Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti

Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti

Nayara Elvard, desainer ambisius, terjebak pernikahan kontrak dengan Arshen Daveraux, pengusaha dingin dan perfeksionis. Meski Arshen terus menjaga jarak dan menolak perhatian, Nayara yang ceria justru tertantang untuk mencairkan kekakuan suaminya itu. Di tengah konflik kepribadian dan gengsi yang tinggi, Nayara bertekad membuktikan adanya cinta di balik sikap kaku Arshen. Akankah perasaan tulus tumbuh melampaui batasan kontrak yang mengikat mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana rumah besar Arshen malam itu sunyi, hanya terdengar detak jam antik di ruang tengah yang berdentang pelan. Setelah perseteruan kecil mereka usai, Nayara memilih masuk ke kamarnya lebih cepat. Ia butuh waktu untuk bernapas, menenangkan diri setelah berhadapan langsung dengan tatapan tajam Arshen yang seakan menguliti jiwanya.

Namun meski pintu kamar tertutup rapat, pikirannya tak bisa tenang. Kata-kata Arshen terus terngiang. "Tidak ada yang nyata dari ini. Kau hanya bagian dari kontrak."

Nayara menggenggam sprei dengan erat. "Kalau benar hanya kontrak, kenapa aku merasa jantungku berdegup begitu kencang setiap kali dia mendekat?" gumamnya pada diri sendiri.

Ia benci mengakuinya, tapi ada sesuatu dalam diri Arshen yang membuatnya tak bisa benar-benar membenci pria itu. Dingin, kasar, penuh kontrol-ya, semua itu benar. Tapi di balik sorot matanya, ada luka yang tak pernah ia sebutkan, ada jarak yang sengaja ia ciptakan dari dunia luar.

Keesokan paginya, Nayara bangun lebih awal. Ia memilih sarapan di teras, menikmati sinar matahari yang hangat. Lina, pelayan pribadi, sudah menyiapkan roti, buah segar, dan teh hangat.

"Pak Arshen sudah pergi?" tanya Nayara ringan sambil menyuap sepotong roti.

"Beliau ada di ruang kerja, Nyonya. Biasanya beliau mulai bekerja sejak pukul enam," jawab Lina pelan.

Nayara mendengus kecil. "Tidak heran kalau dia selalu terlihat begitu... dingin. Hidupnya hanya tentang pekerjaan."

Namun belum sempat ia menyesap teh, suara langkah sepatu terdengar mendekat. Arshen muncul, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang serius.

Tatapannya langsung tertuju pada Nayara. "Kau sarapan di sini?"

"Memangnya salah?" Nayara menoleh, senyumnya manis. "Aku hanya ingin udara segar. Bukankah istrimu berhak melakukan itu?"

Arshen menghela napas pendek, lalu duduk di kursi seberang tanpa banyak bicara. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah disiapkan Lina, lalu menyesapnya perlahan.

Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara burung di kejauhan.

"Jangan membuat pernyataan manis di depan media seperti kemarin lagi," ucap Arshen tiba-tiba, suaranya rendah tapi tajam.

Nayara menatapnya lekat. "Kenapa? Apa kau takut orang-orang benar-benar percaya kita pasangan bahagia?"

"Yang kutakutkan," jawab Arshen sambil menaruh cangkirnya, "adalah kau mulai percaya pada kebohongan itu sendiri."

Kata-kata itu menusuk Nayara. Ia ingin membalas dengan sinis, tapi lidahnya kelu. Karena di dalam hatinya, ia tahu-mungkin memang ada bagian kecil dari dirinya yang mulai goyah.

Siang harinya, Nayara memutuskan keluar rumah. Ia tak ingin terus merasa terkekang. Lina sempat panik karena belum terbiasa mengatur aktivitas "Nyonya rumah", tapi Nayara tersenyum meyakinkan.

"Aku hanya ingin jalan sebentar, Lina. Tidak usah khawatir."

Dengan mobil pribadi yang dikendarai sopir Arshen, ia menuju butik tempat ia dulu bekerja sebelum semua ini terjadi. Saat masuk, beberapa rekan kerjanya langsung menatap kaget.

