
Asmara Mendendam
Bab 3
Nezza duduk kikuk di meja makan. Bagaimana tidak, belum ada satu jam berkenalan dengan empunya rumah, sudah makan diajak makan malam. Tidak hanya itu saja, Bu Ruslan memperlakukan Nezza tidak sebagaimana tamu melainkan keluarga sendiri. Lebih tepat anak mungkin. Mendapat perlakuan begini, perasaan Nezza jadi mengharu biru.
“Ayo, tambah lagi lauknya Nak Nezza,” kata Bu Ruslan mempersilakan.
“Sudah cukup, Bu. Terima kasih.”
“Tidak usah sungkan.” Bu Ruslan mencapit paha ayam goreng lalu menaruhnya di piring Nezza.
Di sela-sela makan, Nezza dan Bu Ruslan membicarakan perihal biaya kos dan fasilitas yang melengkapi. Setelahnya Bu Ruslan mengantar ke kamar kos yang telah dipilih Nezza. Tentunya Ari sudah selesai membersihkannya.
Tadi Nezza sudah menjatuhkan pilihannya kepada kamar nomor tiga. Nezza memang sempat bingung sewaktu diminta memilih kamar. Setelah mengamati dan mempertimbangkan, akhirnya Nezza memilih kamar nomor tiga. Alasannya Nezza ingin berdekatan dengan anak kos lain. Dengan memilih nomor tiga, ia tidak terlalu jauh dari nomer satu dan lima yang kata Bu Rasti sudah ada yang menempati dan memesan. Nezza sedikit terheran-heran serta bertanya dalam hati mengapa anak yang kemarin datang malah memesan kamar nomor lima. Namun pertanyaan itu tidak dianggapnya serius.
Sesampainya di kamar nomor tiga, Bu Ruslan bercerita tentang Jessy yang menempati kamar nomor satu. Menurut cerita Bu Ruslan, Jessy sudah sejak enam bulan lalu mengekos. Dia satu-satunya orang yang bertahan lama di kos sejak adanya tragedi.
Hebat juga Jessy dapat bertahan sendirian di rumah yang katanya berhantu ini, puji Nezza dalam hati.
Bu Ruslan juga bercerita bahwa Jessy orangnya sangat baik, dewasa, bijaksana dan tidak penakut. Jessy pun sering mengajak kenalan atau teman-temannya untuk mengekos di Pak Ruslan tetapi sayangnya mereka tidak ada yang betah. Belum ada seminggu, teman-teman Jessy sudah pindah. Jessy juga yang menyarankan supaya kos ini dicat ulang dengan warna cerah. Dalam hati Nezza kembali memuji Jessy.
Dari kata-katanya, Bu Ruslan tampaknya sangat sayang kepada Jessy. Itu terlihat dari wajahnya dan semangatnya ketika bercerita tentang Jessy. Nezza jadi tak sabar untuk segera berjumpa dengan Jessy. Apalagi nama Jessy sudah didengarnya berulang kali dalam tempo beberapa jam saja. Sayangnya, Jessy yang kuliah sambil kerja selalu pulang larut malam.
Tidak lengkap rasanya bila Nezza tidak tahu sosok penghuni kamar nomor lima. Maka Nezza mencoba menanyakannya pada Bu Ruslan. Dengan menyesal Bu Ruslan tidak dapat bercerita banyak. Bu Ruslan hanya bisa memberi tahu bahwa nama gadis itu adalah Rahma.
Nezza kemudian mengalihkan topik soal Pak Ruslan. Penasaran juga Nezza akan sosok tersebut. Lagi, dalam perbincangan namanya jarang disebut.
"Pak Ruslan sedang dinas ke luar kota. Beliau berangkat tadi pagi. Makanya Ibu sempat merasa kesepian. Eh, sorenya Ari dan kamu datang."
"Kalau nama asli Ibu sendiri siapa? Tidak lucu rasanya, kalau ada yang tanya tetapi saya tidak bisa jawab."
"Baiklah. Meski nama Ibu tidak akan ditanyakan di soal ujian atau wawancara kerja, Ibu akan beritahu," kata Bu Ruslan sambil tergelak. Nezza pun tidak luput terbahak.
