Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO

Balas Dendam Sang CEO

Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Renata sudah biasa direndahkan oleh orang-orang yang mengetahui pekerjaan kotornya. Bahkan beberapa di antara pelanggannya juga pernah melecehkan dirinya. Tapi entah kenapa, rasanya tidak sesakit seperti yang dia rasakan saat ini. Sudah cukup memalukan dia datang ke hadapan Adnan sebagai seorang wanita panggilan, kini dia juga harus menerima penghinaan dari lelaki itu, lelaki yang dulu pernah mengukir kenangan paling indah dalam hidupnya.

"Kenapa bengong? Kamu tidak dengar apa yang kukatakan tadi?" tanya Adnan.

Lamunan Renata seketika terbuyar. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Adnan yang dikenalnya dulu. Adnan yang tak pernah sekalipun berkata kasar pada orang lain, apalagi menghina.

Ah, Renata lupa. Tentu saja banyak hal yang berubah setelah sepuluh tahun waktu berlalu. Bahkan dirinya sendiri yang dulunya adalah seorang gadis polos nan lugu, sekarang telah berubah menjadi perempuan penjaja kehangatan yang sudah pernah tidur dengan banyak lelaki. Lagipula, saat mereka berpisah dulu, Renata telah menorehkan luka yang teramat dalam pada Adnan. Dan jika saat ini lelaki itu datang dengan sejuta dendam, itu adalah sesuatu yang bisa Renata pahami.

"Kalau begitu, saya permisi mandi dulu," ujar Renata akhirnya sambil bangkit dari duduknya. Perempuan itu berlalu menuju kamar mandi yang ada di kamar hotel tersebut, diiringi oleh tatapan tajam dari sepasang mata tajam milik Adnan.

Sesampainya di kamar mandi, Renata langsung menanggalkan pakaiannya dan membasuh seluruh tubuhnya dengan air, lalu menggosoknya dengan sabun yang tersedia di sana. Sembari mandi dia termenung, teringat lagi pada bayangan senyum mengejek yang Adnan perlihatkan padanya.

Dadanya terasa sesak, bersamaan dengan airmata yang tiba-tiba saja jatuh tanpa alasan. Ada rasa nyeri yang tak dapat dia jelaskan jika dirinya mengingat senyuman lelaki itu. Namun, cepat-cepat Renata menghapus cairan bening hangat itu dari pipinya, kemudian segera menyelesaikan mandinya agar bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya

Setelah dirasa tubuhnya sudah lebih harum daripada sebelumnya, perempuan itu pun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe.

Adnan masih duduk di tempat yang sama. Namun dia langsung bangkit saat melihat Renata sudah selesai membersihkan diri. Matanya tampak tajam nenatap perempuan yang melangkah perlahan ke arahnya itu.

"Saya sudah selesai mandi. Apa saya sudah bisa memulainya sekarang?" tanya Renata dengan agak ragu.

Adnan tak langsung menjawab. Matanya masih lekat menatap Renata, hingga membuat perempuan itu menjadi agak salah tingkah karenanya.

"Sepertinya kamu agak terburu-buru, ya? Kenapa? Ada pelanggan lain yang menunggumu malam ini setelah aku?" tanya Adnan kemudian. Suaranya terdengar lembut namun sarkas.

"Bubukan begitu," sahut Renata dengan agak terbata.

Tanpa diduga, Adnan tertawa. Tawa yang begitu renyah, namun mampu membuat Renata terkesiap dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata

"Baiklah, mungkin lebih baik kita langsung mulai saja," ujar Adnan setelah menghentikan tawanya. Lelaki itu menghenyakkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, kemudian mengambil posisi setengah berbaring dengan punggung yang menyandar pada sandaran tempat tidur .

"Kemari dan mulailah. Aku ingin kamu yang melayaniku sepenuhnya sampai aku puas," titah Adnan lagi sembari menjentikkan jari, mengisyaratkan agar Renata mendekat padanya. Nada bicaranya lagilagi terdengar begitu menghina.

Renata menatap nanar kepada lelaki itu, kemudian mengangguk sembari berusaha untuk tersenyum. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di pinggiran tempat tidur menghadap ke arah Adnan. Dengan dada yang bergemuruh tak menentu, Renata mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Adnan.

"Puaskan aku tanpa menyentuh bagian wajahku. Aku hanya berciuman dengan pasanganku saja, tidak dengan perempuan panggilan." Sekali lagi Adnan melontarkan kata-kata yang mampu membuat ulu hati Renata terasa nyeri.

"Maaf, saya tidak tahu," sahut Renata lirih sambil menarik kembali wajahnya. Tanpa sadar perempuan itu menggenggam jari-jarinya yang bergetar hebat, berusaha menahan gemuruh di dadanya yang mulai menjadi tak terkendali.

I Renata menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Dia sungguh tak tahu harus bagaimana. Jelas sekali jika Adnan menyewanya malam ini bukan benar-benar untuk melampiaskan hasrat seperti para pelanggannya yang lain, tapi memiliki tujuan berbeda.

"Kenapa malah kembali melamun? Aku sudah membayarmu mahal, tapi kenapa kamu malah seperti terpaksa seperti itu?" tanya Adnan dengan nada tak senang.

"Ma-maaf ...." Renata kembali meminta maaf.

Hal itu ternyata membuat Adnan menjadi berang. Raut wajah lelaki itu terlihat agak mengeras dibandingkan sebelumnya.

"Tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain minta maaf? Apa kata maafmu itu bisa mengembalikan waktu dan uangku yang terbuang sia-sia karena ketidakcakapanmu? Asal kamu tahu saja, ada banyak hal di dunia ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf," sahut Adnan

Renata kembali menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Meskipun mungkin Adnan melontarkan ucapannya barusan hanya karena marah pada sikapnya saat ini dan tak ada hubungannya dengan yang terjadi di masa lalu, tapi tetap saja Renata merasa tertohok.

