Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Baby Han - (Gx G)

Baby Han - (Gx G)

Mikaela, janda muda asal Thailand yang tengah hamil lewat program bayi tabung, memulai karier di perusahaan J.H Fashion, Seoul. Meski bercerai dari David karena dikhianati, bakatnya menarik perhatian Minwo Han. Namun, Judith Han, sang pemilik perusahaan yang merupakan seorang lesbian, justru mulai terpikat secara alami setelah mengambil alih urusan Mikaela. Ketertarikan Judith berkembang menjadi obsesi mendalam saat ia terus memikirkan sosok Mikaela dalam benaknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ruang kerja Mikaela tampak hening, wanita ringkih tersebut masih belum sadarkan diri. Sementara Minwo dan Judith masih setia menemaninya, tak banyak kata yang terucap, sepertinya mereka larut dalam pikiran masing-masing.

Minwo POV.

"Apakah tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, Noona?"

Dia tidak sadarkan diri cukup lama, membuatku merasa sangat khawatir. Baru saja aku membuka pintu membawa nasi goreng kimchi, kupikir dia akan menyukainya. Namun, yang kulihat adalah Judith tengah menggendongnya keluar dari kamar mandi.

Wajahnya terlihat lebih pucat dengan bulir keringat yang membasahi.

Aku berlari membantu membaringkan tubuh lemah itu di atas sofa. Bersyukur aku telah memaksa Judith untuk memberi Mikaela ruangan pribadi yang cukup nyaman.

Tatapan iri dari karyawan lain menambah daftar khawatirku atas dirinya.

Mikaela selalu menyimpan rasa sakitnya sendiri, bahkan saat aku tahu ada salah seorang senior yang mengakui dan meng-klaim desain miliknya. Namun, tidak ada kalimat protes terlontar dari mulutnya, seakan gadis itu menerima begitu saja dan memilih melupakannya.

Aku pernah melihatnya keluar dari kamar mandi dengan mata terlihat sembab. Ada bekas air mata yang dia sembunyikan.

"Aku masih bisa membuat yang lain."

Aku tahu dalam kalimat tersebut ada rasa pahit dan kekecewaan.

Wajahnya selalu terlihat pucat. Aku berpikir kondisi fisiknya rentan, tapi dia berusaha memperlihatkan sebaliknya.

Dia juga sangat sensitif terhadap suhu rendah, hampir setiap hari masuk angin hingga begitu sering memuntahkan makan siangnya, menu dari kantin perusahaan.

Ini sungguh aneh, tetapi aku tetap berpikir mungkin dia belum terbiasa.

Maka kucoba mengajaknya makan bersamaku, makanan yang kumasak sendiri dari rumah. Anehnya, apapun yang kusuka dia juga suka dan tidak sekali pun memuntahkannya. Nampaknya, perut Mikaela bersahabat dengan perutku, selera kami tidak jauh berbeda.

Meski, menimbulkan rasa penasaran di dalam benakku. Bukankah mereka sama-sama makanan Korea?

Mikaela baru pindah ke Korea sekitar sebulan lalu setelah desain yang dia kirim melalui email terpilih untuk mendapat kontrak sebagai desainer pemula. Aku yang memilihnya.

Sebelumnya dia tinggal di Bangkok. Takdir membawanya pada kami. Dia membeli apartemen di sebelah milik kami, aku dan Noona.

Jadi, kami adalah tetangga.

Wanita muda yang berstatus janda di usia 27 tahun, berkulit cokelat bersih dengan mata berwarna cokelat terang. Rambut ikal sebahu yang lebih sering diikat, gadis kami tidak suka berdandan tebal. Sepertinya dia hidup dalam kesederhanaan, meski apartemen yang dia beli cukup mewah.

Beberapa hari aku mengamatinya baik di tempat kerja maupun saat berpapasan di rumah, belum kulihat tanda-tanda kebiasaan anehnya. Dia bahkan melewatkan hangout untuk minum atau pergi ke klub malam. Hanya bekerja, selebihnya keluar untuk belanja di supermarket. Dia tidak memiliki mobil, jadi menggunakan taksi kemana pun.

