Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Cinta Dan Benci

Asmara Cinta Dan Benci

Hubungan Adelia dan Edwin terancam runtuh akibat campur tangan sang ayah yang ingin memisahkan mereka. Di tengah perjuangan tersebut, pengkhianatan dan salah paham besar mengubah kasih sayang menjadi kebencian mendalam. Edwin yang sempat dikira tewas tiba-tiba muncul kembali sebagai pria asing yang hanya didorong oleh dendam. Kini, Adelia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok yang ia cintai berbalik menjadi musuh yang ingin menghancurkannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langkah Edwin tiba-tiba terhenti saat sepasang sepatu mahal berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Perlahan, ia mengangkat wajah, dan seketika keterkejutan menyelimuti dirinya. Sosok yang begitu familiar berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin.

"Tinggalkan putri saya. Saya akan memberikan apa pun yang kamu inginkan, asalkan kamu pergi dari Adelia," suara Tuan Caraton terdengar tegas. Ia muncul setelah kepergian Adelia, membuat Edwin tersentak kaget. Tatapan pria itu penuh ketidaksetujuan.

Edwin mengeratkan rahangnya. "Saya tidak akan meninggalkan Adelia, meskipun Anda memintanya," balasnya dengan penuh ketegasan.

Tuan Caraton tertawa kecil, nada sinis terselip dalam suaranya. Mata tajamnya menelusuri pemuda di hadapannya, kegigihannya begitu mirip dengan putrinya.

"Pffft... Apa kamu bisa memberikan putri saya segala yang ia inginkan?" sindirnya, meremehkan Edwin yang tak memiliki apa-apa selain wajah tampan dan tubuh yang tegap.

Edwin menatapnya tanpa gentar. "Saat ini mungkin belum, tetapi suatu hari nanti, saya akan memberikan apa pun yang Adelia minta," ucapnya dengan penuh keyakinan.

"Suatu hari nanti?" Tuan Caraton mengulangi kata-kata itu dengan nada mengejek. Senyum dingin terukir di wajahnya saat ia melangkah mendekati Edwin, menatapnya dengan tajam. Sebelum berbalik pergi, ia meninggalkan satu peringatan terakhir.

"Sebaiknya menjauh sebelum kamu menyesalinya."

Sementara itu, Adelia mengurung diri di kamarnya, hatinya dipenuhi penyesalan setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada Edwin. Ia sadar, apa yang telah ia katakan telah mengakhiri hubungan mereka. Dengan mata yang mulai memanas, ia menatap beberapa foto kenangan saat mereka masih bersama.

"Seharusnya aku tidak melakukan ini padamu, Edwin..." batinnya, kesedihan jelas tergambar di wajahnya.

Di sisi lain, Tuan Caraton baru saja tiba di rumah. Tanpa menunda waktu, ia segera memerintahkan pelayannya untuk memanggil Adelia ke ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian, Adelia datang dengan langkah berat, mendapati ayahnya tengah duduk angkuh di balik meja kerjanya.

"Katakan sesuatu, Adelia," ucap Tuan Caraton dengan senyum penuh arti, matanya menatap putrinya lekat-lekat.

Adelia, yang sejak tadi menundukkan pandangannya, akhirnya mengangkat wajahnya dengan penuh keberanian. "Apa yang harus aku katakan? Aku sudah menuruti keinginan Ayah. Sekarang, Ayah yang harus menepati janjinya kepadaku," ujarnya tegas.

Tuan Caraton bangkit dari tempat duduknya, lalu menyerahkan beberapa dokumen kepada putrinya. "Lihat ini," katanya, nada suaranya penuh keyakinan. "Kerja sama dengan HJ Group ini sangat menguntungkan bagi perusahaan kita, juga untuk seluruh keluarga ini. Jika kau menolaknya, apa yang akan kau dapatkan, Adelia?"

Mata Adelia membulat sempurna begitu melihat tanda tangan ayahnya bersama keluarga Nores. Napasnya tercekat, jemarinya sedikit bergetar saat menggenggam dokumen itu.

