Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Dua Pilihan

Antara Dua Pilihan

Sabrina percaya jodoh adalah rahasia Tuhan. Selama ini, ia konsisten melangitkan satu nama dalam doanya, berharap pria itu menjadi pendamping hidupnya. Namun, harapan itu pupus saat sang ayah menjodohkannya dengan Agam, pria asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Terjebak dalam pernikahan tanpa dasar cinta, Sabrina kini berada di persimpangan jalan. Sanggupkah ia menghapus bayang masa lalu dan membuka hatinya untuk mencintai Agam dengan tulus?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bisakah kau kembali sekarang? Aku sungguh merindukanmu."

🍁🍁🍁

"Aduhh Sa, dosen baru di kampus kita ganteng banget sumpah" celoteh Arini saat aku baru saja tiba di kampus.

Arini memang orang yang termasuk up-to-date jika menyangkut masalah gosip di kampus. Dia selalu bersemangat saat menceritakan kabar yang didapatkannya padaku. Entah darimana dia mendapatkan kabar-kabar itu, aku sendiri juga tidak begitu peduli.

"Namanya Pak Agam. Dia tuh ya, orangnya udah dewasa, pinter, religius lagi. Pokoknya calon imam idaman dehh"

Nah, kan? Aku bilang juga apa? Padahal aku tadi tidak bertanya siapa nama dosen itu, tapi Arini sudah bercerita dengan semangat yang membara seperti itu. Aku sendiri juga heran mengapa diriku bisa betah bersahabat dengan orang macam Arini.

"Tapi ya, dia itu rada dingin sikapnya. Makanya cewek-cewek di kampus yang suka sama Pak Agam banyak yang gak berani buat deketin si doi."

Aku menghela napas. Merasa malas mendengar ceritanya.

"Ada juga sih yang berani deketin pake dandanan ala-ala muslimah kayak kamu gini, berharap Pak Agam tertarik." lanjut Arini.

"Rin, jangan mulai deh" ucapku memperingatinya.

Arini hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

"Kan aku cuma cerita doang" jawabnya beralasan.

"Ghibah. Itu termasuk dosa." balasku. Arini berdecak.

"Dosa lagi, dosa lagi, yang dibahas." kata Arini terdengar jengah.

"Ayok, udah mau masuk nih" ajakku mengingat sebentar lagi kelas akan dimulai.

Aku berjalan mendahului Arini yang masih terdiam di tempatnya. Mungkin dia masih merasa kesal karena aku kembali membahas soal dosa.

"Assalamualaikum semuanya" sebuah suara menyapa kelas.

Aku menjawab salam, namun tak terlalu memperhatikan karena sedang fokus menulis sesuatu di buku diary.

"Sssst, Sa!" panggil Arini yang sama sekali tak ku hiraukan.

"Woy, Sa!" kali ini Arini menyenggol lenganku.

"Apaan sih" kataku menatap Arini yang berada tepat disebelahku dengan kesal.

"Itu, Pak Agam. Yang aku ceritain tadi." bisik Arini.

Aku menghela napas. Lantas kembali berkutat dengan diaryku. Melihat aku yang acuh tak acuh, membuat Arini semakin kesal.

"Hari ini Pak Bagas berhalangan hadir. Dan saya yang akan menggantikan beliau hari ini"

"Yes!" sorak para mahasiswa di kelas, terutama para kaum hawa.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

Tapi tunggu dulu. Kenapa suaranya tidak asing ya? Seperti pernah kenal, tapi.....dimana?

Aku mengangkat wajah, melihat siapa dosen baru itu.

Betapa terkejutnya diriku saat mengetahui jika dosen baru itu adalah pria yang memergokiku menangis di dalam bus tadi pagi.

'Ternyata, dia dosen barunya?' batinku.

"Aku bilang juga apa! Ganteng kan, Pak Agam?" Arini kembali berbisik, mungkin dia menyadari jika sedari tadi aku menatap Pak Agam.

Entahlah, aku sendiri tidak terlalu memperhatikan ucapan Arini. Pikiranku hanya melayang, mengingat kembali kejadian di dalam bus tadi pagi, saat dia memergokiku sedang menangis.

