
Anugerah Cinta
Bab 2
Melangkah menuju rumah orang tuanya yang berada di paling depan, dimana berarti melewati beberapa asrama baik itu wanita dan pria. Berjalan sambil menundukkan kepala adalah kebiasaan dari Dila yang memang terlalu malu untuk menatap orang lain. Suara beberapa orang di asrama pria terdengar di telinganya yang membicarakan mengenai pria yang tadi sakau karena obat-obatan terlarang.
“Nak Dila,” panggil Gus Wirto membuat Dila menghentikan langkahnya “Bisa bantu Gus untuk ke rumah membawa dia?”
Dila mengalihkan pandangan kearah pria yang dalam keadaan seperti orang mabuk, mendekati Gus Wirto dengan sedikit keraguan dan tatapan beliau mengatakan akan baik-baik saja. Memegang ujung pakaian dari pria itu agar bisa berjalan disampingnya, tatapan mereka bertemu yang langsung membuat Dila menundukkan kepalanya.
“Bocah gini yang bantu bawa ke rumah?” Dila menatap tajam pada pria disampingnya dan saat mengalihkan pandangan ke Gus Wirto hanya memberikan kode untuk tidak menanggapi perkataan.
“Sama Gus ini kesananya.”
Mereka bertiga berjalan menuju rumah Gus Wirto, Dila sendiri tidak tahu kenapa pria ini tidur di rumahnya. Dirinya ingin bertanya lebih tapi diurungkan karena posisinya tidak terlalu baik, langkah mereka yang dalam benak Dila akan lambat ternyata tidak sama sekali dimana mereka sampai rumah dengan selamat.
“Nduk, siapkan kamarnya mas kamu.” Dila mengangguk sebelum masuk kedalam meninggalkan kedua orang di ruang tamu.
“Sudah datang?” Dila hanya mengangguk setelah mencium punggung tangan Ummanya “Kamar mas sudah Umma bereskan sekarang bantu umma siapin makan malam.”
“Sama santri itu?” Nyai Mina hanya mengangguk mendengar pertanyaan Dila.
Lagi-lagi memilih tidak bertanya dan mengikuti perintah dari ummanya, masuk kedalam kamar meletakkan barang-barangnya. Membersihkan badan terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar dengan pakaian tidur tidak tertinggal kerudung besarnya, melangkah ke dapur dimana ummanya sedang meletakkan hasil makanan di meja dengan segera Dila membantunya.
“Panggil mereka, Sayang.” Dila melangkah keluar dimana Gus Wirto sedang berbicara dengan pria itu.
“Abi makanannya sudah siap,” ucap Dila menatap Gus Wirto yang hanya mengangguk dan langsung memalingkan wajahnya saat tidak sengaja menatap pria tersebut.
Dila berjalan terlebih dahulu menuju meja makan dan langsung duduk di kursi, tidak lama kedua pria berbeda usia itu menyusul dengan duduk di kursi masing-masing.
“Nduk, ini Nak Fabian salah satu santri disini dan Nak Fabian dia adalah putri saya satu-satunya,” ucap Gus Wirto memperkenalkan mereka berdua “Ayah kamu kemarin meminta Gus untuk mencarikan jodoh dari kalangan santri tapi Gus tidak tahu siapa, lalu kami sepakat menjodohkan kalian berdua.”
“Uhuk...uhuk...” Dila tersedak mendengar perkataan abinya “Maksudnya abi menjodohkan kita berdua?”
Gus Wirto menganggukkan kepalanya dengan menatap Dila lembut “Kamu mau kan, Nduk? Tadi abi sudah berbicara dengan Nak Fabian katanya selama kamu setuju dia akan setuju.”
Dila mengalihkan pandangan ke Fabian yang hanya diam, tampak dari luar pria itu baik-baik saja bahkan terkesan bodoh jika obatnya habis atau tidak konsumsi dalam waktu lama. Dila bukan tidak tahu mengenai tanda-tanda orang yang akan lepas dari obat-obatan terlarang, salah satunya adalah apa yang saat ini dialami Fabian, hanya saja Dila tidak tahu akan dibawa kemana rumah tangga mereka jika Fabian masih seperti saat ini.
“Abi yakin?” menatap abinya yang sedang menatap dirinya seakan menunggu jawaban.
“Kamu bisa tidak menjawab saat ini karena bagaimanapun pasti bukan hal mudah ditambah lagi pernikahan adalah sesuatu yang sakral.”
“Aku butuh waktu,” jawab Dila akhirnya yang diangguki abinya.
Memilih melanjutkan makannya dengan cepat karena tidak ingin terlalu lama berada di meja makan dengan Fabian yang akan menjadi suaminya kelak, Dila tahu jika Gus Wirto abinya memang mengharapkan dirinya segera menikah agar ada yang bisa menjaga dirinya hanya saja sangat terkejut karena pilihannya adalah pecandu obat-obatan terlarang. Dila sendiri juga sangat tahu jika Fabian sendiri mencoba untuk lepas dari ketergantungan, meskipun baru beberapa bulan masuk ke pondok pesantren keinginan Fabian untuk lepas sangat kuat.
“Dila, ayo kita bersihkan mejanya.” Dila menatap sekitar dimana kedua pria itu sudah tidak berada di meja makan.
