Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti

Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti

Nayara Elvard, desainer ambisius, terjebak pernikahan kontrak dengan Arshen Daveraux, pengusaha dingin dan perfeksionis. Meski Arshen terus menjaga jarak dan menolak perhatian, Nayara yang ceria justru tertantang untuk mencairkan kekakuan suaminya itu. Di tengah konflik kepribadian dan gengsi yang tinggi, Nayara bertekad membuktikan adanya cinta di balik sikap kaku Arshen. Akankah perasaan tulus tumbuh melampaui batasan kontrak yang mengikat mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana pagi di vila Daveraux kembali sepi. Langit Jakarta masih berwarna abu-abu ketika Nayara melangkah ke dapur, hanya ditemani aroma kopi yang baru diseduh. Ia masih mengenakan piyama satin biru muda, rambutnya diikat sederhana.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah satu pelayan sopan.

"Pagi," jawab Nayara singkat, tersenyum ramah.

Ia duduk di meja makan panjang yang sepi, hanya ada roti panggang, salad, dan kopi panas. Meja ini terlalu luas untuk satu orang, pikir Nayara getir. Sejak hari pertama tinggal di rumah ini, ia selalu makan sendirian. Arshen pergi terlalu pagi atau memilih sarapan di kantor.

Namun, kali ini berbeda. Suara langkah sepatu terdengar dari arah tangga. Nayara menoleh, dan matanya membesar ketika melihat Arshen masuk ke ruang makan.

Pria itu tampak segar dengan setelan jas biru gelap, rambut disisir rapi. Ia jarang sekali muncul di pagi hari.

"Oh? Tuan Besar akhirnya turun juga?" Nayara menyindir sambil menyesap kopi.

Arshen menarik kursi dan duduk di seberang meja. "Jangan berpikir aku datang untuk menemanimu. Aku hanya butuh makan cepat sebelum rapat."

Nayara menahan tawa. "Baiklah, minimal aku tidak jadi patung porselen yang duduk sendiri."

Pelayan segera menyiapkan sarapan untuk Arshen, sementara Nayara memperhatikannya diam-diam. Caranya memegang garpu, tatapan dingin matanya, bahkan cara ia memotong roti-semuanya penuh kendali.

"Jadi, kau memang tak pernah santai, ya?" tanya Nayara iseng.

"Apa maksudmu?" Arshen mengangkat alis.

"Lihat dirimu. Bahkan saat sarapan, kau tampak seperti sedang menandatangani kontrak miliaran. Semua terukur, semua kaku."

Arshen menatapnya datar. "Itu sebabnya aku berhasil, Nayara. Bukan sepertimu yang hidup dengan spontanitas bodoh."

Nayara pura-pura tersinggung. "Hei! Spontanitas itu membuat hidup berwarna. Kau seharusnya berterima kasih punya istri sepertiku. Aku bisa menyelamatkanmu dari jadi robot es."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arshen sedikit terangkat, meski hanya sepersekian detik. Ia cepat-cepat menunduk, menyembunyikan ekspresi itu.

Nayara menatapnya dengan geli. Jadi, kau bisa tersenyum juga ternyata, batinnya.

---

Siang harinya, Nayara memutuskan berkunjung ke kantornya sendiri. Ia masih menjalankan studio desain meski kini berstatus istri Arshen. Begitu masuk ke ruangannya, ia disambut riuh tim kecilnya.

"Nayara! Selamat, ya! Semua berita membicarakan pernikahanmu!" seru Rani, salah satu desainer junior.

Nayara tersenyum canggung. "Terima kasih... meski aku lebih suka dikenal karena karyaku, bukan pernikahan."

Ia memeriksa beberapa desain yang tengah dikerjakan tim. Walau sibuk, pikirannya tetap melayang pada Arshen. Kenapa aku repot-repot memikirkannya? keluhnya dalam hati. Tapi entah kenapa, wajah dingin itu selalu muncul di kepalaku.

Sore hari, ia kembali ke vila. Rumah itu masih sepi, tapi kali ini Nayara punya ide.

---

Malam menjelang. Nayara sengaja mengenakan gaun santai berwarna putih yang sederhana tapi menonjolkan kecantikannya. Ia menyalakan lilin di meja makan, memerintahkan staf menyiapkan makan malam lengkap.

Ketika Arshen pulang hampir pukul sembilan, ia tertegun melihat pemandangan itu.

"Apa ini?" tanyanya dengan nada curiga.

"Makan malam," jawab Nayara ceria. "Kau tahu, tradisi manusia normal. Dua orang duduk, makan bersama, berbicara. Pernah dengar?"

Arshen menatap meja itu, lalu menatap Nayara. "Aku tidak punya waktu untuk permainan."

