
Baby Han - (Gx G)
Bab 3
Mikaela POV.
"Kau ingin muntah lagi?" Nona Judith bertanya.
"Maaf, Nona. Ti-tidak!" Kata-kataku mungkin tidak terlalu jelas karena mulutku masih kubekap.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Apakah kita ke rumah sakit saja?" Dia bertanya.
"Ti-tidak. Hanya--" Aku mencicit. Mengatakan yang kumau hanya akan menjadikanku seorang kurang ajar, aku hanya seorang karyawan biasa dengan rasa ingin yang terlalu aneh untuk seorang sepertinya. Dia bahkan tidak tahu bahwa semua ini karena hormon kehamilanku.
"Katakan!" Dia meminta.
"Uhm ... tidak jadi." Aku merasa canggung, di sisi lain juga sangat membutuhkan bau tubuhnya. Benar ..., hanya dia dan aroma parfum yang dipakainya.
"Kae!" Dia menatapku lekat ketika mengatakannya dengan memberi tekanan pada ucapannya.
Aku masih berdiri dengan keras kepalaku dan bertahan dalam kecanggungan. Namun, sepertinya sosok di dalam rahimku tidak menerima itu, seolah bergejolak kurasakan sesuatu mengaduk perutku--memaksa keluar, bahkan air liur telah mengumpul di tenggorokanku. Aku menelan ludah kasar, sensasi rasa yang mencekat ini sungguh menyiksa, sangat sulit menahan rasa mual yang tidak tahu tempat dan situasi. Tidak dapat lagi kutahan.
"Aroma parfum Anda. Aku akan merasa lebih baik dengan aroma tersebut--yang beradu dengan bau tubuh Anda. " Aku berkata.
"Maka lakukan!" Dia menyuruhku. Tidak ada kalimat setelah itu, hanya tatapan mata yang kutangkap sebagai rasa penasaran. Itu wajar, aku memahaminya.
Aku bahkan tidak sedang menggenggam alasan untuk mauku ini.
Serabutan jari-jariku melepas sabuk pengaman untuk berusaha beranjak dari tempatku. Susah payah kubawa tubuh ringkihku dengan perasaan tak karuan yang masih menyeruak memenuhi dadaku, untuk bergerak menaiki dan duduk di atas pangkuannya.
Hanya dengan menatap belahan dadanya yang tersingkap otakku dengan nakalnya telah berjalan menjauhi nalarku. Oh, kenapa di saat Baby menginginkan bau tubuhnya hasratku sedikit tercubit.
Kubiarkan diriku menyerah dengan mendekat untuk memangkas jarak di antara kami. Aku bahkan tak sungkan lagi memeluknya untuk kemudian mengubur wajahku di perpotongan lehernya.
Kurasakan tubuhnya berjengit, wajar jika dia terkejut atas sikap kurang ajarku. Namun, rasa mauku menjadikanku seorang egois dan memilih mengabaikan setiap respon tubuhnya.
Aku juga bisa merasakan bahwa dia tengah menekan napasnya. Dapat kurasakan Judith menelan ludah kasar.
"Huhhh ... ahhhmmm ... maaf, Nona!" Mulutku hanya mampu mengatakan sekenanya, sementara hidungku sibuk mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya untuk beberapa saat.
Sumpah, aku tidak memiliki alasan untuk ini. Tapi, aroma darinya yang tertangkap oleh hidungku membuatku membeku beberapa detik seolah aku adalah seorang yang sakau dan menemukan zat yang memberiku rasa nyaman.
Aroma tubuh Judith adalah candu. Perlahan tubuhku yang tegang kembali rileks, setiap rasa tak nyaman sesaat lalu seolah memudar, aku tidak lagi merasakan mual yang sangat. Karena, gejolak dalam perutku mereda, kurasa baby telah kembali tidur tenang di dalam rahimku.
Haruskah kucari tahu kenapa Baby sangat suka bau tubuhnya?
Ataukah harus kucari tahu juga tentang kesukaan Baby dan Minwo yang begitu sama dan selalu bisa mentolerir apa pun yang dia berikan untuk?
Ahhh ... persetan dengan semua itu. Kadang tidak butuh alasan untuk rasa suka.
Tanganku masih melingkari pinggangnya, tentu tubuhku menempel sempurna pada tubuh berisinya dengan sangat nyaman.
