
Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
Bab 3
Anggita POV:
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah sakit lagi.
Kali ini bukan untuk bertemu ayah, melainkan untuk memastikan sesuatu.
Aku harus tahu.
Aku harus memastikan bahwa dugaanku benar.
Perutku terasa mual, bukan hanya karena kehamilan, tapi juga karena kecemasan.
Aku berdoa dalam hati agar aku salah.
Agar semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Tapi saat aku mendekati kamar Dahlia, aku melihatnya lagi.
Farhan.
Ayahku.
Dia sedang berbicara dengan seorang dokter, wajahnya tampak sangat serius.
Setelah dokter itu pergi, ayah masuk ke kamar Dahlia.
Aku mengintip dari balik tiang.
Ayah menggenggam tangan Dahlia, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanyanya lembut.
Dahlia tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan terlalu khawatir."
Mas.
Dia memanggil ayahku 'Mas'.
Suara itu menghantamku seperti gelombang.
Mas.
Panggilan yang hanya diucapkan oleh seorang istri kepada suaminya.
Darahku berdesir, mataku berkunang-kunang.
Aku merasakan napasku tersangkut di tenggorokan.
Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekikku.
Aku harus bernapas.
Aku harus tetap tenang.
Aku beringsut lebih dekat, bersembunyi di balik sebuah tanaman besar.
Aku harus mendengar lebih banyak.
"Jangan khawatirkan aku," kata Dahlia.
"Pikirkan saja bayi kita. Dia yang terpenting."
Bayi kita.
Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan telak.
Dunia di sekitarku terasa berputar, dan aku nyaris roboh.
Aku mencengkeram dadaku, rasa sakit itu begitu kuat hingga membuatku terhuyung.
Bayi mereka?
Jadi Dahlia hamil?
Hamil dengan anak ayahku?
Aku merasa mual.
Tiba-tiba, suara lain terdengar.
Seorang wanita muda, teman ayahku, mendekat.
"Farhan, aku turut prihatin," katanya, menatap ayahku dengan prihatin.
"Aku dengar Dahlia keguguran."
Keguguran.
Kata itu bergema di telingaku.
Dahlia keguguran.
Teman ayahku menatapku.
"Bagaimana dengan Anggita? Apakah dia tahu tentang ini?"
Ayahku terdiam sejenak.
Lalu dia menjawab, suaranya dingin, tanpa emosi.
"Anggita tidak akan pernah bisa memberiku anak."
"Dia mandul."
Mandul.
Kata itu menghantamku lebih keras dari apa pun yang pernah kudengar.
Aku mencengkeram tanganku, kukuku menancap di telapak tanganku.
Sakit.
Sakit yang begitu dalam.
Aku tidak hanya dikhianati, tapi juga dihina.
Dihinakan oleh ayah kandungku sendiri.
"Aku tidak bisa membayangkannya, Farhan," kata teman ayahku.
"Kamu sudah mencoba program kehamilan dengan Anggita selama bertahun-tahun."
"Dan Dahlia... dia hanya butuh waktu sebentar..."
"Anggita terlalu sibuk dengan kariernya," Ayahku memotong.
"Dia tidak pernah benar-benar serius ingin punya anak."
"Hanya Dahlia yang bisa memberiku keturunan."
Aku merasa seperti dilemparkan ke dalam jurang kegelapan.
Ayahku tidak hanya mencabut hak warisku, tapi dia juga menghancurkan harga diriku.
Dia membunuh harapanku.
Dia menjadikan Dahlia segalanya.
Dan aku?
Aku tidak lebih dari seorang wanita mandul yang tidak berguna di matanya.
Aku merasakan air mata mengalir di pipiku, panas dan perih.
Aku harus pergi dari sini.
Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





