
Ayo Cerai!
Bab 3
Arabella mendengkus sebal begitu hari ini harus bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi. Pagi-pagi sekali, Yuta sudah diperintahkan sang Ayah untuk menjemput Ara guna mencari gaun untuk pernikahan mereka yang bakal diadakan beberapa hari lagi.
Beberapa minggu terus dihadapkan dengan pria sipit di sampingnya, Ara cuma bisa menghela pasrah. Bagaimana tidak? Memang dia menjemput Ara untuk pergi keluar bersama. Tapi, di pertengahan jalan pasti bakal ada perempuan lain yang naik juga ke mobil. Tentu saja itu adalah pacar Yuta. Lalu, Ara bakal disuruh pindah ke kursi belakang kemudian terpaksa menyaksikan kemesraan menjijikkan pria tersebut dan pacarnya.
"Kali ini kamu nggak mau jemput pacar kamu lagi?" tanya Ara begitu memasuki mobil mewah Yuta.
"Tidak bisa, Ayah menyuruh saya buat pergi ke sebuah butik milik kenalan dia untuk dibuatkan baju pernikahan kita." Yuta menjelaskan sembari masih sibuk menyetir.
"Kita---" Kalimat Ara terpotong.
"Iya, Sayang. Kenapa?" Yuta mengangkat ponselnya yang berbunyi kemudian menempelkan di telinga sebelum Ara menyelesaikan kalimatnya.
"...."
"Tentu saja aku mencintaimu, 'kan? Memangnya kenapa?" Arabella rasanya ingin muntah sekarang juga mendengar kalimat pria itu.
"...."
"Tidak bisa, Sayang. Hari ini aku sedang ada urusan."
"...."
"Oh yasudah kalau tidak mau mengerti, kamu kira perempuan kamu saja? Mulai detik ini, kita selesai sampai di sini. Jangan hubungi saya lagi!"
Ara melotot tidak habis pikir dengan perubahan gaya bicara dan nada suara pria itu. Gampang sekali dia memutuskan pacarnya. Seolah ganti pacar sama dengan ganti baju. Eh, tapi Ara tahu sih, selingkuhan Yuta terlalu banyak. Jadi, berkurang satu tidak akan cukup berpengaruh baginya.
"Makannya kalau punya pacar itu jangan terlalu banyak, jadi kalau mau menyelesaikan hubungan harus satu-satu dulu. Ribet 'kan jadinya," nasehat Ara sok bijak.
"Itu cuma prinsip orang yang tidak laku, dan dari prinsipmu itu saya sadar kalau kamu memang setidak laku itu." Yuta mendecih meremehkan.
"Saya memang tidak cukup cantik, tapi saya juga tidak cukup buruk untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal bernama pacaran yang membuang-buang waktu seperti kamu." Arabella membela diri dengan nada tenang.
"Halah, bilang saja tidak laku. Mana ada perempuan tepos seperti kamu bakal dilirik sama pria," sindir Yuta terang-terangan.
Ara kontan memeluk tubuhnya sendiri waspada. "Kamu memperhatikan hal yang seharusnya tidak pantas kamu lihat. Lancang sekali!" teriak Ara murka.
Yuta terkekeh sinis.
"Percaya diri sekali, lagipula untuk apa memandangi tubuh gadis tepos sepertimu. Membuat sakit mata saja."
Ara baru saja akan kembali melakukan pembelaan diri kalau saja mereka tidak segera sampai di butik yang dimaksud. Tanpa berkata, Yuta segera turun. Ara mengekori saja dalam diam.
"Ohayou, Yuta-kun. Lama tidak bertemu, ya." Baru memasuki butik, Yuta sudah dipeluk oleh seorang perempuan tua berwajah seperti orang jepang.
"Doumo, Oba-san. Gomen ne, baru bisa mampir ke sini lagi." Yuta berucap penuh sesal.
"Daijoubu, kamu datang saja Bibi sudah sangat senang ... eh, ini calon istrimu, 'kan?" tanya perempuan cantik itu sembari tersenyum hangat ke arah Ara.
Ara mengangguk kikuk. Agak bingung juga dengan bahasa yang digunakan kedua orang di depannya. Yuta bukan hanya keturunan Jepang, tapi juga bisa bahasa Jepang ternyata.
"Ara Ara!" ucap perempuan itu yang membuat Ara menggaruk kepala bingung.
"Dia bilang 'sini sini!', " jelas Faraz berbisik pada Ara.