"Nayara? Kamu... kamu sekarang benar-benar jadi istrinya Arshen Daveraux?" tanya salah satu rekannya, Anika, dengan nada setengah berbisik.

Nayara tersenyum tipis. "Ya, begitulah."

"Tapi bukankah dia..." Anika ragu melanjutkan, lalu menutup mulutnya cepat.

"Dingin? Menakutkan? Terlalu sempurna sampai tak tersentuh?" Nayara melanjutkan kalimat itu sendiri. Ia terkekeh kecil. "Ya, semua itu benar. Tapi hidup harus terus berjalan, kan?"

Di balik senyum itu, hatinya terasa perih. Ia ingin bercerita pada Anika, ingin meluapkan semua tentang kontrak ini, tapi ia tahu ia tak boleh. Rahasia ini hanya milik dirinya dan Arshen.

Sementara itu, di kantor, Arshen duduk di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk menandatangani berkas, tapi pikirannya justru melayang entah ke mana.

Bayangan wajah Nayara saat tersenyum di depan kamera kemarin terlintas. Senyum itu bukan sandiwara-atau setidaknya terlihat begitu nyata hingga ia sendiri nyaris tertipu.

"Kenapa aku memikirkannya?" gumamnya kesal. Ia meraih ponsel dan menekan nomor. "Dimana Nayara sekarang?" tanyanya pada asisten pribadinya.

"Beliau sedang mengunjungi butik lama tempatnya bekerja, Tuan."

Dahi Arshen berkerut. "Dengan siapa?"

"Sendiri, Tuan. Hanya ditemani sopir."

Arshen terdiam. Ada rasa tak nyaman menusuk dadanya. Ia tak suka Nayara berada di luar pengawasannya. Bukan karena ia peduli-setidaknya ia meyakinkan dirinya begitu-tapi karena ia tahu dunia bisa kejam pada orang yang dekat dengannya.

Ia menutup ponsel, lalu berdiri. "Siapkan mobil. Aku akan menyusul."

Di butik, Nayara sedang melihat-lihat rancangan busana terbaru. Tangannya menyentuh kain satin berwarna biru lembut. Rasa rindunya pada dunia desain menyeruak.

"Andai aku tidak terjebak kontrak ini, aku mungkin masih di sini, bekerja dengan tenang," batinnya lirih.

Namun tiba-tiba suasana berubah saat pintu butik terbuka. Semua orang menoleh. Sosok tinggi tegap dengan aura dingin dan berwibawa masuk. Arshen.

Nayara membelalakkan mata. "Kau... apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku seharusnya yang bertanya begitu," jawab Arshen datar. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, membuat orang-orang buru-buru menunduk.

"Aku hanya ingin melihat teman-temanku," Nayara mencoba menjelaskan.

Arshen mendekat, jarak mereka hanya tinggal sejengkal. "Kau pikir kau bisa berkeliling tanpa pengawasan? Dunia luar tidak seaman itu. Kau istriku sekarang. Setiap langkahmu mencerminkan aku."

Nada suaranya membuat Nayara merinding. Tapi alih-alih takut, ia menegakkan kepala. "Atau kau hanya takut aku menemukan kebahagiaan di luar kendalimu?"

Tatapan Arshen mengeras. Untuk sesaat, mereka saling menantang tanpa kata. Udara seakan membeku.

Namun kemudian, dengan gerakan mengejutkan, Arshen menggenggam pergelangan tangan Nayara. "Kita pulang," ucapnya tegas.

Nayara terpaksa mengikutinya keluar. Semua mata menatap, sebagian dengan iri, sebagian dengan takut.

Dalam mobil, suasana tegang. Nayara menatap keluar jendela, sementara Arshen duduk kaku dengan rahang mengeras.

"Aku bukan tahananmu," kata Nayara akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Kau tidak bisa mengatur setiap langkahku."

"Kau tidak mengerti, Nayara," balas Arshen dingin. "Semua orang mengincar kelemahanku. Dan sekarang... kau adalah kelemahan itu."

