
Balas Dendam Sang CEO
Bab 2
Renata sudah biasa direndahkan oleh orang-orang yang mengetahui pekerjaan kotornya. Bahkan beberapa di antara pelanggannya juga pernah melecehkan dirinya. Tapi entah kenapa, rasanya tidak sesakit seperti yang dia rasakan saat ini. Sudah cukup memalukan dia datang ke hadapan Adnan sebagai seorang wanita panggilan, kini dia juga harus menerima penghinaan dari lelaki itu, lelaki yang dulu pernah mengukir kenangan paling indah dalam hidupnya.
"Kenapa bengong? Kamu tidak dengar apa yang kukatakan tadi?" tanya Adnan.
Lamunan Renata seketika terbuyar. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Adnan yang dikenalnya dulu. Adnan yang tak pernah sekalipun berkata kasar pada orang lain, apalagi menghina.
Ah, Renata lupa. Tentu saja banyak hal yang berubah setelah sepuluh tahun waktu berlalu. Bahkan dirinya sendiri yang dulunya adalah seorang gadis polos nan lugu, sekarang telah berubah menjadi perempuan penjaja kehangatan yang sudah pernah tidur dengan banyak lelaki. Lagipula, saat mereka berpisah dulu, Renata telah menorehkan luka yang teramat dalam pada Adnan. Dan jika saat ini lelaki itu datang dengan sejuta dendam, itu adalah sesuatu yang bisa Renata pahami.
"Kalau begitu, saya permisi mandi dulu," ujar Renata akhirnya sambil bangkit dari duduknya. Perempuan itu berlalu menuju kamar mandi yang ada di kamar hotel tersebut, diiringi oleh tatapan tajam dari sepasang mata tajam milik Adnan.
Sesampainya di kamar mandi, Renata langsung menanggalkan pakaiannya dan membasuh seluruh tubuhnya dengan air, lalu menggosoknya dengan sabun yang tersedia di sana. Sembari mandi dia termenung, teringat lagi pada bayangan senyum mengejek yang Adnan perlihatkan padanya.
Dadanya terasa sesak, bersamaan dengan airmata yang tiba-tiba saja jatuh tanpa alasan. Ada rasa nyeri yang tak dapat dia jelaskan jika dirinya mengingat senyuman lelaki itu. Namun, cepat-cepat Renata menghapus cairan bening hangat itu dari pipinya, kemudian segera menyelesaikan mandinya agar bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya
Setelah dirasa tubuhnya sudah lebih harum daripada sebelumnya, perempuan itu pun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe.
Adnan masih duduk di tempat yang sama. Namun dia langsung bangkit saat melihat Renata sudah selesai membersihkan diri. Matanya tampak tajam nenatap perempuan yang melangkah perlahan ke arahnya itu.
"Saya sudah selesai mandi. Apa saya sudah bisa memulainya sekarang?" tanya Renata dengan agak ragu.
Adnan tak langsung menjawab. Matanya masih lekat menatap Renata, hingga membuat perempuan itu menjadi agak salah tingkah karenanya.
"Sepertinya kamu agak terburu-buru, ya? Kenapa? Ada pelanggan lain yang menunggumu malam ini setelah aku?" tanya Adnan kemudian. Suaranya terdengar lembut namun sarkas.
"Bubukan begitu," sahut Renata dengan agak terbata.
Tanpa diduga, Adnan tertawa. Tawa yang begitu renyah, namun mampu membuat Renata terkesiap dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata
"Baiklah, mungkin lebih baik kita langsung mulai saja," ujar Adnan setelah menghentikan tawanya. Lelaki itu menghenyakkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, kemudian mengambil posisi setengah berbaring dengan punggung yang menyandar pada sandaran tempat tidur .
"Kemari dan mulailah. Aku ingin kamu yang melayaniku sepenuhnya sampai aku puas," titah Adnan lagi sembari menjentikkan jari, mengisyaratkan agar Renata mendekat padanya. Nada bicaranya lagilagi terdengar begitu menghina.
Renata menatap nanar kepada lelaki itu, kemudian mengangguk sembari berusaha untuk tersenyum. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di pinggiran tempat tidur menghadap ke arah Adnan. Dengan dada yang bergemuruh tak menentu, Renata mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Adnan.
