Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Mendendam

Asmara Mendendam

Nezza menempati kos angker demi pekerjaan. Di sana, ia terpikat pada Ari, putra pemilik kos yang dingin. Meski penghuni lain seperti Adelina dan Putri agresif mengejar Ari, Nezza tetap kagum padanya. Namun, teror mistis mulai menghantui semua orang. Ari yakin ada manusia di balik kekacauan ini. Saat situasi memuncak, Rahma menuduh Jessy sebagai dalang teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri berdarah di kos ini akhirnya terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gerimis sudah berakhir. Meskipun hanya menyapa sebentar, tetes-tetes air langit itu sudah cukup menyegarkan udara serta menyeruakkan aroma tanah basah. Nezza melenggang pelan sambil sesekali menghirup kesegaran udara selepas hujan.

Kos Pak Ruslan-yang juga rumah keluarga-tidaklah jauh dari warung Pak Hasan dan Bu Asri. Nezza tinggal berjalan lurus dan berhenti di pertigaan jalan. Demi melihat senja yang beranjak menggelayut manja di ufuk barat, Nezza mempercepat langkahnya. Ia ingin cepat sampai karena rasa capek telah menggerogoti kaki dan punggungnya. Terlebih lagi besok ia sudah harus mulai kerja. Hari pertama kerja.

Mengingat tentang hari kerja pertamanya, rasa antusias bercampur cemas tanpa permisi menghinggapi. Ya, akhirnya! Setelah berbulan-bulan bergelut dengan lembar demi lembar lamaran kerja, akhirnya Nezza mendapat kesempatan itu. Meski berpasang-pasang mata sombong dari teman hingga tetangga meremehkannya, Nezza bersyukur mendapatkan kerja dengan jerih payahnya sendiri. Akan tetapi dengan begitu tidak lantas membuat Nezza melayangkan pandang merendahkan untuk teman-temannya yang memakai cara instan. Suap, nepotisme maupun jalur cepat lainnya.

Tentang kos Pak Ruslan yang sedikit banyak mencipta resah, sebisa mungkin Nezza tepis. Nezza berharap apa yang diyakini oleh Pak Hasan menjadi kebenarannya. Bahwa hantu itu tidak ada. Sejatinya hantu muncul sebagai pantulan atas kecemasan dari manusianya sendiri.

Kira-kira sepuluh menit berjalan, Nezza menemukan sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang asri. Rumah ini jauh sekali dari kesan angker. Cat rumah ini masih terlihat baru. Cat biru muda yang manis. Sejenak Nezza terbersit, apakah ia salah rumah. Namun keraguannya musnah karena yakin letak rumah sudah sesuai dengan ancer-ancer yang diuraikan oleh Pak Hasan dan Bu Asri. Rumah di sisi kanan pertigaan jalan, menghadap ke utara, berpagar besi, pintu gerbang besar hitam, serta di depannya agak menjorok ke dalam ada sebuah warung makan sederhana.

Nezza memompa napas. Menarik dan melepaskannya. Usai bibirnya melantun sekelumit doa, ia membuka pintu gerbang besi yang ternyata tidak dikunci. Nezza kemudian memasuki pekarangan rumah. Ia mengamati sekeliling dan tidak menemukan sesuatu barang sedikit pun yang bisa menimbulkan kesan menakutkan pada rumah dan kos Pak Ruslan. Pekarangan rumah bersih dan tertata cukup apik. Di teras rumah tersedia beberapa kursi tamu lengkap dengan mejanya. Ada pula semacam gazebo sederhana beratap seng yang terletak di tepi timur halaman. Gazebo itu dilengkapi dengan tempat-tempat duduk yang terbuat dari semen yang dilapisi keramik di permukaannya. Di tengah-tengah pekarangan, tumbuh pohon nangka yang sepertinya berumur cukup tua. Pohon nangka itu sedang berbuah dan buahnya yang bergerombol menambah elok suasana pekarangan ini.

Setelah puas mengamati dan meneliti, Nezza mendekat pada pintu masuk. Di atas pintu yang terbuat dari seng itu tertempel sebuah kertas yang bertuliskan “Maaf bel sedang rusak”. Ketika Nezza hendak mengetuk pintu, tiba-tiba dari arah belakang-yang tidak Nezza sadari kemunculannya-menepuk pundak dan bersuara.

“Masuk saja!” suara berat seorang pria dewasa menyentuh gendang telinga Nezza. Sesaat jantungnya berdegup kencang. Kaget tentu saja.

Nezza memutar tubuhnya lalu menatap penuh keraguan pada pria asing di hadapannya. Masih dalam kelinglungan, mendadak pria asing itu mencondongkan tubuhnya untuk mendorong pintu. Akibatnya tubuh pria asing tidak sengaja bergesekan dengan Nezza yang berdiri mematung persis di depan pintu.

