Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku

Ayahku, Penjahat Terbesarku

Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hujan yang membasahi kota sudah berhenti, tetapi udara malam tetap lembap, penuh aroma aspal basah dan asap kendaraan. Kaela berdiri di tepi jembatan tua, menatap ke bawah ke sungai yang beriak diterpa cahaya lampu jalan. Refleksi gedung-gedung tinggi seperti lukisan yang terdistorsi, mengingatkannya bahwa dunia ini selalu menyimpan dua wajah: yang terang dan yang gelap.

Ia menyesap napas panjang, merasakan detak jantungnya yang cepat. Malam sebelumnya di gudang masih membekas-setiap gerakan Zayden, setiap tembakan yang ia lepaskan, setiap tatapan yang membuatnya tidak bisa menatap wajahnya terlalu lama. Ia berusaha menepis perasaan itu, tetapi instingnya mengatakan sesuatu yang berbahaya sedang mendekat.

Di sisi lain kota, Zayden berdiri di balkon penthouse, menatap ke cakrawala. Suara kota di malam hari adalah simfoni yang selalu menenangkan sekaligus mengusik pikirannya. Ia menutup mata, mencoba meredam rasa penasaran tentang Kaela, tapi pesan terenkripsi yang masuk ke ponselnya membuatnya sadar: ini lebih dari sekadar ketertarikan. Ada ancaman yang lebih besar.

Pagi itu, Kaela menerima pesan anonim yang membuatnya tersentak. "Raven tahu lokasi kamu. Jangan lengah." Suara di layar ponsel itu singkat, dingin, tanpa nama. Ia tahu, ini bukan peringatan kosong. Dunia gelap mereka memang selalu penuh jebakan.

Ia harus bergerak cepat. Kaela menyiapkan ransel berisi perangkat pengintai, senjata tersembunyi, dan masker untuk menutupi wajah. Tujuan malam ini: sebuah klub bawah tanah yang menjadi sarang informan jaringan kriminal internasional. Dari situ, ia berharap bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa yang mengatur aliran informasi tentang 'Raven'.

Sementara itu, Zayden menghadiri rapat penting dengan para kepala divisi internasionalnya melalui konferensi video. Semua orang fokus pada angka, strategi ekspansi, dan target profit, tapi pikirannya mengembara. Gadis itu, Kaela, terus menghantui pikirannya, bahkan ketika ia harus bersikap profesional di depan koleganya.

Takdir mempertemukan mereka lagi, tapi kali ini dalam situasi yang jauh lebih berbahaya.

Di dalam klub bawah tanah, Kaela menyelinap melalui pintu samping yang gelap. Musik elektronik yang memekakkan telinga bercampur dengan aroma asap rokok dan parfum mahal. Ia mengamati setiap gerakan, setiap wajah, sambil memindai ruangan dengan mata tajamnya.

Tiba-tiba, seorang pria besar mendekatinya, wajahnya tertutup hoodie. "Kamu baru di sini?" Suaranya berat dan dingin.

Kaela tersenyum tipis, menundukkan kepala. "Ya... pertama kali." Nada itu terdengar biasa, tapi matanya tidak berhenti menilai gerakan pria itu. Ia tahu, pria ini bukan sekadar penjaga. Ada sesuatu yang licik di tatapannya.

Sementara itu, Zayden masuk ke klub melalui pintu utama, berpura-pura menjadi klien yang mencari hiburan malam. Matanya menyapu seluruh ruangan, mendeteksi pola perilaku orang-orang di sekitarnya. Ia tahu satu hal: gadis itu ada di sini. Instingnya tidak pernah salah.

Mereka berdua bergerak di jalur yang berbeda, tetapi tidak lama kemudian, tubuh mereka bertemu secara tak sengaja di lorong gelap menuju VIP lounge. Kaela tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. "Z... Zayden?" suaranya nyaris berbisik.