Dengan dada yang bergemuruh semakin tak terkendali, Renata pun akhirnya bangkit dari duduknya, masih dengan posisi menghadap ke arah Adnan. Terlihat perempuan itu menghela nafasnya sekali lagi, sebelum akhirnya menanggalkan bathrobe yang dia kenakan, sehingga tubuhnya polos di hadapan Adnan

Lelaki itu membeliak tanpa sadar, jelas terkejut dengan apa yang Renata lakukan. Tapi sejurus kemudian, dia kembali tersadar jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Renata si wanita bayaran, bukan kekasihnya yang dulu begitu dia puja.

Senyum miring kembali terlihat di wajah Adnan saat Renata mulai mengambil posisi di atas tubuhnya apalagi saat Renata mulai memberikan sentuhan-sentuhan di beberapa bagian sensitif dari tubuhnya

"Ya, benar seperti itu. Jangan buat aku membuang uang sia-sia. Lakukan pekerjaanmu dengan baik," gumam Adnan saat Renata mulai memberikan cumbuan padanya.

Adnan mencengkram rambut Renata dan mengarahkan wajah perempuan itu untuk memberikan sentuhan pada bagian-bagian tubuhnya yang lain, persis seperti perlakuan seorang tuan kepada budaknya, sedangkan Renata hanya menuruti semua itu dengan perasaan perih yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.

"Aku sudah membelimu malam ini, jadi aku berhak melakukan apa saja padamu." Adnan kembali bergumam sambil menarik rambut Renata sekali lagi.

"Iya," jawab Renata. Perempuan itu berusaha menahan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya, juga berusaha untuk menguatkan hatinya. Dia sudah pernah dilecehkan lebih parah daripada ini, bahkan sampai meninggalkan memar di beberapa bagian tubuhnya. Tapi entah kenapa, saat ini rasanya jauh lebih menyakitkan.

Mata Renata mengembun dan terasa panas, bersamaan dengan nafasnya yang juga mulai tersengal. Rasa-rasanya tangisnya akan pecah saat itu juga, tapi sekuat tenaga dia tahan agar hal itu tak sampai terjadi. Mau semenyakitkan apa rasa yang saat ini menghujam dadanya, dia harus tetap melakukan tugasnya sesempurna mungkin, memberikan kehangatan dan kepuasan pada siapa saja lelaki yang telah membayarnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari berjuang membesarkan dua keponakan tanpa berharap menemukan pria yang tulus. Takdir mempertemukannya dengan miliarder Bastian Navarell yang menyelamatkannya dari bahaya. Meski saling jatuh cinta, Almira memilih lari saat tahu Bastian telah beristri karena tak ingin jadi orang ketiga. Bastian yang terobsesi tidak menyadari bahwa Almira sebenarnya masih perawan. Akankah kebenaran ini menyatukan mereka dalam jalinan cinta yang elegan dan penuh haru?
Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Aryan Adhitama, CEO berhati dingin, terpaksa menikahi Alana Shafira setelah sebuah jebakan obat perangsang membuatnya merenggut kesucian perawat kakeknya itu. Pernikahan ini digelar demi tanggung jawab dan nama baik keluarga, meski Aryan hanya menganggap Alana sebagai beban. Alana pun terjebak dalam penderitaan batin bersama pria yang membencinya. Di tengah perbedaan status dan rahasia kelam, mampukah cinta tumbuh dari paksaan dan kesalahpahaman?
Sampul Novel Berlian yang Tersamarkan
9.3
Dahulu pewaris manja, Evelyn jatuh miskin setelah dijebak putri asli dan diusir orang tua angkatnya. Namun, ia bangkit dengan mengungkap identitas rahasianya sebagai peretas, desainer, dan dokter jenius. Saat orang tua angkatnya menuntut hartanya, Evelyn menolak dengan tegas. Ia pun mencemooh mantan tunangannya yang memohon kembali. Di tengah kemenangannya, seorang pria berkuasa datang melamar, menawarkan masa depan baru yang tak terduga bagi sang berlian.
Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Jent adalah CEO sukses yang menghadapi keretakan rumah tangga akibat belum hadirnya buah hati. Kecurigaan menuntunnya mengikuti sang istri secara rahasia, hingga ia menyaksikan sendiri pengkhianatan istrinya di ranjang pria lain. Terbakar amarah, Jent menolak sekadar bercerai. Ia merancang rencana pembalasan dendam yang kejam bagi sang istri dan selingkuhannya. Tragedi ini mengubah Jent menjadi sosok pria berdarah dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Banyak yang menganggap Briella Moretti sangat beruntung dapat dinikahi oleh putra sulung keluarga Maven yang terpandang. Namun, di balik kemewahan itu, Adrian Maven hanya menyimpan niat keji untuk menghancurkan hidup Briella sebagai bentuk balas dendam pribadi. Adrian bertekad menyiksa batin sang istri, tapi ketulusan hati Briella justru mulai menggoyahkan komitmennya. Kini, Adrian terjebak antara ego dendamnya atau perasaan cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Menjadi istri Presdir kaya mungkin impian banyak orang, namun bagi Cassandra, hal itu adalah jebakan maut. Lewat siasat licik Bardolf Konstantino, ia terikat kontrak sebagai istri kelima. Hidupnya penuh penghinaan dan ia dipaksa melahirkan anak demi bertahan hidup. Demi melindungi masa depan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, Cassandra harus bertahan. Kini ia bertekad memenangkan hati suaminya yang dingin, meski pria itu tampak tak punya perasaan.