Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku

Ayahku, Penjahat Terbesarku

Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hujan malam masih mengguyur kota ketika Kaela dan Zayden menepi di lorong sempit setelah lolos dari mobil-mobil hitam yang menghadang mereka. Lampu jalan yang remang memantulkan bayangan panjang dari tubuh mereka, seakan kota ini menelan mereka ke dalam dunia sendiri. Napas Kaela tersengal, mantel basah menempel di tubuhnya.

"Siapa dia?" tanya Kaela akhirnya, suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa penasaran yang memuncak.

Zayden menatap ke arah gerbang gedung yang masih memantulkan cahaya sirene darurat. Sorot matanya tajam, wajahnya berubah tegang. "Orang itu... dia tahu terlalu banyak. Dan dia bukan sekadar musuh biasa. Dia... lebih dari yang kita hadapi sebelumnya," jawabnya, nada serius dan berat.

Kaela menelan ludah, merasakan adrenalin yang mencampur rasa takut dan penasaran. Monolog batinnya bergema: Setiap langkah yang kulakukan malam ini membawa aku lebih dekat ke rahasia yang mungkin menghancurkan kami berdua. Tapi mengapa hatiku menolak mundur?

Mereka berdua bergerak cepat, menyelinap melalui gang-gang basah, meninggalkan gedung itu. Tapi Kaela menyadari satu hal: mereka telah diawasi. Sensor dan kamera yang ia pasang sebelumnya seharusnya aman, tapi ada interferensi-artinya, seseorang di luar sana mengikuti setiap langkah mereka.

Zayden berhenti sejenak, menundukkan kepala. "Ada sesuatu yang tidak kuketahui... tapi aku merasa dia tahu setiap gerakan kita. Jika kita ingin bertahan, kita harus bergerak sekarang."

Kaela mengangguk, menarik napas panjang. Mereka harus kembali ke markas rahasia Kaela untuk menganalisis file yang mereka temukan-file yang menampilkan anak kecil misterius, kunci dari permainan yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Sepanjang perjalanan, keduanya bergerak dalam keheningan yang penuh ketegangan. Kaela memperhatikan Zayden, tubuhnya tegang, matanya sesekali melirik ke jalanan sepi. Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini malam itu. Ia bukan hanya penghalang atau musuh yang harus dihadapi-ada sisi yang membuat Kaela tidak bisa menyingkir.

Sementara Zayden juga memperhatikan Kaela, bagaimana gadis itu tetap fokus, lincah, dan penuh strategi. "Dia bukan sekadar pemburu," gumamnya dalam hati. "Dia... bisa menjadi kunci dari sesuatu yang bahkan aku belum mengerti sepenuhnya."

Mereka sampai di markas rahasia, sebuah gudang tua yang disamarkan sebagai pabrik kosong. Pintu baja terbuka dengan suara gesekan, lampu merah berkedip di sudut, memberi kesan bahwa tempat ini adalah benteng yang aman. Kaela menutup pintu, menatap Zayden. "Kita harus bekerja cepat. File itu... bisa jadi jebakan."

Zayden mengangguk, sorot matanya tetap waspada. "Aku percaya pada instingmu. Tapi ingat... aku tidak bisa menjamin keselamatan kita."

Di ruang utama markas, Kaela menyalakan komputer dan membuka file terenkripsi. Anak kecil itu muncul lagi di layar, wajahnya samar tapi jelas familiar bagi Zayden. Ia menunduk, merasakan jantungnya berdetak kencang. Bagaimana dia bisa terkait dengan semua ini?

Kaela menatap Zayden, menyadari ada sesuatu yang membuatnya terhenti. "Kamu kenal dia?" tanyanya, suara lembut tapi tegas.

Zayden menelan ludah, menatap layar. "Aku... aku tidak yakin. Tapi ada rasa yang familiar, sesuatu yang aku tidak bisa jelaskan. Dan itu berbahaya," jawabnya.

Mereka masih mencoba menganalisis file ketika tiba-tiba lampu markas berkedip, sirine kecil berbunyi. Seseorang telah menembus sistem keamanan mereka. Kaela segera menarik pistol, sementara Zayden mengangkat senjata juga, gerakan mereka sinkron tanpa disadari.