Kata-kata itu membuat Nayara terdiam. Ia menoleh, menatap pria itu lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan samar di balik dinginnya.

"Kalau begitu," Nayara berbisik, "biarkan aku menjadi kekuatanmu, bukan kelemahan."

Arshen terdiam. Tatapannya bertemu dengan mata Nayara. Ada kehangatan yang berusaha ia tolak, tapi semakin sulit diabaikan.

Mobil terus melaju, namun di dalam hati mereka, sesuatu perlahan mulai bergeser.

Malamnya, Nayara berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya. Ia memikirkan kata-kata Arshen di mobil tadi. Kelemahan.

"Kalau aku memang kelemahanmu... maka aku akan membuktikan aku bisa jadi kekuatanmu," gumamnya, menatap bintang-bintang.

Di kamar sebelah, Arshen duduk sendirian. Segelas wiski di tangannya tak disentuh. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Nayara. Senyumnya, keberaniannya, dan kalimat terakhirnya.

Arshen menghela napas berat. "Kenapa aku merasa... semakin sulit menjauh darimu, Nayara?

Arshen mulai melihat Nayara bukan sekadar bagian kontrak, sementara Nayara justru makin bertekad menembus dinding esnya.

Sudah hampir dua minggu sejak pernikahan kontrak itu berjalan, dan rumah besar Arshen kini memiliki ritme baru. Rutinitas mereka mulai terbentuk, meski semua masih terasa canggung dan penuh jarak.

Nayara sudah terbiasa dengan kesunyian kamarnya yang luas. Malam-malamnya hanya ditemani deru angin dari pendingin ruangan dan suara jam yang berdetak monoton. Di sisi lain, Arshen selalu menolak tidur sekamar di ranjang yang sama. Bukan karena ia tidak mampu, tapi karena pria itu menolak adanya keintiman yang bisa menimbulkan kedekatan emosional.

Maka, setiap malam, Nayara tidur di atas ranjang empuk dengan seprai putih bersih, sementara Arshen berbaring di sofa panjang di ruang tamu atau kadang di ruang kerja.

Awalnya Nayara menganggap itu menyebalkan. Baginya, meski pernikahan ini kontrak, mereka tetap harus memainkan peran suami istri, setidaknya di rumah. Namun lama-lama, ia terbiasa. Bahkan, ada bagian kecil dari dirinya yang merasa... lega. Ia punya ruang pribadi, bebas untuk bernapas tanpa tatapan tajam Arshen yang kadang membuatnya salah tingkah.

Malam itu, Nayara terbaring di ranjang, matanya menatap langit-langit kamar. Tidur tak kunjung datang. Di luar, hujan turun deras, membuat suasana semakin dingin. Ia memeluk guling, berusaha menghangatkan diri, tapi udara menusuk tulang.

"Aku benci hujan..." gumamnya lirih.

Ketika petir menyambar, Nayara spontan menutup telinganya dengan bantal. Ia memang tak pernah bisa terbiasa dengan suara guntur yang menggelegar.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya berderit pelan. Sosok tinggi dengan rambut sedikit berantakan muncul. Arshen.

"Kau belum tidur?" tanyanya datar, namun suaranya terdengar sedikit serak.

Nayara segera bangkit, duduk di ranjang sambil merapatkan selimut. "Petirnya terlalu keras. Aku tidak bisa tidur."

Arshen menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. "Aku sudah bilang kalau kau bisa memakai penyumbat telinga."

"Aku tidak suka. Aku butuh mendengar sekitarku, bukan terkurung dalam diam," jawab Nayara, menantang dengan nada lembut.

Arshen berjalan masuk, lalu duduk di kursi dekat jendela. Hujan deras membasahi kaca, memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram. Ia tidak berkata apa-apa, hanya duduk diam dengan ekspresi serius.

"Kenapa kau di sini?" Nayara akhirnya bertanya.

"Karena kau tidak bisa tidur," jawabnya singkat.

