
Balas Dendam Sang CEO
Bab 3
Malam itu, sekali lagi Renata membuktikan jika dirinya adalah seorang perempuan penghibur yang sudah sangat profesional. Meski dadanya sesak, meski hatinya perih dan meski airmatanya harus sekuat tenaga dia tahan agar tidak jatuh, dia tetap memberikan pelayanan terbaik untuk lelaki yang telah menyewa jasanya. Tak peduli jika lelaki itu sengaja membayar untuk tujuan lain, yaitu merendahkannya.
Lenguhan panjang yang keluar dari bibir Adnan menjadi tanda berakhirnya tugas yang mesti Renata tunaikan. Renata beringsut, sedikit menjauhkan dirinya dari tubuh Adnan yang sedetik lalu baru saja meraih pelepasan. Nafas mereka berdua masih memburu setelah pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan. Keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang lurus menatap ke depan.
Harus Adnan akui, Renata sangat pandai dalam permainan tadi. Hal yang kemudian seakan mengingatkan lelaki itu pada sebuah fakta yang bahkan sampai saat ini masih sulit untuk dia percaya. Fakta jika Renata saat ini adalah seorang perempuan panggilan.
Entah apa yang Adnan rasakan sekarang. Dia benci namun juga merindukan perempuan yang baru saja berbagi peluh dengannya tadi. Meski mengetahui jika telah banyak lelaki yang telah menjamah tubuh perempuan itu, nyatanya dia tidak merasa jijik saat Renata menyentuhnya. Malah ada rasa iba yang menyusup di dalam hatinya saat melihat raut wajah Renata yang tampak terluka mendengar kata-kata merendahkan yang keluar dari mulutnya.
Namun hal itu tak berlangsung lama. Logika langsung mengikis perasaannya. Dia kembali diingatkan dengan tujuan awalnya mencari Renata, yaitu membalas semua rasa sakit dan penderitaan yang selama sepuluh tahun ini dirinya rasakan.
Adnan pun bangkit dan langsung mengenakan pakaiannya kembali.
"Tugasmu sudah selesai. Pakai lagi bajumu," perintah Adnan pada Renata.
Renata mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Adnan sejenak, kemudian turun juga dari tempat tidur dan memungut bathrobe yang sebelumnya dia kenakan, lalu segera memakainya.
"Maksudku pakaianmu yang tadi. Aku sudah selesai denganmu, kamu sudah boleh pergi," ralat Adnan.
"Aku ... sudah boleh pergi?" ulang Renata ragu. Biasanya pelanggan yang menyewa jasanya untuk satu malam tak pernah membiarkannya pergi setelah mereka melakukan hubungan badan. Para lelaki itu akan meminta Renata untuk menginap karena akan mengulang kegiatan sebelumnya sebanyak beberapa kali sampai pagi menjelang.
"Iya, tentu saja. Memangnya apa yang kamu pikirkan? bermalam di sini denganku?" Adnan balik bertanya dengan agak sarkas. "Tidak, bukan begitu
"Aku tidak pernah membiarkan perempuan panggilan tidur di ranjang yang sama denganku." Adnan menyela sebelum Renata sempat menyelesaikan kata-katanya.
Bibir Renata langsung terkatup rapat. Seperti ada sebuah pisau yang kini Adnan tancapkan ke dadanya. Benar-benar terasa sakit dan menyesakkan. Namun begitu, senyuman tipis kemudian terulas di bibir Renata.
"Saya mengerti," ujarnya kemudian sambil berlalu menuju kamar mandi, tempat pakaiannya berada.
Tak lama kemudian, Renata keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang rapi seperti saat dia datang. Tatapan tajam Adnan langsung menyambut, membuat Renata tak kuasa untuk mengangkat wajahnya. Perempuan itu menghentikan langkahnya di hadapan Adnan dengan wajah yang agak menunduk.
"Saya sungguh sudah boleh pergi?" tanya Renata sekali lagi, masih dengan suara lirih dan ragu-ragu.
"lya." Adnan menjawab dengan nada datar.
"Kalau begitu, saya permisi," ujar Renata. Diraihnya tas tangan yang sebelumnya dia letakkan, kemudian beranjak untuk pergi.
"Tunggu dulu," tahan Adnan saat Renata hendak meninggalkannya.
Renata kembali menoleh ke arah lelaki itu dengan penuh tanda tanya.
"Tadi aku mengatakan akan memberimu tip jika kamu bisa memuaskanku," ujar Adnan sambil mengeluarkan dompetnya.
"Aku mengakui jika kamu memang sangat luar biasa. Kelihatannya kamu sudah sangat berpengalaman. Aku harus menghargai kemampuanmu itu."