Dari bayangan, muncul tiga pria bertopeng, membawa senjata otomatis. Kaela dan Zayden langsung bereaksi: tembakan dilepaskan, peluru bersiul di udara, ledakan kecil menghantam dinding. Gerakan mereka cepat, seperti tarian maut yang terlatih, namun setiap gerakan juga dipenuhi ketegangan karena rahasia mereka masing-masing bisa terbongkar kapan saja.

Ketika asap dan debu mulai turun, Kaela berhasil menahan salah satu pria bertopeng, menariknya ke bawah meja dan menanyai dengan cepat: "Siapa yang mengirimmu?"

Pria itu tertawa keras, terdengar licik. "Kau pikir ini cuma aku? Ini baru permulaan. Dia tahu kalian berdua ada di sini. Dan anak itu... adalah kunci semua rahasia kalian," katanya, lalu menghilang dalam kekacauan ledakan yang tiba-tiba.

Kaela dan Zayden terdiam. Tatapan mereka bertemu. Anak itu... kunci semua rahasia kami? pikir Kaela. Sementara Zayden berpikir: Jika anak itu terkait denganku, semua yang kulindungi bisa hancur.

Mereka tahu satu hal: malam ini bukan sekadar pertarungan fisik. Ini pertarungan strategi, rasa percaya, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka. Kaela merasakan degup jantungnya semakin cepat setiap kali menatap Zayden. Ia mencoba menepis perasaan itu, tapi instingnya mengatakan: Aku harus tahu lebih banyak. Aku harus dekat dengannya.

Zayden juga merasakan hal yang sama. Ia tahu gadis ini adalah ancaman sekaligus daya tarik yang tidak bisa ia abaikan. Setiap gerakannya, setiap senyumnya yang samar, membuatnya ingin melindungi tapi juga waspada.

Mereka melanjutkan analisis file, menemukan koordinat rahasia yang mungkin menunjukkan lokasi anak kecil itu. Kaela menatap Zayden, suaranya lembut tapi tegas: "Kita harus pergi sekarang. Jika kita terlambat... anak itu bisa hilang, dan semua informasi bisa jatuh ke tangan yang salah."

Zayden mengangguk, mengambil jaketnya. "Aku ikut. Tapi kita harus berhati-hati. Ini tidak seperti sebelumnya."

Mereka keluar dari markas, berjalan di lorong sempit kota yang basah. Hujan mulai reda, tapi udara tetap dingin. Setiap bayangan tampak seperti ancaman. Monolog batin Kaela muncul: Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya sepenuhnya. Tapi jika aku ingin menyelamatkan anak itu... aku harus bersama Zayden.

Zayden berpikir sendiri: Dia begitu berani, begitu cerdas. Aku tidak bisa membiarkannya terluka. Tapi aku juga harus menjaga rahasiaku. Dan jika anak itu terkait denganku... aku harus bersiap untuk keputusan yang mungkin menghancurkan kami berdua.

Mereka sampai di sebuah gudang tua di pinggir kota, tempat yang ditunjukkan oleh koordinat. Suasana di sana tegang, gelap, dan dipenuhi rasa takut yang hampir bisa dirasakan secara fisik. Kaela menyalakan senter kecil, mengintip ke dalam. Ada beberapa bayangan yang bergerak cepat, tampaknya berusaha menghindari mereka.

Tanpa disadari, Zayden memegang tangan Kaela sebentar, menahannya dari lompatan yang terlalu berisiko. Kontak itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Kaela berdetak lebih cepat. Ia menoleh, mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, dunia di sekitar lenyap.

Tapi tidak ada waktu untuk perasaan. Mereka bergerak masuk, menunduk di balik kotak dan kontainer besar. Tembakan terdengar dari arah bayangan. Kaela membalas dengan tembakan terkontrol, sementara Zayden menetralkan beberapa musuh dengan presisi mematikan. Gerakan mereka sinkron, hampir seperti satu entitas yang sama, meski masing-masing membawa rahasia dan rasa penasaran yang berbeda.