Sikapnya yang sangat mudah dibodohi dan seakan tidak memiliki rasa dendam membuatku dipenuhi rasa khawatir.

Selain, dia memakan apa pun yang kusukai. Itu poin utama aku suka dia.

Aku tidak memiliki alasan khusus lain untuk menyukainya.

Hanya saja, di antara karyawan wanita di kantor hanya Mikaela yang menatapku berbeda. Dari balik manik cokelat terangnya aku tidak melihat sorot hasrat atas diriku. Tidak seperti gadis lain.

Mikaela bukan seorang yang haus belaian pria atau bahkan memohon untuk sebuah rasa cinta. Tidak juga tatapan mata dengan menyimpan maksud untuk mencuri perhatianku karena hubunganku dengan Judith. Aku tidak berpikir dia haus akan uang.

Meski dia terlihat ketakutan jika berurusan pada para seniornya hingga memilih untuk menjaga jarak dan selalu mengalah. Tapi tidak padaku. Sikapnya padaku berbeda. Hanya Mikaela yang berani berdebat denganku jika itu menyangkut desain.

'Klik,' adalah kata yang tepat untuk kami.

"Minwo'ya, ambilkan minyak angin!" Suara Judith menjeda pikiranku.

Tanpa menjawab aku segera mencari benda tersebut di dalam tas hitam yang dibawa Mikaela. Judith melempar tatapan tajam padaku, aku hanya memicingkan mata dengan senyum miring. Sesaat tanganku menunjukkan benda yang tengah kami cari.

"Kau tahu benda itu ada di dalam tas?"

"Iya. Aku sering melihatnya mengambil dari sana," jawabku.

Dengan sedikit minyak yang diusapkan pada lehernya, hingga bau yang menguar menyegarkan hidungnya, sesaat kemudian mata bulat Mikaela mulai terbuka.

Dia terlihat terkejut dan berusaha mengangkat tubuhnya bermaksud untuk beranjak duduk. Tiba-tiba raut wajahnya berubah tegang dengan mengernyit hingga terlihat lipatan di dahinya, sepertinya Mikaela merasa perutnya kram. Bibirnya mendesis tipis. Oh bagaimana tidak, telah bermenit-menit dia memompa perut untuk muntah.

"Sssttt! Jangan bangun, Kae!" ucapku.

Air matanya menerobos dari sudut matanya. "Maaf!" ucapnya lirih.

Tanpa sadar tanganku terulur mengusap perlahan perutnya, hingga dia merasa lebih baik. Tatapan mataku beradu dengan Judith yang tengah merengkuh tubuh Mikaela. Kakakku tersenyum, lalu aku mengangguk tanda mengerti.

"Nyamankan dirimu, Kae! Sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang!"

"Tapi, Nona---" Kae menawar. Tatapan matanya masih berkaca-kaca, ada rasa menyesal dari sorot itu.

"No debat!" Judith berkata.

________

Judith POV.

Tatapan matanya yang berair sekali lagi menusuk jantungku.

Di usianya yang masih cukup muda tidak seharusnya dia menjadi seorang janda dan terkubur dalam pikirannya akan mantan suaminya. Bagaimanapun, kondisi mental seseorang akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.

Mungkin lain kali aku harus mencari tahu hal yang dia sembunyikan dari kami.

Mikaela ....

Dari awal pemilihan desain baju malam, di antara ribuan pelamar, hanya goresan pensilnya yang menarik perhatianku. Lebih tepatnya Minwo.

Anak nakal itu mengatakan bahwa ada aura kepolosan serta percikan dari tiap goresannya. Aku tidak habis pikir dengan penilaiannya. Terlebih ketika Minwo bilang bahwa Mikaela berasal dari Thailand. Ini terlalu gila.

Aku bahkan bertanya apakah sepadan jika harus melintasi batas negara untuk posisi ini?

Sebuah posisi dengan label pemula.

Tampaknya Tuhan yang memilih jalan untuk kami semua bertemu. Secara kebetulan Mikaela telah menjadi tetangga kami.