Adnan mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dompetnya, kemudian melemparnya ke arah Renata hingga lembaran berwarna merah itu pun beterbangan melewati wajah Renata, sebelum akhirnya mendarat di lantai.
"Ambillah. Kamu pantas mendapatkan itu," ujar Adnan sambil tersenyum miring. Sekilas kalimat yang diucapkannya terdengar seperti pujian, tapi sebenarnya sebuah peghinaan yang sangat kejam.
Renata membeku. Serasa ada yang hancur di dalam hatinya. Ditatapnya Adnan dengan tatapan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Rasa sakit itu terlampau besar hingga rasanya hampir membuatnya mati rasa.
Akhirnya Renata membalas senyuman Adnan dengan ikut tersenyum pula. Harga dirinya terluka. Ah, tidak. Dia tidak berhak berpikir tentang harga diri karena memang sudah tak memilikinya sejak lama. Sejak dirinya menjadi seorang perempuan bayaran, dia telah membuang harga dirinya entah kemana.
Seolah tak memiliki rasa malu, Renata berjongkok memunguti satu persatu lembaran uang merah yang dilempar oleh Adnan padanya barusan, lalu memasukkannya ke dalam tas tangannya.
"Anda sangat murah hati, Tuan Adnan. Terima kasih," ujar Renata sambil kembali tersenyum. Setetes airmata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, namun cepat-cepat dia seka.
"Saya permisi." Renata bergegas melangkahkan kakinya menjauh dari Adnan, kemudian keluar dari kamar tersebut, sebuah kamar hotel yang tak akan pernah Renata lupakan seumur hidupnya.
Setelah berhasil meninggalkan bangunan hotel, barulah Renata menumpahkan apa yang sejak tadi dia tahan. Perempuan itu menangis dengan sangat memilukan di pinggir jalan, tak peduli jika banyak orang berlalu-lalang sambil memperhatikannya.
Puas menangis, Renata kemudian duduk di bangku halte sembari memikirkan nasibnya yang begitu malang. Dan dari semua hal buruk yang dia alami, bertemu lagi dengan Adnan adalah sesuatu yang paling tak ingin dia alami
Lelaki itu jelas sangat membenci Renata setelah apa yang terjadi di masa lalu. Adnan tak pernah tahu jika Renata melakukan itu semua bukan demi dirinya, tapi demi Adnan sendiri.
Saat Renata memutuskan semuanya, dia berharap Adnan akan terus hidup dan baik-baik saja meski kehilangan dirinya. Lelaki itu akan bertemu dengan perempuan lain yang akan membahagiakannya, dan mereka tak perlu bertemu lagi.
Tapi apa yang terjadi sekarang tak seperti yang Renata harapkan. Renata senang karena sepertinya sekarang Adnan telah hidup berkecukupan. Namun kenapa mereka harus kembali dipertemukan?
Sebuah notifikasi pesan membuat lamunan Renata tentang Adnan buyar. Setelah membaca pesan tersebut, segera dia menyeka sisa-sisa airmatanya, lalu beranjak. Renata menyetop sebuah taksi dan menaikinya hingga sampai di sebuah pemukiman.
Dia turun di pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalannya masuk ke dalam sebuah gang dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian, sampailah dia di sebuah rumah kontrakan sederhana yang bangunannya telah lapuk termakan usia.
Renata masuk ke dalam rumah tersebut, tapi tak lama kemudian keluar lagi dengan penampilan yang berbeda. Perempuan itu mengenakan baju dan celana panjang serta telah menghapus make-upnya. Dia kemudian kembali menaiki taksi menuju ke suatu tempat. Dan kali ini, taksi yang ditumpanginya mengantarkannya ke sebuah rumah sakit.
Dengan langkah tergesa, Renata masuk ke dalam bangunan rumah sakit tersebut. Meskipun jam besuk sudah berakhir, petugas medis yang berjaga di pintu masuk tetap memperbolehkannya lewat. Tampaknya sosok Renata sudah dikenal oleh mereka semua sampai diberikan akses yang tidak didapatkan oleh pengunjung yang lain. Hingga akhirnya, sampailah Renata pada sebuah ruang perawatan yang membuat langkahnya terhenti.
Renata menghela nafasnya beberapa kali untuk menetralkan gemuruh di dadanya, kemudian barulah membuka pintu ruangan tersebut. Sesosok bocah perempuan berwajah pucat tampak terbaring di brankar rumah sakit dengan selang infus terpasang di salah satu tangannya. Matanya terpejam, namum kemudian mengerjap lemah saat menyadari kedatangan Renata.
Anda Mungkin Juga Suka





