
Bangkit dari Kematian Palsuku
Bab 3
Adelia POV:
Mahendra menatap ponselnya, lalu menatapku. Dia tersenyum paksa. "Hanya telepon tidak penting, Sayang. Jangan khawatir."
Dia mencium pipiku, lalu beranjak pergi untuk menjawab telepon. Aku tahu itu Kiana. Aku tahu itu.
Beberapa menit kemudian, dia kembali. Wajahnya terlihat cemas, tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Maaf, Sayang. Ada operasi darurat di rumah sakit. Aku harus pergi."
Aku mengangguk. "Tidak apa-apa, Mas. Pergilah."
Dia mencium keningku. "Aku janji besok akan menemanimu seharian. Aku akan membatalkan semua jadwalku."
Aku hanya tersenyum. Aku melihat nama Kiana di ponselnya. Aku tahu itu bukan operasi. Aku tahu itu.
Mahendra bergegas pergi, meninggalkan aku sendirian di restoran. Aku menatap bangku kosong di depanku. Hatiku terasa sakit, seperti ditusuk ribuan jarum.
Aku mencoba untuk tenang, tapi tidak bisa. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosiku. Aku harus makan. Aku harus kuat.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Kiana. Dia melakukan panggilan video. Aku melemparkan ponselku ke meja, tapi dia terus menelepon.
Aku akhirnya mengangkatnya. Wajah Kiana muncul di layar, tersenyum polos. Tapi matanya, matanya penuh kemenangan.
"Adelia, Mas Mahendra ada di sini. Dia menciumku." Dia berbicara sambil tersenyum. "Apakah kamu mencium bau Mas Mahendra? Dia baru saja makan hot pot denganmu, bukan?"
Aku tahu dia sedang mengejekku. Aku tahu dia sedang berusaha memprovokasiku.
Wajahku berubah dingin. "Kiana, kamu kekanak-kanakan."
Dia hanya tertawa. "Tidak peduli apa yang kamu katakan, Mas Mahendra tetap mencintaiku."
Aku mencengkeram ponselku. "Aku akan mengirim rekaman ini ke Mahendra."
Kiana hanya mengangkat bahu. "Silakan. Aku tidak takut." Dia terlihat sangat yakin.
Aku tidak tahu kenapa Kiana tidak menutup telepon. Aku tidak tahu kenapa dia begitu berani.
Tiba-tiba, Kiana menggerakkan ponselnya. Aku melihat Mahendra di belakangnya. Dia baru saja masuk ke ruangan itu.
Kiana segera memeluk Mahendra, memegangi teleponnya agar Mahendra tidak bisa melihat layar.
"Mas, kamu tidak marah lagi padaku, kan?" Kiana bertanya, suaranya dibuat-buat manja.
Mahendra mengernyitkan alis. "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Jika aku tidak pergi ke panti asuhan, apakah kamu akan menikahiku?" Kiana bertanya, matanya berkaca-kaca.
Mahendra terdiam sejenak. "Kenapa kamu bertanya tentang 'jika' lagi?"
Kiana menunduk, suaranya bergetar. "Aku hanya bertanya, Mas."
Mahendra menghela napas. "Ya."
Hatiku hancur berkeping-keping. Aku merasa seperti ada tangan yang meremas jantungku. Aku tidak bisa bernapas.
Aku mengingat kembali janji pernikahan kami. "Aku berjanji akan mencintaimu, menghormatimu, dan selalu setia padamu, sampai maut memisahkan kita."
Semua itu hanya kebohongan. Dari awal.
Aku hanyalah alat. Alat untuk Kiana dan Mahendra. Aku hanyalah boneka yang mereka mainkan.
Anda Mungkin Juga Suka