Zayden menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Ada getaran aneh dalam pandangan itu-pengakuan sekaligus ancaman. Tanpa disadari, mereka telah berada di jalur yang sama, tapi dengan tujuan yang berbeda. Kaela ingin mengumpulkan informasi; Zayden ingin mengetahui siapa yang mengincar jaringan bisnis dan rahasia kriminalnya.

Di lounge VIP, Kaela melihat seorang informan yang seharusnya memberinya data. Namun sebelum ia bisa mendekat, beberapa pria bertopeng menyerbu, menyasar gadis itu. Kaela bereaksi cepat, melompat ke samping, menembakkan beberapa tembakan ke arah kaki mereka, bukan untuk membunuh, tapi untuk menetralkan.

Zayden, yang sedang mengamati dari pintu masuk, terkejut melihat gadis itu dalam bahaya. Tanpa berpikir panjang, ia melesat ke depan, memukul dan menendang musuh-musuh itu dengan ketepatan mematikan. Selama beberapa detik, mereka bergerak dalam sinkronisasi yang menakjubkan, seperti dua sisi dari satu pedang.

Namun kali ini, ketegangan lebih tinggi. Kaela menatap Zayden, wajahnya basah oleh keringat dan debu, hati berdebar. "Kamu selalu muncul di tempat yang salah... atau tempat yang tepat?" katanya sambil menahan napas.

Zayden hanya menatap, senyum tipis di sudut bibirnya, mata tetap waspada. "Aku memilih tempat yang tepat," jawabnya rendah. Tapi ada sesuatu yang belum ia ungkapkan: ia mulai mempertanyakan siapa yang benar-benar musuhnya malam ini.

Setelah beberapa menit chaos, mereka berhasil meloloskan diri melalui lorong belakang. Hujan mulai turun lagi, menutupi jejak mereka di jalanan sempit. Kaela berjalan di depan, tapi Zayden tetap di sampingnya, menjaga jarak aman tapi selalu siap melindungi.

Di satu titik, Kaela berhenti, menatap Zayden. "Kau tahu... jika aku tahu identitasmu sebenarnya, aku tidak akan segan menembakmu," katanya dingin.

Zayden menatap balik, sorot matanya berubah menjadi serius. "Dan aku... mungkin akan melindungimu, meski aku seharusnya memburu dirimu," jawabnya. Kedua kalimat itu membawa makna yang tidak bisa mereka ungkapkan sepenuhnya, membuat udara di antara mereka panas dan berat.

Mereka berdiam beberapa saat, mendengarkan suara hujan yang jatuh ke aspal basah. Monolog batin Kaela bergema: Aku tidak boleh mempercayainya. Tapi... ada sesuatu tentangnya yang membuatku ingin menundukkan senjataku. Sesuatu yang sangat berbahaya.

Zayden juga berpikir: Dia berbeda. Aku tidak bisa menempatkannya sebagai target. Tapi jika dia musuh, aku harus menyiapkan diri. Dan... jika dia bukan musuh... apa yang akan kulakukan dengan perasaanku?

Mereka melanjutkan perjalanan ke gudang aman milik Kaela untuk menganalisis data yang diperoleh. Di tengah hujan yang semakin deras, Kaela dan Zayden harus tetap waspada. Setiap langkah salah bisa berarti akhir dari permainan mereka.

Namun twist terbesar malam itu datang ketika Kaela membuka folder terenkripsi yang didapat dari informan. Di dalamnya ada foto-foto rahasia yang tidak hanya menunjukkan aktivitas jaringan kriminal Zayden, tapi juga lokasi rahasia miliknya, bahkan beberapa data yang hanya diketahui oleh 'Raven'.

Kaela menatap layar, wajahnya pucat. "Ini... ini lebih besar dari yang kubayangkan," gumamnya. Sementara Zayden berdiri di belakangnya, melihat layar yang sama. Ia merasakan jantungnya berhenti sejenak. Data itu... rahasia yang bahkan ia sembunyikan dari semua orang, kini ada di tangan gadis ini.

