Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Mendendam

Asmara Mendendam

Nezza menempati kos angker demi pekerjaan. Di sana, ia terpikat pada Ari, putra pemilik kos yang dingin. Meski penghuni lain seperti Adelina dan Putri agresif mengejar Ari, Nezza tetap kagum padanya. Namun, teror mistis mulai menghantui semua orang. Ari yakin ada manusia di balik kekacauan ini. Saat situasi memuncak, Rahma menuduh Jessy sebagai dalang teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri berdarah di kos ini akhirnya terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 3

Nezza duduk kikuk di meja makan. Bagaimana tidak, belum ada satu jam berkenalan dengan empunya rumah, sudah makan diajak makan malam. Tidak hanya itu saja, Bu Ruslan memperlakukan Nezza tidak sebagaimana tamu melainkan keluarga sendiri. Lebih tepat anak mungkin. Mendapat perlakuan begini, perasaan Nezza jadi mengharu biru.

“Ayo, tambah lagi lauknya Nak Nezza,” kata Bu Ruslan mempersilakan.

“Sudah cukup, Bu. Terima kasih.”

“Tidak usah sungkan.” Bu Ruslan mencapit paha ayam goreng lalu menaruhnya di piring Nezza.

Di sela-sela makan, Nezza dan Bu Ruslan membicarakan perihal biaya kos dan fasilitas yang melengkapi. Setelahnya Bu Ruslan mengantar ke kamar kos yang telah dipilih Nezza. Tentunya Ari sudah selesai membersihkannya.

Tadi Nezza sudah menjatuhkan pilihannya kepada kamar nomor tiga. Nezza memang sempat bingung sewaktu diminta memilih kamar. Setelah mengamati dan mempertimbangkan, akhirnya Nezza memilih kamar nomor tiga. Alasannya Nezza ingin berdekatan dengan anak kos lain. Dengan memilih nomor tiga, ia tidak terlalu jauh dari nomer satu dan lima yang kata Bu Rasti sudah ada yang menempati dan memesan. Nezza sedikit terheran-heran serta bertanya dalam hati mengapa anak yang kemarin datang malah memesan kamar nomor lima. Namun pertanyaan itu tidak dianggapnya serius.

Sesampainya di kamar nomor tiga, Bu Ruslan bercerita tentang Jessy yang menempati kamar nomor satu. Menurut cerita Bu Ruslan, Jessy sudah sejak enam bulan lalu mengekos. Dia satu-satunya orang yang bertahan lama di kos sejak adanya tragedi.

Hebat juga Jessy dapat bertahan sendirian di rumah yang katanya berhantu ini, puji Nezza dalam hati.

Bu Ruslan juga bercerita bahwa Jessy orangnya sangat baik, dewasa, bijaksana dan tidak penakut. Jessy pun sering mengajak kenalan atau teman-temannya untuk mengekos di Pak Ruslan tetapi sayangnya mereka tidak ada yang betah. Belum ada seminggu, teman-teman Jessy sudah pindah. Jessy juga yang menyarankan supaya kos ini dicat ulang dengan warna cerah. Dalam hati Nezza kembali memuji Jessy.

Dari kata-katanya, Bu Ruslan tampaknya sangat sayang kepada Jessy. Itu terlihat dari wajahnya dan semangatnya ketika bercerita tentang Jessy. Nezza jadi tak sabar untuk segera berjumpa dengan Jessy. Apalagi nama Jessy sudah didengarnya berulang kali dalam tempo beberapa jam saja. Sayangnya, Jessy yang kuliah sambil kerja selalu pulang larut malam.

Tidak lengkap rasanya bila Nezza tidak tahu sosok penghuni kamar nomor lima. Maka Nezza mencoba menanyakannya pada Bu Ruslan. Dengan menyesal Bu Ruslan tidak dapat bercerita banyak. Bu Ruslan hanya bisa memberi tahu bahwa nama gadis itu adalah Rahma.

Nezza kemudian mengalihkan topik soal Pak Ruslan. Penasaran juga Nezza akan sosok tersebut. Lagi, dalam perbincangan namanya jarang disebut.

"Pak Ruslan sedang dinas ke luar kota. Beliau berangkat tadi pagi. Makanya Ibu sempat merasa kesepian. Eh, sorenya Ari dan kamu datang."

"Kalau nama asli Ibu sendiri siapa? Tidak lucu rasanya, kalau ada yang tanya tetapi saya tidak bisa jawab."

"Baiklah. Meski nama Ibu tidak akan ditanyakan di soal ujian atau wawancara kerja, Ibu akan beritahu," kata Bu Ruslan sambil tergelak. Nezza pun tidak luput terbahak.

"Nama asli ibu Rastiningsih. Panggil saja Rasti."

"Baik, Bu Rasti," jawab Nezza patuh. Mereka tertawa lagi.

