
Back To School
Bab 3
“Duuuuaaarrr…
Mily mengagetkan Lani yang duduk disebelah pintu kelas, dia menghadap membelakangi pintu. Sedang enak-enaknya ngegibah dengan sahabat-sahabatnya.
“Badak, lo.” Mulut Lani sontak berucap yang tidak jelas artinya.
“Udah sembuh, lo, Mil? Tanya Diwi.
“Udah dong, udah baikan nih.” hehehe, “Kok nggak pada ke kantin nih?” tanya Mily kepada tiga sahabatnya.
Terlihat Tari sibuk mengerjakan tugas yang diberikan pak Munawar barusan, selain paling rajin, Tari juga sangat menyukai pelajaran Matematika. Berbeda 180% dengan ketiga sahabatnya. Yang sangat anti Matematika, sejarah, dan ada beberapa mata pelajaran lainnya. Niat sekolah apa kagak sih?
Lagi serius-seriusnya mengerjakan tugas, Tari dihampiri oleh Mily yang membawa tipe x. Digenggamnya benda itu kemudian dibubuhkan pada buku Tari secara acak, tulisan Tari yang semula sudah rapi, ciamik, aduhai, lalalala. Kini rusak karena bekas coretan benda itu yang dibubuhkan ngawur.
“Apaan, sih, lo, Aseeem!! ucap Tari sembari melayangkan pukulan ringan ke tangan Mily.
“Ih, sukurin…weeeeek.” bukannya kesakitan, Mily malah tambah mengejek sahabatnya itu.
Kedua sahabatnya juga tertawa ringan melihat tingkah laku Tari dan Mily. Ada saja kelucuan-kelucuan yang mereka ciptakan. Persahabatan mereka harmonis. Ada tawa, ada perhatian, ada duka, ada-ada saja. Jika salah satu dari mereka mengalami kesusahan ataupun rasa sakit. Yang lain tidak akan tinggal diam, pasti mereka berusaha melindungi, berusaha menjadi yang terdepan untuk menolong. Seperti halnya, peristiwa tadi sewaktu Mily pingsan gara-gara smashan bola Volly. Lani, Belani Dewi Atmojo, yang notabene jago pencak silat, bersikeras untuk mencari siapa yang melempar. Sampai-sampai sahabatnya yang tak lain dan tak bukan, Diwi dan Tari juga bersumpah tidak akan memaafkan pelakunya jika sampai ketemu.
Begitulah perhatian-perhatian yang mereka ciptakan. Susah senang, mereka sudah patenkan untuk selalu ada saat dibutuhkan. Tawa dan tangis, sudah seringkali mereka dapatkan. Adapun, dengan rangkulan, satu per satu masalah mereka terbinasakan.
Ada raut wajah bahagia yang dipancarkan Mily, sewaktu datang dari UKS, senyum merekah ditampilkan kepada sahabat-sahabatnya.
“Lo, kenapa, Mil, girang banget, dasar bocah tengik?” selidik Lani yang Mily kagetkan tadi.
“Ih, biasa aja tuh, gue.” Mily menjawab dengan bibir menyuncup.
“Gue, mencium bau-bau tidak seperti biasanya, cepet, lo, jujur, habis ngapain, lo, di UKS tadi?” gini giliran Tari yang memastikan.
“SUMPAH, gue, biasa aja, tetep sama. Tetep Emily Hayu Baskoro, yang kalian kenal.” Hahaha.
Diwi tetap dengan ciri khasnya, diam, menyaksikan sahabat-sahabatnya bencengkrama. Sesaat kemudian, dia beranjak dari bangkunya, menghampiri Mily yang masih berdiri di depan Tari. Dari belakang, kerah baju Mily di jinjingnya, lalu disuruh duduk tepat didepannya.
“Ngaku nggak, lo! Perintah Diwi, kaki kanannya diangkat dan dipinjakkan dikursi tempat duduk Mily, dia bergaya seperti seorang detektif yang mencari informasi.
“Tuh, liat, Diwi, guys. Uuccch…., cantik banget kalo udah bergaya.” Lani menimpali pujian dengan tertawa kecil. Kali ini Diwi tidak menggubris pujian Lani. Dia tetap pada posisinya.
“Okkeeeeh, gue, mau jujur. Tapi singkirin dulu kaki, lo, yang bau petis ini.” Sekarang gantian Mily menimpali Diwi dengan ejekan.
“Congooooor, lo, amis.” Tangan kanan Diwi mencubit pipi Mily.
Saat itu juga Mily bercerita panjang kali lebar kali tinggi pada ketiga sahabatnya. Bahwa, setelah ditinggal sendirian di ruang UKS. Tidak selang beberapa lama, Mily di hampiri laki-laki yang sepertinya itu kakak kelas mereka. Ketiga sahabatnya kali ini lebih antusias. Lani menarik bangkunya mendekat ke Mily, Tari juga demikian, Diwi tidak berubah posisi. Mereka memandangi Mily girang. Mendengarkan cerita Mily yang sepertinya menarik untuk di dengar dan dihayati. Tidak di lebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi. Mily jujur apa adanya kepada ketiga sahabatnya.