Dan yang paling mengejutkan: salah satu file menunjukkan seorang anak kecil, yang wajahnya samar tapi sangat familiar. Kaela menunduk, napasnya tercekat. Zayden menatapnya, bingung. "Itu... apa maksudnya?" tanyanya.

Di layar komputer, tulisan muncul dalam bentuk pesan misterius:

"Kau pikir kau mengenal siapa yang ada di sekitarmu. Tapi nyatanya, yang kau cari... ada lebih dekat dari yang kau duga."

Keduanya menatap satu sama lain, sadar bahwa malam ini bukan sekadar pertarungan atau ketegangan biasa. Ada rahasia yang lebih besar dari mereka berdua, dan permainan baru ini baru saja dimulai.

Twist itu meninggalkan rasa ngeri: apakah gadis yang selama ini membuat Zayden penasaran adalah orang yang bisa menghancurkan dunianya, atau justru kunci dari rahasia yang selama ini ia sembunyikan? Dan siapa anak kecil itu yang tiba-tiba muncul dalam data?

Malam itu, kota yang tenang menutupi rahasia yang lebih gelap dari hujan dan lampu jalan.

Kabut tipis menyelimuti jalanan kota ketika Kaela melangkah keluar dari mobil hitamnya. Suara roda yang basah bergesekan di aspal membuat langkahnya terasa lebih tegang. Ia menatap gedung tinggi yang menjulang di depannya, markas baru jaringan kriminal internasional yang kini menjadi target misinya. Setiap jendela memantulkan cahaya neon biru, seolah memperingatkan siapa pun yang berani mendekat.

Ia menyesap napas dalam, merasakan adrenalin mengalir di setiap pembuluh darahnya. Malam ini, Kaela tahu taruhannya lebih tinggi. Zayden, pria yang selalu muncul dalam pikirannya, kini entah ada di sisi mana—musuh atau sekutu. Ia tidak bisa menebak. Dan yang paling menakutkan: ia masih menyimpan rasa penasaran yang tidak seharusnya ada.

Di sisi lain kota, Zayden berdiri di dalam mobilnya, menatap layar tablet yang menampilkan koordinat gedung yang sama. Sensor dan kamera pengintai yang dipasang di sekeliling gedung menunjukkan aktivitas mencurigakan. “Kaela pasti ada di sana,” gumamnya, jarinya menekan tombol radio. “Siap bergerak.”

Sementara itu, Kaela memanjat pagar besi tinggi, merasakan sengatan listrik kecil dari sistem keamanan yang sengaja dibuat agar terlihat menakutkan. Tetapi bagi Kaela, itu hanyalah permainan kecil. Ia melompat ke atap gedung, langkahnya mantap, meski di bawah langit yang gelap dan gerimis.

Begitu masuk ke dalam gedung, Kaela segera menyelinap melalui koridor gelap. Lampu-lampu merah berkedip seolah mengawasi setiap langkahnya. Ia berhenti sejenak di sudut, mendengar suara langkah sepatu. Intuisi mengatakan ini bukan musuh biasa. Ia mengendap, menahan napas, dan mengintip dari balik pilar beton.

Ternyata benar. Zayden sudah ada di gedung yang sama, berdiri di bayang-bayang lorong lain. Ia mengamati sekeliling, tubuhnya kaku, siap menghadapi bahaya. Matanya tajam menelusuri gerakan Kaela, dan kali ini, ia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa gadis itu sedang melakukan sesuatu yang ilegal, tapi… mengapa hatinya tetap menahan diri untuk menghentikannya?

Saling melihat, keduanya tahu: malam ini akan menjadi ujian besar—bukan hanya kemampuan fisik, tapi juga kesetiaan dan perasaan yang mulai tumbuh.