Sepertinya ..., Judith adalah rumah nyaman untuk baby. Bukan ..., tapi juga rumahku. Entah kenapa aku mau ini tidak pernah berakhir. Setidaknya hingga rasa puas menyapaku.
Lalu, tubuhku sedikit berjengit untuk bergetar ketika merasakan tangannya bergerak untuk mengusap rambutku dan membelai punggungku.
"Baby …," gumamku lirih. Perlahan setiap keresahanku sesaat lalu memudar seiring mengendurnya otot dan syaraf di sekujur tubuhku.
Sekali lagi aku menyerah oleh lelap yang menyeret kesadaranku dengan janji rasa nyaman lebih. Secara perlahan pula semua tampak putih. Aku terlelap dalam rengkuhan hangatnya.
"Mmmhhh …," rintihku lirih.
"Kau telah basah, Kae!" Dia berkata.
Sengaja aku mengabaikan kalimatnya dan memilih memejamkan mata menahan rasa nikmat ini. Tanganku meraih sprei semampu jemariku untuk merematnya kasar, berharap dia melakukan lebih pada bagian bawah tubuhku yang telah basah. Namun, dia berhenti. Aku merasa kecewa.
"Kau ingin aku manjakan dengan lembut atau kasar, humm?" Dia bertanya, memaksaku menatapinya lekat, entah sejak kapan senyumnya bisa membuai anganku. Di saat yang sama aku menjadi kesal karena dia berhenti dan membiarkanku tersiksa oleh rasa ingin yang tertunda. Dia memainkan emosiku.
"Nona--" Kalimatku menggantung. Bukankah seharusnya dia bisa membaca ekspresi kesal di mataku?
"Katakan!" Dia bertanya. Bukan ..., tapi memerintah.
"Aku mau bibir Anda." Aku mengucapkan kata terakhir dengan lirih karena malu. Pipiku memanas, kurasa wajahku telah merah.
Oh, tidak seharusnya mulutku mengatakannya, tapi aku mau lagi. Dan dia bukan seorang yang akan melepaskanku begitu saja untuk memberi mauku tanpa jawaban dari mulutku.
Sebelum aku melanjutkan kalimatku, dia telah mengubur wajahnya pada kewanitaanku. Bibirnya bulat penuh mulai mengecup, menghisap, melumat dengan lembut setiap bagian dari milikku yang mulai terbasahi cairan bening dan menjadi semakin basah ketika ujung lidahnya bergerak dengan sensual meneliti dan menyelidiki bagian yang sudah sangat sensitif tersebut.
"Aaakhh, Nona!" Tubuhku merespon dengan sedikit terangkat hingga punggungku terlihat melengkung membuat payudaraku lebih menyembul--menggoda tangannya untuk meremas lembut.
Namun, dia berhenti lagi. Oh, aku menjadi cukup frustrasi atas sikapnya yang tarik ulur.
"Judith! Panggil namaku!!" Tuhan, apapun maunya akan kuturuti. Aku mau ... aku ingin lebih
"Juh-dith …," desahku.
"Kae ... Kae! Are you okay?" Lamat kudengar suara serak basahnya membangunkanku.
Ini kejam, ketika aku membuka mata dan mengumpulkan kewarasanku hanya untuk tahu bahwa semua kesenangan tadi hanya sebuah mimpi. Rasanya ingin menangis.
Aku merasa lemas saat mencoba untuk bergerak memiringkan tubuhku, kurasakan tanganku masih memeluk perut seseorang. Lalu mataku membola, aku terkesiap dan mengerjapkan mata beberapa kali.
"Nona Judith?" Aku salah tingkah, segera kutarik mundur tubuhku darinya, sementara dia tengah asik mengamati sebuah buku sketsa berwarna biru dengan motif kupu-kupu. Seolah dia mengabaikan reaksi terkejutku.
"Kau sudah bangun?" Dia bertanya.
Aku beringsut menjauhkan diriku darinya, meringkuk untuk takut dan canggung bersamaan.
"Yes, miss? A-apakah kita sedang berada di kamarku?" Aku bertanya. Bulu-bulu halus di sekitar tengkukku telah bersiap untuk berdiri seiring aura dominan yang kurasakan menyeruak menguar darinya.
