
Another Choice Mr. Wijaya
Bab 3
Menatap cafe dimana akan melakukan kerjasama dengan Bobby, pria yang tidak pernah lelah mengejar Vita. Berkali – kali Vita mengatakan bahwa akan menikah dengan Wijaya tapi nyatanya tidak membuat pria tersebut lelah mengejarnya, terlalu asyik menatap keadaan cafe tidak menyadari jika Bobby dihadapannya.
“Terlalu asyik melamun sampai tidak menyadari kehadiranku.”
Wijaya menatap Bobby yang menatap malas dengan segera langsung tersenyum “mohon maaf saya tidak menyadari kehadiran anda.”
Bobby semakin menatap malas pada Wijaya dengan langsung duduk dihadapannya, mereka berdua mulai membicarakan mengenai kerjasama yang akan dilakukan Bobby dengan Vita. Bobby adalah pria baik yang akan melakukan segala cara selama itu berkaitan dengan bisnis, salah satunya adalah memperluas jaringan bisnis.
“Perusahaan baru?” Bobby mengangguk “kenapa mengajak Vita bukan aku?”
Wijaya menatap Bobby yang tidak memberikan jawaban dan memilih diam membuat dirinya menatap malas pada pria yang berada dihadapannya ini, Bobby membuka suaranya mengenai hal – hal yang menjadi bagian bisnis mereka nantinya. Wijaya yang awalnya tidak tahu maksud dan tujuan dari pertemuan ini saat mendengarkan Bobby mengungkapkan apa maksud dan tujuan akhirnya bisa mengikuti dengan cepat.
“Aku tahu kalau tidak perlu mengajak kamu dalam kerjasama karena Vita akan memberikan padamu dan memang terbukti” Wijaya mengangkat alisnya mendengar perkataan dari Bobby “kalian terkenal diantara kami para pengusaha muda yang harus diperhitungkan.”
“Kalian terlalu berlebihan dalam menilai kami.”
.
Pembicaraan mengenai kerjasama berlangsung sangat cepat dan mereka mengakhiri dengan pertemuan selanjutnya, menatap minuman yang ada dihadapannya dengan tatapan lelah karena memang hal seperti ini tidak ada dalam benaknya. Menggantikan posisi orang tuanya dan menanggung tanggung jawab besar membuat Wijaya harus belajar banyak hal, Wijaya mengenal ayahnya dengan sangat baik yang tidak akan memberikan perusahaan ini secara cuma – cuma. Posisi CEO sendiri sudah ditempati oleh seseorang yang sudah bekerja lama dengan mereka sedangkan dirinya memulai semuanya dari awal.
Keluar dari cafe menuju kantor yang dirintis bersama sahabat – sahabatnya, nasib mereka tidak jauh berbeda dengan Wijaya oleh sebab itu membuat perusahaan sendiri yang bergerak di bidang design dengan Yuta sebagai pimpinan tertinggi, meski begitu mereka memiliki jabatan yang sesuai dengan kemampuan masing – masing.
“Bagaimana pertemuan dengan Bobby?”
Wijaya menatap malas pada Austin yang saat mengatakannya dengan nada mengejek, tatapan malas uang Wijaya berikan membuat Austin tertawa keras. Memilih duduk dihadapan sahabat -sahabatnya membuat Wijaya menceritakan semua hasil pertemuan tanpa ada yang tersisa dan mereka mendengarkan dengan sangat baik.
“Aku rasa tidak ada salahnya melakukan perjanjian itu, apalagi Bobby adalah pengusaha yang patut diperhitungkan juga.”
Perkataan Yuta memang benar karena Bobby sendiri termasuk pengusaha yang diperhitungkan seperti mereka, perbedaannya pada jaringan Bobby sangat luas bahkan sampai kedalam pemerintahan. Keluarga Wijaya sendiri sudah masuk didalamnya tapi tidak sekuat tempat keluarga Bobby, kalau pun mendapatkan pekerjaan melalui proses normal tidak lebih.
“Kalau tidak menikah dengan Mira yang akan ibu lakukan adalah menikahkan aku dengan sepupu Bobby” semua memandang Austin bingung “Helena, tahu?” semua memandang bingung Austin “saudara Bobby dimana dia adalah wanita kuat dengan segala perhitungannya dan ibuku ingin aku menikahinya.”
