Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kabut pagi masih menggantung rendah di hutan Gunung Lawu. Udara dingin menembus jaket tebal Alana, membuat setiap napas terasa seperti menghirup jarum es. Namun kali ini, Alana tidak lagi merasa lemah. Ia melangkah dengan mantap, tongkat kayu di tangan, matanya memindai setiap gerakan di sekitar. Arga berjalan di belakangnya, tubuh tegapnya membelah kabut seperti bayangan hitam yang mengawasi.

"Hari ini, kau akan melihat jalur mereka," kata Arga, suaranya serak tapi tegas. "Kau harus memperhatikan semuanya: langkah, suara, bahkan arah napas mereka. Ini bukan sekadar latihan. Kau akan belajar mengenali musuh sebelum mereka tahu kau ada."

Alana mengangguk, jantungnya berdebar bukan karena takut, tetapi karena rasa penasaran dan tekad. Sejak terakhir kali mereka melihat ketiga lelaki itu di Pos Dua, Alana terus memikirkan bagaimana cara membalas dendam. Kini, ia punya kesempatan untuk mengamati mereka secara diam-diam.

Beberapa jam berjalan menyusuri jalur sempit di hutan, mereka akhirnya menemukan bekas jejak kaki. Raka, Daffa, dan Iqbal masih berkeliaran di wilayah ini, belum menyadari bahwa Alana masih hidup. Alana menunduk, menandai setiap bekas jejak dengan cermat.

"Lihat, jejak ini masih segar," bisik Arga. "Mereka baru lewat beberapa jam yang lalu. Kau harus hafalkan pola mereka. Jejak kaki, arah langkah, bahkan cara mereka meninggalkan bekas ranting patah. Semua itu bisa menjadi senjata untukmu."

Alana memejamkan mata sejenak, merasakan aliran adrenalin. Setiap detail yang dipelajarinya akan menjadi alat untuk balas dendam. Dalam hatinya, kemarahan dan ketakutan yang dulu menghantuinya kini berubah menjadi fokus yang tajam.

Malam itu, setelah kembali ke persembunyian, Arga menyiapkan latihan baru. Ia menggantung beberapa botol kosong di ranting pohon, membentuk "target" bergerak. "Kau harus menembak atau melempar dengan tepat," katanya, memberi Alana pisau kecil dan busur kayu sederhana. "Ingat, ini bukan sekadar kekuatan fisik. Ini tentang ketenangan, konsentrasi, dan menghitung langkah musuh."

Alana menarik napas dalam, tangannya gemetar sedikit saat mengambil posisi. Ia menatap target yang bergoyang di angin. Setiap kali lemparan atau panah meleset, Arga menegurnya dengan tegas, tapi juga memberi petunjuk halus. "Lihat arah angin. Rasakan ritme tubuhmu. Jangan biarkan emosi menguasaimu."

Pelan tapi pasti, Alana mulai menancapkan pisau tepat di botol pertama, lalu busur memanah tepat sasaran. Ia tersenyum tipis, rasa percaya diri mulai tumbuh. Arga menatapnya, sorot matanya sulit ditebak, tapi ada sekilas rasa bangga. "Kau mulai mengerti," katanya.

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan latihan fisik, membaca tanda-tanda alam, dan strategi. Alana belajar bagaimana bergerak tanpa suara, mengenali pola langkah manusia, dan memahami psikologi musuh. Ia menyadari bahwa balas dendam bukan hanya soal kekuatan, tapi juga perhitungan dan kesabaran.

Suatu sore, Arga membawa Alana ke tebing tinggi yang menghadap lembah. Di kejauhan, mereka melihat cahaya api unggun-tanda bahwa ketiga lelaki itu sedang berkemah. "Ini kesempatanmu untuk mengamati mereka," bisik Arga. "Tanpa mereka tahu kau ada."

Alana menelan ludah. Matanya menelusuri jalur menuju api unggun, mencatat posisi Raka, Daffa, dan Iqbal. Ia melihat Raka, yang selalu menjadi pemimpin, tersenyum sinis sambil menyalakan api. Daffa terlihat gelisah, menatap sekeliling hutan, sementara Iqbal sibuk menyiapkan makanan.

