Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Back To School

Back To School

Diwi, Tari, Lani, dan Emily tergabung dalam geng Prit..Prit..Can yang berjanji takkan jatuh cinta pada kakak kelas. Sebagai detektif hiperaktif di SMA Siliwangi, mereka sibuk mengusut berbagai kejanggalan. Namun, komitmen mereka goyah saat benih cinta mulai tumbuh dan memicu konflik besar. Situasi semakin rumit ketika mereka menyadari bahwa mereka menyukai cowok yang sama. Kini, persahabatan dan perasaan mereka dipertaruhkan dalam sebuah pilihan sulit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah pelajaran Sejarah yang menurut geng Prit Prit Can sangat membosankan, kini tiba waktunya untuk pendidikan Jasmani. Waktu yang paling ditunggu-tunggu mereka berempat. Selain pelajaran yang menyenangkan, pendidikan Jasmani juga menyuguhkan pemandangan-pemandangan yang mampu untuk mencuci mata mereka. Banyak kakak kelas yang ganteng-ganteng dan keren-keren sedang olahraga di lapangan. Seperti, main basket dan Volly ataupun sejenisnya.

Hal ini yang sangat disukai Lani dan ketiga sahabatnya. Di depan pintu kamar mandi Diwi sibuk mengikat rambutnya dengan satu karet, sedang Tari sudah siap daritadi tetapi dia duduk-dudukan di sebelah kamar mandi sambil menunggu kedua sahabatnya yang masih berganti pakaian. Diwi dan Tari bersenda gurau menghabiskan waktu itu. Tidak selang beberapa menit, mereka berempat sudah selesai berganti pakaian. Lalu, menujulah mereka berempat ke tengah lapangan setelah menaruh pakaian hari Rabu yang mereka kenakan karena beberapa teman-temannya sudah bersiap untuk pemanasan sebelum melakukan kegiatan olahraga.

“Duuuk.”

“Akh.”

Ada bola Volly terbang tepat mengenai kepala Mily. Entah, siapa yang melempar. Sahabat-sahabatnya kebingungan dan menoleh sekeliling mencari tau dari mana bola itu berasal. Mereka tidak berhasil menemukan. Smashan bola Volly itu tidak main-main, sangat keras hingga membuat Mily terjatuh dan pingsan. Sontak semua murid mengalihkan pandangannya ke Mily dan berniat membantu membawanya ke UKS.

Dia, Emily Hayu Baskoro. Cewek kelas satu yang tergabung dalam geng Prit Prit Can tengah terbaring lemah di ruang UKS. Tubuhnya yang kurus membuatnya sedikit terpental setelah terkena bola Volly.

Sampai saat ini yang melempar smashan tadi hingga selesai jam olahrga belum juga ditemukan, sahabat-sahabat Mily sudah naik podium, eh. naik darah ding. Mereka bersumpah tidak akan memaafkan orang yang melempar bola ke kepala Mily.

“Siapa sih tadi yang ngelempar, lo, tau kagak, Lan, Tar?” Tanya Diwi pada kedua sahabatnya, mereka semua berkumpul di ruang UKS untuk menemani Mily yang belum siuman.

“Mungkin kakak kelas kita yang ganteng, cool, keren. Terus-terus, habis ini dia nolongi Mily pake kecupan hangat di kening, uucchh..ucchhh, so sweet.” ucap Lani kelakuannya tidak jauh-jauh dari rasa humor yang tinggi, tidak mengenal tempat dan kondisi.

“Diem, mulut, lo, tuh cium pasti bau bangkai, Lan.” ketus Diwi, “Kita harus nyari tau ini ke kakak kelas yang olahraga tadi!” selidik Diwi.

“Yuukk, yuuuuukkkk, caapcuuuuus.” Lani nyerocos.

“Sekali lagi, mulut, lo, nggak bisa diem, gue sumpel pake kaos kaki, Mily, Lan.” sahut Diwi bola matanya membulat.

Disaat mereka bertiga merencanakan sesuatu untuk mencari siapa gerangan yang melempar bola dan belum meminta maaf sampai sekarang. Tiba-tiba Mily membuka matanya dan memanggil nama mereka bertiga.

“Eh, Mily, bangun.” kata Lani.

“Gimana keadaan, lo, Mil. Masih pusing atau gimana? Atau kita bawa ke puskesmas, biar diperiksa?” Tari mengusap rambut Mily yang menutupi keringat.

“Ee-e nggak usah, Tar. Gue udah baikan.” Ucap Mily, “Udah, sekarang, lo, lo, pada masuk ke kelas, sekarang ‘kan udah mulai jam pelajaran Matematika! Perintah Mily.

Lani berjalan menuju Mily setelah mengambilkan air minum, “Oh, iya, sekarang waktunya Pak Munawar. Kalo kita nggak masuk, abis kita entar.”

“Bolos aja sekali-sekali.” Sahut Diwi.

“Eh, jangan dong. Kita harus menjadi murid yang teladan dan berbakti kepada Guru. Biar bagaimanapun kita butuh beliau-beliau.” Tari memberikan wejangan.

“Bacot.” Tutup percakapan dari Diwi.

“Udah, cepet kalian masuk kelas, guys.” Ucap Mily kepada ketiga sahabatnya itu.

“Udah, ayoook, gue takut kena marah.” Kata Lani dengan menggandeng kedua tangan temannya dan berucap hati-hati kepada Mily.