"Ooo ... okey," sahut Ara linglung. Berikutnya, gadis itu pasrah saja ditarik-tarik Bibi Yuta yang ternyata bernama Kana tersebut guna diukur sekaligus ditanyai banyak hal.
****
Hari pernikahan sudah tiba. Ijab kabul sudah dilakukan. Hanya tinggal resepsi pernikahan di sebuah gedung yang disewa Pak Devardo dengan tamu undangan yang lumayan banyak.
Tidak ada binar bahagia dalam wajah Ara. Perempuan itu hanya menyorot kosong tamu yang terus berdatangan. Berbeda sekali dengan Yuta yang masih bisa haha-hehe bersama sahabat-sahabatnya yang lain.
Sedangkan, Ara bisa dibilang tidak mempunyai sahabat ataupun teman dekat. Hanya ada rekan sekantor dan itupun mereka bertemu ketika di jam bekerja saja. Tapi, setidaknya Ara lumayan akrab dengan mereka karena gadis itu yang terkanal baik dan juga ramah oleh para pekerjanya.
"Waah ... Kak Ara cantik banget deh. Ihh nggak nyangka ya udah nikah aja." Febi--- salah satu rekan sekantor yang dulu menjadi sekretarisnya, memuji heboh.
Ara memeluk gadis itu sembari tersenyum senang.
"Kamu dateng?" heran Ara dengan wajah bahagia. Pasalnya, dari sekian banyak rekan sekantor, hanya Febi yang paling dekat dengan Ara meski mereka hanya bertemu saat bekerja saja.
"Tentu saja aku datang lah, Kak. Ya meski hampir nggak bisa datang sih, soalnya mendadak banget. Pantes aja meski kerjaan kantor lagi banyak-banyaknya, Kak Ara nggak pernah dateng ke sana lagi." Febi curhat dengan wajah cemberut.
"Ya maaf, Feb. Aku juga kaget karena secepet ini." Ara menyahut lesu.
"Yaudah ya, Kak. Aku mau nyusul si Bima dulu," pamit Febi terburu-buru.
"Eh ... kamu dateng sama dia? Kalian jadian?" tanya Ara kaget.
"Ya ... gitu deh. Yaudah, Kak. Aku pergi dulu!"
Ara menyunginggkan senyum begitu Febi menghilang di antara kerumunan. Rasanya bahagia sekali melihat mereka akhirnya bersatu. Selama ini, memang cuma Ara yang tahu seberapa mereka berdua saling suka sejak awal bekerja.
"Wajahmu cepat sekali tersenyum hanya karena melihat orang lain jadian, lah melihat kita duduk di pelaminan begini sedari tadi, kamu malah murung. Seolah menikah dengan saya adalah neraka saja." Yuta berbisik di telinga Ara.
Ara mendelik sinis.
"Memang, memang neraka." Ara ikut berbisik sembari berjinjit agar bisa menyejajarkan tingginya dengan telinga pria itu.
Hal itu justru terlihat romantis di mata para tamu yang hadir di sana.
"Lihatlah, mereka bisik-bisikan. Aih romantis sekali!"
"Istrinya cantik ya, tidak salah Pak Devardo Suryantara memilih dia menjadi menjadi calon menantu."
"Dengarlah, kau disebut cantik. Padahal tubuhmu tidak menggoda sama sekali, tepos begitu. Selera orang-orang di sini memang jelek."
"Yutaka Hikaru sialan!" sinis Ara sembari mencubit pinggang Yuta hingga pria itu meringis kesakitan.
"Di hari pertama kita resmi menjadi suami istri, kau malah sudah berani menganiayaku begini, ya. Awas saja, Nona Hanzie!" ancam Yuta sebal.
"Awas apa? Saya nggak takut sama buaya darat kayak kamu."
Keduanya terus berdebat sampai Aldo tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan ke arah Ara. Gadis pendek itu mendongak menatap wajah sahabat Yuta yang terlihat muram, tidak sepeerti biasanya.
"Tidak mau bersalaman?" tanya Aldo masih mengulurkan tangan di hadapan Ara.
"Eh bukan begitu," Ara segera meraih tangan pria itu, "terimakasih ..."
"Aldo, panggil saya Aldo. Salam kenal ya, Arabella Belinda Hanzie." Ara mengangguk singkat menanggapi kalimat pria itu.
Berikutnya, Aldo menjabat tangan Yuta tanpa berucap apa-apa. Tapi, sebelum pergi, pria itu berbisik pada telinga sahabatnya.
"Ternyata saya kalah cepat, padahal saya suka Istri kamu."
Anda Mungkin Juga Suka