“Ayo masuk. Kamu mau mengekos kan?” ucap pria asing sesaat setelah pintu terbuka.

Walaupun Nezza agak merasa jengkel, ia menurut juga. Ia masuk mengikuti si pria asing.

“Tolong pintunya di tutup kembali ya,” ujar pria asing tanpa menoleh.

Refleks Nezza mendengus. Lunglai ia berbalik badan untuk menutup pintu. Selarik senyum tergores di bibir pria asing. Tentunya tanpa sepengetahuan Nezza.

Pria asing tadi karena langkah kakinya lebar, sudah mencapai di depan pintu rumah. Nezza menduga bangunan rumah itu merupakan rumah utama keluarga Pak Ruslan. Nezza berlari-lari kecil menyusul pria asing yang berdiri tegap menunggu.

“Silakan masuk. Boleh duduk juga. Aku panggil ibuku dulu.”

Nezza menanggapi dengan anggukan. Pria asing itu pun langsung masuk ke sebuah ruangan. Tak berselang lama, samar-samar terdengar suara riang seorang wanita.

Sepeninggal pria asing, Nezza melangkah ke sofa. Ia memilih duduk di sebuah sofa untuk porsi satu orang. Sempat terlintas pertanyaan konyol bin tidak penting di dalam ceruk kepala Nezza. Kenapa tuan rumah biasanya duduk di sofa yang panjang sedang tamunya duduk di sofa lain? Apa sudah begitu aturannya?

Selama menunggu, bukan karakter Nezza jika ia duduk tenang. Nezza mengambil kesempatan itu untuk mengamati sekeliling. Meskipun rumah sangat sepi senyap, entah mengapa Nezza merasa hangat. Apalagi ketika matanya menelusur satu demi satu foto yang terpasang di dinding.

Penelusuran Nezza makin menjadi-jadi. Setelah menghitung jumlah kamar, ia mulai mengamati perabot-perabot dan hiasan ruang yang terjangkau penglihatannya.

Nezza menghentikan ulah bak detektifnya ketika terdengar olehnya langkah kaki mendekat. Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan baki berisi gelas minuman dan toples makanan ringan.

“Maaf ya Nak membuatmu menunggu. Tanggung tadi kalau masakannya ditinggal,” tutur wanita separuh baya seraya menata gelas minuman dan toples makanan di atas meja. Lantas baki yang kosong, ditaruh miring di sisi sofa tempatnya duduk.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Nezza singkat.

“Saya Bu Ruslan. Istrinya Pak Ruslan tentunya,” ucap Bu Ruslan memperkenalkan diri diiringi tawa lirih bersahaja.

“Saya Nezza, Bu.” Nezza menyambut uluran tangan Bu Ruslan.

“Kamu kerja atau kuliah, Nak?” tanya wanita itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Saya sudah kerja, Bu. Besok hari pertama saya kerja,” jawab Nezza.

“Kerja di mana, Nak?” tanya wanita itu dengan tatapan keibuannya.

“Kerja di PT. Karunia Jaya Bu, yang letaknya di depan Bank Arta Mulia itu."

Ramah-tamah yang hangat terus berlanjut. Keakraban itu seketika memenuhi ruang dan waktu. Suasana rumah yang tadinya sepi senyap bersalin perbincangan seru dan menyenangkan. Nezza sendiri bingung, mengapa ia bisa cepat menyatu dengan Bu Ruslan.

“Ayo Ibu antarkan untuk melihat-lihat dulu. Jangan sampai Nak Nezza seperti membeli kucing dalam karung.” Bu Ruslan bangkit dari duduknya. Nezza mengikuti.

Seperti seorang tour guide, Bu Ruslan menjelaskan secara detail seluk-beluk kos-kosan miliknya.

Rumah keluarga yang dikembangkan menjadi kos-kosan itu seperti sebuah kompleks perumahan kecil dengan taman kecil di tengahnya. Di sisi kanan pintu masuk tadi, terdapat sebuah rumah yang merupakan rumah utama keluarga Ruslan. Sementara pintu rumah yang tersambung ke ruang keluarga tadi adalah pintu samping. Kemungkinan pintu samping itu difungsikan untuk memantau para penghuni kos. Di timur rumah utama terdapat tembok pembatas memanjang yang bersambung pada ruang tanpa pintu yang disebut sebagai tempat mencuci pakaian. Ada kran, tumpukan ember, serta sabun.

Berdempetan dengan ruang mencuci ada kamar mandi. Sebelahnya lagi ada berderet-deret kamar kos berjumlah lima kamar menghadap barat. Berikutnya ada lima deret kamar kos lagi yang menghadap utara.