Apakah Kalian berpikir bahwa semua ini telah direncanakan?

Untuk gadis sebodoh dia?

Oh, tidak. Aku telah memastikan sendiri hingga cukup yakin berapa ram di otaknya.

Aku telah mencari tahu semua tentang dia, baik pribadi maupun sekolahnya yang terputus, serta keluarganya, kecuali kehidupan pernikahannya dengan seorang pria Thailand bernama David.

Informasi tentang mereka berdua terputus. Aku tidak menggalinya lebih jauh karena bukan urusanku, maka aku melepaskan begitu saja masalah tersebut.

Setelah seminggu lebih dia bekerja di J.H Fashion kulihat gadis itu mulai menarik perhatian Minwo. Aku menyadari bahwa adikku mulai menambah bekal makan siang satu lagi untuk Mikaela. Saat itu, wanita muda yang lebih nyaman kusebut gadis tersebut masih belum menyadari bahwa aku adalah bosnya.

Kami tetangga, Mikaela tahu. Bahwa aku adalah saudarinya Minwo, dia juga paham. Tapi, untuk namaku, dia bahkan tidak pernah berminat untuk bertanya.

Hingga aku menghampiri mereka saat makan siang di kantin. Saat itu Mikaela seperti terkesiap atas kehadiranku, lalu menatapku lama dengan setengah melamun. Kurasa mungkin saat itu dia membeku olehku.

Atau mungkin juga telah menjadi sebuah kesenangan yang selalu dia lakukan.

Karena, mirip terpesona dengan wajahku.

Oh, ayolah ... kami bahkan baru saja bertemu.

Tapi, jika dipikir lagi, nampaknya gadis ini telah menyerah kalah atas diriku. Dia mirip seorang omega yang berpikir menemukan aku sebagai mate-nya. Itu terdengar sedikit konyol.

"Minwo, Kakakmu mencari!" bisiknya lirih saat aku melangkah mendekat.

Gadis konyol, dia bahkan tidak menyadari tatapan hormat dari semua karyawan yang ada di kantin, hingga Gauri datang.

Saat menyadari asistenku memanggilku 'bos', Mikaela terlihat sangat terkejut hingga spontan menutup mulutnya.

"Boss??" Seolah menjadi seorang paling bodoh di sana, dia menatap kami bergantian.

_______

Pagi ini untuk kesekian kalinya aku membawa Mikaela pergi dan pulang kerja bersamaku.

Entah untuk alasan apa, tapi aku merasa terganggu melihatnya dan Minwo terlalu dekat, termasuk duduk dalam satu mobil.

Mungkin aku telah menjadi kurang waras karena memaksa untuk mengambil alih tugas tersebut.

Di luar dugaan, alih-alih memprotes untuk bertahan dan tetap mau bersama gadisnya, Minwo merespon dengan bersorak menang. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalanya.

Kurasa semakin sering bergaul dengan Mikaela membuatnya tertular penyakit bodoh.

Namun, di sisi lain aku paham bahwa Mikaela secara perlahan telah menduduki urutan kedua dalam daftar orang yang dia khawatirkan keselamatannya setelah aku tentunya.

Aku cemburu?

Oh, ayolah! Itu pemikiran aneh.

Untuk apa?

Dia hanya seorang karyawan biasa seperti yang lainnya. Iya, seorang karyawan yang sedikit menarik perhatianku.

Ada sesuatu darinya yang menarikku untuk mendekat secara alami. Selain cara berbicaranya yang seolah menganggapku berada di level sama dengannya, cara dia menatapku pun cukup unik.

Mikaela sering menatapku lekat seolah dia mau tubuhku berada sangat dekat dengannya--atau bahkan menghimpit tubuhnya.

Aku sempat berpikir mungkin dia tengah berusaha mencuri untuk membauiku. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia berusaha keras menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. Lalu mataku juga menangkap ketika tubuh gadis itu membeku beberapa detik. Ini mirip seseorang yang sakau dan menjadikanku candu atas kebutuhannya.