Ketika mereka mencapai pusat gudang, mereka menemukan sebuah kamar kecil, terkunci. Kaela membuka pintu dengan cepat, dan di dalamnya...

Seorang anak kecil, wajahnya samar, tetapi begitu familiar bagi Zayden. Mata anak itu besar, menatap mereka dengan takut, tapi ada kilatan pengenalan.

Zayden menelan ludah, menatap anak itu dengan campuran kaget dan sakit hati. "Bagaimana... bagaimana ini bisa terjadi?" gumamnya.

Kaela menatap Zayden, perasaan campur aduk muncul. "Anak itu... apa hubungannya denganmu?" tanyanya pelan.

Sebelum Zayden sempat menjawab, sirine dan lampu kilat muncul di luar gudang. Suara yang familiar terdengar, dingin dan menakutkan: "Raven... kau tidak seharusnya dekat dengan anak itu. Dan Kaela... kau terlalu banyak tahu."

Twist malam itu akhirnya terungkap: orang yang selama ini menjadi bayangan dalam permainan mereka bukan hanya mengetahui rahasia Zayden dan Kaela, tapi juga memiliki koneksi langsung dengan anak kecil itu. Dan malam itu, satu pertanyaan menjadi jelas: apakah mereka akan bertahan, atau rahasia itu akan menghancurkan semuanya?

Malam itu terasa lebih pekat daripada biasanya. Kabut tebal menutupi jalanan kota, memutar-mutar lampu jalan yang redup menjadi lingkaran samar. Kaela dan Zayden berdiri di sisi gudang, napas mereka berat, tubuh basah oleh hujan yang berhenti sesaat lalu turun lagi dalam gerimis tajam. Di depan mereka, bayangan mobil hitam menunggu, mesin menderu rendah, seperti suara predator yang siap menyerang.

Kaela menundukkan kepala, jantungnya berdegup kencang. Aku harus tenang. Ini bukan sekadar misi… ini tentang anak itu, tentang Zayden, dan tentang rahasia yang bisa menghancurkan kami semua.

Zayden menatapnya, sorot mata tajam, wajahnya setengah tertutup hoodie. “Kita tidak punya banyak waktu. Jika mereka menemukan kita di sini, kita…” ia terhenti sejenak, menelan ludah, “kita bisa kehilangan semuanya.”

Kaela mengangguk, menyiapkan senjata tersembunyinya. Kedua tangan mereka bergerak sinkron, seperti latihan yang sudah berulang kali diulang. Tapi perasaan campur aduk tidak bisa dihilangkan. Ada rasa takut, ada rasa penasaran, ada… sesuatu yang lebih.

Mereka bergerak masuk ke dalam gudang, hati-hati setiap langkahnya. Suara tetesan air dari atap besi terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu. Bayangan bergerak cepat, dan mata Kaela menangkap sosok yang menunggu mereka: seorang pria bertopeng, postur tinggi, gerakan lambat tapi penuh ancaman.

“Selamat datang, Raven… Kaela,” suaranya dingin, menembus keheningan gudang. “Aku sudah menunggu kalian.”

Zayden mengerutkan kening, bersiap menghadapi pertarungan. “Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dari anak itu?”

Pria bertopeng itu tersenyum tipis, namun matanya tajam seperti pisau. “Anak itu… adalah kunci dari permainan yang bahkan kau tidak mengerti, Zayden. Dan Kaela, kau terlalu banyak tahu. Malam ini, kalian berdua harus memilih—bertahan hidup atau menyerah pada rahasia yang kalian bawa.”

Kaela menahan napas, menatap Zayden. Monolog batinnya bergema: Aku tidak bisa mundur. Anak itu… dia tidak bersalah. Aku harus melindunginya. Tapi bagaimana dengan Zayden? Aku merasakan sesuatu padanya… dan itu membuat segalanya lebih rumit.

Zayden menatap pria itu, tangan di senjatanya tetap stabil. “Kau tidak akan mendapatkan anak itu. Dan aku tidak akan membiarkanmu mengancam orang yang aku pedulikan.”