"Perhatikan, tapi jangan gerakkan tubuhmu terlalu banyak," bisik Arga. "Kau harus seperti bayangan. Mereka tidak boleh tahu kau ada."

Alana menatap mereka dengan mata dingin. Dalam hatinya, muncul rencana pertama: cara membuat mereka lengah, cara memancing kesalahan, dan akhirnya, cara membalas semua yang mereka lakukan padanya.

Beberapa malam kemudian, Arga mengajarkan teknik pertahanan lebih ekstrem. Mereka berlatih di sungai deras, merangkak di semak berduri, dan meniti tebing licin. Alana jatuh berkali-kali, tubuhnya penuh luka dan memar, tapi setiap jatuh mengajarinya sesuatu yang baru: ketahanan, keseimbangan, dan keberanian.

Arga menatapnya dengan serius. "Kau harus siap. Mereka tidak akan menunggu. Jika mereka menemukanmu lagi, mereka tidak akan segan-segan."

Alana menunduk, merasakan amarahnya menyala. "Aku... aku siap. Aku akan menghancurkan mereka," katanya pelan, tapi tegas.

Suatu pagi, saat kabut masih tebal, mereka melihat ketiga lelaki itu di kejauhan, menapaki jalur pendakian yang sama. Alana menahan napas, hatinya berdentum keras. Ini pertama kalinya ia melihat mereka secara langsung setelah insiden di jurang.

Arga menepuk bahunya. "Ingat, jangan menyerang dulu. Amati. Pelajari. Kita belum siap untuk menghadapi mereka secara langsung."

Alana mengangguk, matanya terpaku pada Raka, yang berjalan di depan, dengan Daffa dan Iqbal mengikuti. Ia memperhatikan cara mereka berjalan, bagaimana mereka berbicara, bahkan cara mereka tertawa. Setiap detail kecil akan menjadi bagian dari strategi balas dendamnya.

Malam itu, setelah kembali ke persembunyian, Alana menulis catatan di buku kecilnya. Setiap gerakan, setiap kata, setiap kebiasaan ketiga lelaki itu dicatat dengan teliti. Ia mulai merencanakan langkah demi langkah, bagaimana cara menjebak mereka, bagaimana membuat mereka lengah, dan bagaimana membalas semua yang mereka lakukan padanya.

Arga menatapnya dari pintu persembunyian. "Kau berubah. Kau bukan gadis lemah yang jatuh ke jurang dulu. Kau menjadi predator yang cerdas. Tapi ingat... ini hanya permulaan. Musuhmu tidak akan menyerah begitu saja."

Alana menatapnya dengan mata penuh tekad. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan takut lagi. Mereka akan membayar."

Beberapa minggu berlalu, dan latihan Alana semakin intens. Ia kini mampu bergerak di hutan tanpa meninggalkan jejak, menyiapkan jebakan sederhana, dan membaca tanda-tanda manusia serta alam. Hubungannya dengan Arga semakin dalam, bukan hanya sebagai guru dan murid, tapi juga sebagai partner yang saling memahami trauma dan tujuan masing-masing.

Namun, di malam yang gelap, ketika kabut menutupi persembunyian mereka, Arga menatap Alana dengan serius. "Kau harus tahu... membalas dendam itu berbahaya. Sekali kau memulai, tidak ada jalan kembali. Dan kau bisa kehilangan lebih dari sekadar musuhmu."

Alana menatap api unggun, bayangan wajah Raka, Daffa, dan Iqbal muncul dalam pikirannya. "Aku sudah kehilangan hampir segalanya. Sekarang aku hanya punya satu tujuan: membuat mereka menyesal telah menyakitiku," jawabnya tegas.

Arga menghela napas, tidak bisa lagi menahan kekhawatiran. Tapi ia tahu, gadis ini tidak bisa dihentikan. Ia hanya bisa membimbingnya, menyiapkan setiap langkah, dan berharap bahwa ketika badai datang, Alana siap menghadapi semuanya.

Kabut pagi Gunung Lawu masih tebal, menyelimuti pepohonan dengan warna abu-abu yang pekat. Hutan yang biasanya terasa hidup kini tampak hening, hanya terdengar suara ranting patah di kejauhan dan aliran sungai yang bergemuruh. Alana berdiri di atas batu besar, matanya memandang lembah yang penuh dengan jalur berliku. Hari ini adalah hari uji coba pertama.