"Ini bukan permainan. Ini... usaha," Nayara menekankan.

"Apa kau tidak paham? Aku tidak membutuhkan-"

"Aku yang butuh," potong Nayara cepat. "Aku butuh duduk denganmu, walau hanya setengah jam. Apa itu terlalu sulit, Daveraux?"

Keheningan menyusul. Arshen menatap Nayara lama, seolah mencoba membaca maksudnya. Akhirnya, tanpa berkata apa-apa, ia duduk.

Makan malam itu berlangsung hening selama beberapa menit. Hanya suara sendok dan garpu beradu dengan piring.

Nayara akhirnya bicara. "Aku mendengar kau menolak beberapa investor hari ini. Kenapa?"

Arshen menoleh tajam. "Kau memata-matai aku?"

"Aku hanya membaca berita," jawab Nayara santai. "Kau terlalu populer, sayang. Semua orang ingin tahu apa yang kau lakukan."

Kata "sayang" membuat rahang Arshen mengeras. "Jangan panggil aku begitu."

"Kenapa? Itu wajar untuk pasangan suami istri."

"Ini pernikahan kontrak."

Nayara menatapnya tajam. "Kontrak tetaplah pernikahan. Dan kalau aku ingin memanggilmu sayang, kau tidak bisa melarangku."

Arshen terdiam. Ada api kecil di mata Nayara yang membuatnya kehilangan kata-kata. Ia akhirnya menunduk, kembali fokus pada makanannya.

---

Beberapa hari kemudian, Nayara nekat melakukan hal yang lebih ekstrem.

Ketika Arshen sibuk bekerja di ruang kerjanya, Nayara masuk tanpa mengetuk.

"Aku bosan," katanya sambil duduk di sofa.

"Keluar," jawab Arshen dingin, matanya masih menatap layar laptop.

Nayara berpura-pura tuli. Ia berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan, menyentuh rak buku, melihat bingkai foto tua yang berisi gambar Arshen kecil bersama orangtuanya.

"Lucu juga kau dulu, rambutmu berantakan," komentar Nayara.

Arshen menutup laptop keras-keras. "Jangan sentuh apa pun tanpa izin."

"Kenapa? Takut aku menemukan rahasia kecilmu?" Nayara menantang.

Arshen bangkit, berdiri tepat di depannya. "Kau suka sekali bermain api, Nayara."

Nayara mendongak menatap matanya, berani. "Mungkin karena aku ingin tahu apakah es sepertimu bisa terbakar."

Ketegangan menggantung. Hanya beberapa sentimeter yang memisahkan mereka. Napas mereka hampir bertemu.

Untuk sesaat, Nayara pikir Arshen akan menciumnya. Namun, pria itu justru memalingkan wajah, melangkah menjauh.

"Keluar," katanya lirih, tapi suaranya berat. "Sebelum aku menyesal."

Nayara tersenyum samar. Jadi... kau mulai terguncang juga, Daveraux.

---

Malam itu, Nayara duduk di ranjang kamarnya sendiri. Mereka memang tidur terpisah-Arshen memilih kamar utama, sementara Nayara diberikan kamar tamu mewah.

Ia menatap langit-langit, memikirkan kejadian tadi. Jantungnya masih berdebar.

"Kenapa aku ikut merasakan ini?" bisiknya. "Seharusnya aku hanya ingin menaklukkannya. Bukan jatuh ke dalam permainan sendiri."

Namun, bagian kecil dari dirinya tahu-hubungan mereka sudah mulai berubah.

Dan di kamar sebelah, Arshen duduk di kursinya, menatap kosong ke dinding. Ia mengingat tatapan mata Nayara, jarak yang begitu dekat, dan godaan yang hampir tak bisa ia tahan.

Tangannya mengepal. "Bodoh... ini hanya kontrak. Hanya kontrak."

Namun, suara hatinya berbisik berbeda.

Hujan turun deras malam itu, membasahi seluruh kota dengan gemuruh dan kilatan petir yang sesekali menyambar langit. Dari balik jendela kamar hotel megah tempat ia tinggal untuk sementara, Nayara menatap kosong ke arah luar. Pikirannya kalut, bercampur aduk antara perasaan marah, takut, dan sebuah ketidakpastian yang membuatnya sulit bernapas.

Hari ini ia resmi menjadi "istri kontrak" dari seorang pria bernama Arshen Daveraux. Nama itu saja sudah cukup membuat banyak orang menunduk penuh segan. Arshen bukan hanya seorang CEO, tapi juga pengusaha yang reputasinya tersebar luas, dikenal dingin, penuh kontrol, dan tidak pernah membiarkan siapa pun menentangnya.