Di lantai bawah, beberapa penjaga bersenjata berpatroli. Kaela menunduk di balik pilar, napasnya tertahan. Ia merasakan tangan yang dingin memegang pistol, tapi bukan miliknya. Zayden muncul di sampingnya, senyumnya tipis namun penuh ketegangan. “Kau selalu memilih tempat yang salah untuk bersenang-senang,” bisiknya rendah.

Kaela menoleh, tatapan mereka bertemu. “Dan kau selalu muncul untuk menghentikanku,” jawabnya, suara serak karena menahan napas.

Tiba-tiba, alarm berbunyi. Lampu darurat menyala merah menyala, membuat bayangan mereka tampak seperti monster yang bergerak di lorong. Kaela dan Zayden saling berpandangan. “Sepertinya kita harus bekerja sama… untuk sekarang,” kata Zayden.

Mereka bergerak cepat, menyelinap melalui lorong sempit, menunduk di balik kotak dan pipa. Saat itu, monolog batin Kaela muncul: Aku tidak bisa mempercayainya sepenuhnya. Tapi jika aku tidak mengikuti dia, aku mungkin tidak akan keluar hidup-hidup.

Sementara Zayden berpikir: Dia begitu lincah… lebih dari yang kukira. Tapi jika dia benar-benar musuh, aku harus siap. Aku tidak bisa membiarkan rahasiaku bocor.

Ketika mereka sampai di ruang server utama, situasinya lebih kompleks daripada perkiraan. Ada empat penjaga bersenjata menunggu, menatap layar monitor dan berdiskusi. Kaela mengangkat tangan, mengisyaratkan Zayden untuk menyerang. Dalam sinkronisasi sempurna, mereka bergerak: Kaela menendang salah satu penjaga, menundukkan kepala di balik meja, sementara Zayden memukul dua orang lain dengan kekuatan dan ketepatan mematikan.

Setelah kekacauan itu, Kaela membuka terminal komputer. Data penting yang selama ini ia cari mulai terlihat. Namun Zayden, berdiri di belakangnya, menatap layar dengan mata melebar. Beberapa file menunjukkan jaringan kriminal yang bahkan ia sendiri tidak tahu bocor—dan salah satu file menampilkan kode yang hanya bisa diakses oleh Raven.

Kaela menelan ludah, menyadari bahwa rahasia yang ia dapatkan bisa menghancurkan Zayden, atau sebaliknya, mereka. “Ini… lebih besar dari yang kukira,” gumamnya.

Zayden menatapnya, sorot matanya menjadi tajam. “Apa kau sadar apa yang kau pegang sekarang?” tanyanya pelan, tetapi setiap kata seperti ledakan di telinga Kaela.

Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar dari tangga. Dua pria bertopeng memasuki ruang server, senjata siap. Kaela dan Zayden saling bertatapan satu detik penuh, lalu bergerak. Tembakan dilepaskan, ledakan kecil menghancurkan monitor di sudut. Mereka menunduk, memantulkan diri dari meja, menembakkan peluru secara terkoordinasi.

Setelah perkelahian selesai, ruangan menjadi hening. Napas mereka tersengal, keringat menetes. Kaela menatap Zayden, perasaan yang campur aduk muncul: kagum, takut, dan… sesuatu yang lebih dari sekadar rasa penasaran.

“Tunggu,” Kaela menahan tangan Zayden ketika ia hendak mengambil file terakhir. “Aku harus memeriksa sesuatu.” Ia memasukkan kode terenkripsi terakhir dan membuka folder yang tersembunyi. File itu menampilkan rekaman video—sosok seorang anak kecil, tertawa di halaman rumah. Tapi wajahnya samar, hanya sekilas, namun cukup untuk membuat darah mereka berdua membeku.

Zayden menatap layar, wajahnya berubah pucat. Ia mengenali anak itu. Bagaimana mungkin…? pikirnya. “Ini… tidak mungkin,” gumamnya.