Betapa malunya diriku saat itu, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi setelah bus berhenti di tempat tujuan, aku langsung saja mengucapkan permisi untuk turun terlebih dahulu.

'Aduhh, bagaimana jika dia sampai tahu kalau aku kuliah disini, bisa-bisa dia mencapku sebagai siswi yang tidak sopan' batinku khawatir.

*********

Kelas pertama telah usai. Baru pukul sepuluh. Aku pun memutuskan untuk menuju masjid kampus berniat untuk shalat duha.

"Awww" pekikku saat kakiku tersandung batu tanpa sengaja.

"Lain kali hati-hati kalau berjalan, Sabrina."

Aku menoleh. Ku lihat, Pak Agam tersenyum padaku.

Apa? Dia tersenyum? Tapi Arini bilang Pak Agam orangnya dingin. Memang dasar gosip! Tidak bisa dipercaya!

"I.....iya pak." jawabku terdengar kikuk.

"Saya duluan ya, Sabrina?" ucap Pak Agam menekankan kata Sabrina. Entah mengapa jantungku berdebar kencang ketika dia memanggil namaku.

Seakan ada hal yang mengganjal pikiranku. Ya, ada sesuatu yang aneh disini. Bagaimana mungkin dia bisa tahu namaku? Padahal kami baru saja bertemu? Tadi di kelas dia juga tidak mengabsen setiap nama mahasiswa dan mahasiswi. Hanya bertanya siapa saja yang tidak masuk.

Aku berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu, lantas kembali berjalan menuju masjid.

Setelah shalat duha, aku hanya duduk termenung sendirian di taman.

Tanganku terulur, mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah surat. Ya. Surat yang diberikan oleh Zaky kepadaku dulu. Saat kami masih duduk di bangku SMA.

Ada banyak surat yang ditulis oleh Zaky untukku. Aku selalu membaca semua surat-suratnya. Namun tidak ada satupun yang ku balas.

Meski tidak pernah ku balas, Zaky tetap memberikan surat yang berisi tentang perasaannya padaku, setidaknya sekali dalam seminggu.

Aku membaca setiap kata yang tertulis dalam surat itu. Begitu sederhana namun mampu membuatku merasa begitu istimewa dimatanya.

Kadang aku senyum-senyum sendiri saat membaca surat darinya. Ya, kalian pasti tahu lah, masa remaja itu bagaimana. Meski begitu, aku selalu menahan diri dari yang namanya pacaran.

Aku tahu pacaran adalah perbuatan yang mendekati zina dan dilarang oleh Allah. Maka dari itu, aku sebisa mungkin menjauhinya.

Aku dan Zaky memang saling mencintai. Tapi kami tahu harus menjaga diri. Biarlah Allah yang mempersatukan kita dalam ikatan yang bernama pernikahan kelak.

Zaky terus mengirimkan surat-suratnya untukku, sampai akhirnya pengurus pondok mengetahui hal itu dan melaporkannya pada abah.

Semenjak menginjak SMP, Zaky, Rian, dan Bayu memang tidak lagi tinggal di rumahku, melainkan di pondok pesantren.

Jadi pengurus pondok bisa memantau mereka dan melaporkan apa yang mereka lakukan kepada Abah.

Sejak insiden terbongkarnya surat cinta itu, Zaky dan Rian pergi meninggalkan pondok pesantren.

Zaky menitipkan surat terakhirnya pada Bayu.

Beberapa hari setelah itu, saat aku bertemu dengan Bayu di sekolah, dia memberikan surat itu padaku.

Di dalam surat itu berisi pernyataan bahwa Zaky pergi karena ingin memperbaiki dirinya agar lebih baik lagi. Suatu saat nanti, dia ingin datang kembali melamarku dan menjadikan diriku sebagai kekasih halalnya. Dia juga memintaku untuk menunggu dan mendoakannya agar suatu saat nanti dia bisa menjadi imam yang baik untukku.

Aku menghela napas.

Zaky, sudah lama sekali kau pergi meninggalkanku. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah berhasil menjadi seseorang yang lebih baik lagi? Kapan kau akan datang melamarku?

