Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Cinta Dan Benci

Asmara Cinta Dan Benci

Hubungan Adelia dan Edwin terancam runtuh akibat campur tangan sang ayah yang ingin memisahkan mereka. Di tengah perjuangan tersebut, pengkhianatan dan salah paham besar mengubah kasih sayang menjadi kebencian mendalam. Edwin yang sempat dikira tewas tiba-tiba muncul kembali sebagai pria asing yang hanya didorong oleh dendam. Kini, Adelia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok yang ia cintai berbalik menjadi musuh yang ingin menghancurkannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di dalam sebuah ruangan kerja yang megah, seorang pria paruh baya duduk dengan kaki bersilang, matanya tajam menatap berkas-berkas di mejanya. Ketika suara ketukan terdengar di pintu, raut wajahnya sedikit mengernyit.

"Masuk."

Seorang pria berbaju hitam membungkuk hormat sebelum berbicara. "Tuan, Nona Adelia sudah berhasil kami bawa kembali."

Tuan Caraton Van Odelius, ayah kandung Adelia sekaligus CEO terkemuka di dunia perbankan Venezia, perlahan mengangkat kepalanya, wajahnya penuh wibawa, sementara ekspresi dinginnya tak berubah.

"Bawa dia masuk," perintahnya tegas, suaranya menggema di ruangan megah itu.

Dua pria lain masuk sambil menggiring Adelia yang terus meronta. "Aku tidak ingin berada di sini! Lepaskan aku!" serunya, suaranya penuh perlawanan.

Namun, permintaannya tidak digubris. Salah satu pria itu mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.

Tuan Caraton menatap putrinya dengan sorot mata tajam, amarahnya jelas terlihat. "Ayah sudah bersikap baik dengan mengizinkanmu tinggal di luar rumah, tapi apa yang kamu lakukan? Justru menjalani hubungan dengan pemuda miskin itu!" 

Adelia mendongak, menatap ayahnya dengan penuh keteguhan. "Tapi Ayah, dia pemuda yang baik," ucapnya, mencoba meyakinkan.

Tuan Caraton terkekeh sinis. "Baik saja tidak cukup Adelia. Jangan terlalu naif dan keras kepala."

"Justru Ayah yang keras kepala!" balas Adelia, suaranya bergetar. Ia berlutut, tangannya menggenggam erat ujung jas sang ayah. "Aku mohon, batalkan perjanjian Ayah dengajn Tuan Muda Louis!"

Namun, permohonannya tak lebih dari suara rengekan yang tak ingin didengar.

Tuan Caraton menghela napas, lalu memutar gelas wine di tangannya. "Perjanjian ini sangat menguntungkan keluarga kita, Adelia. Seharusnya kamu memanfaatkannya, bukan malah menolaknya."

"Itu keputusan Ayah, bukan untukku!" teriak Adelia penuh amarah. Ia begitu muak dengan sikap ayahnya yang selalu mengatur hidupnya seolah-olah ia tidak memiliki pilihan.

Tuan Caraton yang geram dengan perlawanan putrinya mengangkat tangan dan menampar pipi kirinya dengan keras. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras. "Dasat anak tidak tahu diri! Semua yang kulakukan adalah demi masa depanmu, demi menjamin hidupmu tetap terjaga! Tapi kamu justru berani menentangku demi seorang pemuda miskin yang bahkan tidak jelas asal usulnya!" 

Adelia terdiam sejenak, merasakan panas yang menjalar di pipinya. Namun lebih dari itu, hatinya yang terasa perih. Dengan mata memerah, ia menatap ayahnya tajam. "Ya, mungkin aku memang tidak tahu diri. Tapi itu sebabnya, aku tidak akan membiarkan Ayah mengambil keputusan atas hidupku!"

Tuan Caraton menatap putrinya dengan senyum licik. "Kita lihat saja," ucapnya penuh tantangan. Lalu ia melirik ke arah seorang pria berjas hitam. "Dante, bawa dia ke ruang bawah tanah. Jangan beri makanan atau minuman sampai dia sadar dan menyesali keputusannya."

"Baik, Tuan." Dante membungkuk sebelum bergerak mendekati Adelia.