Sampai pada inti cerita, Mily tidak luput sedikitpun karena memang ingatannya masih kuat. Disamping baru saja dialami, Mily juga bahagia ketemu dengan laki-laki tersebut walaupun kesan pertamanya menyebalkan.
Terkadang, setiap manusia membawa kesannya masing-masing. Entah baik, entah buruk, ataupun menyebalkan. Kesan pertama adalah kesan yang manis. Seperti Jus Boba rasa taro dicampur dengan susu kental dan misis warna-warni. Ah, membahagiakan.
Mily terus melanjutkan ceritanya, mereka duduk dan terpaku dengan cerita Mily. Hingga Mily belum selesai cerita. Sahabatnya tiba-tiba menyimpulkan sendiri-sendiri tentang kejadian yang dialami Mily.
“Ah, Mily, bikin ngiri, gue. Gue mau dong.” ucap Lani dengan kedua tangan menghimpit tubuhnya yang kecil dan memasang wajah yang paling manis.
“Nganan, aja, lo.” Ketus Diwi ke Lani. “Gue, nggak terima kalo dia tiba-tiba ninggalin, Mily, begitu aja. Dikira, Mily, nggak butuh bantuan atau sekedar minta maaf. Songong banget jadi cowok,” Diwi memuncak, kali ini dia tidak mau tinggal diam. “Siapa yang mau ikut, gue, ngelabrak tuh, cowok. Biar bacotnya nggak asal-asalan. Enak aja, main tinggal gitu aja, shiitt.” Diwi berdiri dan ingin melangkah keluar kelas, tetapi ketiga temannya melarang, tangannya diraih Mily. Pertanda untuk menyuruh duduk kembali.
“Betul kata, lo, Diw. Kita harus ke cowok itu. But jangan buru-buru. Kita main aman aja. Kita masih baru disini. Takutnya entar kalo kita gegabah, yang ada kita malah runyam sendiri.” Tari memberikan opsi.
“AAAAHH…, Lama, lo, lo, semua. Udah biar, gue, sendiri yang kesana.” genggaman Mily kali ini terlepas, hati Diwi sudah membeku, bongkahannya keras sekali. Tidak ada yang bisa membendung ataupun menghancurkan.
“Diwiiiii, jangan, tunggu, gue.” teriak Lani memperingatkan sahabatnya.
Diwi berjalan keras keluar kelas, matanya mengelilingi setiap laki-laki yang dia temui dan sesekali bertanya kepada Mily yang sedari tadi mengekor.
“Lo, diem, aja, Mil.” Tegas Diwi, kali ini Mily hanya diam dan terus menjadi ekor.
Diwi tetap berjalan, memasuki satu per satu kelas 3, yang sepengetahuan Mily bahwa Argan adalah kakak kelas mereka. Mulai dari kelas Bahasa Indonesia, IPA, hingga kelas paling garang yaitu IPS. Mereka sempat dipelototin kakak kelas mereka yang cewek-cewek, tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah Diwi dan ketiga sahabatnya.
Mereka masih belum menemukan yang mereka cari, hingga terakhir masuk ke dalam kantin. Matanya berputar mengelilingi sudut-sudut kantin, beberapa laki-laki dicermati sampai detail. Kemudian, yang mereka cari sepertinya ada di depan meja kantin bagian tengah, dia membelakangi mereka berempat.
“Eh, elo, kampreet….” Ucap Diwi menarik bahu laki-laki itu. “Wih, maaf, Pak. Saya salah orang.” Ternyata Guru bahasa Indonesia. Hahaha, sorry, bercanda.
“Eh, elo, lo, Argan ‘kan?” tanya Diwi menarik bahu laki-laki itu dan kemudian Argan menoleh ke Diwi.
“Jawaaaaab, elo, Argan, ‘kan?” sekali lagi Diwi bertanya dengan ucapan sedikit diperkeras.
“Ya.” Argan kembali membalikkan badan dan menyeruput es yang ada dihadapannya.
Sekarang Diwi duduk pas di depan Argan, dia menatap matanya tajam. Namun, Argan tidak menggubris, dia tetap santai tanpa merasa terusik.
Sedangkan ketiga sahabatnya masih berdiri dibelakang Argan. Diwi melambaikan tangannya untuk menyuruh mereka duduk disebelahnya.
“Uuuchh, Mily, ganteng banget, kak Argan!” bisik Lani tepat di telinga Mily. “Mau, dong, kenalin, gue.” Hehehe. Lani malah cengar-cengir padahal situasi sedang memanas.
Dari sudut-sudut kantin, dari kursi-kursi tempat mereka melepas dahaga. Semua mata tertuju kepada mereka berempat. Tak luput Argan juga jadi pusat perhatian karena dilabrak adek kelasnya.
Banyak pasang mata yang menyaksikan dan banyak bibir yang memberikan beberapa pertanyaan. “Ada apa dan mengapa?”
Anda Mungkin Juga Suka





