Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anna : Liontin Karma

Anna : Liontin Karma

Anna, model cantik berdarah Perancis, nekat menikahi pria pilihannya meski terhalang perbedaan iman. Demi cinta, ia rela mengorbankan segalanya, termasuk berpindah keyakinan menjadi mualaf. Namun, pengorbanan itu justru membawanya pada penderitaan mental dan hidup yang hancur. Di tengah kepedihan, Anna mulai meragukan keputusan besarnya memeluk Islam. Mampukah ia bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertelan duka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Anna mengejar langkah Rio dengan napas tersengal-sengal, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahannya.

"Mas, kamu marah ya sama aku?" Tanya Anna, matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam, mencerminkan kegelisahannya yang mendalam terhadap hubungan mereka.

"Aku minta maaf sama sikap Papa kemarin."

"Aku harap kamu bisa ngertiin sikap Papa."

Rio menghentikan langkahnya tiba-tiba, ekspresinya gelap dan tegang saat Anna menyampaikan permintaan maafnya.

"Apa kamu paham maksud sikap Papa kamu kemarin sama aku?" tanya Rio dengan suara berat, matanya menatap tajam Anna.

"Kamu lupain aja lamaranku waktu itu ya."

"Maksud kamu?"

"Kenapa dibatalin Mas? Kamu udah gak sayang sama aku?"

"Aku sayang sama kamu, tapi emangnya kamu yakin kita bakalan bisa nikah?"

"Kenapa ngga Mas?" Balas Anna tajam.

"Kamu kenapa tiba-tiba ragu kayak gini?"

"Apa karena sikap Papa kemarin?"

"Papa emang kayak gitu, kamu gak perlu ambil serius sikap Papa sama kamu."

Terlihat jelas Anna masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Rio.

"Kamu yakin bisa ikuti ajaranku?"

"Anna, keluarga kita sama-sama penganut yang kuat, aku rasa gak mungkin salah satu dari kita bisa mengalah."

"Kalau kita masih keukeuh maksain, itu sama aja aku udah jadi pria teregois."

"Kamu yakin bisa memeluk agama yang sama denganku?" Tanya Rio menatap serius Anna.

"Ta-tapi aku gak mau hubungan kita berakhir gara-gara masalah ini Mas," balas Anna menggenggam kuat tangan Rio.

"Aku sayang banget sama kamu."

"Masalah agama ... aku akan coba pelan-pelan," terang Anna mencoba meyakinkan Rio.

***

Anna duduk sendirian di pojokan kafe, membenamkan dirinya dalam alunan lembut piano yang memenuhi ruangan. Setiap nada membangkitkan perasaannya yang kacau, mengingatkannya pada pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya.

Sambil menatap kosong ke arah jendela, Anna masih terperangkap dalam keraguannya sendiri, terombang-ambing di lautan ketidakpastian. Kata-kata Rio terus bergema di benaknya, menciptakan kekacauan dalam hatinya yang sudah terlalu penuh dengan kebingungan.

Waktu terasa berjalan lambat, seolah-olah berhenti sejenak untuk memberi Anna waktu yang ia butuhkan untuk merenung. Namun, bahkan setelah beberapa saat berlalu, Anna masih belum bisa menemukan jawaban yang ia cari.

Ketika alunan piano berganti dengan suara adzan yang memanggil untuk sholat ashar, Anna semakin tenggelam dalam keheningan yang menyelimuti hatinya. Suara adzan itu seperti mengingatkannya pada keagungan Tuhan, namun juga menambahkan beban pada keraguannya yang sudah terlalu berat.

Anna memejamkan mata sejenak, mencoba mencari ketenangan di dalam dirinya sendiri, namun pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab terus menghantui pikirannya. Bagaimana ia bisa memutuskan apa yang terbaik untuknya dan untuk hubungannya dengan Rio? Hanya waktu yang akan bisa memberikan jawaban, dan Anna harus bersabar menunggu saat itu tiba.

***

Di tempat lain, Rio pun duduk sendirian di sudut kafe, pikirannya terombang-ambing dalam pertimbangan yang sama seperti Anna. Selain masalah agama, Rio juga merenungkan perbedaan kasta keluarga Anna yang begitu jauh dengan dirinya. Baginya, rasanya tidaklah pantas jika ia, yang berasal dari latar belakang yang sederhana, meminang Anna yang memiliki darah biru di keluarganya.

"Ya Allah, kenapa baru kepikiran sekarang sih kalau aku ini gak pantes buat Anna...."

"Woi!! Kenapa lu?" Tiba-tiba teman akrab Rio datang menghampiri.

"Kagak, gue lagi capek aja."

"Dih serius lu?"

" ... Gimana lu udah nemuin tempat strategi buat bisnis parfum kita?"

"Gak taulah,pusing gue," ketus Rio.

"Gimana sih lu? Kan tugas lu yang nyari tempat."

"Iya maksud gue, gue masih belum nemuin lokasinya," Balas Rio.