Pria bertopeng itu tertawa, dan sekejap kemudian, beberapa orang muncul dari bayangan, bersenjata lengkap. Gudang itu berubah menjadi arena pertarungan. Kaela dan Zayden bergerak, saling menutupi satu sama lain, menembakkan peluru dan menangkis serangan dengan presisi. Suara tembakan, kaca pecah, dan benturan logam memenuhi udara.

Selama pertarungan itu, Kaela merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali Zayden berada dekat dengannya, detak jantungnya seakan melompat lebih cepat. Ia mencoba menahan perasaan itu, tapi sulit. Dan Zayden… ia juga merasakan hal yang sama. Setiap gerakan Kaela, setiap strategi yang ia buat, membuatnya ingin melindungi, tapi juga waspada.

Ketika asap dari ledakan kecil mulai menebal, Kaela berhasil menyingkir dari salah satu penjaga, mengambil ancang-ancang untuk menyelamatkan anak itu. Namun Zayden menahan tangannya, menatapnya dengan serius. “Jangan. Kita harus melakukannya bersama, atau kita tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.”

Kaela mengangguk, dan mereka bergerak maju sebagai tim, saling melindungi, saling mengisi kekurangan. Keduanya bergerak seperti tarian yang mematikan, tapi juga indah, setiap gerakan penuh ketepatan.

Di tengah chaos itu, Kaela melihat pintu kecil di sisi gudang. Anak kecil itu terlihat ketakutan di dalam, namun ada kilatan pengenalan saat melihat Kaela dan Zayden mendekat. Kaela berbisik lembut, “Tenang… aku di sini. Kita akan menyelamatkanmu.”

Zayden menatap Kaela, dan untuk sekejap, waktu seakan berhenti. Ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, campur aduk antara rasa kagum, perlindungan, dan… sesuatu yang lebih dalam. Tapi tidak ada waktu untuk itu sekarang.

Mereka berhasil mencapai anak itu, namun sosok bertopeng itu menghadang mereka lagi, lebih dekat dan lebih berbahaya. “Kalian pikir bisa lari? Ini baru permulaan,” katanya, suara penuh ancaman.

Pertarungan fisik terjadi lagi. Kaela melompat, menendang, menembakkan beberapa peluru ke arah musuh, sementara Zayden menyerang dari sisi lain, menghancurkan peralatan yang bisa digunakan lawan. Anak itu bersembunyi di balik Kaela, mata besar menatap mereka dengan campuran ketakutan dan pengharapan.

Namun twist besar malam itu muncul ketika Kaela menatap wajah pria bertopeng… dan sadar sesuatu yang membuat darahnya berhenti sejenak. Topeng itu jatuh perlahan karena satu serangan Zayden, dan di baliknya, wajah yang sangat familiar muncul—seseorang dari masa lalu Zayden yang ia pikir sudah hilang, tapi ternyata hidup, dan kini menjadi musuh mereka.

Kaela menelan ludah, matanya melebar. “Itu… itu orang dari file yang aku lihat sebelumnya?” gumamnya.

Zayden terkejut, tapi segera sadar. “Dia… dia tahu rahasia terbesar kita… dan dia tidak akan berhenti sampai semuanya hancur.”

Pria itu tersenyum, dingin. “Zayden, kau pikir kau bisa melindungi semuanya sendiri? Anak itu… adalah kunci dari kekuasaan yang lebih besar. Dan kalian berdua, terlalu dekat untuk menyadari bahwa kalian berada di jalan yang sama menuju kehancuran.”

Kaela dan Zayden saling berpandangan, sadar bahwa permainan ini jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Anak kecil itu bukan sekadar target—dia adalah kunci dari rahasia yang bisa mengguncang dunia gelap mereka, dan rahasia itu terkait langsung dengan masa lalu Zayden.

Pertarungan berlanjut di tengah hujan yang deras, namun kali ini, strategi dan insting menjadi lebih penting daripada kekuatan fisik semata. Kaela dan Zayden menyadari satu hal: mereka harus bekerja sama lebih dari sebelumnya, dan kepercayaan satu sama lain adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.