"Nama asli ibu Rastiningsih. Panggil saja Rasti."
"Baik, Bu Rasti," jawab Nezza patuh. Mereka tertawa lagi.
Tiba saatnya Bu Rasti memberikan kunci kamar kepada Nezza. Sepeninggal Bu Rasti, Nezza bergegas membuka pintu. Selarik cahaya dari lampu teras menerobos masuk ke kamar. Nezza menekan tombol saklar lampu kamar. Dalam sekejap terang benderang. Kamar dipenuhi oleh cahaya lampu yang sepertinya baru diganti.
Nezza membuka dan mengeluarkan isi ransel. Setumpuk pakaian ditatanya ke dalam lemari. Merasakan kulitnya sudah lengket sekali, Nezza memutuskan untuk segera mandi lebih dahulu. Beres-beresnya bisa dilanjut nanti.
Usai membersihkan diri, Nezza berbaring di ranjang. Maksud hati melepas penat sejenak tetapi kantuk justru menyeretnya ke dunia mimpi.
“Ibu! Kenapa ibu terus membahas tragedi Sarah? Tidak sadarkah Ibu bahwa tindakan tersebut membuat peristiwa tragis itu menjadi abadi? Lukaku tidak akan mengering jika terus disiram, Bu.” Ari meluapkan perasaan yang membuncah di dadanya kepada sang ibu.
“Bukan begitu anakku. Calon penghuni kos kita punya hak untuk tahu apa yang akan mereka hadapi. Ibu cuma mau bersikap adil dan bijaksana pada mereka yang mau kos di sini,” jawab ibunya lembut.
“Itu bukan bijaksana, Bu! Tapi itu justru akan menakut-nakuti mereka. Ketakutan yang berlebihan di awal itu pada akhirnya membuat mental mereka lemah selamanya,” tutur Ari membantah pernyataan ibunya.
“Aku tidak mengerti dengan Ibu. Mengapa Ibu seolah-olah turut membenarkan kabar burung yang beredar perihal arwah Sarah yang gentayangan?!”
“Bukan begitu maksud Ibu, Nak. Tanpa Ibu bercerita, Ibu yakin mereka akan dengar dari penduduk di daerah ini. Ibu tak mau dipersalahkan bila terjadi apa-apa dengan anak-anak kos di sini. Makanya Ibu tak pernah mencegah bila mereka tidak betah di sini.”
“Omong kosong soal hantu Sarah yang gentayangan, Bu. Aku yakin ada oknum yang sengaja melakukan teror. Faktanya, Jessy yang sudah enam bulan di sini betah-betah saja. Aku sudah menyelidiki kasus teror yang membuat penghuni kos kabur tetapi sayangnya aku belum menemukan titik terang.”
Nezza terjaga dari tidurnya kala mendengar ribut-ribut yang bersumber dari rumah utama. Sambil mengucek mata, ia keluar kamar. Namun sudah tidak didapatinya kericuhan suara tadi. Nezza kemudian ke kamar mandi untuk buang air kecil. Selesai dari kamar mandi, ia melihat kamar nomor satu sudah terbuka. Nezza mendekati kamar tersebut dan seorang perempuan dengan wajah cantik menyapanya. Keduanya bersalaman.
“Jessy” .
“Nezza”.
“Kapan datang?” tanya Jessy ramah.
“Petang tadi. Karena kecapean jadi ketiduran.”
“Nyenyak kan tidurnya?”
“Lumayan.”
Baru bercakap-cakap sebentar, mereka sudah tampak klop. Karena memang sudah larut malam, masing-masing segera kembali ke kamar untuk istirahat.
“Mimpi indah ya.” Jessy mengucapkan salam perpisahan dari pintu kamarnya.
“Mimpi indah juga, Jes,” balas Nezza.
Damai. Nezza menyambung mimpinya yang sempat terpotong. Tidurnya lelap tanpa gangguan apa pun lagi. Malam pun merambat pelan merangkul pagi. Tertatih mengusung cahaya asa dan harapan.
Anda Mungkin Juga Suka