Perasaan membutuhkan yang sangat hingga mungkin akan mati ketika tidak mendapatkannya.

Benar, itu yang kutangkap saat kami berdekatan.

Selain ... kebiasaannya menggigit bibir bawahnya saat berada dalam situasi canggung.

Semakin kuperhatikan caranya menggigit bibir, ternyata cukup terlihat sensual. Bagaimana bibir lembut tersebut beradu dengan gigi putihnya.

Oh, terlintas dalam otakku untuk menggantikannya melumat dan menghisapnya lembut, lalu kuakhiri dengan gigitan kecil.

Aku menekan diriku dari mendesah ketika dia melakukannya. Namun, hal itu juga yang menjadikanku kesal untuk melihat dia melakukannya di depanku sambil menunduk canggung.

Semua karena hasratku tersulut.

Maka hari ini tak bisa lagi kutahan mulutku dari memprotesnya. Pilihannya hanya dua, yaitu memintanya berhenti atau memakan bibirnya saat itu juga--yang tidak mungkin berhenti pada bibirnya saja.

Apakah aku tadi berpikir untuk menjilat, menghisap, dan menikmati tubuhnya ..., terutama tubuh bagian bawahnya?

Setiap detail tentang dirinya mulai membuatku frustrasi.

"Tidak, jangan lagi!" perintahku.

"Iya?" Dia mendongak untuk menatapku penuh tanya.

"Jangan menggigit bibirmu lagi, Kae!" Sial! Mulutku kelepasan.

Sekilas aku melihat ketakutan di matanya atas kalimatku. Di saat yang sama dari manik cokelat terangnya juga menampakkan percikan bahagia. Sorot mata itu terlihat mirip sebuah cermin. Terpampang nyata tanpa hal yang tertutupi.

Aku terkesiap atas kata-kataku sendiri, wajahku mulai memanas, tak mungkin kubiarkan gadis ini membaca hal yang dia ingin tahu dari balik mataku. Maka aku secepatnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya.

"Sial! Bibirnya begitu menggemaskan. Hasratku meronta," aku menggeram pelan ketika sampai di ruanganku.

_______

"Nyamankan dirimu, Kae! Sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang!" aku berkata.

"Tapi, Nona …." Mikaela menawar. Tatapan matanya masih berkaca-kaca, ada rasa sesal tertangkap olehku. Mungkin juga dia merasa takut padaku, lalu ketakutan yang melebihi kesehatannya tersebut membuatku semakin gemas.

"No debat!" Keputusan akhirku.

Gadis yang aneh. Itu yang lagi dan lagi terpikirkan olehku. Dia bukan tipeku sama sekali--jauh dari sempurna dan hanya akan menjadi batu sandungan saja jika berpikir untuk memiliki.

Tapi, saat Minwo mengirim pesan singkat tentang keadaannya beberapa menit lalu, tanpa berpikir panjang aku berjalan cepat meninggalkan ruanganku. Mengabaikan beberapa tamu pentingku. Persetan dengan mereka semua.

Aku tidak tahu apa yang menjadikanku seperti ini. Kurasa sebentar lagi aku akan sulit berjauhan darinya karena rasa khawatir yang menyeruak setiap detiknya.

Aku bahkan tidak menggenggam alasan untuk setiap sikap impulsifku jika menyangkut dirinya.

Yang jelas, jiwaku terseret dengan rasa khawatir yang terasa mirip mencabik dadaku. Aku mau ada bersamanya saat ini juga.

Gadis ringkih itu, pagi ini memang terlihat kurang sehat--meski sejak pertama kerja dia telah terlihat menguatkan dirinya.

Saat aku memasuki ruangannya, adikku beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke pantry bermaksud memasakkan nasi goreng kimchi untuknya. Iya, pemeran utama kita yang tengah memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Aku berjalan cepat memasuki kamar mandi yang terbuka, tampak Mikaela tengah berjongkok masih dengan menggeram berkali-kali atas rasa tak nyamannya.

Tuhan, kurasa gadisku tengah masuk angin lagi.