"Udah lu tenang aja, pokoknya lu tahu beres aja."

"Bener ya?"

"Iya."

"Lu beneran gak ada masalah berat tuh?"

"Ayo lah, gue udah kenal lu lama kali."

"Hmm mentang-mentang dah kenal lama, lu jadi sok tahu gini ya," canda Rio.

"Kelihatan kali dari muka lu juga."

"Dahlah, fokus bahas bisnis kita," tegas Rio seraya memanggil waiters.

***

Sejak ucapan Rio kemarin, Anna selalu tidak semangat melakukan apapun. Banyak pemotretan yang Anna lewati, karena Anna lebih memilih untuk rebahan di kasurnya.

Anna membuka ponselnya, dan dengan gemetar mengetik pesan kepada Rio, mencoba menumpahkan kegelisahannya. Namun, ketika balasan dari Rio akhirnya datang, Anna merasa lebih terombang-ambing daripada sebelumnya.

Anna : "Mas, kamu masih marah sama aku?"

Anna : "Kok kamu kayak gini sih? Kamu yang ngajak nikah duluan, kenapa kamu jadi ragu gini?"

Anna : "Aku gak keberatan kok kalau harus ikut agama kamu."

Rio : "Aku gak mau egois, kalau dirasa terlalu berat buat kamu, aku gak mau memaksa."

Rio : "di agamaku, kamu harus ibadah 5x sehari, membaca kitab, berpuasa, zhikir, dan amalan lain."

Rio : "kamu yakin sanggup?"

Anna menyimpan ponselnya kembali, semakin merenungkan semuanya dengan hati yang berat. Anna merasa dirinya saat ini terjebak di antara cinta dan keterbatasan dirinya sendiri.

"Anna!! Ayo kita berangkat!!" Teriak Ibu Anna memanggilnya untuk ibadah, membuyarkan keheningan di dalam diri Anna. Dengan hati yang berat, Anna pum bangkit dari tempat tidurnya.

***

Disaat orang-orang sudah selesai dengan ibadahnya, Anna masih terpaku diam,

Anna menatap patung Yesus dengan tatapan yang lirih dan penuh kebimbangan.

"Apakah Tuhan akan marah padaku jika aku berpaling? Aku takut Tuhan akan menghukumku...." batin Anna

"Bagaimana jika Tuhannya Mas Rio tidak mau menerima hamba sepertiku?"

"Anna, kamu lagi ngapain?" Tegur Mama Anna mengejutkan Anna.

"Ayo Papa sama adek udah nungguin di mobil,"

"Anna masih mau disini Ma," terang Anna.

"Kamu lagi ada masalah?"

"Ngga Ma, cuma pengen curhat dikit ke Tuhan, bukan masalah serius kok."

"Beneran?"

"Iya, Anna ngerasa berdosa aja beberapa minggu ini terlalu sibuk sampe sering absen ke Gereja."

"Tuhan pasti ngerti kok, gak perlu kamu pikirin. Yang penting kamu masih mengingat Tuhan."

"Iya Ma," angguk Anna.

Setelah Mama Anna pergi, Anna kembali termenung memikirkan isi chat Rio pagi tadi.

***

Sementara itu di rumahnya, Rio tengah duduk santai membuka instagramnya.

Rio membalas satu persatu DM yang masuk, namun ada satu DM yang membuat semangat Rio tiba-tiba muncul.

DM itu berisi ajakan endorse dari sebuah brand pakaian yang mengajak Rio untuk bertemu untuk membicarakannya.

Tak mau menyiakan kesempatan, Rio langsung membalas DM tersebut dan siap-siap berangkat.

*Arborea Cafe : 13 : 40 P.M*

"Siang Mas"

Rio langsung beranjak bangun menyapa owner dzlo.clo.

"Eh siang," balas Rio mengajak berjabat tangan.

"Udah nunggu lama ya?" Tanyanya basa basi.

"Ngga kok"

"Hmm okee Mas kita langsung aja, jadi gimana, Mas Rio bersedia jadi brand ambassador dzlo.clo?"

"Saya sih gak keberatan ya Mas," jawab Rio.

"Kebetulan kita juga launching jaket baru yang menurut kita pas di badan Mas Rio."

Owner dzlo.clo menunjukan jaket hitam berbahan velvet.

"Kalau Mas setuju, nanti kita akan melakukan pemotretan bareng selebgram Clarissa. Nanti kita bisa atur waktunya kapan kalian bisa."

"Clarissa?"

"Iya, Mba Clarissa Morezzart, kita udah DM dia dan katanya dia bersedia jadi brand ambassador kita."

Rio yang tidak tahu siapa Clarissa, mengangkat sebelah alisnya.

***

Setelah dari Gereja, Anna pergi bersama Maaya untuk menenangkan pikirannya sejenak.

"Enaknya kita kemana nih?" Tanya Maaya namun Anna tidak menggubris.

"Ann?"