"Apakah kau siap?" tanya Arga, suaranya berat tapi tenang. Ia berdiri di belakang Alana, tangan terlipat di dada, tubuhnya seperti bayangan gelap yang menenangkan sekaligus menegangkan.

Alana mengangguk. "Aku sudah siap. Aku tidak takut."

Arga menatapnya dalam beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya ke jalur di bawah. "Ingat, ini bukan hanya soal kekuatan. Kau harus memperhatikan pola langkah mereka, gerakan mereka, dan kesalahan sekecil apa pun. Itu yang akan menjadi senjatamu."

Dari kejauhan, terlihat tiga sosok yang tak asing: Raka, Daffa, dan Iqbal. Mereka bergerak santai, tampak menikmati perjalanan mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa Alana sedang mengamati. Alana menelan ludah, jantungnya berdentum kencang. Setiap napasnya tertahan, menunggu momen yang tepat.

Arga menepuk bahunya. "Mulai sekarang, kau bukan gadis yang jatuh ke jurang dulu. Kau predator yang menunggu mangsa."

Alana menundukkan kepala, memfokuskan pandangan pada gerak-gerik ketiganya. Raka berjalan di depan, menatap peta yang digenggamnya, sementara Daffa sibuk menyesuaikan tali ransel, dan Iqbal melirik ke kanan-kiri dengan mata waspada. Alana mencatat setiap kebiasaan mereka: cara mereka tertawa, cara mereka menoleh, cara mereka melangkah di tanah basah.

Ia menandai titik-titik di jalur dengan catatan kecil yang hanya bisa ia pahami. Setiap cabang patah, setiap jejak kaki yang tertinggal, menjadi bagian dari strategi yang akan ia gunakan nanti.

Malam sebelumnya, Arga telah mengajarinya teknik jebakan sederhana. Ia menyiapkan tali, beberapa batu, dan ranting pohon untuk membuat perangkap yang bisa memperlambat atau menakuti musuh. "Ini bukan untuk membunuh, tapi untuk memberi waktu," jelas Arga. "Jika kau ingin menang, kau harus sabar dan menghitung langkah. Jangan terburu-buru."

Alana menatap jebakan yang telah ia pasang dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah langkah pertama, dan kegagalan bisa berarti bencana. Tapi ada rasa kepuasan yang muncul dalam dirinya-untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kendali.

Ketiga lelaki itu semakin dekat. Raka, yang selalu menjadi pemimpin, melangkah dengan percaya diri, sesekali menoleh ke Daffa dan Iqbal untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Alana menahan napas, merasakan adrenalin menyebar ke seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba, Iqbal menendang ranting kecil yang patah dan membuat suara keras. Alana menegang. Arga menepuk bahunya, berbisik, "Jangan panik. Ini bagian dari latihan. Kau harus tetap tenang."

Alana menelan ludah, matanya tetap fokus. Ia menarik napas dalam-dalam, menunggu saat yang tepat. Ketika Raka melangkah ke titik jebakan pertama, Alana menarik tali dengan lembut, membuat ranting patah dan batu berguling ke jalur mereka. Suara itu cukup membuat ketiganya berhenti dan menoleh, terkejut.

Raka menatap sekeliling, gelisah. "Apa itu?" tanyanya. Daffa dan Iqbal menatap ke tanah, tampak bingung. Mereka tidak tahu bahwa seseorang sedang mengamati mereka dari atas.

Alana tersenyum tipis di balik pepohonan, adrenalin mengalir deras. Langkah pertamanya berhasil-tidak untuk melukai, tapi untuk memberi peringatan, membuat mereka lengah, dan mulai merasakan ketakutan.

Hari-hari berikutnya, Alana mulai memperluas strategi. Ia belajar menempatkan jebakan di jalur yang berbeda, menciptakan ilusi bahwa hutan penuh dengan pengintai. Arga mengajarinya bagaimana menanamkan rasa takut tanpa terlihat. "Ketakutan adalah senjata terkuat," katanya. "Jika mereka mulai ragu, mereka akan membuat kesalahan."