Wijaya mencoba mengingat siapakah Helena sebenarnya karena tidak satu pun ingatan tentang wanita tersebut, memilih untuk tidak peduli dengan perkataan Austin dimana masih banyak pekerjaan yang menunggu dirinya. Wijaya berpamitan pada mereka untuk berada dikantor milik ayahnya Hadinata Corporation yang membawahi pabrik makanan dan juga semen, tidak hanya itu ayahnya memiliki toko sendiri untuk menempatkan semen – semen itu disamping menyalurkan pada toko lain.
Wijaya sendiri disana sebagai staf pemasaran awalnya dan baru saja menempati posisi sebagai direktur penasaran yang memiliki pimpinan dibawah ayahnya, jika orang menganggap Wijaya menempati posisi penting dengan mudah semua tidak benar karena harus melakukan berbagai macam tes baik itu dari ayahnya dan juga pimpinan perusahaan.
“Bagaimana perkembangan penjualan?”
Wijaya menatap anak buah yang ada dihadapannya dengan tatapan datarnya yang membuat satu per satu menjelaskan apa yang terjadi dalam lapangan, memberikan sedikit pekerjaan pada mereka berupa target yang harus dilakukan bulan depan. Penjualan yang berjalan sangat lambat membuat pemasukan tidak berjalan lancar belum lagi dengan mereka yang harus menyimpan barang jadi yang pasti akan menyebabkan kerugian.
“Bagaimana tadi bersama Bobby?” menatap Vita yang tiba – tiba masuk kedalam ruangannya “Muklis bilang kamu lagi luang makanya aku bisa masuk dengan mudah, maaf.”
Wijaya mengangguk “bagaimana pun juga kamu nantinya akan jadi istriku jadi sudah pasti akan sering datang kesini” tidak melepaskan pandangan dari Vita yang tampak berbeda dibandingkan sebelumnya “rasanya ada yang berubah?”
“Mama sama ibu ngajak ke salon makanya aku nggak bisa bertemu sama Bobby. Persiapan pernikahan sudah berjalan hampir selesai dan tidak ada lagi jalan untuk menghindar.”
“Bagaimana kalau kita buat perjanjian pernikahan?” Wijaya mengerutkan keningnya mendengar kata – kata Vita “kamu pria bebas pasti masih ingin mencari wanita yang benar – benar kamu cintai jadi kalau sudah menemukan orang yang dicintai maka kamu bisa menceraikanku.”
“Tidak akan terjadi dan jangan bermimpi akan hal itu. Pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir bagi kita berdua” menatap tajam pada Vita “apa ada pria yang kamu sukai?”
Vita menggelengkan kepala “aku memikirkan kamu sebagai pria karena bagaimana pun kamu pasti menginginkan wanita yang bisa mencintai dan dicintai sepenuhnya.”
“Pernikahan tanpa cinta sudah dilakukan kedua orang tua kita dan tidak ada masalah sama sekali.”
Vita menghembuskan paksa mendengar jawaban Wijaya “kamu tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana percintaan kedua orang tua kita” Wijaya mengangkat alisnya mendengar perkataan dari Vita “atau begini saja beritahu aku jika kamu menemukan wanita yang kamu cintai saat itu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” memberikan tatapan datar pada Vita “bercerai?”
“Tidak, bukan itu” Wijaya mengangkat alisnya mendengar jawaban Vita “aku akan melancarkan semua keinginan kamu bahkan membantu kamu mendapatkan wanita itu, anggap saja sebagai balasan terjebak dalam pernikahan tidak menyenangkan denganku.”
Wijaya mengangguk mendengar tawaran Vita “lantas bagaimana dengan kamu?”
“Tidak ada pria yang aku cintai jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, dalmi m benakku saat ini adalah bagaimana membuat kamu bahagia di kehidupan kedepan meski tanpa aku.”
“Aku tidak akan menceraikan kamu apa pun itu yang terjadi.”
Vita mengangguk “aku tahu itu jadi hanya memberikan tawaran demikian.”
Mereka berdua terdiam dimana hanya saling memandang satu sama lain seakan membaca pikiran masing – masing, kedekatan mereka berdua sudah terjalin semenjak kecil bahkan berada dalam satu sekolah yang sama dan tidak terpisahkan sama sekali. Saling memahami satu sama lain karena terlalu sering bersama membuat mereka hanya diam seperti saat ini dengan saling menatap, memutuskan kontak mata mereka dengan kembali fokus pada pekerjaannya.
“Pernikahan akan dilaksanakan beberapa minggu lagi dan perjanjian ini akan tetap terlaksana.”
Anda Mungkin Juga Suka