"Puaskan aku tanpa menyentuh bagian wajahku. Aku hanya berciuman dengan pasanganku saja, tidak dengan perempuan panggilan." Sekali lagi Adnan melontarkan kata-kata yang mampu membuat ulu hati Renata terasa nyeri.
"Maaf, saya tidak tahu," sahut Renata lirih sambil menarik kembali wajahnya. Tanpa sadar perempuan itu menggenggam jari-jarinya yang bergetar hebat, berusaha menahan gemuruh di dadanya yang mulai menjadi tak terkendali.
I Renata menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Dia sungguh tak tahu harus bagaimana. Jelas sekali jika Adnan menyewanya malam ini bukan benar-benar untuk melampiaskan hasrat seperti para pelanggannya yang lain, tapi memiliki tujuan berbeda.
"Kenapa malah kembali melamun? Aku sudah membayarmu mahal, tapi kenapa kamu malah seperti terpaksa seperti itu?" tanya Adnan dengan nada tak senang.
"Ma-maaf ...." Renata kembali meminta maaf.
Hal itu ternyata membuat Adnan menjadi berang. Raut wajah lelaki itu terlihat agak mengeras dibandingkan sebelumnya.
"Tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain minta maaf? Apa kata maafmu itu bisa mengembalikan waktu dan uangku yang terbuang sia-sia karena ketidakcakapanmu? Asal kamu tahu saja, ada banyak hal di dunia ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf," sahut Adnan
Renata kembali menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Meskipun mungkin Adnan melontarkan ucapannya barusan hanya karena marah pada sikapnya saat ini dan tak ada hubungannya dengan yang terjadi di masa lalu, tapi tetap saja Renata merasa tertohok.
Dengan dada yang bergemuruh semakin tak terkendali, Renata pun akhirnya bangkit dari duduknya, masih dengan posisi menghadap ke arah Adnan. Terlihat perempuan itu menghela nafasnya sekali lagi, sebelum akhirnya menanggalkan bathrobe yang dia kenakan, sehingga tubuhnya polos di hadapan Adnan
Lelaki itu membeliak tanpa sadar, jelas terkejut dengan apa yang Renata lakukan. Tapi sejurus kemudian, dia kembali tersadar jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Renata si wanita bayaran, bukan kekasihnya yang dulu begitu dia puja.
Senyum miring kembali terlihat di wajah Adnan saat Renata mulai mengambil posisi di atas tubuhnya apalagi saat Renata mulai memberikan sentuhan-sentuhan di beberapa bagian sensitif dari tubuhnya
"Ya, benar seperti itu. Jangan buat aku membuang uang sia-sia. Lakukan pekerjaanmu dengan baik," gumam Adnan saat Renata mulai memberikan cumbuan padanya.
Adnan mencengkram rambut Renata dan mengarahkan wajah perempuan itu untuk memberikan sentuhan pada bagian-bagian tubuhnya yang lain, persis seperti perlakuan seorang tuan kepada budaknya, sedangkan Renata hanya menuruti semua itu dengan perasaan perih yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
"Aku sudah membelimu malam ini, jadi aku berhak melakukan apa saja padamu." Adnan kembali bergumam sambil menarik rambut Renata sekali lagi.
"Iya," jawab Renata. Perempuan itu berusaha menahan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya, juga berusaha untuk menguatkan hatinya. Dia sudah pernah dilecehkan lebih parah daripada ini, bahkan sampai meninggalkan memar di beberapa bagian tubuhnya. Tapi entah kenapa, saat ini rasanya jauh lebih menyakitkan.
Mata Renata mengembun dan terasa panas, bersamaan dengan nafasnya yang juga mulai tersengal. Rasa-rasanya tangisnya akan pecah saat itu juga, tapi sekuat tenaga dia tahan agar hal itu tak sampai terjadi. Mau semenyakitkan apa rasa yang saat ini menghujam dadanya, dia harus tetap melakukan tugasnya sesempurna mungkin, memberikan kehangatan dan kepuasan pada siapa saja lelaki yang telah membayarnya.
Anda Mungkin Juga Suka





