
Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
Bab 2
Anggita POV:
Malam itu, gambar-gambar wasiat yang ditunjukkan notaris kembali berputar di benakku.
Aku ingat samar-samar, sekitar setahun yang lalu, ada beberapa dokumen yang ayah minta aku tanda tangani.
Dia bilang itu hanya formalitas, dokumen rutin perusahaan.
Aku tidak pernah melihat isinya dengan detail, terlalu percaya padanya.
Terlalu sibuk dengan impian batiku.
Aku menandatanganinya tanpa ragu.
Sebuah tanda tangan yang kini terasa seperti jebakan kematian.
Sial!
Aku mencengkeram kepalaku, merasakan nyeri berdenyut di pelipis.
Dia memalsukan tanda tanganku.
Dia berani memalsukan tanda tanganku pada surat pencabutan hak waris itu!
Amurka, amarah, dan rasa sakit yang menusuk bercampur menjadi satu, membuatku ingin berteriak.
Aku bangkit, berjalan gontai menuju kamar mandi.
Kulihat bayanganku di cermin.
Wajahku pucat, mataku bengkak.
Di mataku, aku melihat rasa sakit yang mendalam, rasa sakit yang tak terlukiskan.
Aku benci diriku yang begitu bodoh.
Aku benci diriku yang begitu mempercayai ayahku.
Aku benci diriku yang telah menyerahkan segalanya untuknya.
Aku meraih sikat gigi dan menggosok gigiku dengan kasar, seolah ingin menghilangkan rasa pahit di mulutku.
Saat itulah, pandanganku jatuh pada sebuah kotak kecil yang tersimpan di sudut lemari.
Kotak itu berisi benda-benda kenangan tentang hubunganku dengan Sagara.
Termasuk alat tes kehamilan.
Aku teringat saat-saat putus asa dulu.
Berulang kali aku mencoba.
Berulang kali aku gagal.
Sagara selalu menghiburku.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa coba lagi," katanya dengan sabar.
Tapi aku tahu, dia juga menginginkan seorang anak.
Dia ingin membangun keluarga bersamaku.
Aku ingat saat terakhir kali aku mencoba program IVF, diam-diam.
Aku tidak ingin Sagara kecewa lagi.
Aku ingin memberinya kejutan paling indah.
Sebuah harapan kecil kuberikan pada diriku sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengambil alat tes kehamilan itu.
Tanganku bergetar saat aku mengikuti instruksi.
Menit-menit yang terasa seperti jam.
Satu garis.
Dua garis.
Dua garis merah terang.
Positif.
Aku hamil.
Darahku berdesir.
Sebuah senyum kecil muncul di bibirku, senyum yang terasa begitu asing di tengah kekacauan ini.
Aku hamil.
Anakku.
Anak Sagara.
Aku meraih ponsel, ingin segera memberitahunya.
"Sayang, aku hamil."
Sebuah kebahagiaan yang seharusnya menjadi puncak segalanya.
Kejutan yang seharusnya kubawa pulang dari Paris bersamaan dengan kabar penghargaan.
Tapi semua itu kini hancur berkeping-keping.
Ayahku telah mencabut hak warisku.
Dia memalsukan tanda tanganku.
Dia merawat wanita lain dengan cinta yang seharusnya menjadi milikku.
Dan kini, aku hamil.
Betapa ironisnya hidup ini.
Ayahku tidak hanya mengkhianatiku, dia juga merenggut kebahagiaanku.
Dia merebut impianku.
Dia menghancurkan segalanya.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka mengagetkanku.
"Anggita? Kamu di rumah?"
Itu suara Farhan.
Ayah.
Aku buru-buru menyembunyikan alat tes kehamilan di balik punggungku.
Aku harus menyembunyikannya.
Aku tidak bisa memberitahunya sekarang.
Dia masuk ke kamar mandi, wajahnya tampak khawatir.
"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?"
Dia mendekat, mencoba menyentuh tanganku.
Aku menarik tanganku, menghindarinya.
Aku tidak tahan disentuh olehnya.
Sentuhannya terasa menjijikkan.
Aku teringat saat-saat dulu, ketika aku demam tinggi.
Ayah akan mencariku ke mana-mana, panik.
Dia akan menggendongku, memelukku erat.
"Jangan sakit, sayang. Ayah tidak bisa hidup tanpamu," katanya.
Apakah itu semua hanya kebohongan?
Apakah itu semua hanya bagian dari sandiwara besarnya?
Aku menatapnya, mencoba membaca sesuatu di matanya.
Maaf?
Penyesalan?
Tidak ada.
Hanya kehampaan.
"Aku... aku tidak apa-apa," kataku, mencoba membuat suaraku terdengar normal.
"Aku hanya kurang enak badan."
Dia memelukku erat, dan aku merasakan tubuhku menegang.
Aku ingin mendorongnya, tapi aku tidak punya kekuatan.
"Maafkan ayah, sayang," bisiknya.
"Ayah tahu ayah telah mengecewakanmu."
Kecewa?
Dia bilang mengecewakan?
Mengkhianatiku, memalsukan tanda tanganku, memberikan seluruh warisan kepada wanita lain, itu hanya 'mengecewakan'?
Aku hanya bisa menatap kosong ke dinding.
Ponselnya berdering.
Dia melepaskan pelukannya, melihat layar ponselnya.
Wajahnya berubah.
Ada sedikit kepanikan di matanya.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi, menjawab telepon.
"Halo, sayang. Ada apa?"
Suaranya terdengar lembut, penuh perhatian.
Aku tahu siapa yang menelepon.
Dahlia.
Dia kembali masuk, buru-buru mengambil kunci mobilnya.
"Ayah harus pergi sekarang," katanya.
"Dahlia... dia tidak enak badan."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dia menatapku sebentar, seolah menunggu reaksku.
Tapi aku hanya diam, membiarkan dia pergi.
Dia menghilang dari pandanganku.
Aku menjatuhkan alat tes kehamilan itu ke lantai.
Garis merah terang itu kini terlihat begitu menyakitkan.
Anakku.
Aku akan melindungimu.
Aku akan membesarkanmu sendirian.
Tanpa dia.
Tanpa nama 'Hadisaputro'.
Aku akan menunjukkan pada mereka, bahwa aku bisa bersinar lebih terang.
Aku mulai mengemasi barang-barangku.
Sudah waktunya aku pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