"Humm. Kamu tertidur di mobil tadi. Jadi aku tanya ke Minwo kunci rumahmu." Judit mengatakannya begitu saja seperti tanpa ekspresi. Aku semakin meremang oleh asumsiku sendiri.
"Uhm ... maaf." Aku berkata lirih.
Sungguh memalukan, rasanya aku ingin tenggelam di danau saat ini juga. Terakhir yang kuingat adalah ketika aku mengendus bau tubuhnya.
Oh, tidak. Besok pasti dia akan memecatku.
Pekerjaanku. Haishhh! Kenapa dengan hari ini?
Otakku dipenuhi oleh kalimat-kalimat menakutkan ketika aku memikirkannya lagi. Lalu mataku memanas dengan air mata yang kurasa telah menggantung.
"Kau merasa kurang nyaman, hemm?" Dia bertanya seolah aku adalah orang yang telah biasa melakukan setiap hal lancang tadi.
Aku hanya menggeleng. Air mataku jatuh setetes, ada rasa sakit menyeruak dalam hatiku. Aku akan kehilangan impianku karena sikap kurang ajarku.
"Hiks--" Mulutku tercekat, bagaimanapun aku menahan suara lebay tersebut tapi sia-sia.
"Sssttt! Hei, kenapa? Kenapa kau menangis Mikaela?" Sia kembali bertanya atas reaksiku.
"M-maaf, Nona." Aku menjawab dengan tergagap oleh rasa takut yang begitu menyergapku. Berpikir bahwa menangis pun adalah sebuah kesalahan, aku sungguh menahan mulutku dari terisak.
Alih-alih marah, dia hanya terkekeh. Meletakkan buku yang tengah menarik atensinya pada nakas, lalu bergerak merangkak mendekatiku.
Judith telah bergerak menuju padaku, membuat dadaku berdebar semakin berantakan ketika dia terlihat tidak berniat berhenti dan semakin memangkas jarak di antara kami. Lalu, jari-jari rampingnya terulur menangkup kedua pipiku, sementara aku begitu terkejut hingga harus menekan napasku.
Oh, kurasa debaran di dadaku terdengar olehnya.
Mataku mengerjap, ada setetes air mata yang menggantung kini terjatuh, ibu jarinya bergerak pelan mengusap lelehan yang membasahi pipiku.
Aku tidak dapat menolak ketika dia belum puas dan semakin mendekatkan wajahnya, hanya memilih untuk menutup mata perlahan.
Dadaku berdebar begitu keras hingga aku bisa mendengarnya. Kurasa Judith akan menciumku.
Namun, yang terjadi di luar nalarku. Tidak, apakah dia adalah Judith Han?
Alih-alih menciumku, ternyata dia hanya meniup keningku. Sontak kubuka mataku terkesiap oleh sikap tiba-tibanya.
Ini telah keluar dari jalur. Dia bukan seorang yang biasa untuk bermain atau menggoda seseorang.
Untuk beberapa detik otakku membeku, aku diam dan hanya menatapi bagaimana laju napasnya yang terasa sedikit bebeda dari biasanya. Harum napasnya menyembur wajahku--yang tertangkap olehku sedikit berantakan.
Adakah dia juga merasakan kegugupan sepertiku?
Sebelum otakku menggali kalimat asumsi lebih dalam aku telah dikejutkan oleh jarinya yang menyentil pelan dahiku. Aku hanya merespon dengan mengernyit takut.
"Gadis bodoh!" Dia berkata lirih. Kulihat senyum teduh tersungging di bibirnya seolah berkata bahwa tidak ada hal serius yang harus kutakuti.
Oh, aku bisa terkena serangan jantung dengan berpikir bahwa dia merespon rasaku. Rasa yang cukup aneh ketika di antara banyak wanita yang pernah kutemui hanya dia yang kumau secara s*xual.
__________
Judith POV.
"Gadis bodoh!" Aku berkata lirih sambil tersenyum. Dia sungguh aneh, tapi juga menggemaskan.
Ada saatnya gadis bodoh ini menyeret sukmaku untuk dengan suka rela mengikuti alurnya. Juga, ada kalanya dia menyusup masuk ke dalam pikiranku dan menetap beberapa saat--yang ketika pergi menyisakan kenangan-kenangan konyol namun manis. Hingga kadang membuatku mengulum senyum, atau bahkan menggeram pelan pada diriku sendiri.