Adelia menegakkan punggungnya, sorot matanya tetap penuh perlawanan. "Aku tidak akan menyesal, Ayah. Apa pun yang terjadi, aku tetap pada pendirianku."

Kata-kata itu menggema di dalam ruangan sebelum tubuhnya kembali diseret keluar dengan paksa.

Beberapa hari kemudian, tibalah hari kelulusan. Namun, di tengah suasana bahagia para siswa, Edwin justru tampak gelisah. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Adelia, gadis itu belum kembali, bahkan tak sekalipun menghubunginya.

"Aku harus bertanya pada siapa?" batinnya cemas. Ia tidak tahu harus mencari ke mana. Meskipun Adelia berasal dari keluarga kaya, itu tidak berarti Edwin mengetahui semua seluk-beluk tentang keluarganya. Kebingungan semakin menghantuinya.

Saat berjalan melewati sekelompok teman sejurusannya, Edwin mendengar mereka membicarakan Adelia yang tak tampak di acara penutupan siswa. Tanpa ragu, ia segera mendekati mereka.

"Kalian tahu di mana Adelia?" tanyanya penuh harap.

Mereka saling bertukar pandang sebelum menggeleng. "Kami juga tidak tahu. Dua hari ini dia tidak masuk, dan sepertinya hari ini pun tidak akan datang," jawab salah satu dari mereka sambil mengangkat bahu, lalu pergi meninggalkan Edwin dalam kebingungan.

Edwin kembali duduk di bangku kayu taman, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. Napasnya berat, pikirannya penuh dengan kekhawatiran.

"Semoga kau baik-baik saja, Adelia. Aku sangat mengkhawatirkanmu," gumamnya pelan.

Di tengah kegelisahannya, seorang gadis berambut pirang mendekatinya. Jessica Copper, sahabatnya, menatap wajah Edwin yang tampak muram sebelum duduk di sampingnya.

"Kenapa wajahmu seperti itu, Edwin? Dan di mana gadis manis yang selalu bersamamu?" tanyanya dengan nada penasaran.

Edwin menatap sahabatnya dengan tatapan lelah. Ia tak bisa menjawab apa pun, karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan situasi terakhir bersama Adelia. Menyadari kesedihan yang tergambar di wajah Edwin, Jessica mencoba menghiburnya.

"Kenapa bersedih? Hari ini adalah hari kelulusan kita. Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya kamu selangkah lebih dekat dengan impianmu, Edwin. Jangan biarkan perasaanmu hancur hanya karena seorang gadis," ujarnya dengan nada ceria.

Namun, bukannya terhibur, kata-kata Jessica justru membuat Edwin marah.

"Apa yang kamu tahu? Ini bukan sekadar soal perasaan, Jessica. Adelia sudah menghilang selama beberapa hari, dan kamu malah mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal," balasnya kesal sebelum beranjak pergi, meninggalkan Jessica sendirian di taman.

Tanpa memedulikan pidato kelulusan atau kesempatan berfoto untuk kenangan, Edwin memilih meninggalkan universitas dan langsung kembali ke basement tempat ia dan Adelia biasa tinggal. Sejak kepergian gadis itu, rasanya ia kehilangan semangat untuk melakukan apa pun.

Namun, setibanya di sana, Edwin terkejut mendapati Adelia tengah duduk sendirian di atas ranjang, memeluk lututnya dengan ekspresi kosong.

"Adelia, ke mana saja kamu? Apa yang terjadi?" tanya Edwin, langsung mendekat dan memeluknya erat, sebelum mengecup kening gadis itu dengan penuh kerinduan.

Adelia perlahan mendongak, menatap Edwin dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.

"Kamu sendiri kenapa ada di sini? Bukankah hari ini hari kelulusanmu?" tanyanya dengan suara lirih.

"Itu tidak penting sekarang, Adel. Aku hanya ingin tahu, ke mana saja kamu selama ini?" tanya Edwin, mengabaikan pertanyaan Adelia.

Gadis itu terdiam sejenak, menghela napas panjang sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang mengguncang hati Edwin.