"Ayah berbohong padaku!" serunya tak percaya. "Ayah berjanji, setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Edwin, Ayah akan membatalkan pernikahan ini! Apa sekarang Ayah ingin mengingkari semuanya?"

Tuan Caraton mendengus kecil, ekspresinya berubah dingin. "Lalu apa? Pemuda itu tidak akan pernah bisa memberimu apa yang telah aku berikan," katanya tajam. "Jadi, jangan pernah berani-berani berteriak kepadaku seperti itu!"

"Ayah benar-benar keterlaluan... Ayah tidak pernah mencoba memahami apa yang benar-benar aku inginkan," isak Adelia, suaranya bergetar penuh kekecewaan. Dengan hati yang remuk, ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

"Adelia, jangan pergi! Kamu tidak bisa lari dari takdirmu seperti ini!" seru Tuan Caraton, suaranya menggema di ruangan. "Kamu tetap akan menikah dengan Tuan Muda Louis! Jika kamu menolak, jangan harap bisa melihat Ayah lagi!"

Namun, Adelia tak menghentikan langkahnya. Punggungnya yang semakin menjauh menjadi satu-satunya jawaban bagi ancaman sang ayah.

Di ruang bawah tanah, Edwin duduk gelisah. Segalanya terasa begitu kacau. Ia mulai merasakan firasat buruk tentang hubungan mereka yang seolah berakhir begitu saja. Keputusan Adelia terasa terlalu sepihak, dan hatinya menolak untuk percaya bahwa gadis itu benar-benar menginginkannya.

Dengan penuh tekad, Edwin mengangkat ponselnya dan menelepon Adelia. Syukurlah, nomornya belum diblokir. Beberapa detik menunggu terasa begitu panjang, hingga akhirnya suara isakan terdengar di ujung telepon. Seketika, Edwin bangkit dari ranjangnya.

"Halo, Adel? Kamu kenapa?" tanyanya dengan nada cemas.

"Maafkan aku... karena telah menyakiti perasaanmu," jawab Adelia lirih.

Edwin menghela napas lega. "Tidak apa-apa, Adel. Aku tahu kamu tidak benar-benar menginginkannya."

Hening sejenak sebelum suara Adelia kembali terdengar, kali ini penuh keputusasaan.

"Edwin, bawa aku pergi bersamamu... Aku ingin menjauh dari tempat ini."

Edwin terdiam. Keinginannya untuk membawa Adelia pergi begitu besar, tapi kenyataan berkata lain. Ia belum memiliki cukup uang. Kata-kata Tuan Caraton kemarin kembali terngiang di benaknya, membuatnya berpikir dua kali.

"Adelia... Untuk saat ini, aku belum bisa membawamu pergi. Tapi, bisakah kamu menungguku sampai aku punya cukup uang?" tanyanya ragu.

"Kapan, Edwin? Kita tidak punya banyak waktu..." suara Adelia terdengar semakin putus asa. "Ayahku akan segera menikahkanku dengan partner bisnisnya."

""Bersabarlah, aku berjanji akan segera membawamu pergi jauh dari kota ini," ucap Edwin penuh keyakinan, berharap Adelia tetap percaya padanya.

Mendengar ketulusan dalam suara Edwin, Adelia akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan menunggu sampai saat itu tiba," balasnya sebelum keduanya mengakhiri panggilan.

Tak lama setelahnya, suara ketukan terdengar di pintu kamar Adelia.

"Nona, ada kiriman untuk Anda," ujar seorang pelayan dari balik pintu.

Adelia bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu. Di tangan sang pelayan, terdapat sebuah kotak berwarna merah muda yang kemudian diserahkannya kepada Adelia.

"Ini dari siapa?" tanyanya curiga, matanya menyipit.

"Saya tidak tahu, Nona. Tapi Tuan Besar meminta saya mengantarkannya kepada Anda. Selain itu, besok pagi pukul sembilan, Nona harus datang ke kafe untuk bertemu dengan calon suami Anda," jawab pelayan itu sebelum pergi meninggalkan Adelia yang masih terdiam di ambang pintu.

Perasaan tak nyaman menjalari hatinya. Ia menutup kembali pintu kamarnya, lalu perlahan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terlipat rapi sebuah gaun berwarna krem, disertai sebuah surat bertulisan tinta hitam.

