
Antara Penyesalan Dan Pembebasan
Bab 3
Aku tidak merasa marah sedikit pun, hanya duduk sendirian di bangku taman.
Menatap bintang-bintang yang berkelip di langit malam, suasana ini membuatku teringat begitu banyak kenangan.
“Sudah lama sekali aku nggak melihat langit penuh bintang seperti ini….”
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari samping dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku.
Plak!
Pipiku terasa panas terbakar dan aku terdiam di tempat.
Wajah Irfan terlihat muram dan menakutkan, api amarah di matanya hampir meluap keluar.
“Miselia, dasar wanita kejam! Berani-beraninya menyuruh orang mempermalukan Selina, sampai dia ketakutan dan nekat mengiris pergelangan tangannya!”
“Aku sudah setuju untuk menikah denganmu, itu masih belum cukup?!”
“Haruskah sampai membuatnya mati dulu, baru kamu puas?!”
Tak mampu menahan amarah, Irfan kembali menamparku dengan keras.
Aku bahkan tidak diberi kesempatan bicara, langsung diseretnya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di klinik, aku melihat Selina terbaring di ranjang dengan wajah yang pucat.
Balutan di pergelangan tangannya merembes darah segar, jelas bahwa kabar percobaan bunuh dirinya bukan kabar bohong.
Saat aku masuk, meski matanya terpejam, bibirnya tetap bergumam,
“Maaf, aku yang nggak seharusnya mengganggu Kak Irfan. Kumohon lepaskan aku, jangan pukul aku lagi….”
Baru saja aku hendak bertanya, Irfan dari belakang langsung mendorongku keras.
Aku terhuyung menabrak sudut meja, rasa sakit yang menusuk membuat wajahku pucat seketika.
Namun, yang kulihat hanyalah tatapan Irfan yang semakin tajam.
“Lihat apa yang sudah kamu perbuat!”
“Cepat minta maaf pada Selina!”
Aku menatap Irfan dengan linglung dan berkata, “Tapi, bukan aku….”
“Kamu berbohong!”
Irfan benar-benar murka.
Untung perawat masuk tepat waktu, sehingga Irfan tak sempat melampiaskan amarahnya di depan umum.
“Pasien kehilangan terlalu banyak darah, harus segera ditransfusi.”
Irfan langsung mencengkeram lenganku.
“Dia juga golongan darah AB, ambil saja darahnya!”
Jadi, alasan Irfan menyeretku ke sini adalah untuk mendonorkan darah untuk Selina.
Padahal dia tahu jelas bahwa tubuhku lemah sejak kecil dan anemia, kalau nekat mendonorkan darah, bisa-bisa membahayakan tubuhku sendiri.
Namun, Irfan tidak peduli. Dia tetap menggulung lenganku.
“Ini hutangmu padanya!”
Jarum besar menembus kulitku, darah segar mengalir masuk ke tabung. Aku mendongak, menatap Irfan yang berdiri di samping, seakan menjaga agar aku tidak kabur.
“Irfan.”
“Pernahkah kamu menyesal karena telah menolongku dulu?”
Irfan terdiam dan menundukkan pandangan.
“Nggak menyesal. Siapapun orangnya hari itu, aku pasti tetap akan menolong.”
Aku tersenyum dan memalingkan wajah agar dia tak melihat air mataku yang jatuh.
Saat perawat mencabut jarumnya, aku pun berdiri. Tapi, rasa pusing yang kuat membuat tubuhku terhuyung.
Irfan reflek hendak menahanku, tapi aku menepis tangannya.
“Irfan, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi.”
“Aku akan melepaskanmu dan juga melepaskan diriku sendiri.”
Setelah terlahir kembali, aku baru sadar bahwa diriku dan dia itu bagaikan dua sulur berduri.
Semakin erat melilit, semakin parah pula lukanya.
Hingga tenaga terkuras habis, barulah aku menyadari bahwa kami memang tak seharusnya bertemu.
Sekilas, kegelisahan dan kebingungan melintas di mata Irfan.
“Apa… apa yang kamu katakan?! Apa maksudmu melepaskanku? Kita sudah mau menikah sebentar lagi, kamu….”
Belum selesai dia bicara, seorang perawat berlari masuk.
“Kapten Irfan, Bu Selina sudah bangun. Dia merengek ingin bertemu denganmu….”
Kening Irfan berkerut, tampak ragu sesaat, lalu menoleh melihatku.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Pergilah, orang sakit lebih penting.”
Irfan memandangku dengan ekspresi aneh, tapi tetap beranjak pergi.
“Aku bakal segera kembali. Tunggu sebentar, nanti aku antar pulang.”
Aku tidak menjawab, hanya menatap sosoknya yang menjauh.
Lalu, aku bergumam dalam hati, “Maaf, aku nggak seharusnya hadir dalam duniamu.”
“Irfan, semoga kamu bisa hidup dengan tenang, aman dan penuh kebahagiaan di sisa hidupmu.”
Anda Mungkin Juga Suka





