
Antara Penyesalan Dan Pembebasan
Bab 2
Irfan reflek ingin meraih berkas pengajuan dari tanganku, tapi aku cepat-cepat menghindar.
“Ini juga akan diserahkan ke komandan untuk diarsip. Kamu biasanya sibuk, biar aku saja yang antarkan.”
Dia menatapku dengan curiga.
“Ada apa denganmu hari ini? Sudah gila?”
“Sudahlah, terserah kamu.”
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.
Sepertinya aku benar-benar sudah gila.
Karena hidup kembali, kali ini akhirnya aku bisa melepaskan diriku sendiri.
Setelah masuk mobil, kami berdua sama-sama tidak berbicara.
Mungkin keheningan ini membuatnya tidak nyaman, dia pun berdeham dua kali, lalu malah membuka percakapan duluan.
“Katanya malam ini ada pertunjukan dari grup seni. Kalau nggak ada kegiatan di markas nanti, bagaimana kalau kita pergi menonton?”
Aku agak terkejut dan menoleh melihatnya.
Di kehidupan sebelumnya, justru aku yang mengajukan ajakan itu.
Saat itu, bibirnya terkatup rapat dan wajahnya tampak kesal.
“Aku menikah denganmu, itu karena paksaan orang tuaku, bukan untuk bermesraan denganmu. Sebaiknya kamu ingat baik-baik hal itu!”
Jadi, kali ini aku memilih diam saja.
Melihat aku melamun lama, Irfan pun tampak sedikit kesal.
“Kalau nggak mau, ya sudah….”
“Ayo!”
Ujarku memotongnya.
“Tentu saja mau.”
Melihat sudut bibirku yang tak bisa menahan untuk tersenyum, Irfan membuka mulutnya, seakan ingin berkata sesuatu. Tapi akhirnya, dia hanya diam sambil menyalakan mesin mobil.
“Kalau begitu, tunggu aku setelah makan malam nanti….”
Belum selesai dia bicara, seorang anggota grup seni buru-buru berlari ke depan mobil.
“Gawat, Kapten Irfan! Terjadi sesuatu pada Selina!”
Mobil mendadak berhenti.
“Aku pergi lihat, kamu pulang sendiri dulu.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya, pergilah.”
Padahal Irfan terlihat buru-buru, tapi setelah mendengar jawabanku, dia malah berhenti dan perlahan menoleh melihatku.
“Kamu… nggak cemburu?”
Hatiku terasa getir. Kalau cemburu bisa menyelesaikan semuanya, aku tidak akan membuang-buang sepuluh tahun hidupku di kehidupan sebelumnya.
Belum sempat aku menjawab, dia sudah lebih dulu memperingatkanku dengan dingin, “Nggak peduli apa yang sedang kamu rencanakan, sebaiknya berhenti sekarang juga!”
Irfan pun buru-buru pergi.
Sama sekali tidak menyadari kepahitan dan kekecewaan di tatapanku.
Di dua kehidupan ini, aku tidak pernah menghalangi rasa sayangnya pada Selina.
Aku tahu hal itu diluar kuasaku.
Aku pun pulang sendiri.
Begitu masuk ke rumah, ibu Irfan yang mendengar suara dari halaman sebelah, langsung memanggilku dengan ramah.
“Miselia, berkas pengesahan dari markas sudah turun, ‘kan?”
Kemudian, dia menoleh ke belakangku dan alisnya berkerut.
“Di mana Irfan? Kok dia nggak pulang bersamamu?”
Aku tersenyum, menjawab bahwa dia ada urusan mendadak di markas.
Wajah ibu Irfan langsung memuram.
“Anak kurang ajar! Kerjaan apa yang lebih penting dari istri? Bakal kuberi pelajaran begitu dia pulang nanti!”
Ayah Irfan hanya bisa menggeleng tak berdaya.
“Anak itu memang semakin lama semakin keterlaluan. Miselia, jangan dimasukkan ke hati, ya.”
Mendengar itu, mataku langsung terasa perih.
Sepuluh tahun lamanya, aku tak pernah merasakan suasana sehangat ini.
Kalau saja Irfan tidak bertengkar dengan mereka karenaku di kehidupan sebelumnya, sebenarnya mereka berdua selalu memperlakukanku seperti putri kandung sendiri.
Aku ingin jujur pada mereka.
Namun, kata-katanya seolah tertahan, tak sanggup terucap.
Akhirnya, aku hanya menggenggam tangan ibu Irfan dan berkata pelan,
“Tante, terima kasih untuk semua perhatianmu dan om selama ini.”
“Aku pasti akan membalas kebaikan kalian.”
Ibu Irfan menjawab dengan lembut, “Dasar anak bodoh, untuk apa dibalas? Kamu bisa menikah dengan putraku saja, aku sudah sangat bahagia.”
Aku tidak berbicara lagi, hanya menggenggam erat tangannya.
Di kehidupan ini, aku bukan lagi istri Irfan.
Dengan begitu, Irfan tak perlu lagi hidup dengan penuh keterpaksaan.
Dia juga bisa mengejar orang yang dia cintai, bisa menjalani hidupnya dengan bebas.
Dan kedua orang tuanya pun tidak akan lagi dimusuhi anak mereka seumur hidup, hanya karena pernah membantu memisahkannya.
Menjelang senja, aku membawa tiket yang sudah kubeli dan tiba di depan gedung teater grup seni.
Namun sampai acara usai, sosok Irfan sama sekali tidak terlihat.
Aku tahu, dia mengingkari janjinya lagi kali ini.
Anda Mungkin Juga Suka