Semua berjalan begitu saja tanpa melibatkan logikaku. Aku bahkan membiarkan jemariku terulur untuk memijit tengkuknya. Kurasakan tubuhnya berjengit, mungkin dia kaget. Tapi, kurasa apa yang tengah memerangkapnya belum mau melepaskannya bahkan untuk memalingkan wajahnya menatapku. Kurasa dia juga tidak menyadari keberadaanku.

Nampaknya, rasa mual membelenggu atensinya.

Hingga beberapa menit kemudian saat dia mencoba beranjak bangun, tubuh lemas tersebut meluruh jatuh jika saja aku terlambat merengkuhnya.

"Kae! Oh, God! Kaehh!" Aku berteriak berusaha menggugah kesadarannya tapi sia-sia.

Dia hanya bergumam lirih menyebut namaku sebelum akhirnya menyerah untuk pingsan.

___________

"Makanlah sedikit lagi, Kae!" bujuk Minwo. Gadis kami menolak, tapi setidaknya lima sendok nasi goreng itu telah memasuki perutnya.

"Ah-aku mual, Minwo!" Dia berkata lirih.

"Okay. Kita pulang sekarang!" Suaraku menginterupsi perdebatan mereka. Entah kenapa aku cukup terganggu bahkan ketika keduanya tengah berdebat. Bukan karena cemburu. Catat itu!

"Uhm ... akan kukerjakan tugasku di rumah, Nona." Mikaela bahkan masih memikirkan pekerjaannya.

Tanpa menjawab, segera kubantu dia untuk beranjak bangun. Tubuhnya masih lemas. Minwo merasa begitu tidak tega, maka dia menyelipkan tangannya pada bahu Mikaela dan meraih sisi belakang pahanya, lalu menggendongnya ala bridal menuju mobilku yang telah tersiapkan di depan kantor.

Aku sempat kaget atas tindakan tiba-tiba adikku. Untuk sesaat mataku membulat, namun aku paham semua karena dia khawatir pada tetangga baru kami. Benar ..., pasti itu yang terjadi.

"Apakah kau mau kuantar ke rumah sakit?" Aku berkata, sementara Mikaela bersandar di kursi yang berada di sebelahku dengan tubuh lemahnya memalingkan wajah malas untuk menatapku lekat.

Kurasa dia begitu menguatkan dirinya di depanku. Atau mungkin bersikap sok kuat. Aku bahkan tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya saat ini.

Sesaat, terlihat dari ekor mataku tubuhnya berjengit dan sedikit bergetar. Spontan dia menggunakan telapak tangan untuk menutup mulutnya. Sepertinya dia merasa mual lagi. Maka kupelankan laju mobilku untuk menepi dan berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi.

"Kau ingin muntah lagi?" Aku bertanya padanya.

"Maaf, Nona. Ti-tidak!" Ucapannya terdengar cukup tak jelas karena mulutnya masih dia bekap.

"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Apakah kita ke rumah sakit saja?" Aku kembali bertanya meminta persetujuannya.

"Ti-tidak. Hanya …." Kae mencicit.

"Katakan!" Aku meminta, bukan ... tapi memberi perintah. Sikapnya yang lamban sungguh sangat jauh dari seorang aku. Ada rasa gemas yang menyeruak setiap berbicara dengannya.

"Uhm ... tidak jadi," Dia merasa canggung. Lalu aku semakin tidak sabar. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya untukku menahan dari sikap keras kepalanya.

"Kae!" ucapku dengan memberi penekanan. Mataku menatapnya lekat. Sementara lipatan di dahinya semakin nampak.

"Bau parfum Anda, aku merasa lebih baik dengan menghirupnya." Akhirnya kalimat yang terdengar cukup absurd itu keluar dari tenggorokannya yang terdengar mirip tercekat ketika mengucapkannya.

"Maka lakukan!" Aku menyuruhnya. Dengan perasaan penasaran, apa yang akan dia lakukan dengan bau tubuhku. Gadis aneh.