Ketika tidur, Mikaela terlihat seperti bayi yang tanpa beban, atau mungkin seseorang yang meletakkan setiap masalahnya untuk sementara waktu.
Jika kuperhatikan lekat setiap inci wajahnya, kulitnya tidak putih, namun cukup bersih. Mikaela seperti batu dalam sungai yang tidak cukup berharga namun mampu menunjukkan seberapa dalam air tersebut.
Aku bahkan tidak memiliki alasan untuk setiap sikap impulsifku, termasuk mengusap pelan dahinya, juga ... menyelipkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya. Dia terlihat sangat kelelahan.
Otakku mulai berpikir tentang penyakit yang tengah memerangkap tubuhnya.
Mikaela merintih dalam tidurnya mirip menggumam lirih, tertangkap oleh telingaku bahwa dia sedang menyebut namaku. Sementara keringat membasahi dahinya, namun wajahnya nampak memerah.
Terbersit pertanyaan aneh yang menggelitik rasa ingin tahuku. Apakah dia sedang bermimpi ... mesum?
Tiba-tiba wajahku memanas karena asumsiku sendiri. Maka kualihkan pandanganku menyapu ruangan yang cukup besar ini.
Tertangkap oleh mataku sebuah buku yang tergeletak di nakas, di atasnya nampak sebuah pensil dan sebuah karet penghapus. Itu adalah buku sketsa.
Maka aku memutuskan untuk mengambilnya.
Mikaela adalah gadis tekun untuk hal yang dia sukai. Ketika kubuka lembar demi lembar kertas putih yang penuh goresan-goresan pensil tersebut, ada satu di antara mereka yang membuatku tersedak. Tenggorokanku tercekat untuk sesaat, bahkan sulit menelan ludah.
Benar, satu desain yang membuatku lengah untuk sesaat hingga tanpa sadar aku mendaratkan diriku di samping tubuhnya yang tengah tertidur pulas.
Mataku menatap lekat goresan-goresan pensil tersebut. Padahal hanya desain baju bermain yang sederhana, namun hatiku merasa terkoyak dan dia menyusup dalam jantungku, ikut mengalir dalam darah yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dalam gambarnya aku dapat melihat diriku saat masih muda--dimana saat itu hanya ada bahagia bersama kedua orang tuaku. Mikaela dapat menggiring emosiku untuk kembali mengenang masa itu.
Mikaela telah sedang mencuri hatiku.
________
Aku beranjak dari ranjang menuju dapur apartemennya. Meninggalkan gadis bodoh tersebut yang masih diam seolah mematung atas sikapku barusan. Padahal hanya menyentilnya pelan. Kurasa dia telah menjadi serba salah. Apapun itu.
"Bubur? Tidak masuk. Nasi goreng kimchi? Tapi tadi sudah. Ssshhh ... apa sebaiknya aku menelpon Minwo?" aku bergumam sendiri.
Saat kulirik jam, ternyata telah memasuki sore, mungkin menyuruh Minwo pulang bukan ide buruk. Aku menyeringai, biarkan adikku yang melakukan tugas dapur.
Judith: "Minwo'ya. Pulang dan masakkan sesuatu untuk Mikaela!"
Minwo: "..."
Judith: "Sepuluh menit kutunggu di apartemen Kae. No debat!"
Klik.
Pasti saat ini dia tengah menyetir dengan frustasi. I don't even care. Sebaiknya aku melihat gadis itu.
"Kae? Apa yang mau kau ma--" Kalimatku terhenti ketika kakiku memasuki kamar luas milik Mikaela.
Gadis muda ini kembali terlelap. Mulutku melongo untuk sesaat. Lalu kubawa tubuhku mendekatinya yang meringkuk tertidur di pinggir kasur. Perlahan kuselipkan tanganku pada tengkuknya, dan tangan yang lain meraih bagian belakang lututnya, lalu kuangkat tubuh ringkih yang terlihat cukup berisi tersebut dan menidurkannya dengan posisi yang nyaman.
"Kau begitu cepat sekali tertidur, Gadisku!" Aku bergumam.