Berdiri membantu ummanya membereskan meja makan agar mereka bisa segera pergi tidur, menatap meja makan yang telah bersih membuat Dila beralih ke tempat cuci piring dan langsung menyelesaikannya setelah meminta ummanya untuk pergi meninggalkan dirinya. Memastikan kembali tidak ada bekas makanan atau kompor menyala, baru Dila berani meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Masuk kedalam kamar melanjutkan apa yang menjadi tugasnya ditambah waktu shalat akan segera datang, memilih membaca Al-Qur’an melanjutkan apa yang telah dilakukan sebelumnya. Adzan berkumandang tidak lama kemudian membuat Dila bersiap-siap berangkat ke masjid melakukan kewajibannya, Dila dapat melihat ummanya masih ada di ruang tamu tapi tidak dengan kedua pria itu.
“Berangkat sama-sama,” ajak Nyai Mina yang hanya diangguki Dila membuat mereka jalan bersama menuju masjid “Permintaan abi bisa kamu pikirkan dengan baik, tapi kalau kamu menerima ya anggap saja sebagai dakwah membantu Nak Fabian benar-benar lepas dari obat-obatan itu.”
“Alasan menerima Fabian apa? Uangnya?”
“Hush...ngawur nek ngomong ati-ati di denger orang nanti dikira abimu begitu.” Nyai Mina menatap lembut Dila yang hanya bisa mengangguk “Kata abi kamu Fabian ini keinginan sembuhnya kuat, kalau dia keluar dari pondok ini akan masuk kembali ke lingkarannya dan itu membuat abi juga orang tua Fabian menginginkan dia tetap berada disini, ya meskipun caranya sangat mengejutkan umma juga.”
“Umma setuju?”
“Umma setuju kalau kamu setuju.”
Dila terdiam mendengar jawaban ummanya yang baginya sendiri masih abu-abu, lantas bagaimana Dila bisa memutuskannya kalau tidak ada yang bisa membantunya sama sekali. Tidak mungkin meminta bantuan dari sahabatnya Naila karena pastinya jawaban yang diberikan selalu tidak bisa diharapkan sama sekali. Naila sendiri bukan orang yang bisa diajak bicara atau memberikan solusi, isi pikiran Naila hanya bersenang-senang saja. Dila sendiri memiliki sosok yang menjadi idamannya selama ini tidak lain adalah seniornya di kampus yang memiliki suara indah saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tidak hanya itu Prima dikenal sebagai Hafiz Qur’an di kampusnya dan Dila termasuk beruntung bisa kenal dekat dengan Prima.
“Hafalan buat besok sudah siap?”
“InsyaAllah, Umma.”
“Bukan umma yang menguji ya jadinya kamu jangan membuat malu abi kamu selaku pemilik pondok ini.”
“Ya, Umma.”
Berdua berjalan meninggalkan masjid, hanya saja langkah Nyai Mina terhenti karena panggilan dari para ustadzah. Dila melangkah seorang diri menuju rumahnya dan ada beberapa santri serta santriwati yanf melewatinya, menghentikan langkahnya karena tidak melihat Naila sama sekali membuat Dila melangkah ke tempat dimana Naila terlebih dahulu sebelum ke rumah.
“Naila belum datang, tadi keluar pas adzan.”
Dila hanya mengangguk mendengar ucapan salah satu santri, meninggalkan tempat Naila dan kembali ke rumahnya. Kali ini Dila menatap sekitarnya barangkali bisa menemukan Naila tapi sayangnya tidak ada sama sekali dan itu membuat Dila akhirnya benar-benar memutuskan kembali ke rumah.
Masuk kedalam rumah tidak menemukan siapapun yang itu artinya mereka kedua orang tuanya masih berada di masjid, Dila sendiri tidak melihat keberadaan Fabian berarti kemungkinannya adalah berada di masjid bersama dengan abinya. Memilih masuk dalam kamar mencoba untuk membaca kembali Surat Al-Mulk untuk disetorkan besok, Dila sendiri sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini hanya saja kali ini berbeda karena memang Dila menginginkan perubahan hidup pada dirinya.
TOK TOK
Menghentikan bacaan dan mengakhirinya membuat Dila membuka pintu yang diketuk oleh seseorang dari luar dan saat membuka pintu seketika menurunkan pandangannya, meskipun sekilas Dila bisa melihat penampilan Fabian sangat berantakan dan juga tercium aroma sedikit amis membuat Dila ingin menutup hidungnya.
“Gus dan Nyai belum pulang?” Dila menggelengkan kepala “Kamu belum hafal?”
“Maaf kita belum muhrim jadi bisakah bicaranya di tempat terbuka?”
“Nggak perlu karena aku terlalu lelah dan ingin tidur.”
Dila dapat mendengar suara langkah meninggalkan tempatnya berdiri, memilih masuk kembali dengan menutup pintunya. Menatap dirinya depan cermin membuat Dila membelalakkan matanya menatap apa yang ada dihadapannya saat ini, menutup bibirnya tanda bahwa dirinya benar-benar terkejut.
“Astaghfirllah bagaimana bisa aku menggunakan pakaian yang menunjukkan tubuhnya depan pria itu?”
Anda Mungkin Juga Suka