"Aku harap kamu menyukai hadiah ini untuk pertemuan kita besok."

Adelia meremas surat itu dengan penuh emosi. "Aku tidak sudi memakai ini," gerutunya kesal.

Keesokan paginya, Adelia berusaha keluar dari rumah secara diam-diam, tetapi usahanya sia-sia. Para penjaga dengan sigap menangkapnya dan membawanya ke kafe tempat pertemuan dengan calon suaminya akan berlangsung.

Sementara itu, Edwin semakin terdesak dengan masalahnya. Ia berusaha mati-matian mengumpulkan uang sebanyak mungkin demi bisa membawa Adelia pergi, tetapi kenyataannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Di sisi lain, Adelia akhirnya tiba di kafe dan berhadapan langsung dengan Louis Neoris, putra kedua dari perusahaan menengah HJ Group. Pria itu menatapnya dengan penuh ketertarikan sebelum berkata dengan nada sopan, "Silakan duduk, Nona Adelia."

Adelia menarik kursinya dengan enggan, wajahnya masam. "Untuk apa kamu repot-repot mengirim barang yang tidak ada gunanya itu?" ujarnya ketus.

Louis menatapnya sejenak sebelum menyunggingkan senyum tipis. "Kamu tidak menyukainya?" tanyanya ringan.

"Bukan hanya itu," Adelia menatapnya tajam. "Aku ingin kerja sama antara kamu dan ayahku dibatalkan."

Louis tertawa kecil mendengar permintaan Adelia, seolah sudah menduganya. "Hahaha... Aku bisa saja melakukannya. Tapi ada syaratnya."

Adelia mengernyit. "Syarat apa?" tanyanya dengan nada penuh kewaspadaan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HJT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HJT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Sampul Novel Istri yang Tidak Disentuh
8.1
Nasib membawaku dari kemiskinan menuju pernikahan dengan pria kaya raya yang mengaku jatuh hati sejak awal. Suamiku adalah sosok sempurna yang tampan dan setia, namun tindakannya justru memicu tanya. Meski tak ada celah untuk beradu argumen, sikap dinginnya terasa sangat janggal bagi pasangan yang saling mencintai. Aku terjebak dalam kebingungan mendalam tentang siapa dia sebenarnya. Rahasia besar apa yang sengaja ia sembunyikan dariku selama ini?
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Hubungan asmara antara Rina dan Arman terus berkembang di tengah berbagai rintangan yang menguji kesetiaan mereka. Keduanya berjuang keras menjaga harmoni antara tuntutan profesional dengan perasaan pribadi. Bagi Rina, bekerja di PT Jaya Abadi kini terasa jauh lebih istimewa. Di sana, ia tidak hanya berhasil meraih ambisi kariernya, namun juga menemukan cinta sejati yang tak pernah ia duga sebelumnya dalam sosok bosnya yang penuh karisma.
Sampul Novel Lentera Rindu
8.6
Rima, seorang gadis berusia 18 tahun, kini resmi menyandang status sebagai istri Bary. Namun, pernikahan muda ini langsung dihadapkan pada penolakan dingin saat Bary, yang usianya tiga tahun lebih muda, enggan memenuhi keinginan istrinya untuk tidur bersama. Di balik penolakan tersebut, tersimpan teka-teki tentang perasaan dan komitmen mereka. Kisah ini membawa pembaca menyelami filosofi rindu dan cinta yang melampaui kefanaan dunia melalui lentera hati.
Sampul Novel Lyana
8.4
Lyana adalah wanita sederhana yang bekerja keras demi menyokong hidup keluarganya di desa. Namun, masa depannya hancur seketika setelah bertemu dengan Justin, seorang pria kaya raya yang memiliki sifat sangat angkuh. Dalam kondisi mabuk berat dan hilang kesadaran, Justin melakukan tindakan keji yang merusak hidup Lyana. Kini, Lyana terjebak dalam nestapa akibat perbuatan Justin. Apakah sang miliarder akan bertanggung jawab, atau justru melarikan diri?
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?