"Kamu tidak akan pernah mengerti, Edwin. Tapi sebelum semuanya terlambat, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu..."

Ia menatap Edwin dengan sorot mata serius sebelum melanjutkan, "Aku akan segera menikah. Dan aku ingin kita putus."

Edwin tertegun. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan lembut, ia memegang kedua pipi Adelia, berharap itu hanya sebuah lelucon.

"Kamu bercanda, kan?" tanyanya nyaris berbisik.

Adelia menggeleng pelan. "Aku serius, Edwin. Empat hari lagi aku akan menikah, dan aku harap kamu bisa melupakanku."

Tangannya perlahan berusaha melepas genggaman Edwin, sementara hati laki-laki itu terasa hancur berkeping-keping.

Air mata Edwin mengalir tanpa bisa ia tahan, sementara Adelia membuang wajah, menghindari tatapannya. Dengan suara bergetar, ia kembali bertanya, seolah masih berharap ada celah untuk memperbaiki semuanya.

"Kamu benar-benar ingin mengakhiri semuanya seperti ini? Apa aku telah melakukan kesalahan?" tanyanya, penuh luka.

Adelia terdiam sejenak sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia tak ingin Edwin melihat air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.

"Kamu tidak bersalah, Edwin. Hanya saja... aku terlalu buruk untuk tetap berada di sampingmu," ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi.

Edwin segera mengejarnya. Ia mengenal Adelia lebih dari siapa pun, dan ia tahu betul bahwa gadis itu tidak akan semudah itu mengucapkan kata perpisahan jika tidak ada alasan yang lebih besar di baliknya.

Namun, langkah Edwin terhenti seketika saat sepasang sepatu mahal berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Perlahan, ia mengangkat wajah, dan keterkejutan menyelimuti dirinya saat mendapati sosok yang begitu familiar tengah menatapnya dengan dingin.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Sampul Novel Istri yang Tidak Disentuh
8.1
Nasib membawaku dari kemiskinan menuju pernikahan dengan pria kaya raya yang mengaku jatuh hati sejak awal. Suamiku adalah sosok sempurna yang tampan dan setia, namun tindakannya justru memicu tanya. Meski tak ada celah untuk beradu argumen, sikap dinginnya terasa sangat janggal bagi pasangan yang saling mencintai. Aku terjebak dalam kebingungan mendalam tentang siapa dia sebenarnya. Rahasia besar apa yang sengaja ia sembunyikan dariku selama ini?
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Hubungan asmara antara Rina dan Arman terus berkembang di tengah berbagai rintangan yang menguji kesetiaan mereka. Keduanya berjuang keras menjaga harmoni antara tuntutan profesional dengan perasaan pribadi. Bagi Rina, bekerja di PT Jaya Abadi kini terasa jauh lebih istimewa. Di sana, ia tidak hanya berhasil meraih ambisi kariernya, namun juga menemukan cinta sejati yang tak pernah ia duga sebelumnya dalam sosok bosnya yang penuh karisma.
Sampul Novel Lentera Rindu
8.6
Rima, seorang gadis berusia 18 tahun, kini resmi menyandang status sebagai istri Bary. Namun, pernikahan muda ini langsung dihadapkan pada penolakan dingin saat Bary, yang usianya tiga tahun lebih muda, enggan memenuhi keinginan istrinya untuk tidur bersama. Di balik penolakan tersebut, tersimpan teka-teki tentang perasaan dan komitmen mereka. Kisah ini membawa pembaca menyelami filosofi rindu dan cinta yang melampaui kefanaan dunia melalui lentera hati.
Sampul Novel Lyana
8.4
Lyana adalah wanita sederhana yang bekerja keras demi menyokong hidup keluarganya di desa. Namun, masa depannya hancur seketika setelah bertemu dengan Justin, seorang pria kaya raya yang memiliki sifat sangat angkuh. Dalam kondisi mabuk berat dan hilang kesadaran, Justin melakukan tindakan keji yang merusak hidup Lyana. Kini, Lyana terjebak dalam nestapa akibat perbuatan Justin. Apakah sang miliarder akan bertanggung jawab, atau justru melarikan diri?
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?