Tiba saatnya Bu Rasti memberikan kunci kamar kepada Nezza. Sepeninggal Bu Rasti, Nezza bergegas membuka pintu. Selarik cahaya dari lampu teras menerobos masuk ke kamar. Nezza menekan tombol saklar lampu kamar. Dalam sekejap terang benderang. Kamar dipenuhi oleh cahaya lampu yang sepertinya baru diganti.

Nezza membuka dan mengeluarkan isi ransel. Setumpuk pakaian ditatanya ke dalam lemari. Merasakan kulitnya sudah lengket sekali, Nezza memutuskan untuk segera mandi lebih dahulu. Beres-beresnya bisa dilanjut nanti.

Usai membersihkan diri, Nezza berbaring di ranjang. Maksud hati melepas penat sejenak tetapi kantuk justru menyeretnya ke dunia mimpi.

“Ibu! Kenapa ibu terus membahas tragedi Sarah? Tidak sadarkah Ibu bahwa tindakan tersebut membuat peristiwa tragis itu menjadi abadi? Lukaku tidak akan mengering jika terus disiram, Bu.” Ari meluapkan perasaan yang membuncah di dadanya kepada sang ibu.

“Bukan begitu anakku. Calon penghuni kos kita punya hak untuk tahu apa yang akan mereka hadapi. Ibu cuma mau bersikap adil dan bijaksana pada mereka yang mau kos di sini,” jawab ibunya lembut.

“Itu bukan bijaksana, Bu! Tapi itu justru akan menakut-nakuti mereka. Ketakutan yang berlebihan di awal itu pada akhirnya membuat mental mereka lemah selamanya,” tutur Ari membantah pernyataan ibunya.

“Aku tidak mengerti dengan Ibu. Mengapa Ibu seolah-olah turut membenarkan kabar burung yang beredar perihal arwah Sarah yang gentayangan?!”

“Bukan begitu maksud Ibu, Nak. Tanpa Ibu bercerita, Ibu yakin mereka akan dengar dari penduduk di daerah ini. Ibu tak mau dipersalahkan bila terjadi apa-apa dengan anak-anak kos di sini. Makanya Ibu tak pernah mencegah bila mereka tidak betah di sini.”

“Omong kosong soal hantu Sarah yang gentayangan, Bu. Aku yakin ada oknum yang sengaja melakukan teror. Faktanya, Jessy yang sudah enam bulan di sini betah-betah saja. Aku sudah menyelidiki kasus teror yang membuat penghuni kos kabur tetapi sayangnya aku belum menemukan titik terang.”

Nezza terjaga dari tidurnya kala mendengar ribut-ribut yang bersumber dari rumah utama. Sambil mengucek mata, ia keluar kamar. Namun sudah tidak didapatinya kericuhan suara tadi. Nezza kemudian ke kamar mandi untuk buang air kecil. Selesai dari kamar mandi, ia melihat kamar nomor satu sudah terbuka. Nezza mendekati kamar tersebut dan seorang perempuan dengan wajah cantik menyapanya. Keduanya bersalaman.

“Jessy” .

“Nezza”.

“Kapan datang?” tanya Jessy ramah.

“Petang tadi. Karena kecapean jadi ketiduran.”

“Nyenyak kan tidurnya?”

“Lumayan.”

Baru bercakap-cakap sebentar, mereka sudah tampak klop. Karena memang sudah larut malam, masing-masing segera kembali ke kamar untuk istirahat.

“Mimpi indah ya.” Jessy mengucapkan salam perpisahan dari pintu kamarnya.

“Mimpi indah juga, Jes,” balas Nezza.

Damai. Nezza menyambung mimpinya yang sempat terpotong. Tidurnya lelap tanpa gangguan apa pun lagi. Malam pun merambat pelan merangkul pagi. Tertatih mengusung cahaya asa dan harapan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel Kisah Pendakian Horor
8.0
Kumpulan narasi mencekam ini merangkum berbagai pengalaman mistis para pendaki saat menaklukkan puncak gunung. Setiap cerita menyajikan kengerian berbeda yang mampu menguji keberanian Anda di alam liar. Apakah Anda masih berani merencanakan pendakian setelah menyelami rentetan teror yang dialami mereka? Ikuti terus rangkaian kisah horor ini untuk menuntaskan rasa penasaran. Pastikan Anda memberikan dukungan berupa tanda suka dan komentar di setiap ceritanya.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Alicia Lucero dijual oleh pamannya yang serakah kepada Lucius Denovan, pria bermata merah saat ia masih kecil. Setelah bertahun-tahun diasingkan, Lucius kembali menjemputnya saat Alicia dewasa. Hidup Alicia berubah menjadi mimpi buruk penuh siksaan karena Lucius sangat gemar melihatnya menderita. Meski terjebak dalam kekejaman pria yang menganggapnya sebagai mainan itu, Alicia memilih bertahan sebab ia menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.