Kae melepas sabuk pengaman untuk berusaha beranjak dengan susah payah, tubuh mungilnya menaiki pangkuanku, memeluk dan mengubur wajahnya di perpotongan leherku. Aku terkesiap hingga harus menekan napas, air liurku menumpuk di tenggorokan atas tindakannya yang tak kusangka. Aku bahkan menelan ludah kasar.

"Huhhh ... ahhhmmm ... maaf, Nona!" Dia berkata di antara kesibukannya mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhku. Beberapa saat, lalu kurasakan tubuh tegangnya perlahan rileks. Seakan setiap otot di sekujur tubuhnya yang sesaat lalu stress kini mengendur.

Ini telah berada sedikit jauh dari nalar, dari nalarku karena ekspresinya lebih mirip seseorang yang mengalami euforia setelah menderita oleh sakau yang mungkin akan mati jika tidak mendapatkan obatnya.

Aku merasa seperti candu baginya.

Tangannya bergerak melingkari punggungku untuk mengusapnya pelan. Lagi, aku merasakan desiran aneh mengisi laju darahku. Membuat tanganku terulur untuk mengusap rambut dan membelai punggungnya.

"Baby …." Dia bergumam lirih dengan napas menyembur teratur di dadaku. Mataku meliriknya, dia tertidur.

Tuhan, apa yang tengah dia alami?

Penyakit apakah yang membuat gadis muda ini begitu menderita?

Banyak kalimat tanya yang mulai mengambil posisi mereka untuk berebut memenuhi ruang di kepalaku.

Aku juga menyadari sesuatu yang bahkan tak dapat kumengerti, bahwa saat ini hatiku merasa tertusuk duri, namun ada rasa nyaman di saat yang sama.

Rasa nyaman setelah menyimpulkan berdasarkan asumsiku pribadi, bahwa aku adalah candu baginya. Benar, dia mungkin akan sering mencari pelukanku untuk mengendus bau tubuhku.

Mungkin dia telah menyeretku untuk jatuh bersamanya, mungkin juga aku yang telah rela untuk berpikir sama sepertinya saat ini. Aku tidak memiliki alasan jelas untuk. Hanya berpikir bahwa dia telah sangat membutuhkan bau tubuhku melebihi obat dari dokter, kurasa hatiku menghangat.

"Mikaela, aku milikmu." Aku bergumam lirih.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DAN PENGORBANAN
9.2
Vanezha Dynazka, atau Nezha, harus berjuang sendirian setelah ditinggal wafat neneknya saat sedang mencari sang ibu. Hidupnya yang kelam berubah ketika kecelakaan mempertemukannya dengan sosok Aretha. Namun, Nezha terjebak dilema memilukan antara mempertahankan perasaan atau melepaskan cintanya demi membalas budi. Saat rahasia besar mulai terkuak, mampukah ia bertahan menghadapi badai takdir yang mengancam kebahagiaannya?
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku percaya saat Dewi Bulan menakdirkanku bagi Alpha Baskara. Namun, janin yang kukandung ternyata dianggap aib. Baskara telah mandul demi wanita lain dan menjadikanku bahan taruhan keji. Setelah disiksa oleh Kirana dan dikhianati prajuritnya, hatiku membeku. Di ambang kehancuran, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan benih di rahimku. Ini bukan sekadar rasa putus asa, melainkan awal perang dingin untuk membalas dendam.
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan Omega ini hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan seorang putra rahasia. Ternyata, pernikahan mereka hanyalah alat politik yang dirancang oleh Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan disebut pajangan, ia tetap tenang saat Baskara berpura-pura rindu. Di balik amarah yang membeku, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka akan segera mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi menggagalkan pernikahan ketiga ibunya, Arkania Lintang Jagat terjebak dalam sandiwara cinta yang rumit. Ia mengaku mencintai Bintang, calon saudara tirinya. Sang ibu yang ragu karena haphephobia Lintang, menuntut bukti nyata. Di hadapan Ishan sang mantan kekasih, Lintang nekat mengecup bibir Bintang. Aksi berani ini justru memicu obsesi Ishan untuk merebut kembali hati Lintang, sementara hubungan Lintang dan sepupu angkat Ishan itu semakin pelik.