Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Mendendam

Asmara Mendendam

Nezza menempati kos angker demi pekerjaan. Di sana, ia terpikat pada Ari, putra pemilik kos yang dingin. Meski penghuni lain seperti Adelina dan Putri agresif mengejar Ari, Nezza tetap kagum padanya. Namun, teror mistis mulai menghantui semua orang. Ari yakin ada manusia di balik kekacauan ini. Saat situasi memuncak, Rahma menuduh Jessy sebagai dalang teror sekaligus pembunuh mahasiswi dua tahun lalu. Akankah misteri berdarah di kos ini akhirnya terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 1

Rintik air langit mulai banyak kala langkah Nezza telah menyentuh teras sebuah warung kecil. Ia memutuskan berteduh demi menghindari curah gerimis yang mulai membuat kepalanya pening. Lekas tangannya membebaskan punggungnya dari berat ransel besar. Ransel itu ditaruhnya di lantai warung. Ia lantas duduk di bangku panjang dengan menyelonjorkan kaki yang mulai pegal. Sejenak melepas penat.

Sejak tadi pagi ia mengembara mencari, belum ditemukannya kos yang masih kosong. Ia kemudian membeli sebotol minuman ringan untuk melegakan tenggorokan yang mengering. Pula ia izin pada pemilik warung untuk menumpang istirahat sebentar.

“Dari mana, Mbak?” sapa bapak pemilik warung ramah.

Tampaknya bapak tersebut paham kalau Nezza tengah menyandang letih dan gudah. Nezza meneguk minuman isotoniknya sebelum menjawab pertanyaan.

“Saya mencari kos, Pak. Dari tadi sampai sekarang belum menemu yang kosong,” jawab Nezza pasrah. Di kedalaman lubuk hatinya, ia berharap bapak pemilik warung bisa memberi sedikit solusi.

“Sudah saya tebak,” cetus si bapak.

“Memang Mbak, setahun terakhir banyak mahasiswa dan karyawan yang cari tempat kos di wilayah sini. Selain strategis, wilayah sini terkenal dengan harga kulinernya yang beragam dan murah. Lebih-lebih lagi setelah ada dua perusahaan baru yang beroperasi di dekat sini."

“Bapak mungkin punya rekomendasi kos yang masih kosong?” tanya Nezza berharap.

Bapak pemilik warung yang ramah membuka pintu kecil di samping warungnya. Beliau kemudian melangkah keluar untuk duduk di samping Nezza.

“Memangnya tadi Mbak sudah cari ke mana saja?” tanya si bapak akrab usai duduk di samping Nezza.

“Sudah sejak tadi pagi saya muter-muter Jalan Awan, Mendung, dan Petir tetapi setiap kos yang saya datangi sudah penuh,” jawab Nezza berkeluh kesah. Entah, dalam waktu singkat, ia seolah memiliki kedekatan emosional dengan bapak di sampingnya. Mungkin karena bapak tersebut usianya tidak jauh berbeda dengan ayahnya.

Bapak pemilik warung termenung beberapa saat. Nezza mengalihkan pandang mata kepada rintik hujan terakhir. Sembari memberi kesempatan penuh kepada bapak di sampingnya untuk berpikir tanpa gangguan.

“Wah, berarti tadi Mbak sudah cari dari depan ya?” si bapak bergumam lirih. Memecah hening di antara keduanya.

Bersamaan dengan itu, seorang wanita setengah baya-yang kemungkinan besar istri dari si bapak-masuk ke warung lewat pintu belakang dan mencari-cari suatu barang di rak-rak warung.

“Bu, kira-kira kos yang masih kosong di mana ya?” tanya si bapak kepada wanita tersebut.

Wanita yang dipanggil ibu itu menghentikan aktivitas. Sekilas ekor matanya menatap Nezza.

“Setahu Ibu sih sudah tidak ada, Pak. Soalnya kemarin juga ada anak yang cari tetapi sudah tidak dapat. Entah karena terdesak akhirnya dia terpaksa ke tempat Pak Ruslan,” jawab ibu tersebut.

Si ibu dan si bapak sempat tertangkap oleh mata Nezza saling berpandangan penuh arti. Seakan-akan mereka tengah berbincang dengan kode atau isyarat rahasia. Nezza bisa terpikir sebagaimana itu karena ayah dan ibunya pun sering melakukan hal yang sama.

“Kalau Mbak mantap kos di wilayah sini, kos Pak Ruslan bisa jadi pilihan. Saya yakin, di sana masih ada kamar kosong,” ujar si bapak dengan wajah semringah. Seolah-olah beliau merasa ikut senang dapat membantu. Wajah Nezza yang tadinya murung langsung cerah.

“Bapak bagaimana sih!” bentak si ibu dengan raut cemas.

Tatap mata bapak dan ibu itu bertaut kembali. Lagi-lagi mereka berdiskusi dengan bahasa isyarat yang tidak akan bisa diterjemahkan oleh orang lain.

Nezza menangkap ada yang tidak beres. Entah apa itu, tampaknya tengah terjadi kesalahpahaman antara bapak dan ibu tersebut. Rona wajah si ibu seperti tengah menampakkan keengganan. Sedangkan mimik wajah si bapak tampak berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Itu hanya kecemasan tak berdasar.

“Begini, Mbak. Setelah saya timbang-timbang, lebih baik Mbak cari kos yang di wilayah lain dulu. Tidak mengapa jauh sedikit, asal nyaman dan aman.”