Berlalulah ketiga teman Mily, kini Mily seorang diri di ruang UKS. Keadaan kepalanya masih pusing, sesekali dia memijatnya pelan-pelan agar tidak terlalu sakit. Dia tidur terlentang dengan kepala menatap keatas, banyak sekali yang dia pikirkan. Terutama siapa yang melemparnya dan tidak minta maaf. Sebenarnya tidak apa-apa batinnya, walaupun tidak meminta maaf tetapi Mily begitu penasaran. Apa salah Mily sampai ada yang melempar dengan bola Volly begitu keras hingga pingsan. Di dalam hati, dia berniat mencari orang itu, untuk menanyakan maksudnya melempar bola. Dia sengaja atau tidak, itu yang terngiang-ngiang di pikiran Mily atau mungkin juga ketiga sahabatnya.

Jam istirahat, Mily berniat kembali ke kelas, di ruang UKS dia menyempatkan merebahkan tubuh agar saat bangun nanti sudah enakan dan tidak pusing lagi. Karena Mily pingsannya lumayan cukup lama. Dia pun juga tidak memberi kabar orangtuanya, takutnya mereka bergegas ke sekolah dan menjemput dia untuk pulang.

“Permisi!” suara serak digaungkan dari balik pintu UKS. Samar-samar terlihat bayangan seseorang.

“Ya, siapa?” Tanya Mily dengan suara lirih.

“Boleh masuk?”

Tap!

Tap!

Suara sepatu berjalan menuju Mily, belum dipersilakan masuk. Dia menerobos begitu saja tanpa rasa sungkan.

“Siapa, lo?” Tanya Mily.

“Gimana keadaan kepala, lo?” Tanya balik dari seorang laki-laki bertubuh tinggi dan bersuara serak-serak becek.

“Lo, siapa, gue, nggak kenal, lo!!! Suara Mily menunjukkan ketidaknyamanan. Dia sedikit menjauhkan tubuhnya.

“Nggak usah banyak tanya, sekarang gue mau mastiin kepala, lo, yang kelempar bola Volly tadi. Lo, alesan aja ‘kan tadi biar semua temen-temen, lo, pada perhatian.” Kata laki-laki itu, menuduh Mily. Kini dia berada dekat sekali dengan Mily.

“Lo, ini siapa, datang-datang ngomong nggak jelas, haissh…..” Mulut Mily mengerucut.

“Argan. Kenalin gue Kana Bagas Arganta, jelas?” Argan menatap Mata Mily tajam-tajam sambil memberikan tangan kanannya.

Mily memalingkan wajah, “Terus ngapain, lo, kesini?” Tanya Mily sekali lagi.

“Udah, ya, gue cabut dulu. Tuh kepala, udah baik-baik ‘kan.” setelah berucap, Laki-laki itu pergi meninggalkan Mily begitu saja.

“Wiiiihh, setan, kagak minta maap, kagak bawain makanan, apaan kek gitu.” Batin Mily sebal.

Setelah Argan pergi menjauh dari hadapan Mily. Dia kembali merebahkan tubuhnya. Lagi asik-asiknya menikmati kenyamanan yang hakiki ada saja pengganggu datang secara tiba-tiba. Mily memposisikan lagi bantal yang dia pakai, wajahnya kembali menatap ke atas, matanya sedikit-sedikit dipejamkan. Namun, secara tidak langsung, bibirnya tersenyum tipis gara-gara tingkah laki-laki tadi alias Kana Bagas Arganta. Ada apa dengan pikiran Mily?

Jam bel pun berbunyi, baru beberapa detik menutup mata, mily kembali terganggu. Dia menggerutu kepada bantal yang ada disampingnya. Sekarang waktu rebahannya sudah habis, dia harus kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Pelajaran Matematika tadi, dia sudah di izinkan tidak mengikuti karena masih sakit di UKS. Setelah merapikan tempat tidur di UKS, dia bangkit dari UKS dan kembali menuju kelasnya. Senyum tipis tadi masih belum lenyap, yang ada dia malah cengar-cengir tidak jelas. Sakit kepalanya sudah tidak dirasakan, dia malah merasakan yang lain!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanyalah bayang-bayang Lyra, bibiku sendiri. Saat ayahku wafat, Kaelan justru mengabaikanku demi wanita itu di Paris. Kebenaran pahit terungkap di ruang rahasianya; seluruh pertemuan kami hanyalah rekayasa agar dia memiliki pengganti Lyra. Kini, mengandung benihnya, aku membalas dendam dengan tipu daya. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan dan surat penolakan resmi, aku pergi selamanya menuju benua baru.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel DENDAM CINTA
9.8
Fanila tewas mengenaskan akibat pengkhianatan kekasihnya dalam sebuah misi berbahaya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua melalui reinkarnasi ke tubuh Ziana, gadis yang dibenci keluarganya sendiri. Di kehidupan baru ini, Fanila kembali bertemu sang mantan yang ingin ia hancurkan. Masalah rumit muncul karena pria itu adalah kakak dari kekasihnya saat ini. Kini ia terjebak pilihan sulit: menuntaskan dendam lama atau menjaga cinta barunya.
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur
8.3
Felisha membuktikan bahwa wanita yang tersakiti mampu menjadi sosok yang sangat tangguh. Demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya, ia bergabung dengan Agency The Angel sebagai wanita panggilan kelas atas. Bersama sang adik, Shasya, Felisha rela terjun ke dunia prostitusi elite demi melacak sang pembunuh. Mereka mempertaruhkan segalanya dalam misi berbahaya ini demi mengungkap kebenaran dan membalas rasa sakit hati yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?