang, begitu damai. Terlalu damai.
Aku mengelus pipinya. "Jangan marah lagi, ya? Aku janji akan selalu ada untukmu."
Ada keheningan singkat. Adelia menarik napas dalam-dalam. Lalu dia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. Dia mendorongku menjauh dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya ingin istirahat."
Aku mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita makan malam. Aku akan mengajakmu ke restoran favoritmu."
Aku mengulurkan tanganku. "Putriku sayang, maukah kamu pergi dengan pangeranmu?"
Adelia menatap tanganku. Sebuah kilasan masa lalu. Saat kami masih muda, di pesta dansa sekolah. Aku memegang tangannya, mengajaknya berdansa. Saat itu, matanya hanya menatapku.
Dia mengangguk. Aku tersenyum. Kami berdua pergi ke restoran.
Di restoran, aku melayaninya dengan sepenuh hati, mengambilkan makanan favoritnya, menuangkan minumannya. Aku melakukan semua yang biasanya kulakukan untuknya. Aku mencoba membuat semuanya kembali normal.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Kiana. Aku melihat nama itu, dan hatiku mencelos.
Adelia menatapku, matanya kosong. "Angkat saja, Mas."
Anda Mungkin Juga Suka