Di tengah chaos itu, monolog batin Kaela muncul: Aku mulai menyadari… aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini. Dia bukan sekadar musuh atau sekutu. Dia adalah bagian dari hidupku sekarang, dan aku harus melindungi dia… walau rahasia gelapnya bisa menghancurkan kami.

Zayden juga berpikir sendiri: Kaela… dia luar biasa. Aku seharusnya tidak terikat, tapi aku tidak bisa menepis perasaan ini. Dan anak itu… anak itu adalah tanggung jawabku, bahkan jika itu berarti menghadapi masa lalu yang ingin kulupakan.

Akhirnya, setelah pertarungan yang sengit, mereka berhasil mengusir pria bertopeng itu, mengambil anak kecil, dan meloloskan diri ke jalanan basah. Napas mereka tersengal, tubuh kelelahan, namun ada rasa lega dan kemenangan yang samar.

Namun twist terakhir malam itu menghantui mereka. Saat mereka menengok ke belakang, di atas gedung yang jauh, sosok pria bertopeng itu berdiri di atas atap, menatap mereka dengan dingin, lalu mengangkat tangan… dan sinyal yang jelas muncul di udara.

“Permainan belum selesai. Aku akan kembali… dan rahasia yang kalian bawa akan membunuh kalian dari dalam,” suaranya terdengar seperti gema di kepala mereka.

Kaela memeluk anak itu erat, merasakan detak jantungnya yang cepat. Zayden berdiri di sampingnya, mata tajam menatap bayangan pria itu yang menghilang dalam kegelapan. Mereka tahu satu hal: malam ini hanyalah awal dari pertarungan yang jauh lebih besar. Rahasia, perasaan yang tumbuh di antara mereka, dan ancaman dari masa lalu akan membentuk jalannya nasib mereka—dan dunia gelap yang mereka jalani belum selesai menguji mereka.

Hujan turun semakin deras, membasahi kota, membasahi tubuh mereka, namun tidak mampu membasahi tekad untuk bertahan hidup, melindungi yang lemah, dan menghadapi rahasia yang akan mengubah segalanya.

Dan malam itu menutup dengan kesadaran pahit: permainan ini belum selesai, tetapi ikatan antara Kaela dan Zayden telah teruji, perasaan yang muncul di tengah chaos mulai menjadi kekuatan… atau kelemahan terbesar mereka.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Pendekar Petualang Cinta
8.9
Anjasmara, putra selir Kerajaan Galuh, berkelana sebagai pendekar tampan demi mencari jodoh atas mandat ibunya. Ia harus menemukan wanita yang sulit ditaklukkan sebagai pasangan sejati. Namun, pesonanya justru membuat banyak gadis terpikat. Di tengah pencarian cinta, ia terjebak konflik dunia persilatan yang mengancam nyawa sekaligus mengasah kekuatannya. Mampukah ia menemukan belahan jiwa sambil menghadapi tantangan besar di jagat persilatan?
Sampul Novel Perjalanan Melawan Dunia
7.8
Shua Xie adalah gadis dari dimensi lain yang terbangun di raga Putri Langit setelah tewas tertembak. Terlempar melintasi waktu, ia kini memikul beban sebagai Ratu segala Ratu. Takdir membawanya pada misi balas dendam demi merebut kembali haknya yang dirampas. Mengandalkan kecerdasan dan pengalaman, Shua menghadapi musuh penuh tipu muslihat. Ia bukan pahlawan suci; Shua berjuang menyelamatkan dunia yang tak menghargainya dengan caranya sendiri yang dingin.
Sampul Novel Reinkarnasi Dewa Bela Diri
9.0
Austin terlempar dari zaman modern ke masa lalu dan terbangun di Dunia Bela Diri Utama yang kuno. Meski kini menghuni raga seorang pemuda yang dianggap bodoh dan menyedihkan, kesadaran Austin tetap tajam dan jernih. Memanfaatkan tubuh barunya yang lebih muda, dia bertekad menempa kekuatan demi mendaki puncak tertinggi. Inilah perjalanan Austin untuk menjadi Dewa seni bela diri yang legendaris dan menguasai seluruh dunia dengan kekuatannya sendiri.