Kaela menoleh, mata mereka bertemu. “Siapa dia?” tanyanya.

Sebelum Zayden sempat menjawab, sistem keamanan gedung mengeluarkan sirine dan layar komputer menampilkan peringatan: “Intrusi terdeteksi. Lokasi telah dikompromikan. Evakuasi atau dihapus.”

Mereka saling berpandangan, sadar bahwa malam ini bukan sekadar misi atau pertarungan. Ada ancaman baru, lebih besar dari mereka berdua. Kaela menunduk, monolog batin muncul: Anak itu… bagaimana dia bisa terkait dengan semua ini? Dan kenapa perasaanku terhadap Zayden malah membuatku ragu?

Zayden menatap Kaela, nada suaranya rendah tapi tegas: “Kita harus keluar dari sini sekarang. Dan… kita harus saling percaya—setidaknya untuk bertahan hidup malam ini.”

Mereka melesat keluar dari ruang server, menembus lorong darurat, turun tangga dengan kecepatan tinggi. Namun twist terbesar malam itu muncul di pintu keluar: dua mobil hitam menutup jalan mereka, dan dari dalamnya, muncul sosok yang tidak mereka sangka—seseorang yang selama ini menjadi bayangan dalam permainan mereka, seseorang yang tahu rahasia Zayden dan Kaela.

Sosok itu melangkah maju, wajahnya setengah tertutup topeng, suara dalamannya menggetarkan: “Selamat datang, Raven… dan Kaela. Permainan kalian baru saja dimulai.”

Keduanya menatap sosok itu, sadar bahwa dunia gelap yang mereka jalani ternyata jauh lebih berbahaya dari yang pernah dibayangkan. Dan anak kecil yang muncul di file itu bukan kebetulan—ia adalah kunci dari rahasia yang akan mengubah segalanya.

Malam itu menutup dengan ketegangan yang menebal, hujan yang turun deras, dan kesadaran bahwa pertarungan, pengkhianatan, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara Kaela dan Zayden hanyalah awal dari permainan mematikan yang baru.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Pendekar Petualang Cinta
8.9
Anjasmara, putra selir Kerajaan Galuh, berkelana sebagai pendekar tampan demi mencari jodoh atas mandat ibunya. Ia harus menemukan wanita yang sulit ditaklukkan sebagai pasangan sejati. Namun, pesonanya justru membuat banyak gadis terpikat. Di tengah pencarian cinta, ia terjebak konflik dunia persilatan yang mengancam nyawa sekaligus mengasah kekuatannya. Mampukah ia menemukan belahan jiwa sambil menghadapi tantangan besar di jagat persilatan?
Sampul Novel Perjalanan Melawan Dunia
7.8
Shua Xie adalah gadis dari dimensi lain yang terbangun di raga Putri Langit setelah tewas tertembak. Terlempar melintasi waktu, ia kini memikul beban sebagai Ratu segala Ratu. Takdir membawanya pada misi balas dendam demi merebut kembali haknya yang dirampas. Mengandalkan kecerdasan dan pengalaman, Shua menghadapi musuh penuh tipu muslihat. Ia bukan pahlawan suci; Shua berjuang menyelamatkan dunia yang tak menghargainya dengan caranya sendiri yang dingin.
Sampul Novel Reinkarnasi Dewa Bela Diri
9.0
Austin terlempar dari zaman modern ke masa lalu dan terbangun di Dunia Bela Diri Utama yang kuno. Meski kini menghuni raga seorang pemuda yang dianggap bodoh dan menyedihkan, kesadaran Austin tetap tajam dan jernih. Memanfaatkan tubuh barunya yang lebih muda, dia bertekad menempa kekuatan demi mendaki puncak tertinggi. Inilah perjalanan Austin untuk menjadi Dewa seni bela diri yang legendaris dan menguasai seluruh dunia dengan kekuatannya sendiri.