Ketika kutatap kembali ternyata Mikaela cukup cantik, meski agak ... bodoh. Rambut ikalnya yang terurai, meski hanya sepanjang bahu namun begitu lembut. Matanya cukup mempesona dengan bulu mata yang tidak terlalu tebal--bentuknya yang bulat, saat tertutup bagai sebutir bawang merah yang dibelah dua. Hidungnya yang bulat, tidak terlalu mancung, tapi pas dengan bentuk wajahnya yang bulat--sedikit chubby. Serta, bibirnya ….
Aku berjalan menuju sofa tunggal yang menghadap langsung pada tempat tidur king size tersebut. Mendaratkan pantatku, dan bersandar, kemudian melipat kedua lengan pada dadaku--sembari menatap bibir basahnya yang kurasa mungkin lembut jika bibirku melumatnya. Kurasa otakku sesaat travelling.
Mikaela menggeliat resah, tubuhnya yang cukup berisi bergerak pelan menambah kesan seksi. Matanya yang indah mulai terbuka, terulas senyum pada bibir lembutnya.
"Judith," dia berkata lirih. Senyum yang tersungging seakan mengundangku untuk mengecupnya. Tidak.
Gadis yang biasanya diliputi rasa canggung telah hilang, dengan percaya diri dia beringsut untuk beranjak dari kasur yang dia tiduri. Baju tidur berwarna hitam yang membalut tubuhnya, tipis, bergerak mengikuti gerakan tubuhnya yang sensual.
"Humm?" Aku bertanya. Namun tidak beranjak dari dudukku. Apa yang akan dia lakukan?
Mikaela menghampiriku untuk duduk di atas pangkuanku, wajahnya yang bersemu merah menatapku lapar.
Sepertinya dia tengah dimabuk asmara.
"Kau masih ingin mengendusi bau tubuhku?" aku bertanya.
Dia menggeleng pelan. Jari telunjuknya terulur untuk menutup bibirku, lalu sesaat kemudian bibir basahnya mulai mendarat pada bibirku.
"Mmmhh ...." Dia melenguh.
Seperti apa yang kubayangkan, bibir tebalnya ternyata lembut ketika beradu dengan milikku. Aku tidak menolak, tidak juga membalas. Matanya menatap lekat mataku. Itu hanya ciuman sekilas
"Cium aku, Judith! Ini perintah." Dia berkata seduktif.
Tidak lagi. Aku tidak bisa menahan lagi. Dia sungguh menggemaskan. Kubawa tangannya melingkari leherku, kucium bibir basahnya--sebuah ciuman liar, lapar, serta gemas. Bibir kami mulai berebut kemenangan, aku baru tahu rasa manis ketika bibir lembutnya kucumbu perlahan namun dalam. Ketika kusesap kuat bibir bawahnya, dan dia sambut dengan menyesap bibir atasku, kurasakan bahwa dia cukup berbahaya karena kapan pun bisa menyeret jauh kewarasanku.
Kae memiliki sisi nakal. Ini yang kusimpulkan.
Lidahnya yang hangat menggoda hasratku--sungguh menarik. Kusesap kuat dengan membelitnya kecapan-kecapan cepat mengabaikan bunyi kecipak yang memenuhi ruangan kamarnya.
Matanya terpejam, bibirnya mulai mengerang nikmat teredam bibirku yang memakannya dengan buas. Kurengkuh tubuh berisinya dalam gendongan koala dan berjalan menuju kasur king size. Kurebahkan tubuhnya perlahan untuk kembali menghujaninya dengan cumbuan pelan namun dalam.
Bagai sebuah kesempatan langka, atau suatu perasaan bahwa hari ini adalah akhir pertemuan kami. Atau perasaan ketika hari esok tidak lagi datang, akan aku makan tubuhnya saat ini juga.
"Mmmhhh. Jangan berhenti Juh-dith! I wan't more please!!" Dia menggeliat resah mendesahkan namaku ketika bibirku beralih untuk bermain pada payud*r*nya, bahkan menggigit kecil tonjolan miliknya yang mengeras. Bentuk yang sempurna, menyembul indah. Sementara jemariku meremas lembut miliknya yang lain. Mikaela menenggelamkan jemarinya dalam rambut panjangku, merematnya berkali-kali menahan rasa nikmat.
"Kau mau lebih?" aku menyeringai. Hari ini dia tampak berbeda ..., lebih nakal.
Aku beranjak berdiri, lalu dengan serabutan tanganku melucuti semua kain yang menempel pada tubuhku, lalu atensiku kembali tertuju pada tubuh Mikaela yang telah membangunkan hasratku.