Disini aku hanya bisa menunggu dan mendoakanmu melalui doa.

Semoga kau baik-baik saja disana. Semoga kita lekas dipertemukan.

"Woyyy!" Arini menepuk bahuku keras, membuatku kaget seketika.

"Aku cari kemana-mana juga, ternyata disini toh kamu" lanjutnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun dia lantas duduk disampingku.

"Kantin yuk. Aku laper nih" ucapnya mengajak.

Aku hanya diam, tak membalas ajakannya.

Arini melirik sebuah surat yang masih ku pegang, buru-buru aku memasukkan surat itu ke dalam tas.

"Masih mikirin dia?"

**********

Instagram : @iney_calysta

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri
9.7
Adeline Shabira tak lagi mampu membendung luka saat suaminya lebih memercayai fitnah orang lain daripada kejujurannya sendiri. Pengkhianatan dan pengabaian ini menghancurkan fondasi pernikahan mereka hingga Adeline memilih untuk pergi demi membebaskan sang suami. Saat kebenaran perlahan terungkap, penyesalan pun datang terlambat. Di tengah badai emosi dan logika, mampukah hati Adeline yang telah mengeras dan hancur kembali memaafkan setelah kepercayaan itu sirna?
Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson adalah sekretaris tegas yang harus menghadapi perilaku provokatif bosnya setiap hari. Meski profesional, ia sering terjebak dalam situasi penuh godaan dan makna ganda di kantor. Saat sang atasan mengajukan tawaran skandal, Alice terjepit antara logika dan keinginan hati yang membingungkan. Hubungan benci tapi rindu ini memaksa mereka menjelajahi batas kekuasaan dan cinta dalam narasi romansa kontemporer yang berani dan penuh gejolak.
Sampul Novel Cinta Rahasia Sang Pewaris
9.8
Ananda Edward, pewaris keras kepala, harus menyamar jadi karyawan biasa bernama Ananda Iskandar demi bebas dari penjara. Di tengah hukuman sang ayah, ia ditugaskan membantu Erika Adhinata, manajer cerdas yang perlahan meluluhkan hatinya yang dingin. Namun, cinta Nanda terhalang masa lalu Erika yang masih terikat pada pria hedonis. Akankah Nanda berhasil memenangkan hati Erika di tengah sandiwara identitasnya? Ikuti perjuangan cinta sang pewaris yang penuh rintangan.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Dilan dan Nessa menjadi sangat dekat hanya dalam tiga kali pertemuan. Namun, momen ketiga itu justru membawa luka hati bagi Dilan. Sebuah insiden tak terduga terjadi saat Nessa berada di bawah pengaruh obat perangsang, memaksa Dilan melanggar janjinya sendiri untuk menjaga kehormatan wanita yang ia cintai. Kini, hubungan mereka dipertaruhkan. Mampukah Nessa memaafkan Dilan, dan akankah kesalahpahaman besar di antara mereka akhirnya menemukan jalan keluar?
Sampul Novel Kontrak Pewaris Lima Miliyar
8.0
Narendra Adipradana, miliarder dingin yang enggan menikah, terpaksa mencari pewaris demi tuntutan ayahnya. Ia menawarkan lima miliar rupiah kepada Kirana Maheswari, gadis desa yang terdesak utang, untuk mengandung anaknya melalui sebuah transaksi tanpa rasa. Namun, saat kehamilan Kirana dimulai, dinding pertahanan Narendra goyah. Akankah hubungan profesional ini berubah menjadi cinta sejati, atau justru Kirana akan pergi meninggalkan kehampaan setelah tugasnya usai?
Sampul Novel MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT
9.7
Elmi dan Damar mengawali asmara sejak kuliah hingga menikah. Namun, lima tahun berumah tangga, Damar justru menjadi parasit yang menganggur dan mengklaim rumah warisan Elmi sebagai miliknya. Konflik memuncak saat Damar menolak punya anak, meski Elmi sangat mendambakannya. Saat mendapat kerja, Damar malah berselingkuh. Di tengah luka, Elmi bertemu kolega yang tulus mendukungnya. Kini ia harus memilih: bertahan dalam kepalsuan atau pergi mengejar kebahagiaan sejati.