Dan sekarang, Nayara yang selama ini hanya sibuk dengan dunia desain, mimpi-mimpi busana, dan kehangatan keluarga kecilnya, harus terjebak dalam pusaran kehidupan seorang pria yang dunianya dipenuhi aturan, gengsi, dan kesepian.

Ia menarik napas panjang, lalu meraih segelas air di meja samping. Tenggorokannya kering sejak tadi. Dalam benaknya terngiang lagi peristiwa sore tadi, tepat setelah tanda tangan kontrak pernikahan itu dilakukan di hadapan pengacara pribadi Arshen.

---

"Aku hanya ingin kau ingat satu hal," suara Arshen terdengar dalam, dingin, dan penuh tekanan. Pandangan matanya menusuk, seolah menembus jantung Nayara.

"Kau ada di sisiku bukan karena cinta, bukan karena takdir, tapi hanya karena kontrak. Jangan sekali-kali mencoba melibatkan perasaanmu dalam perjanjian ini."

Nayara tersentak mendengarnya. "Aku tidak sebodoh itu," jawabnya cepat, berusaha terdengar tegar meski sebenarnya hatinya goyah.

Arshen mendengus, lalu berjalan melewati Nayara dengan langkah penuh wibawa. Aroma parfumnya samar tertinggal di udara. "Bagus. Pertahankan itu. Aku tidak ingin drama yang tidak perlu."

Kata-kata itu terus membekas di kepala Nayara. Ia tahu sejak awal pernikahan ini hanya perjanjian-sebuah kesepakatan bisnis terselubung yang melibatkan keluarganya dan perusahaan besar milik Arshen. Tapi mendengar langsung dari mulut pria itu, dengan tatapan mata sedingin es, membuatnya semakin sadar: ia benar-benar terperangkap.

---

Kembali ke kamar hotel, Nayara menggenggam erat segelas air itu. "Jadi... beginilah rasanya," gumamnya lirih.

Ia memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ia sanggup melewati semua ini. Kalau ia menyerah sekarang, maka semua perjuangan keluarganya, mimpinya, dan harga dirinya akan runtuh.

Ketukan pintu mendadak memecah keheningan. Nayara buru-buru menegakkan tubuh.

"Nyonya Daveraux, ini saya, Lina," suara pelayan pribadi yang ditugaskan untuknya terdengar dari luar.

Nayara membuka pintu, memperlihatkan Lina yang membawa baki berisi makan malam.

"Pak Arshen menyuruh saya mengantarkan ini," ujar Lina pelan, seakan takut salah bicara.

"Makan malam?" Nayara mengerutkan dahi. "Tapi... aku tidak merasa lapar."

"Pak Arshen bilang Nyonya harus tetap makan, walau tidak lapar sekalipun," jawab Lina hati-hati.

Ada nada perintah yang terselip, khas Arshen. Nayara menghela napas, tapi tetap menerima makanan itu.

"Baiklah. Taruh saja di meja."

Saat Lina keluar, Nayara menatap hidangan yang disiapkan. Sederhana, namun jelas bukan makanan yang asal dibuat. Ada salmon panggang, sup krim hangat, dan salad segar. Sekilas terlihat seperti bentuk perhatian, namun Nayara tahu-semua ini hanyalah bagian dari kendali Arshen.

"Dingin sekali caramu, tapi tetap saja kau memastikan aku makan." Bibir Nayara melengkung miris. "Apa ini caramu menunjukkan... kalau kau sebenarnya peduli?"

Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mulai makan. Entah kenapa, ia tidak ingin kalah. Kalau ia mengabaikan makan malam ini, Arshen mungkin akan merasa menang. Dan Nayara tidak suka kalah begitu saja.

---

Keesokan harinya, Nayara terbangun lebih awal. Pagi itu ia harus menghadiri pertemuan bersama Arshen untuk pertama kalinya sebagai "istri kontrak". Mereka akan muncul di depan publik, menampilkan pernikahan bahagia yang sebenarnya penuh kepalsuan.

Nayara menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun putih sederhana dengan potongan elegan membalut tubuhnya. Ia menata rambutnya dengan rapi, lalu menambahkan lipstik lembut yang membuat senyumnya terlihat lebih manis.

"Kalau aku harus memainkan peran ini, maka aku akan melakukannya dengan sempurna," bisiknya pada diri sendiri.

Pintu kamar terbuka. Arshen berdiri di ambang, mengenakan setelan jas hitam yang jatuh sempurna di tubuh tegapnya. Tatapannya dingin, namun tidak bisa menutupi pesonanya.

"Kau siap?" tanyanya singkat.

Nayara mengangguk, lalu berdiri anggun. "Tentu. Bukankah ini hanya permainan peran? Aku terbiasa melakukannya."