"Bentar lagi maghrib...."

"Ya terus?" Tanya Maaya tak paham.

"Kita mampir bentar ke Mesjid yuk."

"Hah?"

***

Anna dan Maaya turun dari mobil begitu sampai di salah satu Mesjid di Jakarta Selatan.

"Kita ngapain sih ke sini?" Tanya Maaya

"Kamu gak ada niatan buat itu kan?" Terlihat kekhawatiran di wajah Maaya.

"Ngga kok, aku cuma penasaran gimana sih cara orang muslim ibadah," ucap Anna.

Orang-orang mulai berdatangan ke Mesjid untuk menunaikan sholat maghrib. Anna melihat jika pria dan wanita beribadah terpisah.

Anna mengamati dengan serius setiap gerakan sholat yang mereka lakukan.

"Na, udah yuk, kita pergi," ajak Maaya.

"Gak enak banget kita disini," imbuhnya.

"Bentar May, tunggu mereka selesai," jawab Anna.

"Kamu ngapain sih fokus banget sama mereka?"

"Serius deh Ann, kamu gak ada niatan buat berpaling dari Tuhan kan?"

"Aku dan Mas Rio kan bentar lagi nikah, aku harus tahu ibadah Mas Rio tuh kayak gimana."

"Emangnya kalian sepakat nikah beda agama?" Tanya Maaya terkejut.

Anna diam termenung sedikit menundukan wajahnya.

"Maaya, kamu bisa gak rahasiain hal ini dulu? Terutama sama keluargaku."

"Maksud kamu?"

"Sebenernya aku... ada niatan ikut agama Mas Rio," ungkap Anna menatap Maaya yang syok.

*Bersambung*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU JATUH CINTA KEPADAMU
9.4
Dunia Cinta Arlina berubah drastis setelah menyadari bahwa Tiano Albastia, pria yang selama ini ia benci, justru merupakan sosok penolong rahasianya. Saat kebenaran terungkap, penyesalan menyelimuti hati Cinta. Namun, Tiano justru memilih berpamitan dan pergi menjauh tepat saat segalanya mulai jelas. Di tengah perpisahan yang mendadak ini, mampukah takdir dan kekuatan perasaan membawa mereka kembali bersatu, ataukah pertemuan tersebut menjadi yang terakhir bagi keduanya?
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun berkorban demi Baskara, Aria justru dibuang saat sang suami sukses. Demi Aurora, investor barunya, Baskara menghapus eksistensi Aria dan mengurungnya di gudang gelap meski tahu fobia yang dideritanya. Puncaknya, Baskara membiarkan Aria disiksa penculik demi menyelamatkan Aurora. Dalam kehancuran, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara tangguh yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas segala pengkhianatan ini.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Iris Barcova terpaksa menjalani kehidupan kelam sebagai PSK demi membiayai ayah dan adiknya. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius keturunan mafia menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi medis bagi ayahnya. Meski ada dokter tulus yang mencintainya, Iris justru terjebak dalam dilema hati. Namun, kenyataan pahit mulai terungkap bahwa pria yang ia anggap penyelamat mungkin adalah dalang di balik segala tragedi dan kesialan yang menimpa hidupnya selama ini.
Sampul Novel Godaan Wanita Kedua
8.1
Elisa tak pernah menduga bahwa niat baiknya menampung sang sahabat di rumah justru menghancurkan pernikahan lima tahunnya bersama Aries. Dunianya seketika runtuh saat mendengar pengakuan kehamilan dari wanita yang sangat ia percayai tersebut. Pengkhianatan kejam ini menempatkan Elisa pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan dan menerima kehadiran madu dalam rumah tangganya, atau memilih pergi meninggalkan Aries demi mengejar kebahagiaan barunya?
Sampul Novel PERNIKAHAN YANG TERNODA
9.2
Sadar akan posisinya yang tak lagi diinginkan, Abelia memutuskan untuk mundur dan menghilang dari kehidupan suaminya, Bara. Selama ini, Bara lebih sering menghabiskan waktu di pelukan wanita selingkuhannya daripada pulang ke rumah. Namun, ketika penyesalan mendalam akhirnya menghampiri Bara dan ia berniat memperbaiki segalanya, keadaan telah berubah total. Abelia bukan lagi miliknya karena ia telah menemukan kebahagiaan baru di pelukan pria lain.
Sampul Novel Secret Family
9.1
Jasmine adalah model yang menjalin hubungan terlarang dengan anak mantan suaminya. Namun, kemunculan Lilo seketika menghentikan romansa mereka dan memicu kemarahan sang pria. Di sisi lain, Sica yang pernah dibuang ibunya kini dekat dengan tetangga masa kecilnya. Kehidupan Sica mulai kacau saat Rannu hadir di tengah mereka. Melanjutkan kisah generasi sebelumnya, mampukah Sica dan Jasmine mengambil keputusan tepat atau tetap terjebak dalam dilema yang sama?