Nayara terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Arshen malam itu. Tidak ada sindiran, tidak ada dingin yang menusuk. Hanya... datar, namun terasa seperti bentuk perhatian yang terselubung.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara hujan yang menemani. Nayara akhirnya berbaring kembali, tapi matanya tetap terbuka. "Arshen," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Kenapa kau selalu tidur di sofa? Apa ranjang ini terlalu sempit untukmu?" suaranya setengah bercanda, meski matanya menatap serius.

Arshen menoleh, menatapnya dalam. "Aku tidak ingin membuat batas antara kita kabur. Kau tahu sendiri pernikahan ini hanya kesepakatan."

Nayara tersenyum tipis. "Kalau begitu, mungkin aku harus berterima kasih. Aku jadi punya ranjang besar ini untukku sendiri."

Arshen menahan helaan napas, lalu menatap ke luar jendela lagi. "Kalau kau ingin aku tidur di sini, aku bisa."

Perkataan itu membuat Nayara sedikit kaget. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu buru-buru menutup wajah dengan selimut. "Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bertanya."

Arshen tak membalas. Tapi saat petir kembali menyambar, Nayara spontan menjerit kecil. Selimutnya terlepas, memperlihatkan wajahnya yang pucat.

Arshen bangkit, berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Kau selalu takut petir?" tanyanya.

"Aku... tidak suka suara keras."

"Takut berarti," koreksi Arshen tenang.

Nayara mendengus, lalu menatapnya. "Baiklah, ya. Aku takut. Kau puas sekarang?"

Arshen tidak menjawab. Ia hanya menatap Nayara, sorot matanya lebih lembut dari biasanya. Tangan pria itu terangkat, seolah ingin menyentuh rambut Nayara, tapi ia menahannya di udara. Sesaat kemudian, tangannya kembali turun.

"Aku akan duduk di sini sampai kau tertidur," ucapnya datar.

Nayara terdiam. Bagian dalam dadanya menghangat, meski wajahnya tetap berusaha terlihat biasa saja. Ia memejamkan mata, pura-pura tak peduli. Tapi senyum tipis muncul tanpa bisa ia cegah.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Nayara mulai menyadari sesuatu: Arshen memang keras kepala, dingin, dan posesif, tapi ada celah kecil di balik semua itu. Celah yang hanya terlihat sesekali, seperti malam ketika ia duduk menemaninya tidur.

Namun, bukan berarti hubungan mereka jadi lebih mudah. Justru sebaliknya.

Suatu pagi, Nayara turun ke ruang makan, menemukan Arshen sedang sarapan dengan tablet di tangannya.

"Selamat pagi," ucap Nayara riang.

Arshen hanya menoleh sekilas. "Pagi."

"Kau selalu sibuk bahkan saat makan," Nayara mengomentari.

"Aku tidak punya pilihan," jawab Arshen datar.

"Selalu ada pilihan, Arshen. Kau hanya menolak melihatnya."

Arshen menutup tabletnya, lalu menatap Nayara tajam. "Pilihan? Aku tidak hidup dengan kemewahan 'pilihan', Nayara. Setiap langkahku sudah diatur oleh tanggung jawab."

"Lalu kenapa kau memilih menikah denganku? Itu juga pilihan, bukan?" Nayara menantangnya balik.

Keheningan menyelimuti ruangan. Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan. Hingga akhirnya Arshen menaruh garpunya dengan sedikit keras. "Aku menikah denganmu karena keadaan. Jangan membalikkan kenyataan itu."

Kata-katanya menusuk, tapi Nayara menegakkan kepala. "Kalau begitu, biarkan aku membuktikan kalau keadaan ini bukan hanya tentang kesepakatan. Aku bisa membuatnya lebih berarti."

Arshen menatapnya lama, sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan meja. Hanya terdengar suara langkahnya yang menjauh.

Malam harinya, kembali ke rutinitas yang sama. Nayara di ranjang, Arshen di sofa ruang tamu. Namun kali ini, Nayara gelisah. Kata-kata pedas Arshen pagi tadi masih terngiang.

Ia bangkit, melangkah pelan keluar kamar. Lampu ruang tamu masih menyala. Di sana, Arshen berbaring miring di sofa, dengan jasnya terlipat rapi di kursi. Matanya terpejam, meski wajahnya terlihat lelah.