Arshen menatapnya sejenak, bibirnya melengkung tipis seperti senyum sinis. "Kita lihat saja sejauh mana kau bisa bertahan."

---

Mereka tiba di gedung besar tempat konferensi pers diselenggarakan. Puluhan kamera menunggu, kilatan lampu kamera segera menyerbu begitu mereka melangkah turun dari mobil mewah itu.

Nayara tersenyum hangat, melingkarkan lengannya pada lengan Arshen. Sekilas, mereka tampak sebagai pasangan sempurna: pengusaha muda sukses dengan istrinya yang anggun. Namun, hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya.

"Pak Arshen, apa benar pernikahan ini mendadak?" tanya seorang reporter.

"Cinta tidak bisa dijadwalkan," jawab Arshen datar, namun penuh keyakinan. Kata-kata yang manis di depan kamera, tapi kosong di balik kenyataan.

Nayara menambahkan dengan senyum ceria, "Kadang, kebahagiaan datang tanpa kita rencanakan. Dan saya bersyukur bisa menemukannya."

Kata-kata itu berhasil membuat semua orang terpana. Kilatan kamera semakin gencar. Dari sudut matanya, Nayara bisa melihat tatapan tajam Arshen yang jelas tidak suka. Tapi ia pura-pura tidak peduli.

Di dalam hati, ia tertawa kecil. Kalau kau ingin aku diam, kau salah memilih orang. Aku akan melawanmu dengan caraku.

---

Malamnya, kembali di kediaman mewah Arshen, suasana tegang kembali terasa.

"Jangan pernah bicara sembarangan di depan media," tegur Arshen dingin. "Apa yang kau lakukan tadi hampir menyingkap kepalsuan kita."

Nayara menatapnya berani. "Aku hanya berkata sesuatu yang mereka ingin dengar. Itu membuat kita terlihat nyata, bukan?"

"Tidak ada yang nyata dari ini." Arshen melangkah mendekat, tatapannya menajam. "Kau hanya bagian dari kontrak."

Nayara merasakan dadanya berdebar, bukan karena takut, tapi karena tantangan itu membuatnya semakin bersemangat. Ia tersenyum tipis.

"Mungkin menurutmu begitu. Tapi aku punya caraku sendiri. Aku tidak akan pernah menjadi boneka bisu, Arshen. Jika kau ingin aku memainkan peran, maka aku akan memainkannya dengan caraku."

Hening sejenak. Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan. Untuk pertama kalinya, kilatan emosi lain-entah marah, kagum, atau bahkan tertarik-tampak di mata Arshen.

Nayara tahu, pertempuran baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal
8.8
Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Sampul Novel Di Atas Ranjang Tuan Nick
8.7
Akibat tuduhan palsu sebagai perusak hubungan, Keyla menghadapi nasib kelam. Nick, CEO berkuasa, menculiknya tepat di hari pertunangan demi menghancurkan masa depan wanita itu. Setelah dilecehkan secara paksa, Keyla yang putus asa mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, Nick justru menyelamatkannya hanya untuk mengikatnya dalam pernikahan yang menyesakkan. Kini, Keyla terjebak sebagai tawanan di kediaman megah pria yang telah menghancurkan martabatnya tersebut.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Dua tahun Nina terikat pernikahan kontrak dengan pria misterius yang identitasnya tidak ia ketahui sama sekali. Sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia salah memasuki kamar dan menyerahkan kesuciannya pada orang asing. Terdesak beban kompensasi pelanggaran kontrak, Nina nekat mengajukan perceraian. Namun, saat ia menemui suaminya untuk menyerahkan dokumen tersebut, Nina terkejut menyadari bahwa pria itu adalah orang yang sama yang menidurinya malam itu.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Dunia Sahira yang tenang runtuh seketika saat ia memergoki suaminya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Di tengah kehancuran hati akibat pengkhianatan ganda tersebut, harapan muncul dari arah yang tak terduga. Seorang miliarder dari masa lalu kembali hadir dalam hidupnya, menawarkan perlindungan dan mengajak Sahira untuk menyembuhkan luka bersama. Akankah momen ini menjadi awal kebahagiaan baru bagi Sahira setelah dikhianati secara menyakitkan?
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa
9.5
Evelyn adalah desainer berbakat yang kesulitan mewujudkan mimpinya karena modal terbatas. Saat pameran di New York, ia bertemu Alexander, miliarder ambisius yang menawarkan bantuan karier. Di balik sosoknya yang kaku, Alexander ternyata humoris dan penyayang hingga membuat Evelyn jatuh hati. Meski cinta mereka bersemi, perbedaan status dan rasa iri dari pihak luar mulai mengancam. Kini, keduanya harus berjuang mempertahankan hubungan dari badai rintangan.