“Kenapa Pak? Bukannya tadi Bapak bilang kalau di tempat itu masih ada kamar kosong? Terus terang, saya sudah capek, Pak. Saya juga tidak punya banyak waktu lagi. Besok saya sudah mulai masuk kerja,” ungkap Nezza meluapkan kebingungan pula keputusasaan yang menyergapnya.

Bapak itu seperti ragu untuk menjawab. Nezza mengalihkan tatap matanya pada si ibu. Menagih penjelasan.

“Memangnya apa yang salah dengan tempat itu, Pak, Bu?” kejar Nezza penasaran ketika tak kunjung mendapat jawaban.

Nezza tidak tahu mengapa ia bisa bertanya sedemikian rupa tetapi menurutnya ada yang salah dengan kos Pak Ruslan itu. Bapak pemilik warung masih bergelut dengan pikirannya sedangkan muka si ibu kian menegang. Lama keduanya terdiam dengan kecamuk di kepalanya masing-masing sementara Nezza menunggu penjelasan. Ia yakin pada akhirnya salah satunya akan membuka suara.

“Tempat itu sudah sejak dua tahun yang lalu jarang yang menghuni. Sekarang yang menempati cuma pemilik rumah: Pak Ruslan dan istrinya. Seminggu sekali anaknya yang kuliah di Yogyakarta pulang.”

Bapak pemilik warung sejenak menghela napas. Demi melihat wajah Nezza yang masih menyimpan banyak tanya, bapak pemilik warung melanjutkan penjelasannya.

“Jarang yang mau mengekos di situ setelah seorang penghuni kos diketemukan bunuh diri. Setelah tragedi itu, berembus kabar burung yang menyebut bahwa arwah mahasiswi yang bunuh diri itu gentayangan. Beberapa orang yang mengaku melihat penampakannya mengatakan bahwa mahasiswi tersebut meminta keadilan. Karena ia tidak bunuh diri melainkan dibunuh.”

Nezza mendelik. Tengkuknya tiba-tiba meremang.

“Sampai sekarang tiap ada yang mengekos di situ, pasti tidak betah. Katanya mereka kena teror. Ada satu penghuni yang bertahan di kos itu walaupun dia juga sering mengalami gangguan. Ya, tampaknya dia tidak punya pilihan selain bertahan,” ucap si ibu menimbrung.

“Kalau anak yang kemarin jadi mengekos di sana, sekarang ada dua orang,” imbuh si ibu.

“Terserah Mbak saja mau tetap mengekos di sana atau tidak. Secara pribadi, saya tidak percaya tentang hantu. Nyatanya Jessy si penghuni yang bertahan di kos Pak Ruslan baik-baik saja sampai sekarang. Tiap mampir ke sini, ia sudah tidak pernah lagi bercerita tentang teror yang menimpanya. Mungkin arwah gentayangan atau peneror misterius sudah bosan mengganggu. Tapi saya juga tidak mau mempengaruhi keputusan, Mbak.”

Setelah melalui berbagai pertimbangan matang, Nezza akhirnya mantap menanyakan letak kos Pak Ruslan. Keputusan Nezza itu didasari pada kenyataan bahwa di wilayah yang mendadak berubah menjadi pemukiman padat akan susah menemukan kos lain. Kos-kosan lain memang ada tetapi terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Jadi Nezza tak punya pilihan lain selain di rumah kos Pak Ruslan. Dengan tekad kuat, Nezza pamit kepada bapak dan ibu pemilik warung yang sudah demikian ramah kepadanya.

Nezza tidak lupa mengucapkan terima kasih. Meskipun agak terlambat, Nezza mengajak berkenalan. Menyadari keterlambatan yang sama, si bapak dan ibu pemilik warung pun menyambut ajakan perkenalan itu dengan hangat.

“Saya Pak Hasan dan itu istri saya namanya Bu Asri.”

“Nezza, Bu.” Nezza hendak menghampiri dan menyalami Bu Asri tetapi Bu Asri sudah lebih dulu tergopoh-gopoh keluar warung.

Dengan nada sedikit cemas Bu Asri kemudian berpesan supaya Nezza berhati-hati selama mengekos di kos Pak Ruslan. Sementara Pak Hasan cuma menanggapi dengan senyuman atas wejangan istrinya untuk Nezza. Menjelang perpisahan, Pak Hasan dan Bu Asri berpesan supaya Nezza sering-sering mampir ke warungnya. Dapat Nezza rasakan betapa hangatnya sikap sepasang suami istri itu kepada dirinya. Mendadak Nezza jadi rindu keluarganya di kampung halaman. Padahal ia baru berpisah sebentar. Belum ada hitungan hari.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel Kisah Pendakian Horor
8.0
Kumpulan narasi mencekam ini merangkum berbagai pengalaman mistis para pendaki saat menaklukkan puncak gunung. Setiap cerita menyajikan kengerian berbeda yang mampu menguji keberanian Anda di alam liar. Apakah Anda masih berani merencanakan pendakian setelah menyelami rentetan teror yang dialami mereka? Ikuti terus rangkaian kisah horor ini untuk menuntaskan rasa penasaran. Pastikan Anda memberikan dukungan berupa tanda suka dan komentar di setiap ceritanya.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Alicia Lucero dijual oleh pamannya yang serakah kepada Lucius Denovan, pria bermata merah saat ia masih kecil. Setelah bertahun-tahun diasingkan, Lucius kembali menjemputnya saat Alicia dewasa. Hidup Alicia berubah menjadi mimpi buruk penuh siksaan karena Lucius sangat gemar melihatnya menderita. Meski terjebak dalam kekejaman pria yang menganggapnya sebagai mainan itu, Alicia memilih bertahan sebab ia menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.