Lingerie lembut yang panjangnya hanya setengah jengkal dari pangkal pahanya bahkan telah tersingkap ke atas dengan belahan dada yang telah terbuka. Mikaela terlihat sangat seksi.
"Just do it, Judith!! Aku mau lebih!" Dia berkata seduktif.
Maka segera kutarik tali dalaman yang dia pakai dan membuangnya. Kubuka lebar kedua kakinya untuk menempatkan diriku di antaranya. Kutekuk kedua kakinya dan dia sambut dengan merengkuh kedua lututnya. Matanya terpejam mulai menggigit bibir bawahnya mendesah pelan ketika aku mulai mengubur wajahku di sana.
Desahan pelan yang menggoda hasratku.
"Jangan kau gigit lagi bibir mu, Gadisku" Aku berkata.
Mikaela tampak terkesiap. Kulanjutkan dengan melumat lembut setiap inci area intimnya. Perlahan, namun khidmat. Dia menggeliat dan mendesis tipis. Tangannya merengkuh erat kedua lututnya yang tertekuk.
"Mmmhhh ...." Kae melenguh.
"Moan my name, Girl!" Perintahku.
"Judithhh, lagi! Aku mau lagi ..., kumohon!" Dia mendesah tertahan. Maka kuperdalam bibirku meneliti setiap bagian pada pangkal pahanya.
Aku terkejut. Tanpa aba-aba gadis ringkih di bawahku membanting dan membalik tubuhku hingga aku berada di bawahnya. Dapat kalian bayangkan bukan bagaimana posisi kami saat ini?
Dengan berpegangan pada kepala ranjang, pinggulnya bergerak maju mundur mengimbangi gerakan mulutku yang tengah menari di bawah.
Gerakannya semakin tak beraturan, otot bagian area pahanya telah sangat stress dan mulai bergetar. Sementara lidahku berkali-kali memompa dan menari membelai kewanitaannya. Dia mengerang keras ketika sampai.
"W-wait, Judith!!" Dia berkata. Napasnya memburu dan terdengar berat. Gadis polos yang malam ini cukup nakal menurunkan tubuhnya ke bagian bawah tubuhku. Menaiki pangkal pahaku, menyatukan milik kami setelah meraih kaki kiriku dalam rengkuhannya.
Mikaela menggerakkan pinggulnya menggesekkan miliknya. Ini terasa sangat nikmat, mulutnya pun mengerang untuk rasa yang memeluknya erat. Kepalanya mendongak, menggoda hasratku.
Oh, hanya dengan mendengar dia mendesahkan namaku saja rasanya percikan dalam dadaku berpijar dan memanaskan seluruh tubuhku.
Ketika rasa nikmat itu semakin merangkak memuncak, kuangkat tubuhku berusaha merengkuh tubuhnya, tanganku berusaha meraih pipi pantatnya dan kuremas perlahan. Tubuh kami bergerak berlawanan saling menggesekkan belahan yang telah sangat basah.
Mulutku menganga mengerang tertahan, sementara mataku menatap lekat wajahnya yang bersemu merah. Bulir keringat membayangi setiap senti kulit bersihnya.
Dapat kudengar berat napasnya yang semakin memburu. Dia menikmati setiap sentuhan-sentuhan pada bagian sensitif tubuhnya.
Aku yakin otot-otot di sekitar pangkal pahanya sama menegangnya dengan milikku, aku bisa merasakan itu. Sama seperti ketika tubuh bergetarku merasakan gemetarnya tubuhnya saat menjemput dunia putih kami.
Aku telah menyerah dan membiarkan diriku terbanting oleh rasa panas yang seakan berpijar hingga kurasakan mungkin kepalaku akan meledak.
"Hmmpphh! Su-sudah, Minwo! Aku mual."
Suara itu membangunkan ku. Sh*t! Rupanya ini hanya mimpi. Mataku mengerjap perlahan berusaha mengumpulkan nyawa.
Menatap Minwo di depan sana tengah membujuk gadis ringkih di atas kasur untuk makan--gadis kami.
Tanpa sadar bibirku merengut kesal melihat kedekatan mereka. Cemburu?
Tidak ..., kurasa tidak. Hanya sedikit terganggu saja.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