Nayara berdiri lama di ambang pintu, hanya menatap. Ada sesuatu yang menusuk dadanya. Pria ini, yang selalu terlihat kuat, ternyata juga bisa terlihat rapuh saat tertidur.

Perlahan, ia mengambil selimut tipis dari lemari, lalu menghampiri. Ia menutup tubuh Arshen dengan hati-hati. Saat melakukannya, wajah mereka begitu dekat hingga Nayara bisa merasakan hembusan napasnya.

Arshen bergumam pelan, seolah mendengar langkahnya. Matanya terbuka sedikit. "Apa yang kau lakukan?" suaranya serak.

"Aku hanya... memastikan kau tidak kedinginan," jawab Nayara lirih.

Arshen menatapnya lama, sebelum akhirnya menutup mata lagi. "Tidurlah. Jangan khawatirkan aku."

Nayara tersenyum samar. "Bagaimana bisa aku tidak khawatir?"

Ia kembali ke kamarnya, tapi malam itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang berubah. Jarak di antara mereka masih ada, tapi perlahan, satu demi satu, dinding yang memisahkan mulai retak.

Keesokan paginya, ketika Nayara bangun, ia menemukan selimut yang semalam ia taruh di tubuh Arshen kini terlipat rapi di kursinya. Sebuah catatan kecil tergeletak di meja riasnya.

Tulisan tangan rapi milik Arshen tertera di sana:

"Jangan terlalu baik. Itu hanya akan menyulitkan kita berdua."

Nayara menatap catatan itu lama, lalu tersenyum tipis. "Terlambat, Arshen. Aku tidak bisa berhenti."

Mereka tidur terpisah, tapi perlahan mulai muncul momen kecil perhatian yang membuat hubungan dingin mereka retak sedikit demi sedikit.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal
8.8
Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Sampul Novel Di Atas Ranjang Tuan Nick
8.7
Akibat tuduhan palsu sebagai perusak hubungan, Keyla menghadapi nasib kelam. Nick, CEO berkuasa, menculiknya tepat di hari pertunangan demi menghancurkan masa depan wanita itu. Setelah dilecehkan secara paksa, Keyla yang putus asa mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, Nick justru menyelamatkannya hanya untuk mengikatnya dalam pernikahan yang menyesakkan. Kini, Keyla terjebak sebagai tawanan di kediaman megah pria yang telah menghancurkan martabatnya tersebut.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Dua tahun Nina terikat pernikahan kontrak dengan pria misterius yang identitasnya tidak ia ketahui sama sekali. Sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia salah memasuki kamar dan menyerahkan kesuciannya pada orang asing. Terdesak beban kompensasi pelanggaran kontrak, Nina nekat mengajukan perceraian. Namun, saat ia menemui suaminya untuk menyerahkan dokumen tersebut, Nina terkejut menyadari bahwa pria itu adalah orang yang sama yang menidurinya malam itu.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Dunia Sahira yang tenang runtuh seketika saat ia memergoki suaminya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Di tengah kehancuran hati akibat pengkhianatan ganda tersebut, harapan muncul dari arah yang tak terduga. Seorang miliarder dari masa lalu kembali hadir dalam hidupnya, menawarkan perlindungan dan mengajak Sahira untuk menyembuhkan luka bersama. Akankah momen ini menjadi awal kebahagiaan baru bagi Sahira setelah dikhianati secara menyakitkan?
Sampul Novel Magnet Cinta Sang Penguasa
9.5
Evelyn adalah desainer berbakat yang kesulitan mewujudkan mimpinya karena modal terbatas. Saat pameran di New York, ia bertemu Alexander, miliarder ambisius yang menawarkan bantuan karier. Di balik sosoknya yang kaku, Alexander ternyata humoris dan penyayang hingga membuat Evelyn jatuh hati. Meski cinta mereka bersemi, perbedaan status dan rasa iri dari pihak luar mulai mengancam. Kini, keduanya harus berjuang mempertahankan hubungan dari badai rintangan.