Di sebelah barat dari kompleks kos ini terdapat ruangan kecil seperti musala dan sebuah gudang. Lalu, di depan musala tersebut terdapat taman kecil. Berbagai tanaman tersusun apik di dalam pot-pot yang beraneka ragam; baik dari pot tanah, plastik maupun kaleng bekas cat. Rumah kos ini dikelilingi tembok yang cukup tinggi.

“Nah, begini lah keadaan kosnya, Nak,” ucap Bu Ruslan setelah selesai menemani Nezza berkeliling.

Bu Ruslan dan Nezza kemudian kembali ke ruang keluarga di rumah utama. Sesampainya di sana, wajah Bu Ruslan berubah tegang.

“Nak Nezza pasti sudah sejak tadi cari kos tetapi semuanya penuh. Sama seperti Rahma yang kemarin juga ke sini,” ucap Bu Ruslan memulai perbincangan yang sepertinya akan menjadi lebih serius dari sebelumnya.

Nezza mengangguk karena menutup-nutupi keadaan dengan basa-basi akan jadi percuma juga.

“Nak Nezza ke sini pasti karena terpaksa, besok Nak Nezza harus kerja kan? Tapi apa Nak Nezza ini sudah tahu cerita tentang rumah kos ini?” tanya Bu Ruslan melirih.

Wajah Bu Ruslan yang tadi tegang berangsur-angsur mendung. Belum sempat Nezza memberikan jawaban, lengkingan suara batuk menggema. Walau tidak berdasar, Nezza langsung menduga pria asing menjengkelkan sebagai dalangnya.

“Saya sudah tahu semua ceritanya, Bu. Saya pun sudah memutuskan untuk tetap kos di sini,” putus Nezza tenang. Bu Ruslan menarik napas.

“Jika itu sudah menjadi keputusan Nak Nezza….,” kata Bu Ruslan menggantung.

“Tapi kalau nanti ternyata tidak betah, Nak Nezza bisa pindah. Tidak usah sungkan-sungkan. Ibu tidak akan mencegah,” lanjut Bu Ruslan bijaksana. Nezza mengangguk sembari mengulas senyum.

“Bentar ya Ibu ambilkan kuncinya dahulu. Oh ya, tadi kamu sudah berkenalan dengan Ari bukan?” ujar Bu Ruslan sembari bangkit dari duduknya.

“Ari?” tanya Nezza dengan nada mengambang. Karena tanpa izin kesadarannya telah ditarik oleh suatu memori.

“Iya. Ari, anak tunggal Ibu,” tandas Bu Ruslan.

“Ada apa, Nak? Kamu tampak terkejut,” imbuh Bu Ruslan menyelidik setelah melihat Nezza salah tingkah.

“Tidak ada apa-apa, Bu. Cuma….” Nezza tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Dirinya kok bisa-bisanya merasa ke-pede-an kalau sampai pria asing yang ternyata bernama Ari tengah mencuri dengar.

“Sama dengan nama teman kamu ya?” potong Bu Ruslan melayangkan tebakan.

Nezza hanya menanggapi dengan senyuman tipis.

“Nanti kamarnya biar diperiksa sekalian dibersihkan Ari dulu. Takutnya ada yang bocor. Apalagi seminggu terakhir sering hujan,” tutur Bu Ruslan sembari melangkah ke sebuah kamar di ujung.

Bu Ruslan mengetuk pintu. Kepala Ari menyembul. Tak berselang lama, Ari keluar kamar dengan memegang kunci.

“Ibu siapkan makan malam untukmu sembari menunggu kamarmu dibersihkan ya?” pungkas Bu Ruslan sambil melangkah ke ruang yang dapat dipastikan adalah dapur. Nezza hendak menolak tetapi tidak punya kesempatan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel Kisah Pendakian Horor
8.0
Kumpulan narasi mencekam ini merangkum berbagai pengalaman mistis para pendaki saat menaklukkan puncak gunung. Setiap cerita menyajikan kengerian berbeda yang mampu menguji keberanian Anda di alam liar. Apakah Anda masih berani merencanakan pendakian setelah menyelami rentetan teror yang dialami mereka? Ikuti terus rangkaian kisah horor ini untuk menuntaskan rasa penasaran. Pastikan Anda memberikan dukungan berupa tanda suka dan komentar di setiap ceritanya.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Alicia Lucero dijual oleh pamannya yang serakah kepada Lucius Denovan, pria bermata merah saat ia masih kecil. Setelah bertahun-tahun diasingkan, Lucius kembali menjemputnya saat Alicia dewasa. Hidup Alicia berubah menjadi mimpi buruk penuh siksaan karena Lucius sangat gemar melihatnya menderita. Meski terjebak dalam kekejaman pria yang menganggapnya sebagai mainan itu, Alicia memilih bertahan sebab ia menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.