Alana mulai memikirkan skenario balas dendam yang lebih kompleks. Ia membayangkan Raka, Daffa, dan Iqbal terjebak dalam kebingungan, merasa bahwa hutan ini menjadi musuh mereka sendiri. Ia ingin mereka merasakan ketakutan yang sama seperti yang ia rasakan saat jatuh ke jurang dulu.

Namun, di balik tekad itu, ada rasa takut yang tak bisa dihindari. Malam-malam di hutan terasa panjang dan sepi, dan setiap suara yang samar membuatnya teringat insiden di Pos Dua. Alana duduk di dekat api unggun, tubuhnya masih gemetar. Arga menatapnya, mengetahui apa yang ia rasakan.

"Kau tidak bisa membiarkan ketakutan menguasaimu," ucap Arga, suaranya rendah tapi tegas. "Tapi aku mengerti... rasa takut itu wajar. Kau harus mengubahnya menjadi fokus, bukan kelemahan."

Alana menunduk, menatap api yang berkobar kecil. "Aku... aku akan belajar. Aku tidak ingin lagi menjadi korban," katanya.

Arga mengangguk. "Dan kau tidak akan menjadi korban lagi. Tapi ingat, balas dendam itu berbahaya. Kau harus siap menghadapi konsekuensinya. Sekali kau memulai, tidak ada jalan kembali."

Alana mengangguk, hatinya bertekad. "Aku siap."

Suatu sore, ketika kabut semakin menipis, Arga membawa Alana ke sebuah jurang sempit yang menjadi jalur biasa ketiga lelaki itu. "Ini kesempatanmu untuk menguji jebakan dan strategi. Tapi ingat... jangan terlalu dekat. Kau harus tetap tersembunyi."

Alana menatap jurang itu dengan hati-hati. Ia menempatkan beberapa batu dan ranting di jalur mereka, menciptakan ilusi bahwa jalan licin dan berbahaya. Ketika Raka, Daffa, dan Iqbal mendekat, mereka mulai ragu, menatap ke bawah dengan gelisah.

Raka menggeram, mencoba memimpin mereka, tapi Daffa terlihat takut, dan Iqbal mulai mempertanyakan jalannya sendiri. Alana menyaksikan dari kejauhan, hati berdebar kencang. Tekniknya berhasil-tidak membunuh, tapi cukup untuk menanamkan rasa takut dan kebingungan.

Arga menepuk bahunya setelah semuanya selesai. "Bagus. Kau mulai mengerti bagaimana cara memanfaatkan ketakutan mereka. Tapi ingat, ini baru permulaan."

Alana tersenyum tipis. Ia merasa ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya-rasa kontrol, kekuatan, dan tekad yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hutan yang dulu menakutkan kini menjadi sekutu, dan Arga, meski misterius dan keras, menjadi panduannya dalam menaklukkan rasa takut dan membalas dendam.

Malam itu, di persembunyian, Alana menatap langit yang terbuka di sela-sela pepohonan. Bulan menyinari wajahnya, dan ia merasa dingin sekaligus bersemangat. Ia tahu, setiap langkah yang diambilnya akan membawa mereka lebih dekat ke pertemuan terakhir-pertemuan dengan Raka, Daffa, dan Iqbal.

Arga menatapnya dari belakang, mata tajamnya sulit dibaca. "Kau siap untuk yang lebih sulit besok?" tanyanya.

Alana menatapnya, senyum tipis terlukis di wajahnya. "Aku siap. Tidak ada yang akan menghentikanku lagi."

Di hutan Gunung Lawu, kabut menutupi rahasia, dan dua jiwa yang terluka-Alana dan Arga-bersiap menghadapi badai yang akan datang. Badai yang bukan hanya berasal dari alam, tapi dari manusia, dendam, dan keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Sampul Novel Dewa Perang Terbaik
8.9
Daniel adalah sang Dewa Perang yang disegani. Dahulu, saat masa remaja yang sulit dan penuh kelaparan, seorang gadis kecil memberikan sekeping biskuit yang sangat berarti baginya. Kini, demi membalas budi atas kebaikan tersebut, Daniel memutuskan kembali ke kota asalnya. Ia bertekad melindungi sosok yang pernah menolongnya itu, yang sekarang telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita muda dengan paras yang sangat cantik jelita.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.